
Bab. 85
"Maasss ... maaf, tadi pon—"
Kalimat seorang wanita yang baru masuk tersebut pun terpaksa terhenti di kala melihat seseorang yang sangat dia kenal.
Terkejut? Itu sudah pasti Dilla rasakan. Bagaimana tidak, jika ia masuk ke dalam ruangan suaminya dan mendapati sepupunya berada di sana.
Bukan bukan. Bukan itu inti yang membuat Dilla terkejut. Dilla tahu jika sepupunya juga bekerja di perusahaan ayahnya dan menjabat di bagian yang cukup penting. Di tambah lagi sebagai pendamping dirinya untuk memimpin perusahaan Atmadja Company.
Namun, posisi Kendra dan Rahuella yang terlihat sangat dekat, meskipun Dilla masih melihat ada jarak di antara mereka. Bukan Kendra yang mendekat, tetapi tubuh Rahuella yang sedikit mencondong ke arah depan.
"Ella?" ucap Dilla.
Mengerjapkan matanya beberapa kali hingga raut wajahnya berubah seperti biasa. Ramah dan penuh senyuman di bibir.
Dilla sempatkan menoleh ke arah Biru yang tengah duduk di sofa panjang di sisi kanan ruangan kerja suaminya. Pria itu pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman samar. Tampak begitu kentara sekali, raut kikuk yang Biru tampilkan di sana.
"Ayang?"
Sedangkan Kendra langsung berdiri dan menghampiri sang istri. Meraih pinggangnya lalu memeluknya begitu erat. Tidak hanya itu saja, Kendra seolah melupakan dua manusia yang ada di ruangan sama dengan dirinya.
Dengan begitu santai, Kendra menyambar bibir Dilla yang seharian ini tidak ia rasa. Sekilas namun sangat dalam. Bahkan sampai menimbulkan suara saat menarik bibirnya dari bibir sang istri.
Membuat dua orang yang melihat tingkah Kendra secara langsung sedikit tercengang. Pun begitu dengan Rahuella. Bukan hanya tercengang, melainkan sedikit tersentak kaget. Bagaimana bisa mereka berciuman di depan mereka.
"Ngapain lo ke sini!" tanya Dilla sembari mengusap bibirnya yang basah dengan gerakan yang begitu santai dan tanpa rasa canggung sedikit pun. Sama sekali tidak merasa malu.
Padahal Biru yang berada sedikit berjarak dengan mereka bertiga saat ini, rasa-rasanya ingin memukul Kendra yang sudah membuat dirinya salting sendiri. Bukan iri, melainkan dengki. Karena Biru tidak punya lawan untuk di ajak seperti apa yang barusan Kendra lakukan dengan Dilla.
Kendra mengangguk paham.
Sementara itu kini dua wanita yang ada di hadapan Kendra, saling menatap. Mungkin mereka sama-sama terkejut. Hanya saja tidak terlalu diperlihatkan dengan sangat jelas.
"Lo sendiri ngapain di sini? Bukannya nemenin suami lo yang katanya manja itu?" balas Rahuella. Nada bicaranya memang tidak ramah seperti sekarang ini. Mereka terbiasa saling bersikap cuek jika di hadapan orang lain.
Dilla mengangguk. Lalu wanita yang tengah berbadan dua tersebut tersenyum sembari bergelanyut manja di lengan suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahu Kendra dengan perasaan yang entah, hanya Dilla sendiri yang tahu.
"Kenalin, ini suami gue, Ell," ucap Dilla menepuk lengan Kendra sedikit keras. Bahkan Kendra sampai terkejut, namun tidak berani melayangkan protes.
Rahuella kali ini tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"What? Suami lo?" tanya Rahuella terkejut.
Dilla mengangguk. "Iya, dia juga papi dari anak yang ada di dalam perut ini," ucap Dilla lagi yang semakin membuat Rahuella tidak percaya dan menggeleng kepala.
Pernyataan Dilla yang barusan mampu membuat Rahuella pergi dari sana tampa mengucap satu patah kata pun. Entah karena terkejut atau tidak mau mempercayainya, yang jelas, kini tinggal dirinya dan Kendra di ruangan itu.
Secepat kilat, Dilla menarik tangannya dari lengan Kendra. Menatap pria itu begitu intens dan tanpa membuka mulutnya lagi.
"Sa-sayang ... ah aku bisa jelasin," ucap Kendra gugup bercampur takut. Melihat tatapan Dilla yang sangat berbeda dari sebelumnya, membuat Kendra takut sendiri.
Sama halnya dengan Rahuella, Dilla keluar dari ruangan suaminya tanpa mengucapkan sapatah kata pun.
"Yaang! Tunggu, Yaang! Aku bisa jelasin!" teriak Kendra di saat Dilla sudah keluar dari ruangannya. Pria itu mengusap wajahnya begitu kasar.