
Bab. 66
Seperti dugaan Kendra sebelumnya. Di tengah malam, tiba-tiba saja tangannya terasa ditarik oleh seseorang dan ditempelkan di perut orang itu.
Dengan mata yang masih sangat susah untuk dipisahkan, Kendra mencoba untuk menuruti. Tidak mudah ternyata tidur dengan wanita secantik Dilla. Selain mendapat banyak wejangan dari mama sebelum tadi Kendra memutuskan untuk tidur, dia juga harus menekan rasa pemangsanya. Sebab, sudah di wanti-wanti oleh mama.
Kendra pria normal. Mereka sudah pernah melakukannya. Terlebih lagi Dilla memang sangat menggoda. Tentu, Kendra tidak serta merta diam begitu saja. Tadi sesaat sebelum tidur, pria iru sempatnya untuk menaruh tangannya di benda yang sekarang ini menjadi kesukaannya.
Bahkan dia sempatnya untuk meminumnya sebentar. Sebab ia tahu sebentar lagi bakalan tidak bisa berlama-lama bermain dengan benda tersebut jika bayi mereka sudah launching.
"Kend ... perutku mulas ...." rengek seseorang yang berada di sampingnya.
Mendengar hal tersebut, dengan sigap Kendra membuka mata dan langsung menoleh ke sampingnya. Dilla terlihat mengernyitkan kening dengan mata tertutup.
"Apanya yang sakit, Dill? Bangun dulu," panik Kendra. Pria itu langsung terduduk di tempatnya.b
"Tanganmu siniin," ucap Dilla sembari menarik tangan Kendra dan mengusapkannya dengan gerakan memutar di perutnya secara langsung. Tanpa dialasi dengan baju.
Ya. Dilla menyibakkan bajunya ke atas, sehingga tangan Kendra menyentuh secara langsung permukaan kulitnya.
Itu terasa sangat jauh lebih nyaman daripada Kendra yang berbicara lewat telepon.
"Begini terus, Kend. Ini lebih nyaman daripada paa kamu bicara sama dia," ucap Dilla yang masih malas membuka mata. Karena memang rasa kantuknya masih sangat banyak.
Kendra menghela napas. Ia kira kenapa, rupanya anak mereka ingin papinya menyentuhnya dan memanjakannya.
"Oh, ternyata anak Papi mau manja-manja ya, Sayang? Sama Papi? Hmm?"
Seperti biasa, Kendra mulai bermonolog dengan di dekat perut Dilla. Seolah dia benar-benar mengobrol dengan dedek bayi di dalam sana.
Kendra mulai membaringkan tubuhnya lagi, tanpa menarik tangannya dari perut Dilla. Pria itu menatap ke arah Dilla yang sangat cantik, jika sedang membutuhkan dirinya saat ini. Walaupun wajahnya tanpa make up sekalipun, wanita itu benar-benar seperti jelmaan bidadari surga.
"Kita nikah saja yuk, Dill!" ajak Kendra kepada Dilla yang dalam keadaan setengah sadar.
Wanita itu saat ini memegang tangan Kendra yang berada di atas perutnya, menuntunnya untuk terus mengusap perutnya. Tidak boleh berhenti. Kalaupun berhenti, Dilla akan menyadarinya.
Kendra sedikit banyak tahu mengenai kebencian Dilla pada sebuah pernikahan dari pak Atmadja. Pria itu menceritakan aibnya sendiri yang berimbas pada Dilla.
"Enggak, Dill. Aku dan Mama nggak akan ninggalin kamu. Bahkan aku nggak akan tergoda oleh wanita lain. Aku bisa jamin itu," ucap Kendra berusaha untuk membuat Dilla sadar sepenuhnya. Dia kecupi wajah Dilla tanpa menghentikan tangannya.
"Gombal," balas Dilla seraya terkekeh. "Lagian aku nggak cinta sama kamu," ujarnya lagi.
"Nggak perlu cinta. Aku aja yang cinta dan sayang sama kamu. Kamu cukup butuh aku di setiap napasmu," sahut Kendra begitu mantap.
Dilla masih bisa mendengarnya dengan jelas. Wanita itu terkekeh.
"Kebanyakan laki-laki memang manis banget mulutnya," ucap Dilla. Sangsi dengan ucapan Kendra.
"Mau bukti?" tanya Kendra.
Kali ini Dilla begitu tertarik dengan ucapan Kendra. Lalu wanita yang merasa perutnya mulai nyaman, pun membuka matanya.
"Aku tidak perlu kata-kata manis, Attakendra Rayyansyah. Aku hanya perlu bukti," ucap Dilla menatap dalam ke arah Kendra.
Entah, kesambet apa dia hingga bisa menanggapi umpan yang dilempar oleh Kendra.
Tentu saja Kendra tidak membuang kesempatan. Pria itu meraih ponselnya, mengotak atik sebentar, lalu menatap ke arah Dilla.
"Katakan sekali lagi, Honey," pinta Kendra menatap begitu teduh wanita yang saat ini wajahnya begitu dekat dengannya.
Dilla tersenyum. "Sudah kubilang, aku butuh bukti. Buktikan kalau memang kamu nggak kayak mereka."
Cup!
Kendra mengecup bibir Dilla dengan sangat cepat.
"Setelah sah nanti, aku akan alihkan semua hartaku atas namamu, kecuali milik Mama. Biar kamu tahu seberapa besarnya kesungguhanku."