Hidden CEO

Hidden CEO
Udah, Jangan Minta Lagi



Ekstra part. 2


Lima belas tahun berlalu. Kehidupan rumah tangga yang Dilla takutkan pun seolah menguar begitu saja. Karena pada kenyataannya rumah tangganya bersama Kendra adem-adem saja selama ini. Walaupun di warnai dengan banyaknya perdebatan dan juga tangis dari anak-anak mereka yang membuat keadaan rumah selalu ramai.


"Yaang, mau punya anak lagi, nggak?" tanya Kendra saat mereka tengah bersantai berdua di ruang tv. Membuat Dilla langsung menoleh ke arah suaminya dengan tatapan mendelik. Kaget sekaligus terkejut dengan pertanyaan Kendra.


"Maksud Mas, aku harus hamil lagi?" tanya Dilla lebih jelasnya.


Kendra mengangguk. "Kan anak-anak udah pada besar, Yaang. Nggak ada yang lucu lagi. Lagian mereka juga udah nggak mau deket sama aku. Padahal dulu kalau tidur nggak ngetek ke aku juga mereka nggak bisa tidur, Yaang." jawab Kendra mengenai perubahan sikap anak-anaknya.


Dilla menatap suaminya dengan tatapan jengah. "Kamu nggak lupa, Mas? Kamu udah punya anak tiga, loh! Masa iya masih kurang?"


Kendra menganggukkan kepala.


"Tenang aja, Yaang. Aku masih kaya. Masih sanggup buat ngebesarin dua atau tiga anak lagi," ujarnya dengan begitu santai. "Lagi pula, kasihan harta papa Atmadja kalau nggak dipakai, Yaang. Makin numpuk nanti. Soalnya Rio, Zacky, dan Zuma udah ada bagiannya sendiri dari RY Group, Yaang. Tinggal Atmadja Company yang masih atas namamu, kan. Jadi, kita buatkan penerus lagi, yuk!".


Dilla yang gemas pun langsung mencubit paha suaminya dengan sangat keras. Sampai-sampai pria yabg sudah tidak muda lagi tersebut mengeram kesakitan.


"Dasar, pria mesum yang nggak ingat umur!" kesal Dilla. "Kamu nggak lihat, Mas? Rio aja udah umur 17 loh! Mana mau dia punya adik lagi. Lagian, aku bukan kucing. Tiga anak cukup. Nggak nambah-nambah lagi." putus Dilla.


Entah bagaimana jalan pikiran suaminya ini. Bisa-bisa kepikiran untuk nambah anak lagi.


"Dua lagi, deh. Ya, Yaang?" tawar Kendra yang masih pada keinginannya.


"Nggak!" tolak Dilla. "Rio aja udah bisa bikin anak, masa kamu mau bikin anak lagi, Mas. Malu dong sama anaknya, Mas." ingat Dilla.


Kendra menghela napas. Ucapan Dilla masih tetap sama saja. Tidak bisa disaring sedikit pun.


"Astaga, Yaang. Dijaga kalau ngomong. Ntar didengar Rio gimana? Dia buat beneran loh! Ingat, dia kayak siapa?"


Seketika itu juga Dilla memukul mulutnya yang nyerocos tanpa di sensor.


"Ih, amit-amit, Mas. Kalau dia sampai bikin anak di usia tujuh belas, yang ada aku digeprek sama Mira," ucap Dilla.


Kendra mengernyit tidak paham maksud dari sang istri.


"Apa hubungannya sama Mira, Yaang? Dia kan tinggal di Surabaya kan sekarang?" tanya Kendra yang memang tidak tahu menahu.


"Iya, dia ikut suaminya ke Surabaya, Mas. Aku dan dia udah sepakat jodohin anak kita. Meskipun anaknya Mira baru usia ..." Dilla tampak mengingat usia anak sahabatnya itu. Namun, tetap saja lupa.


Ketika Kendra akan menanyakan lagi, terdengar suara seorang laki-laki yang mendekat ke arah mereka.


"Nggak ada jodoh-jodohan! Kalau mau anak kecil di rumah ini, kalian saja yang buat," ucap pria muda yang sangat tampan. Membuat Dilla dan Kendra menoleh ke belakang.


"Kan ... Rio aja setu—akh!" pekik Kendra yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Diem!" sentak Dilla dengan nada pelan.


Sementara itu, di belakang Rio tampak dua anak kembar yang tidak mirip sama sekali. Juga berbeda jenis.


"Siapa yang mau dijodohin, Mi? Mas Rio?" tanya seorang gadis cantik dengan body yang sangat ideal sekali. Padahal gadis itu mengenakan seragam SMP.


"Ck! Nambah satu perempuan di rumah, bakalan ribet dah," sahut seorang pria yang terlihat lebih muda dari Rio. Dialah Zacky, kembaran dari gadis cantik itu yang bernama Zuma.


Plak!


"Lo secara nggak langsung mengatakan kalau cewek itu merepotkan? Hmm?"


Dengan gerakan tangan yang begitu enteng, Zuma pun menggeplak kepala kembaran nya sendiri.


Rio menatap ke arah adik kembarnya lalu menganggukkan kepala.


Zuma menekuk wajahnya langsung.


"Pappiiiii ... mereka bully Zumaaa ...!" rengek Zuma dengan ekspresi yang dibuat seolah tersakiti.


Seperti biasa, Kendra langsung mendekat dan memeluk gadis berusia lima belas tahun tersebut. Menenangkan Zuma agar suaranya yang cempreng itu tidak semakin memekik.


"Udah, udah. Kalian minta maaf sama adik kalian," perintah Kendra yang memang selalu memanjakan Zuma, dari pada anaknya yang lain. Sebab, Zuma anak cewek satu-satunya di antara mereka.


Dilla yang melihat itu langsung menghela napas berat.


"Gitu kok mau nambah anak lagi. Yang ada kepalaku semakin pusing, Mas," keluhnya.


Sementara Rio menatap ke arah mamanya dengan tatapan penuh protes. Tidak terima jika dirinya dijodohkan.


TAMAT!


Ini beneran tamat, loh! Jangan ta minta lagi. Oya, di bawah ini spoiler kisahnya anak mereka. Follow akun penulis Yuta, biar nanti kalo mencutul kalian dapat notip.


Need A Bride


Spoiler di lampu merah


"Eh, eh! Ini kenapa gue ditarik, sih!" protes seorang gadis yang tengah ditarik paksa oleh seorang pria.


Beruntung, refleksnya bagus dan langsung menepikan sepeda motornya.


"Ikut saya!" titah pria yang menarik gadis itu.


"Jangan seenaknya, ya! Perbuatan anda ini bisa membahayakan nya—eh, tunggu. Bukannya anda itu Pak Rio?" tanya gadis itu memastikan ulang.


Sementara pria yang bernama Rio itu menatap lekat ke arah gadis yang ia tahu ialah muridnya.


"Jangan banyak bicara. Nanti saya kasih nilai plus di mapel saya. Sekarang, ikut saya!" tegasnya lagi yang langsung menggendong tubuh gadis bernama Yuan.


"Eh, eh! Motor saya gimana?" protes Yuan ketika pandangannya seolah terbalik. Sebab, ia digendong dengan posisi seperti karung beras.


"Nanti ada yang ngurus."


***


Apa jadinya, jika kamu sedang berhenti di lampu merah, lalu ada seseorang yang tiba-tiba menarik lengan kamu dan langsung mengajakmu ke sebuah pesta pernikahan. Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai mempelai.


Itulah yang di alami oleh Yuanita Adisti, biasa dipanggil dengan sebutan Yuan. Parahnya lagi, pria yang menarik dirinya dari lampu merah itu ialah seorang guru yang menjadi idola di SMA Dahlia, Rio Aldinas Rayyansyah.


Bagaimana Yuan menghadapi Rio di sekolah? Di mana pria tersebut terkenal dengan sikap dinginnya. Namun anehnya, banyak yang mengidolakan dan memberi sebutan pada Rio sebagai suami idaman. Apakah sebutan itu sama persis dengan apa yang Yuan terima? Ikuti terus, yuk!


***


Sekrol sekrol terus ke bawah. Ada inpo lagi😚



Ini kopernya. Awas, jangan keliru. Ntar tak ketcup. Makasih atas dukungan para Ayang selama ini ke Yuta. Lopiyu poreper. Mmuuaahh!