
Bab. 64
Bu Mawar yang sedari tadi menunggu Kendra untuk segera turun, namun tak kunjung juga melihat putranya turun ke lantai dasar. Hal itu semakin membuat bu Mawar resah.
Mungkin, mereka sudah pernah melakukannya sebelumnya. Akan tetapi bu Mawar tidak bisa membiarkan Kendra mengulanginya lagi. Oleh sebab itu beliau berinisiatif untuk naik ke lantai dua dan memanggilnya.
Pada panggilan pertama, sama sekali tidak mendapat sahutan. Dan bu Mawar memutuskan untuk mengetuk pintunya dengan sangat keras. Bertujuan agar penghuni kamar tersebut mendengar ketikannya.
Alhasil, canggung yang menghiasi meja makan sore ini. Malam belum tiba, ini masih petang.
"Kenapa Dilla? Masakan Mama tidak enak, ya?" tanya bu Mawar kepada mahasiswinya tersebut.
Dilla terkesiap. "Ah, enggak, Bu—Ma. Masakannya enak banget kok. Dilla suka," sahut Dilla gugup bahkan sampai merapat panggilannya.
Bu Mawar tersenyum mendengar pujian dari calon menantunya tersebut.
"Baguslah kalau kamu suka, Dilla. Sering-sering ke sini, ya? Biar Mama Ada temannya kalau pas nggak ngajar," ucap bu Mawar penuh maksud yang kemudian melirik ke arah Kendra.
Sebelumnya pria itu pernah berkata bahwa jika sudah menikah nanti ingin tinggal bersama sang mama. Namun, dengan cepat bu Mawar tolak. Bukan karena tidak suka. Melainkan ingin membiarkan Kendra dan istrinya nanti hidup lebih leluasa lagi. Biar bisa mandiri dan mengambil keputusan sendiri di dalam rumah tangga mereka kelak. Tidak harus ada kata sungkan, tidak enak, atau tertekan hanya karena mereka masih tinggal bareng dengan orang tua. Jelas bu Mawar lebih berpengalaman dan Kendra menurut saja.
"Memangnya Bu—eh, Mama mau berhenti ngajar?" tanya Dilla sedikit bingung. Pasalnya ia tidak pernah mendengar apapun mengenai hal ini.
Bu Mawar menggeleng. "Masih tetep ngajar, Sayang. Cuma kalau Kendra sudah mutusin tinggal di rumahnya sendiri bersama istrinya, Mama ya kesepian dong. Makanya, kamu kalau nggak ngampus, main ke sini aja. Ya?" pinta bu Mawar yang semakin membuat Dilla tidak mengerti.
Tiba-tiba saja Dilla tersedak oleh makanannya sendiri di saat mendengar jika Kendra memiliki istri. Itu artinya ....
"Tunggu tunggu tunggu," ucap Dilla setelah mengartikan ucapan bu Mawar barusan.
"Ada apa, Dilla?" tanya Kendra sembari meraih tangan Dilla dan menepuk punggung wanita itu. Namun dengan segera di hempaskan begitu saja.
"Jangan sentuh aku, Mas!" sentak Dilla secara reflek. Membuat Kendra dan juga bu Mawar menatapnya tidak mengerti.
"Kamu kenapa, Dilla? Kenapa bentak-bentak aku?"
Sementara Dilla tidak menyahut. Wanita itu menggeleng kepala. Tidak menyangka jika dirinya terlibat dengan seorang pria yang sudah bersuami.
Dia tersenyum, menertawakan dirinya sendiri karena terlalu ceroboh. Bahkan sampai hamil Anka dari suami orang lain.
"Kamu sudah punya istri?" tanya Dia menatap Kendra dengan tatapan penuh kecewa.
Belum reda kecewanya dirinya pada Kendra mengenai apa yang mereka lakukan tadi, kini harus bertambah lagi dengan satu fakta yang ia tahu.
Tentu saja jawaban Kendra membuat Dilla semakin bingung.
"Lamaran? Kapan?" ulang Dilla yang memang tidak pernah mengingat jika Kendra pernah melamar dirinya.
Kendra menghela napas dalam-dalam. Padahal dirinya sudah sering kali mengajak Dilla untuk menikah. Apa itu tidak bisa disebut dengan lamaran?
"Dilla Sayang—"
"Khem!" kalimat Kendra terpaksa terpotong karena deheman dari mamanya. Kemudian Kendra menoleh, melayangkan tatapan protes ke arah mamanya.
"Ma, ini anaknya mau romantis bentaran loh. Masa digangguin lagi?" kesal Kendra.
Tadi saja dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyentuh Dilla di saat wanita itu sedang terlelap. Eh, di saat sudah mendapat lampu hijau dari pemiliknya, mamanya justru datang mengacau.
"Lebih baik makan dulu, sebelum makanannya dingin. Mama nggak mau buat cucu Mama lapar," ucap bu Mawar tegas. Kemudian menatap lembut ke arah wanita cantik yang menatap mereka dengan tatapan belum mengerti akan situasi semua ini. "Ayo, Sayang. Makan yang banyak. Biar cucu-cucu Mama tumbuh sehat di sana," ucap bu Mawar pada Dilla dengan nada yang sangat lembut. Berbeda sekali ketika pada Kendra.
Sementara Dilla terbengong. Mengerjapkan matanya beberapa kali agar dirinya segera memahami situasinya sendiri.
"Cucu-cucu?" tanya Dilla menatap ke arah Kendra meminta penjelasan pada pria itu.
Namun, Kendra sendiri mengangkat bahunya. Tidak mengerti dengan maksud dari sang mama.
"Iya, cucu-cucu Mama, Sayang. Sebelumnya kan udah ada satu, nah, barusan kalian juga habis buat cucu untuk Mama lagi, kan? Berarti nambah lagi dong!" jelas bu Mawar sembari tertawa geli.
Semakin membuat Dilla menunduk malu. Lalu tangannya mengarah ke samping dan mencubit paha Kendra dengan sangat keras di saat pria itu mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu dikatakan.
"Belum, Ma. Masih mau masuk. Mama keburu gangg—hmmpp!"
Dengan segera Dilla menyuapkan makanan ke dalam mulut Kendra.
"Makan yang banyak, Mas. Biar nanti narik penumpangnya lancar." tekan wanita itu.
"Penumpang?" gumam bu Mawar yang semakin nambah PR buat Kendra menjelaskan semuanya.
Jangan lupa baca ini juga ya, Ayang!