
Bab. 72
Dilla yang begitu kesal pun langsung mencubit, memukul dan apapun itu untuk melampiaskan kekesalannya pada Kendra.
"Aduh aduh aduh ... ini KDRT namanya, Ayang!" rengek Kendra bersikap seolah apa yang ia dapat dari Dilla itu benar-benar terasa sakit.
"Biarin!" sewot Dilla.
Kendra tersenyum di saat Dilla mengalihkan tatapannya ke samping. Wanita itu tampak begitu cantik jika sedang marah seperti ini.
"Terus tadi mau minta apa? Ambilin makanan? Atau ... camilan? Hmm?" cecar Kendra yang sangat tahu jika Dilla suka ngemil akhir-akhir ini. Di tambah lagi mereka memang belum makan siang. "Mas ambilin ke bawah, ya?" tawarnya sangat perhatian sekali pada wanita yang saat ini bahkan tidak mau menatap ke arahnya. Tampak sekali mukanya yang ditekuk tersebut.
Dilla sendiri memilih diam untuk sesaat. Ia ingin bicara serius kali ini, oleh sebab itu, Dilla menarik napas panjang, lalu dihembuskan secara pelan. Hal itu guna untuk mengontrol emosinya yang tiba-tiba meningkat jika mengingat akal licik pria yang saat ini sah menyandang status sebagai suaminya di mata hukum dan agama.
Sebelum membuka mulutnya, Dilla menoleh ke arah Kendra. Mengamati pria itu dengan teliti. Sebenarnya tidak ada yang kurang dari diri Kendra. Baik fisik maupun sikapnya. Hanya saja kata 'pernikahan' itu masih menjadi momok baginya.
"Kenapa liatinnya kayak gitu?" tanya Kendra. "Udah mulai lope lope sama Mas, ya?" ucap pria itu dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, serta memainkan alisnya. Menggoda Dilla yang begitu menggoda dirinya sedari tadi.
Padahal wanita itu hanya diam menatap tanpa menyentuh. Akan tetapi ada sesuatu yang mempunyai daya tarik begitu luar biasa. Membuat pandangan Kendra sedari tadi tidak bisa fokus sama sekali. Benda itu terlalu terang-terangan menantang dirinya.
Di tambah lagi dengan posisi Dilla yang menghadap miring ke arahnya dengan tangan yang menyangga kepala. Ah ... tangannya sudah benar-benar gatal sekali. Tidak sabar ingin meremasnya sekarang juga.
"Semalam kamu bilang mau buktikan padaku. Nah, sekarang mana?" ucap Dilla menagih janji Kendra. Beruntung dirinya masih ingat janji Kendra yang semalam.
Kendra mengerjapkan matanya. Seketika ia ingin lupa ingatan.
'Siall! Ternyata beneran ditagih sama ini cewek.' rutuk Kendra dalam hati.
"Yang mana, Honey?" tanya Kendra berusaha untuk mengelak. Semalam itu hanya spontanitas sikapnya untuk membujuk Dilla. Tidak menyangka jika dirinya benar-benar terjebak dalam perkataannya sendiri.
"Mas ... jangan ngelak lagi dari aku! Kamu yang udah bilang sama aku semalam. Terus sekarang aku udah masuk perangkapmu untuk menikah, kita udah sah juga. Jadi, sekarang giliran kamu, dong!" protes Dilla dengan bibir yang cemberut.
Glek!
Hal itu semakin membuat Kendra tidak bisa berkutik. Maju, takut disalahkan oleh mamanya. Mundur, takut kehilangan kepercayaan dari wanita yang merupakan ibu anaknya tersebut. Parahnya lagi kalau sampai ia langsung menjadi duda keesokan harinya. Duda satu hari.
"Kamu udah kaya, Honey. Masa masih kurang?" Kendra berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. "Oya, besok bukannya waktu Dedek kontrol, ya?"
"Mas ... jangan uji batas sabarku yang setipis tisu," geram Dilla menatap penuh arti. Membuat bulu kuduk Kendra meremang seketika. Merinding.