Hidden CEO

Hidden CEO
Panik



"Kamu kenapa, Sayang?" Yunan semakin panik melihat Cassandra mulai muntah. 


Memanggil salah satu pegawai restoran dan memintanya untuk mengambilkan kantong kresek. Sebab, tempat dan waktu tak memungkinkan membawa Cassandra ke kamar mandi. Juga menyuruh mereka untuk menjaga Khalisa. 


"Aku gak pa-pa, Kak. Mungkin hanya masuk angin." Cassandra menekan perutnya yang masih saja merasa mual.  


Menyandarkan punggungnya di dada bidang sang suami. Memejamkan mata untuk mengurai rasa yang terus bergejolak di dada. Meminum segelas air putih dari tangan Yunan. 


Semua orang ikut panik, ada pula yang langsung memanggil dokter. Juga menyiapkan tempat untuk sang majikan. 


"Apa jangan-jangan makanan tadi ada racunnya?" tebak Yunan konyol. 


Di tengah tubuhnya yang mulai merasa lemas, Cassandra terkekeh mendengar ucapan Yunan. ''Mana mungkin beracun. Kalaupun iya, tidak mungkin hanya aku yang muntah, pasti Khalisa dan kamu juga.'' Mencubit gemas pipi sang suami. 


''Sudah, ah. Mendingan kita pulang.'' Membersihkan bibirnya dengan air, mengucapkan terima kasih pada semua yang sudah antusias membantunya. 


''Tapi dokter sudah dalam perjalanan ke sini, Nona. Sebaiknya Anda menunggu sebentar. Saya takut nanti akan muntah lagi di jalan,'' ucap manajer memberi saran. 


Yunan mengangguk setuju. Sepertinya itu lebih tepat daripada mengambil resiko dan ujung-ujungnya membuatnya takut seperti tadi. 


''Tapi aku beneran gak pa-pa, Kak. Mungkin tadi kebanyakan makan saja.'' Cassandra menolak dengan cara lembut, tidak ingin merepotkan semua orang yang ada di tempat itu. 


''Apa kata pak Totok benar, Sayang. Lebih baik kamu diperiksa dulu, setelah itu baru kita pulang.'' Yunan menggiring Cassandra menuju kamar yang sudah disiapkan.


Membaringkan wanita itu di tempat pembaringan. Cassandra tetap memberontak yang membuat Yunan kesal dan mengambil langkah tegas.


''Diam di sini atau aku akan memberimu hadiah yang berkeringat,'' ancam Yunan sambil tersenyum nakal. 


Terpaksa Cassandra nurut daripada siang ini ia harus mandi keramas di restoran tersebut. Toh, tidak ada salahnya periksa, itu akan jauh lebih baik. 


Hampir sepuluh menit menunggu, seorang wanita berjas putih datang dan langsung menghampiri Cassandra yang berbaring di ranjang. Sedangkan Totok segera pergi atas perintah Yunan.


''Keluhannya apa, Nona?'' Dokter Mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya  lalu duduk di tepi ranjang. Mulai memeriksa Cassandra di bagian dada. 


''Sudah tiga hari ini saya mual, Dok. Kepala saya juga sedikit pusing. Apa saya punya penyakit dalam?''


Dokter tersenyum tipis. Jarinya mengulur, menaikkan kemeja yang dikenakan Cassandra. "Permisi ya, saya akan memeriksa perut Anda,'' ucapanya mengiringi. 


Yunan yang ada di sampingnya hanya menjadi penonton saat dokter itu menekan-nekan perut Cassandra. Menanyakan keadaannya,  sesekali mencium pipi sang istri dengan posesif. 


''Kapan Nona terakhir kali datang bulan?" tanya dokter itu serius. 


Cassandra membisu, mengingat-ingat terakhir kali ia  kedatangan tamu merah. Bibirnya mengatup menahan tawa. Ekor matanya melirik ke arah Yunan.


Betapa tidak, terakhir kali ia datang bulan ketika Yunan hendak menggaulinya. Di saat itu terpaksa mereka membatalkan pergulatan karena tamu yang tak diundang, hingga sekarang dia belum datang bulan lagi. 


''Saya sudah terlambat satu bulan, Dok. Memangnya kenapa?'' tanya Cassandra kepo. 


"Anda __"


"Oh, saya tahu.'' Cassandra menyela ucapan dokter.


''Baiklah, terima kasih Dokter. Nanti saya akan periksa lagi,'' ucap Cassandra dengan bibir bergetar. 


Dokter langsung pergi setelah mendapat kode kedipan mata dari Cassandra. Meninggalkan sepasang suami istri yang entah akan membicarakan apa. Menutup pintu dengan pelan.


Yunan bangkit dan memeluk sang istri yang mulai menangis. Menanyakan apa yang dibicarakan dokter padanya.


''Kata dokter aku disuruh periksa ke dokter spesialis perut,'' ucap Cassandra dengan mata mengembun. 


''Apa?" Tentu saja itu membuat Yunan terkejut. Bahkan ia tak sanggup berkata apa-apa selain mengiyakan ucapan sang istri. 


''Seandainya aku sakit parah, kamu mau 'kan merawatku?'' Cassandra menatap manik mata Yunan yang tampak redup. 


''Apa pun yang terjadi sama kamu, aku pasti akan merawat dan menjagamu. Memangnya tadi dokter bilang apa? Kenapa dia tidak bicara denganku secara langsung.'' Mulai emosi melihat Cassandra menitihkan air mata.


''Dokter gak tega melihat kamu sedih, Kak. Dia kasihan sama kamu. Lebih baik sekarang kita pulang." Mengusap pipinya yang dipenuhi dengan cairan bening. Memeluk Yunan dengan erat. Menumpahkan air matanya di pelukan pria itu. 


Reaksi kamu sangat lucu sekali Yunan Abimanyu. Aku suka. Tertawa keras dalam hati melihat kegelisahan sang suami. 


Sebelum pulang, Yunan menelpon Layin dan memberitahu tentang keadaan Cassandra yang tidak baik-baik saja. Menyuruh sang ibu untuk segera datang ke rumahnya. Juga meminta ayah Erlan mencarikan dokter terbaik untuk istrinya. 


''Memangnya Cassandra sakit apa?" Erlan bertanya-tanya. Meski masih kebingungan, ia segera menghubungi beberapa dokter spesialis untuk bersedia memeriksa sang menantu. 


Sedangkan Layin, ia langsung meluncur ke rumah Yunan bersama dengan Laurent dan Zafan. Mereka hanya bisa berdoa supaya Cassandra baik-baik saja. 


"Apa, Cassandra sakit?" Ponsel yang ada di tangan Margareth pun terjatuh mendengar kabar dari besannya. Lantas, ia memanggil Lolita dan mengajaknya untuk segera datang ke rumah Yunan. 


"Ibu gak tanya Cassandra sakit apa?" Lolita merapikan penampilannya. 


"Katanya bu Layin adik kamu sakit perut," ucap Margareth seperti yang dikatakan Layin melalui sambungan telepon. 


Wanita yang sudah terjun ke dunia model itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress biru selutut. Sebenarnya satu jam lagi ia sudah harus tiba di perusahaan, tapi karena ada sedikit gangguan terpaksa harus mengantar Margareth lebih dulu. Beruntung ada sopir yang membantunya. 


"Jalannya cepat sedikit ya, Pak," pinta Lolita yang hampir masuk ke mobil. 


Namun, pergerakannya tercekat saat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Wajahnya mendadak datar melihat seseorang yang turun. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


"Mau apa kamu ke sini. Kami buru-buru, Cassandra sakit," teriak Margareth dengan nada ketus. 


"Sakit apa, Bu? Aku bisa mengantar ibu dan Lolita." Tanpa aba-aba, Novan meraih tangan Lolita dan membawanya ke mobil. Setelah itu bergantian mengajak Margareth untuk segera masuk ke mobilnya. 


"Aku gak mau pergi sama kamu, aku mau sama sopir saja." Lolita menutup pintu mobil yang sudah dibuka oleh Novan. 


"Kamu boleh marah sama aku, tapi nanti. Sekarang Cassandra butuh kamu. Cepetan masuk!" Novan membuka pintunya lagi. 


"Ayo, Lol, kasihan adik kamu," ajak Margareth. 


Tidak ada pilihan lain, terpaksa Lolita masuk ke mobil milik Novan dan duduk di samping pria itu. Meski begitu, tak mengubah hatinya yang sampai saat ini ingin tetap berpisah. Baginya, hidup sendiri akan lebih baik daripada bersatu, makan hati.