Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 79. Dosum



Bab. 79


"Kamu beneran berangkat kuliah, Yaang?" tanya Kendra setelah keluar dari kamar mandi.


Satu minggu sudah mereka menikah dan Kendra memutuskan untuk memboyong Dilla ke rumahnya sendiri. Rumah yang memang ia siapkan untuk ia tinggali bersama istrinya kelak.


"Iya, Mas."


"Nggak cuti dulu aja gitu? Baru setelah melahirkan nanti aktif lagi," usul Kendra.


Dilla yang tengah menyiapkan baju untuk suaminya pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Kendra.


"Memangnya siapa yang buat aku berbadan dua kayak gini, hmm?" ketus Dilla dengan lirikan maut nya.


Kendra terkekeh seraya mengusap rambut nya yang masih basah dengan handuk. Pria itu berjalan menghampiri sang istri yang ada di pinggiran ranjang. Memeluk Dilla dari belakang, lalu menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu. Entah kenapa, jika mencium harum tubuh Dilla bercampur harum vanila, membuat perut Kendra merasa nyaman. Tidak mual lagi.


Hamil simpatik yang di alami oleh Kendra masih tetap berlanjut. Bahkan tidak hanya Dilla saja yang mual. Kendra pun juga seperti itu meskipun tidak terlalu parah. Dan anehnya, ngidamnya pun semakin menjadi.


"Kamu lupa ya, Yaang?" tanya Kendra menggigit kecil daun telinga sang istri. Membuat Dilla bergidik geli sembari menjauhkan wajah Kendra dari sana.


"Apa?"


"Kan kamu yang maksa masukin ju—"


"Mas!" pekik Dilla dengan nada pelan. Wajahnya memerah ketika Kendra membahas kelakuannya yang memang di luar batas wajar.


Sedangkan Kendra justru terkikik melihat Dilla yang seperti itu. Senang sekali menggodanya. Rasa-rasanya mereka seperti dua remaja yang baru pacaran. Benar-benar sangat manis.


Kendra memeluk istrinya. Rasanya bahagia sekali mendapatkan cinta Dilla. Eh, belum. Setidaknya wanita ini sudah mau membuka hati untuknya.


"Sepulang kuliah, mau ke mana?" tanya Kendra sembari memeluk wanitanya.


Sementara Dilla sedikit risih dipeluk seperti itu. Di tambah lagi Kendra yang belum memakai pakaiannya.


"Dipakai dulu Mas, bajunya." ingat Dilla sambil melepas tangan Kendra yang berada di perutnya.


Namun, emang dasar Kendra yang tidak pernah membuang kesempatan, oleh karena itu pria tersebut tidak akan melepasnya begitu saja.


"Bentaran dulu dong, Yaang. Ini kan kali pertamanya aku kamu tinggal lama. Seharian penuh loh," rengek Kendra seperti biasa.


Dilla memutar bola matanya jengah.


"Sebelumnya juga tanpa aku nggak apa-apa. Kenapa sekarang malah kayak anak kecil sih kamu Mas," balas Dilla seraya menyindir.b


"Bawaan Dedek kali, Mi," jawab Kendra yang memanggil Dilla dengan sebutan mami.


Di detik selanjutnya pria itu langsung memekik. Karena mendapat cubitan pedas sang istri pada lengan yang melingkar di perut Dilla.


"Alasan!"


"Beneran, Mamiii! Papi maunya deket-deket sama Mami, sama Dedek juga. Pokoknya nggak mau pisah. Titik!" ucap Kendra dengan nada dibuat merajuk.


Dilla tertawa. Bisa-bisanya ada pria bertubuh kekar seperti suaminya, namun melakukan masih bocah banget. Padahal jika dilihat dari usia juga masih jauh lebih muda Dilla.


"Mami ikut Papi kerja aja, ya? Nggak usah kuliah kuliahan. Bikin pusing, Mi." kompor Kendra kemudian.


Tentu saja, pria itu mempunyai maksud terselubung.


"Ih, gimana sih Pak Dospen ini?" sangking gemasnya dengan sikap Kendra, Dilla pun meremas mulut suaminya itu dari samping.


"Dospen?" ulang Kendra dengan wajah sedikit dijauhkan dari bahu Dilla. Agar bisa melihat wajah cantik sang istri lebih jelas lagi.


Dilla meringis. Keceplosan memanggil suaminya dengan sebutan seperti itu.


"Apa, Yaang?" tanya Kendra meminta penjelasan.


Sedangkan Dilla berusaha melepas diri dari rengkuhan tangan Kendra. Namun sia-sia saja. Karena pria itu tidak melepaskan dirinya barang sebentar saja.


"Jelasin dulu!" tekan Kendra.


"Iya, tapi lepasin dulu, ih! Aku keburu telat loh nanti berangkatnya, Mas," rengek Dilla.


Kendra semakin menghimpit Dilla di dinding dan mengunci tangan Dilla yang Kendra letakkan di atas kepala wanita itu. Meminta penjelasan dari sorot matanya. Sementara Dilla sendiri tidak punya jalan keluar.


"Dosen pengganti," ucap Dilla dengan suara lirih.


Kendra tersenyum melihat wajah Dilla yang tersipu seperti ini. Lalu pria itu mendekat, hidung mereka hampir bersentuhan.


"Harusnya bukan Dospen. Tapi, Dos—"


"Dosum? Dosen mesum!" potong Dilla cepat yang langsung mendapat serangan dari suaminya.


"Udah mulai nakal, ya?"


"Ampyuuuunnn!!"