Hidden CEO

Hidden CEO
Alergi



''Ternyata ananda Khalisa alergi cokelat, Pak,'' ucap dokter yang beberapa detik lalu memeriksa Khalisa. 


''Lalu, kapan dia sembuh, Dok?'' tanya Yunan masih sedikit panik. Takut kena omel Cassandra karena sudah ceroboh dan tidak bisa menjaga putrinya.  


''Karena semua susu yang ada di perutnya sudah dimuntahkan, dia akan cepat pulih. Semoga ini tidak terulang lagi ke depannya.'' 


''Alhamdulillah.'' Yunan bersyukur, berharap putrinya akan segera membaik seperti semula. 


''Kalau begitu saya permisi. Biarkan dia istirahat dulu, nanti kalau sudah bangun, berikan makanan yang tidak mengandung colekat.'' Dokter itu pamit. 


''Harus lebih waspada lagi, Yunan. Jangan sampai kecolongan. Khalisa belum tahu apa-apa, jangan di tanya tentang makanan dan minuman yang didinginkan. Kamu harus bertanya pada Cassandra tentang makanan yang boleh dimakan dan tidak,'' ucap Erlan panjang lebar.  


''Ya, Yah, aku yang salah karena tidak bertanya dulu tadi.'' 


''Beruntung kemarin pas beli es krim dia minta yang rasa strawberry.'' Mengusap kening Khalisa dengan pelan. Menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Ponsel milik Yunan berdering. Ia segera mengambilnya dan melihat nama yang berkelip di layar.  


''Cassandra nelpon,'' ucapnya pada semua orang. 


''Video call?'' tanya Layin kepo. 


Yunan mengangguk. Ia berdiri berlawanan dengan keluarganya. Takut cassandra tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Kini, hanya ada wajahnya di layar ponsel itu. 


''Kamu ajak Khalisa ke mana, Kak?'' tanya Cassandra dengan suara serak. 


''Aku ajak dia jalan, Sayang. Kamu baru bangun?'' tanya Yunan balik. 


Cassandra merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia duduk dan bersandar di headboard. Ya, ia memang baru bangun dari tidurnya, bahkan belum beranjak ke mana-mana.


''Cepat pulang, aku lapar,'' ucap Cassandra malu-malu. 


Mungkin karena kelelahan menangis ia jadi sangat lapar dan tak mampu manahannya lagi. 


''Aku masih agak lama, kalau kamu mau makan, makan saja dulu,'' ucap Yunan memberi saran. 


Tidak mungkin ia pulang sekarang, takut Cassandra khawatir dengan keadaan Khalisa. Setidaknya menunggu putrinya itu bangun dan lebih membaik. 


''Aku mau nungguin kamu saja, sekarang di mana Khalisa?'' tanya Cassandra menyelidik. 


''Khalisa tidur.'' Menggeser layar ponselnya ke arah sang putri yang terlelap di atas ranjang.  


Kening Cassandra mengenyit. ''Sebenarnya kamu di mana, Kak? kamu ajak Khalisa datang ke rumah ayah dan ibu?'' tanya Cassandra memastikan. 


Curiga dengan keberadaan mereka berdua, jika memang jalan-jalan mana mungkin Khalisa bisa tidur nyenyak di kasur empuk seperti itu. Aneh?  


''Iya, Sayang. Aku ajak Khalisa datang ke rumah ibu,'' jawab Yunan jujur. 


Percuma saja menutupi, itu hanya akan membuat kepercayaan Cassandra berkurang, apapun yang terjadi, harus tetap jujur. 


''Katanya cucuku datang. Di mana dia?'' Suara Sastro menggema membuat Cassandra gugup. Ia meraih hijab dan memakainya asal. Takut ada keluarga Yunan yang melihatnya. 


''Kakek jangan keras-keras, dia sedang tidur,'' ucap Yunan pelan, bahkan nyaris tak terdengar. takut mengusik Khalisa yang baru beberapa menit memejamkan mata. 


''Ada siapa saja di tempat itu, Kak?'' Kamu sendirian, kan?'' tanya Cassandra penasaran. 


''Kamu jangan marah, ya?'' Yunan berjalan menghampiri Erlan dan mengarahkan layar ponselnya ke arah ayah, ibu dan juga adiknya serta Sastro yang  berdiri bersejajar. 


Tercipta kehangatan baru di antara mereka. Cassandra bahagia bisa berbicara dengan keluarga tercinta. Meskipun saat ini belum siap untuk datang ke rumah, yang penting melihat mereka baik-baik saja. 


''Maaf ya, Bu. Aku belum bisa ke rumah. Minggu ini banyak pekerjaan. Mungkin minggu depan,'' ucap Cassandra merasa bersalah. 


''Gak pa-pa. Nanti ibu bisa berkunjung ke rumah kamu jika ingin bertemu dengan Khalisa. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu capek. Kesehatan itu lebih berharga daripada apa pun,'' tutur Layin. 


''Makasih, Bu.'' 


Yunan mengambil ponselnya lagi. Ia membawa benda pipih itu keluar dan berbicara berdua dengan Cassandra.  


''Aku jadi gak enak sama ibu dan ayah, kesannya seperti menantu durhaka saja,'' Cassandra tampak ketus. 


''Gak apa-apa, Sayang. Ibu memaklumi kok kalau kamu itu memang sangat sibuk. Kalau kamu lapar, makan saja. Mungkin aku pulang dua jam lagi.'' Melambaikan tangannya ke arah Cassandra lalu memutus sambungan teleponnya.  


Terpaksa Cassandra turun dari ranjang. Ia keluar dari kamar. Berjalan ke arah ruang makan. Duduk seorang diri menikmati jus jeruk. 


''Nona mau makan sekarang? Biar bibi siapkan,'' ucap  wanita paruh baya sembari membawa piring. 


''Iya, Bi. Aku terlalu lapar, rasanya udah gak tahan nungguin kak Yunan.''


Tudung saji dibuka, aroma masakan khas tercium menembus indra penciuman Cassandra. Matanya berbinar melihat beberapa menu kesukaannya tersaji di atas meja. 


''Kenapa kebetulan begini, Bi. Aku suka semua makanan ini.'' Menunjuk salmon dan juga rica-rica daging. 


Mengambil piring dan nasi sembari tersenyum senang. 


''Ini semua pesanan pak Yunan. Beliau sengaja meminta bibi membuat ini khusus untuk Nona,'' jawab Bibi membuat Cassandra melongo. 


''Ternyata dia masih ingat dengan makanan kesukaanku, aku jadi bersalah tadi sudah menyudutkan dia.'' Meletakkan sendoknya di atas piring. 


''Tapi gak pa-pa, dengan begitu dia tahu apa kesalahannya. Supaya gak seenaknya saja ingin menikah lagi,'' cetus Cassandra. 


Segera menyantap makanannya untuk mengurangi rasa lapar. 


''Handphone Nona berdering, apa harus saya bawa ke sana?'' tanya Bibi yang bertugas membereskan kamar utama.


''Ya, bawa ke sini saja, Bi. Nanggung,'' jawabnya dengan suara tinggi. 


Bibi datang membawa ponsel yang masih berdering dan memberikannya pada Cassandra. Ternyata nama Lolita berkelip di layar. 


''Tumben nelpon.'' Cassandra langsung menolak panggilan itu. Enggan bicara dengan orang yang pernah mengusirnya. 


Kepergian Cassandra dari Yunan tidak langsung beruntung. Awalnya, ia mencoba datang ke rumah Lolita untuk numpang tinggal sementara, namun wanita itu malah mengusirnya dengan alasan perusahaan suaminya mengalami masalah. Setelah itu, ia datang ke rumah Malena. Namun sama, kakaknya itu melarangnya menginap dengan berbagai alasan. Padahal, ia tidak tinggal gratis, hanya ingin curhat dengan masalah yang menimpanya. Meminta saran kepada mereka yang lebih tua.


Akhirnya, Cassandra memutuskan pergi ke Kanada dan berjanji tidak akan menghubungi mereka lagi. Menganggap mereka berdua sudah mati. 


''Hai, kok gak dimakan?'' sapa suara berat membuat Cassandra terbuyar dari lamunan. 


Tanpa disadari, ternyata Yunan sudah ada di sampingnya. Entah sejak kapan pria itu datang, Cassandra pun tak menyadarinya. 


''Kakak sudah pulang, di mana Khalisa, Kak?'' Menggeser tubuh Yunan, mencari putri kecilnya. 


''Dia gak mau pulang, katanya mau main sama Akram,'' ujar Yunan jujur.  


Cassandra tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan. Yakin putrinya nyaman dan baik-baik saja berada di rumah besar.