
Rumah merasa hampa. Ocehan-ocehan yang biasa menghiasi telinga tak terdengar lagi. Hanya ada kesepian yang menemani hari-hari Zafan. Sejak kejujurannya waktu itu, Laurent lebih banyak mengurung diri di kamar. Tak peduli dengan tugasnya sebagai seorang istri. Ia juga menitipkan Akram di rumah kedua orang tuanya. Takut bocah itu paham dengan masalah rumah tangganya.
Weekend
Biasanya pagi seperti ini, Zafan menghabiskan waktunya di kamar dengan Laurent. Hanya sekedar bercanda di atas ranjang. Mengenang masa-masa indah sewaktu mereka masih pacaran dulu. Namun sekarang, ia harus seorang diri di taman belakang. Menatap mentari yang mulai muncul dari ufuk timur.
Sesekali menoleh ke arah dalam. Berharap sang istri menyusul dan memeluknya dari belakang, memberikan kejutan. Akan tetapi, itu hanya andai-andai yang tak akan terwujud.
''Apa Aden mau makan sekarang?'' tanya bibi yang baru saja datang.
''Tidak, Bi. Aku mau nungguin Laurent,'' jawab Zafan seperti yang selalu dikatakan sebelumnya.
''Tapi, tadi non Laurent bilang gak mau sarapan. Beliau langsung mau pergi ke rumah bu Layin,'' ujar bibi seperti yang dikatakan Laurent barusan.
Dahi Zafan mengernyit. Lantas, ia berdiri dari duduknya dan masuk. Mengetuk pintu kamar berulang kali.
''Buka pintunya, Sayang!" suruh Zafan dengan suara lembut. Tak henti-hentinya mengetuk, bahkan beberapa kali memutar knop mencoba membukanya. Namun nihil, Laurent memang sengaja menguncinya dari dalam.
Cemas melanda memenuhi ruang hati Zafan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu Laurent keluar. Memastikan perkataan bibi tadi.
Pintu dibuka dari dalam. Benar saja, Laurent tampak cantik dengan balutan gamis warna hitam dengan hijab yang senada. Baju itu seperti melambangkan isi hatinya yang suram. Mata wanita itu juga terlihat bengkak dan memerah membuat hati Zafan ngilu.
''Aku mohon jangan pergi,'' pinta Zafan mengiba.
''Apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku?'' imbuhnya lagi. Memegang kedua lengan Laurent. Sedikit pun tak membiarkan sang istri melepasnya.
Tidak ada jawaban. Laurent pun enggan menatap wajah Zafan. Setiap kali bertatap muka, pasti ia juga membayangkan pria itu memeluk wanita lain. Dan itu membuatnya ingin segera berpisah saja.
''Untuk sekarang aku pengen sendiri. Lebih baik kita intropeksi diri dulu.'' Menurunkan tangan Zafan dengan pelan.
''Untuk beberapa hari ini aku ingin tinggal di rumah ayah dan ibu.''
Zafan tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Percuma saja melarang, itu hanya akan membuat keadaan semakin runyam. Terlebih, perasaan Laurent pasti masih hancur karena pengakuannya waktu itu.
''Mungkin sekarang kamu menganggapku sampah yang sangat menjijikkan. Tapi aku mohon berikan kesempatan sekali lagi untuk bisa membahagiakan kamu dan Akram. Tanpa kalian, aku tidak mungkin bisa melanjutkan hidup.'' memberanikan diri memeluk Laurent dari belakang dan mencium pundak wanita itu.
Sementara Laurent sibuk mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Sebisa mungkin terlihat kuat dan tegar saat berada di depan suaminya. Bagaimanapun juga ia butuh sendiri untuk menjernihkan pikirannya yang kalut.
''Aku pergi dulu,'' ucap Laurent lugas.
''Aku akan mengantarmu,'' jawab Zafan menawarkan.
''Tidak usah, aku bisa pergi sendiri,'' tolak Laurent dengan tegas.
Melangkahkan kakinya yang terasa berat. Meninggalkan Zafan dan rumah yang memiliki banyak kenangan di antara keduanya. Rumah impian yang menjadi sandaran mereka selama lima tahun, dan memberikan kehangatan untuk keluarga kecilnya.
Kedatangan Laurent disambut hangat Erlan dan Layin. Masalah yang terjadi dalam rumah tangganya memang belum diketahui keluarganya. Hanya Yunan dan Cassandra yang tahu. Mereka sengaja bungkam atas permiantaan Laurent.
''Dia gak ikut, Bu, sibuk,'' jawab Laurent berbohong.
Tidak mungkin ia jujur, itu hanya akan membuat Layin syok dan terus kepikiran. Mungkin diam akan lebih baik. Begitu pikirnya.
''Pagi banget datangnya?'' Senyum merekah di sudut bibir Yunan melihat adik tercinta sudah tiba di rumah.
''Iya, Kak. Sudah lima hari aku ninggalin Akram di sini, kangen. Ikut tersenyum. Menyembunyikan kesedihannya di depan ibu dan saudaranya.
''Akram baik-baik saja. Dia juga tidak menanyakan kamu, malah dia bilang menyuruh kamu tinggal dengan papanya, biar punya adik,'' ucap Layin seperti yang dikatakan Akram semalam.
Senyum Laurent redup seketika. Enggan membahas tentang hubungannya dengan Zafan yang tidak baik-baik saja.
''Kamu lebih kurus, Rent.'' Layin memindai tubuh putri sambungnya itu. Pun dengan Erlan juga melakukan hal yang sama.
''Biasa saja, Bu. Mungkin karena ibu jarang melihatku jadi pangling." Laurent mengelak. Padahal ia juga merasa tubuhnya lebih kurus dari biasanya.
Betapa tidak, lima hari semenjak pengakuan Zafan, ia tidak selera makan. Hari-harinya hanya diisi dengan melamun dan tidur. Setiap harinya hanya mengonsumsi dua gelas susu untuk tenaga saja.
Di tengah asyiknya berbincang, Cassandra datang. Wanita pun ikut senang dengan kedatangan Laurent. Bersyukur sudah bisa melihatnya secara langsung setelah beberapa hari hanya bisa menyapa lewat ponsel.
''Hari ini jadwalku periksa.'' Mengusap lengan Yunan, mengingatkan.
''Ah iya, aku lupa, baiklah kita akan periksa ya.'' Mengusap perut datar Cassandra dan menciumnya lalu membisikkan sesuatu.
''Aku ikut, aku juga pingin lihat dede bayi.'' Khalisa menghampiri kedua orang tuanya. Disusul Akram dari belakang yang tak kalah kepo.
''Oke, nanti kita akan lihat dede bayinya sama-sama,'' jawab Yunan setuju.
''Bisa kita bicara?'' bisik Cassandra di telinga Laurent.
Wanita itu mengangguk lalu mengikuti kakak iparnya menuju teras belakang. Mereka duduk bersejajar, menatap ke arah kolam ikan.
''Ada apa, Kak?" tanya Laurent penasaran.
''Lima belas menit yang lalu Zafan menelponku. Dia minta maaf atas kekacauan yang diperbuat. Jika kamu menginginkan dia untuk jujur pada ibu dan ayah, dia juga akan mengakui kebejatannya di depan mereka. Menanyakan keadaan Akram dan juga meminta kak Yunan untuk menjaga kamu. Aku tahu, Rent. Ini sangat berat. Bahkan hanya ada beberapa perempuan yang sanggup menghadapinya.'' Menghentikan ucapannya.
''Kamu sangat luar biasa. Disaat suamimu melakukan kesalahan yang sangat fatal. Kamu masih memiliki kesabaran dan bertahan dengan pernikahan ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa sepertimu."
Meraih tangan Laurent dan menggenggamnya. ''Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Zafan?'' tanya Cassandra penasaran.
''Aku masih sangat mencintainya, Kak. Bahkan disaat dia melakukan kesalahan pun aku tidak ingin minta cerai. Aku tidak ingin menikah untuk yang kedua kali. Tapi aku juga takut, takut mas Zafan akan mengulangi kesalahannya lagi.'' Tangis Laurent kembali pecah. Ia tak sanggup membendung air matanya yang menumpuk di pelupuk.
Mungkin bercerita akan mengurangi sedikit beban berat yang mengendap.
''Ikuti kata hatimu. Pasti Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik," ucap Cassandra meyakinkan.