Hidden CEO

Hidden CEO
Sarung?



Di kantor 


Khalisa sudah berkeliling dengan salah satu karyawan yang ditugaskan untuk menjaganya. Menyusuri setiap lorong dan ruangan-ruangan tempat mereka bekerja. Menanyakan sesuatu yang menurutnya sangat aneh dan juga mengajak untuk berlarian. 


Alhasil, tingkahnya itu penghambat pekerjaan para karyawan. Namun apa daya, semua orang tidak ada yang berani membantah. Mereka tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik serta menghibur Khalisa yang masih betah di ruangannya. 


Sementara di ruangan Yunan, Cassandra duduk manis di sofa. Ia hanya bisa memainkan ponsel, sesekali menanyakan kabar putrinya kepada sang suami yang juga sibuk bekerja di depan laptop. 


Senyap 


Tidak ada yang bersuara. Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Yunan harus mengejar waktu karena sore ini akan pergi ke luar kota. Sedangkan Cassandra bingung mau berbicara apa, pasalnya Ia tetap ketar-ketir ketika Yunan meminta sesuatu yang lebih dari berciuman seperti yang hampir dilakukan semalam. Beruntung ia masih bisa memberikan alasan pasti. 


"Nanti sore kamu pergi jam berapa, Kak?" tanya Cassandra membuka suara. 


''Kurang lebih jam 04.00." Melihat jam yang melingkar di tangannya, kemudian kembali fokus kepada laptop. 


Beberapa menit kemudian suara tawa kecil membuatnya menoleh. Penasaran melihat istrinya senyum-senyum dengan layar ponsel. 


"Lagi apa sih? Kelihatannya seru banget?" kata Yunan yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Cassandra. 


"Ah, ini Laurent, katanya ngajakin jalan-jalan besok," jawab Cassandra jujur. Memperlihatkan pesan dari adik iparnya. 


"Kamu sudah akrab saja sama Laurent. Sejak kapan?" Yunan ikut duduk di samping Cassandra, kepo dengan pesan yang akan dikirimkan untuk sang adik. 


"Baru kemarin. Memangnya kenapa? Nggak boleh?" tanya Cassandra sinis. 


"Bukan begitu, Sayang. Kamu nggak pengen bicara sama kak Malena atau kak Lolita? Apa kamu nggak merindukan mereka? Sejak kapan kamu tidak bertemu mereka?" tanya Yunan bertubi-tubi. 


"Kakak, jangan bahas mereka lagi, aku malas." Cassandra mendadak cemberut ketika Yunan menyebut nama dua saudaranya yang sekarang tinggal di luar negeri. Entah apa masalah yang terjadi di antara mereka, yang pasti ia yakin ada sesuatu yang tidak disukai oleh Cassandra. 


"Sesama saudara itu gak boleh saling membenci, Sayang. Sekarang katakan padaku, apa sebenarnya masalah kamu dengan kak Lolita dan kak Malena?" Yunan terlihat serius. Berharap bisa menengahi perseteruan istri dan kedua kakak iparnya. 


Cassandra menceritakan tentang dirinya yang pernah diusir dari rumah kedua kakaknya. Sontak, itu membuat Yunan terkejut. 


Betapa tidak, Cassandra adalah adik kandung mereka, namun dengan teganya diusir saat membutuhkan seseorang untuk curhat. Yunan juga tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, karena dirinyalah akar dari penderitaan itu.


''Tidak hanya itu, Kak." Cassandra melanjutkan ucapannya. 


"Mereka juga mempermasalahkan sebuah ruko yang diberikan ibu padaku. Beberapa hari yang lalu mereka menghubungiku dan ingin memintanya kembali. Katanya untuk modal Kak Lutfhi dan Kak Novan, tapi aku menolak. Kemarin dia juga nelpon lagi, dan aku tidak menjawabnya. Mungkin mereka masih mau membicarakan itu.'' 


Yunan mengangguk paham. 


"Pokoknya aku nggak mau tahu dengan urusan mereka, yang penting aku bisa menghidupi ibu dan Khalisa, itu sudah cukup.''


Yunan tersenyum kecil. Merangkul pundak Cassandra dan mencium pipinya. Kini ia sudah berani lebih dekat dan tak canggung lagi untuk meminta sesuatu yang lebih intim. 


"Sebesar apa sih ruko yang diberikan padamu?" tanya Yunan, bukan mengejek. Ia hanya ingin memastikan sesuatu yang diminta oleh kakaknya itu. 


"Gak terlalu besar sih, Kak. Sebenarnya bukan masalah besar kecilnya, aku cuma nggak mau mereka menguasai semua harta dari ayah. Mereka juga sudah diberikan harta, tapi nggak tahu ke mana? Padahal mereka itu berpendidikan tinggi. Dulu kuliahnya di luar negeri, tapi setelah ikut suaminya, semua hartanya itu habis. Mungkin buat modal suaminya yang katanya pengusaha.''


"Kamu pengen hidup tentram, kan? Berikan saja ruko itu. Aku bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan termasuk ruko yang lebih besar," suruh Yunan dengan lembut. Takut permusuhan itu akan berkepanjangan. 


"Masalahnya ini bukan karena besar kecilnya harta itu, Kak. Ini adalah amanah dari ayah. Dia yang menyuruhku untuk mengelola, dan aku nggak mau jatuh ke tangan orang yang salah. Lagipula kak Malena dan kak Lolita itu gak bisa diandalkan, Ibu juga tidak setuju aku memberikan ruko itu pada mereka." 


"Baiklah kalau begitu ceritanya, aku nggak bisa memaksa. Semoga mereka sadar kalau yang dilakukan itu salah.''


Daripada mikirin orang lain, mendingan aku cari cara untuk mengajaknya ke kamar. 


"Sayang, aku capek, kita istirahat sebentar yuk! Mumpung Khalisa belum balik." Yunan tersenyum jahil. Menaik turunkan alisnya dengan cepat, tentu itu membuat bulu halus Cassandra berdiri. 


Namun, ia tetap mengangguk setuju. Terlebih Yunan memang membutuhkan dirinya sebagai hiburan di tengah pekerjaan yang sangat menguras otak. 


Cassandra membuka pintu kamar. Pandangannya mengedar mengelilingi ruangan yang minimalis namun sangat indah. Di sana ada ranjang yang berukuran besar, lemari dan juga meja rias, lalu di sisi kiri ada pintu kamar mandi. Tak begitu luas, namun semuanya lengkap. 


"Kamu biasa tidur di sini, Kak?" tanya Cassandra tanpa menoleh. Masih menikmati aroma parfum ruangan yang menenangkan.  


"Iya." Yunan hanya berdiri di ambang pintu. Menyandarkan tangannya di kusen. Menatap punggung Cassandra yang tampak terpesona dengan ruangan itu. 


Kakinya mengayun pelan, melingkarkan kedua tangannya di perut Cassandra. Meletakkan dagu di pundak sang istri. Menyesap aroma parfum yang menusuk rongga penciumannya. 


"Aku merindukan momen kebersamaan kita. Maukah siang ini kamu menghabiskan waktu bersamaku? Sebelum pergi, aku ingin tidur denganmu," lirih Yunan memelas. 


Cassandra membalikkan tubuhnya hingga keduanya bersihadap. Mereka saling melemparkan pandangan kemudian menyatukan bibir. Yunan menutup pintunya dengan kaki, menggiring sang istri menuju ranjang tanpa melepaskan ciumannya. 


Pelan-pelan tangannya melepas hijab yang dikenakan Cassandra. Lalu, melemparkannya ke sembarang arah. Sedikit pun tak celah pada sang istri yang sudah berada dalam genggamannya. 


Semakin lama keduanya semakin terbuai dalam alunan cinta yang bergelora. Mengurai rasa rindu yang sudah lama terpendam. Saling mengukuhkan cinta yang sempat menguar. 


Di tengah aksi Yunan yang hampir berhasil melucuti baju Cassandra, tiba-tiba wanita itu mendorong tubuh kekarnya hingga membuatnya terkejut. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Yunan tak mengerti. 


Cassandra bangkit dari ranjang. Ia membuka tas yang ada di meja nakas. Kemudian mengambil sebuah kotak berwarna merah dan memberikannya kepada sang suami. 


"Kamu harus pakai ini," ucapnya ragu-ragu. 


"Sarung?" Yunan mengerutkan alis. Namun apa daya, ia harus tetap memakainya demi keamanan sang istri yang belum ingin memiliki anak lagi.