Hidden CEO

Hidden CEO
Rencana ulang tahun



Kepulangan Lolita disambut isak tangis oleh Margareth. Wanita itu tak henti-hentinya menitikkan air mata melihat keadaan putrinya. Sesekali merutuki diri sendiri yang terlalu percaya kepada orang lain juga mengeluh-elukan kekayaannya.


Namun ternyata, semua itu hanya ujian belaka. Allah telah mengambil semuanya dan menyisakan luka yang teramat dalam bagi putrinya.


''Kenapa kemarin kamu nggak bilang, Nak. Kenapa kamu nurut sama dia,'' ucap Margareth tak terima.


Seandainya saja ia bertemu pada Novan secara langsung, mungkin akan menampar pipinya berulang kali, sayang sekali ia sudah tidak bisa bertemu, karena Novan sudah masuk dalam penjara. Yunan sudah melaporkannya dengan pasal berlapis. Itu artinya sulit baginya untuk bisa keluar dari jeruji besi, kecuali atas izin Lolita.


''Aku pikir rumah tanggaku masih bisa diperbaiki, Bu. Aku masih mencintai Mas Novan. Lagipula waktu aku ke sini, Aldo juga ada bersamaannya. Aku takut dia menyakiti anakku.'' Mengucapkan dengan penuh luka.


Ujian hidup Margareth dimulai setelah anak-anaknya dewasa. Dulu sedikit pun ia tidak pernah mendapatkan masalah. Suaminya sangat baik, memiliki tiga anak yang sangat cantik-cantik menyempurnakan rumah tangganya. Hidupnya sempurna, tidak ada cobaan yang menerpa. Namun setelah suaminya itu meninggal, barulah ia merasakan pahit manis kehidupan, masalah tengah menimpa putri-putrinya.


''Sekarang Kakak istirahat saja dulu, nanti bicara sama ibu lagi,'' suruh Cassandra masih dengan suara lemahnya, karena keadaan tubuhnya memang kurang fit, bahkan kemarin sebelum pulang Yunan sempat membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.


''Kamu mau ke mana?'' tanya Lolita saat melihat Cassandra memakai tasnya lagi.


''Aku mau pulang. Sekarang aku dan kak Yunan sudah pindah, kami sudah tidak tinggal bersama ibu lagi."


"Karena sekarang kakak ada di sini, Kakak teman ibu ya?'' Lolita sangat setuju dengan pendapat dari Cassandra.


Setelah dari rumah Margareth, Yunan dan Cassandra langsung ke rumah Layin. Hari ini mereka berencana akan menjemput Khalisa dan pulang ke rumahnya sendiri.


''Oh iya, Kak. Dari kemarin aku mau bilang tentang ini.''


''Apa?''


Setiap kali Cassandra ingin bicara, Yunan terlihat sangat penasaran.


''Lusa hari ulang tahun Khalisa yang ke-5, aku belum punya rencana apa-apa. Apalagi sekarang aku kurang enak badan. Apa Kakak mau membantuku mempersiapkan pesta untuk dia?'' Permintaan macam apa itu? Yunan bahkan tidak tahu hari ulang tahun putrinya sendiri.


Sebagai seorang ayah, ia sempat menganggap dirinya merasa gagal karena tidak tahu apa-apa. Bahkan, makanan dan minuman yang tidak bisa dikonsumsi oleh putrinya pun. Sekarang, sedikit demi sedikit ia mulai mengenali bocah itu. Mengetahui apa saja yang diinginkan. Dan hari ini, dia mendapatkan satu fakta baru yang lumayan mengejutkan. Hari ulang tahunnya.


''Tenang saja Sayang. Aku punya Vila mewah, dan kita akan merayakan ulang tahun Khalisa di sana. Aku akan mengundang anak-anak Panti terdekat. Juga seluruh keluarga kita.'' Mengusap pipi Cassandra dengan lembut. Ia sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Cassandra masuk rumah. Ia menghampiri sang putri yang sedang sibuk bermain bersama Akram. Ah, lucu sekali. Seandainya ia bisa tinggal di rumah layin dengan banyak orang, pasti hari-harinya tidak kesepian. Sayang sekali, meski sudah ada asisten rumah tangga, Ia tetap merasa kesepian.


''Kalau Khalisa punya adik lagi, pasti dia nggak akan kesepian ya, Kak?'' tanya Cassandra tiba-tiba.


''Belum tahu juga sih, tapi aku rasa lebih cepat lebih baik. Nanti di saat kita tua, mereka sudah besar-besar dan mandiri. Bukan begitu Kakakku sayang?'' Menjawil dagu pria itu dan mengedipkan satu matanya. Menurut Yunan itu adalah kode dari sang istri untuk kembali menyiapkan diri.


''Bukan sekarang, Kak. Aku masih sakit.'' Cassandra menolak, jangankan untuk ritual di atas ranjang, berjalan saja tubuhnya terasa lemas dan Ingin jatuh.


''Baiklah, setelah hari ulang tahun khalisa, nanti kita akan program kehamilan. Pokoknya kamu nggak boleh minum pil KB itu, oke?'' Cassandra mengerti dan mau secepatnya hamil, ingin rumah semakin ramai seperti layaknya di rumah Layin saat Laurent datang.


Yunan membicarakan tentang rencana perayaan ulang tahun Khalisa kepada kedua orang tuanya dan juga Margareth, tentu rencananya itu langsung disetujui oleh semua pihak keluarga tak terkecuali.


Seminggu kemudian mereka akan merayakan hari anniversary yang ke-8, dan rencana kali ini bukan dengan pesta, akan tetapi mereka akan berlibur ke luar negeri dengan keluarga kecilnya. Sekaligus akan menjadi acara bulan madu untuk Yunan dan Cassandra yang memang belum pernah menikmatinya.


''Kira-kira mana tempat yang cocok untuk kita?''


''Terserah kamu, aku ikut.'' Yunan pasrah, ia menyerahkan pilihan kepada sang istri yang jauh lebih tahu tentang tempat-tempat yang romantis di belahan dunia.


Sebab, di manapun tempatnya hanya ranjang yang cocok untuk mereka berdua.


Jepang menjadi pilihan Cassandra.


***


''Aku pulang dulu, Bu. Mungkin besok setelah ke kantor, aku langsung ke Vila untuk meninjau proses dekorasi yang akan dibuat pesta. Kalau Ibu dan ayah memang nggak ada kerjaan, boleh ke sana langsung kok.'' Yunan memberitahu, tentu saja Laurent lebih bersemangat, ia akan segera datang ke Vila lebih dulu daripada keluarga yang lain.


Terlebih saat ini Zafan di rumah dan tidak ada tugas penting di kantor maupun di luar kota, ia tidak hanya menghadiri pesta ulang tahun Khalisa, namun juga menikmati indahnya di kota Bandung sekaligus liburan.


''Ibu akan datang lebih awal.'' Layin ikut antusias.


''Mau ikut bulan madu bersamaku dan kak Cassandra?'' tawar Yunan.


Dia ingat betul adiknya itu juga tidak sempat bulan madu. Karena setelah menikah, Zafan ditugaskan ke luar negeri. Alhasil, mereka LDR selama 1 bulan dan tidak ada waktu untuk berlibur. Mungkin sekarang mereka juga memiliki waktu yang tepat untuk melakukan itu.


''Terserah Mas Zafan, mau apa nggak?'' Laurent terlihat tak begitu berharap karena suaminya itu memang super sibuk.


Dan sekarang, jarang sekali ada waktu untuk dirinya. Mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel, jarang sekali bertatap muka. Mungkin hanya malam, itu pun singkat karena setiap Zafan pulang, Laurent sudah terlelap. Begitu setiap harinya, hanya weekend mereka berkumpul, terkadang pun pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya yang belum selesai.