Hidden CEO

Hidden CEO
Bertemu Fany



"Katanya, hari ini papa dan mama mau datang ke sini. Tapi kok belum sampai ya, Nek?" tanya Aldo penuh harap. 


Sudah hampir satu minggu ia tinggal dengan kakek dan neneknya hingga merindukan mamanya. Bahkan ingin bertemu dan memeluknya. Meski umurnya sudah hampir tiga belas tahun, belum bisa lepas dari pelukan sang mama.  


"Mungkin sebentar lagi, Nak. Tapi tadi papa kamu mengirim pesan sudah sampai kok." Menunjukkan pesan dari Novan. 


Dalam tulisan teks itu sangat jelas Novan sudah tiba di bandara Singapura, bahkan tidak hanya tulisan. Novan juga mengirimkan sebuah foto yang menjadi lambang negara tersebut. 


"Tapi kok lama, apa papa bekerja dulu?" tanya Aldo sedikit cemas. Takut terjadi apa apa dengan papanya. 


''Sabar, Nak. sebentar lagi pasti mereka akan datang," jawab Ratri menenangkan. 


Aldo mengangguk. Ia kembali membuka buku sejarah yang ada di meja. Meminta kakeknya untuk menceritakan peperangan sebelum kemerdekaan. 


Berbeda dengan Aldo yang tampak cemas, Novan justru bahagia sudah mendapatkan tubuh Lolita. Kini, tidak ada yang terpenting dalam hidupnya kecuali kebahagiaan istri dan anak-anaknya. 


Setelah istirahat hampir satu jam, Novan terbangun dan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Membiarkan Lolita untuk beristirahat dan berencana akan membangunkannya nanti sesudah memesan makanan. Setelah itu, baru mereka akan mendatangi Aldo dan kedua orang tuanya. 


Suara gemericik air mengusik Lolita. Wanita itu membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Novan memang sengaja tidak menutup pintu saat mandi. Kebiasaan dari kecil dan tak pernah hilang hingga sekarang. 


Kemudian pandangannya menyusuri langit-langit kamar. Mengingat yang terjadi sebelum dirinya berada di atas pembaringan dalam keadaan telanjang. Nyawanya yang masih tercecer belum mampu untuk berpikir jernih.  


''Ternyata aku ada di hotel dengan mas Novan.'' Tidak terkejut sedikit pun. Memantapkan hati dengan pilihan yang diambil sekarang ini. 


Tak lama bergelut dengan pikiran, Novan keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggang. Memamerkan dadanya yang dihiasi dengan buliran air. Meski badannya kurus, namun tetap terlihat gagah. 


"Sudah bangun, Sayang?"


Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil lalu meletakkannya di sandaran kursi. Menghampiri Lolita yang masih bergeming di atas pembaringan. 


"Setelah ini aku akan mengajakmu bertemu dengan seseorang," ucap Novan penuh teka teki. 


"Siapa?" tanya Lolita pemasaran. 


Tidak biasanya Novan mengajaknya keluar, apalagi bertemu dengan seseorang. Selama ini ia selalu disembunyikan dan dianggap tidak penting, dan lebih memilih mengajak Fany jika ada acara penting… 


"Ada deh, kalau kamu tahu, artinya gak surprize." Mencubit pelan hidung Lolita lalu menyuruhnya untuk segera mandi. 


Tanpa mengulur waktu, Lolita segera mandi, penasaran siapa yang akan ditemui suaminya. Apakah itu saudara atau justru teman bisnis. 


Setelah rapi, Novan dan Lolita keluar dari kamar. Mereka menyusuri lorong dengan tangan saling terpaut. Sedikit pun tak memberi celah untuk terlepas. Memamerkan kemesraannya di depan pengunjung hotel juga para pegawainya. 


Setibanya di bawah, Novan menyapa seorang pria berjas dengan sopan. Berterima kasih karena sudah diizinkan untuk istirahat di kamar. 


"Sama-sama, Tuan. Kapan pun kamu menginginkan saya akan menyediakan kamar yang spesial."  


''Kebetulan sekali nanti malam aku juga ingin tidur lagi sini lagi.'' Novan mengangkat jempolnya tanda setuju.


Pipi Lolita merah Seketika mendengar percakapan antara Novan dan lelaki tersebut. Jika bisa, ia ingin tenggelam ke dasar jurang yang terdalam. Malu dengan pembahasan suaminya itu. 


Mereka datang ke sebuah restoran mewah yang tak jauh dari hotel. Duduk di meja nomor tiga puluh seperti yang dipesan. Menunggu seseorang yang tampaknya memang belum datang. 


"Siapa sih, Mas? Kenapa kamu ngajakin aku segala?" ucap Lolita sedikit cemas. 


Makanan dan minuman  yang dipesan datang. Lolita segera memakannya karena sangat lapar. Pun dengan Novan, sesekali ia menyuapi sang istri dengan romantis bahkan menjadi pusat perhatian hampir beberapa pengunjung lainnya.


Baru saja mengambil makanan, seorang pria berbadan tinggi tegap datang dan tersenyum. Bersalaman dengan Novan dan Lolita bergantian. Lantas duduk di kursi kosong. 


"Kenalkan, ini istri saya, Lolita." seolah memamerkan, Novan menunjuk Lolita yang diam seribu bahasa. 


Pria keturunan Jawa sunda itu  mengagumi dan tersenyum. Dari sorot matanya tampak takjub dengan kecantikan Lolita yang sangat luar biasa. Namun pandangannya sudah dialihkan seketika mendengar perkataan Novan.


"Cantik sekali," pujinya dalam hati. 


Setelah puas membahas hal pribadi, kini Novan dan tamunya beralih membahas pekerjaan. Mereka sangat serius saat meneliti sebuah dokumen penting, sedangkan Nabila hanya menjadi pendengar setia tanpa berkomentar apa pun.  


''Hai, Mas Novan.'' Suara merdu dari belakang membuat Lolita dan Novan menoleh. Mereka tetap duduk di tempat sembari menatap wanita cantik yang berjalan ke arahnya. 


Wanita yang tak asing di mata mereka berdua itu tersenyum renyah sambil berjalan menghampirinya.


''Ngapain kamu ke sini?'' tanya Novan ketus. Sekarang tidak ingin diganggu siapa pun termasuk wanita itu. Ingin fokus dengan Lolita dan Aldo tanpa mengingat masa lalunya.


''Aku kangen kamu.'' 


Penuh percaya diri, Fany memeluk Novan dari belakang. Namun, segara ditolak pria tersebut.


"Jangan bicara sembarangan. Aku gak suka.''


Dada Lolita terasa sesak mendengar ucapan Fany. Mana mungkin seorang istri sanggup mendengar suaminya dirindukan wanita lain. Pun dengannya yang tak rela.


''Beneran Novan, aku kangen sama kamu, masa kamu gak kangen aku sih?'' Kesal sendiri dengan sikap Novan.


Mencoba untuk memeluk Novan lagi.  


Sedangkan Lolita hanya bisa menyaksikan  betapa agresifnya Fany, wanita yang pernah digandrungi suaminya. 


''Jangan begini, Fan. Kita gak ada hubungan apa-apa lagi.''


''Kata siapa, aku kekasihmu dan kamu bilang akan menceraikan perempuan itu,'' ucap Fany mengingatkan janji Novan.


''Maaf, itu dulu, tapi sekarang aku akan tetap mempertahankan istriku.''


Tidak ingin ada keributan, Novan segera membantu Lolita untuk berdiri. Ia mengajak sang wanita untuk secepatnya berdiri dari duduknya. Namun, lagi-lagi pergerakannya tercekat oleh Fany. Wanita itu menarik Lolita dengan kasar.


''Gak bisa begitu, Mas. Kamu sudah berjanji padaku tapi kenapa harus kamu ingkari, apa ini karena perempuan ini?" pekik Fany.


''Iya. Mulai hari ini kita putus, jangan ganggu aku sedang sibuk,'' ucap Novan dengan tegas. Lantas ia pergi dari tempat itu dengan sang istri.


''Tunggu!" Suara Fany menggema menghentikan langkah Nabila dan mantannya dulu.


Suara dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin nyaring. Fany menghampiri Nabila dan merogoh amplop dari dalam tasnya lalu memberikannya pada wanita tersenyum.


''Dengan melihat ini, kamu akan tahu betapa bejatnya suamimu.''