Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 38. Mengaku



Bab. 38


"Kenapa sih lo, Dill? Balik-balik muka ditekuk kek begitu?" tanya Amira menatap heran sahabatnya. "Lagian lo juga aneh banget. Ini kenapa juga make jaket panas-panas begini. Nyolong di mana coba lo?" cecar Amira lagi.


Pun di angguki oleh Alex yang tampak menelisik penampilan Dilla saat ini. Mencurigai sekali. Eh, mencurigakan.


Bagaimana tidak curiga, jika saja terik matahari masih bisa mereka rasakan dengan sangat jelas dan nyata. Sampai-sampai membuat mereka nongkrong di sini sekarang. Kantin. Merupakan tempat yang paling mereka favoritkan di saat begini. Memesan es teh kocok buatan Bu Idah.


Lebih parahnya Dilla justru mengenakan jaket yang begitu rapat.


Mendapat tatapan yang penuh curiga dari dua sahabatnya, membuat Dilla sedikit risih. Tidak hanya risih dengan tatapan mereka. Tetapi juga risih dengan pakaiannya yang ia kenakan saat ini. Belum lagi tatapan aneh dari beberapa mahasiswa yang ada di kantin.


"Bukan kalian aja yang aneh, kali. Gue juga juga terpaksa gunain ini," sahut Dilla yang juga terpaksa.


Jelas saja Dilla terpaksa menggunakan jaket pria itu, demi menutupi mahakarya yang sengaja pria itu buat untuk dirinya.


"Lah, terus ngapain pake jaket?" sambar Amira seraya menggeleng kepala. Tidak mengerti apa yang sedang Dilla pikirkan.


"Ck! Lo nggak ngerti permasalahan yang sedang gue hadapi."


"Gimana bisa mengerti, Yaang Dill? Kalau saja lo nggak cerita sama kita," timpal Alex yang juga ikutan gemas dengan sikap Dilla.


"Iya juga, ya." gumam Dilla.


Amira dan Alex memutar bola matanya. Kenapa di saat seperti ini teman satunya ini justru tampak bodooh sekali. Padahal jika dilihat dari nilainya, Dilla merupakan salah satu mahasiswa berprestasi. Namun itu berlaku hanya di nilai akademik. Bukan pada kehidupan sehari-harinya.


"Makanya, cerita dulu dong, Nona Muda. Baru nanti ngeluh sama kita," saran Amira.


Dilla menatap ke arah sekitar. Sebelum membuka aibnya sendiri, ia ingin memastikan kalau tidak ada orang yang tahu permasalahannya yang satu ini. Iya. Yang satu ini. Bukan permasalahan yang lain.


"Jangan shock ya?" ingat Dilla lebih dulu sebelum memberitahu dua sahabatnya tersebut.


Tentu saja, perkataan Dilla dan juga ekspresi Dilla yang tampak serius, semakin membuat Amira dan Alex tambah penasaran.


"Aman aman. Udah, cepetan. Jangan make lama!" desak Amira yang memang tidak sabaran.


Dilla menarik napas panjang. Entah benar apa tidak jika dirinya memperlihatkan apa yang sedang ia coba tutupi sekarang ini.


Setelah merasa yakin, Dilla mencondongkan tubuhnya bagian atas ke depan, hingga kedua temannya itu mengikuti pergerakan Dilla. Lalu di detik selanjutnya mereka semua terperangah tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang ini.


"Gilaa!"


"Hebat!"


Dua komentar yang keluar dari mulut yang berbeda. Berseru dengan suara yang keras. Sontak saja membuat Dilla melayangkan tangannya ke arah mulut mereka secara bergantian.


"Sudah gue bilang, jangan shock." ulang Dilla mengingatkan. Menatap mendelik penuh ancaman.


Sedangkan kedua temannya itu menyengir. Mereka masih takjub dengan apa yang mereka lihat sekarang ini.


"Memangnya si Dimi ke sini?" tanya Amira. Karena ia tidak melihat orang yang disebutnya tadi.


"Atau Zack?" timpal Alex lagi.


Dua nama yang disebutkan mereka itu merupakan kekasih Dilla. Eh, bukan bukan. Lebih tepatnya disebut partner senang-senangnya Dilla di saat-saat tertentu saja.


Dilla menggeleng. Tebakan mereka sama sekali tidak benar.


"Lalu? Punya gebetan baru lagi?"


Amira memang tidak terlalu kaget jika Dilla bisa mendapatkan cowok sesuatu keinginannya. Sebab Dilla sendiri memiliki modal yang lebih dari cukup untuk itu. Juga tidak kaget dengan apa yang terjadi dengan Dilla saat ini. Sebab ada hal yang lebih parah lagi Dilla lakukan dari ini. Namun, Amira belum tahu siapa orangnya yang telah berhasil mengimbangi sikap gila dari temannya ini.


"Udah ih, cepetan! Nggak usah mikir segala. Kayak disuruh nikah aja!" sewot Alex yang kesal karena di gantung oleh Dilla, di saat rasa penasaran itu sedang menggerogoti dirinya sekarang.


"Diilll ...." pun Amira juga mendesaknya.


Dilla menghela napas. Melihat rasa penasaran teman-temannya ini memang sangat menyenangkan. Hanya saja dia sangat malas jika dicecar ribuan pertanyaan dari mereka.


"Dopen," jawab Dilla dengan nada suara yang lirih.