
Bab. 82
Dilla sedari tadi membenarkan duduknya yang terasa kurang nyaman. Beberapa kali wanita itu berdehem demi menstabilkan detak jantungnya. Di tambah lagi tatapan dari tiga temannya yang saat ini menatap ke arahnya dengan tatapan membunuh. Eh, bukan. Lebih tepatnya seperti tatapan penagih hutang.
Ya. Tentu saja mereka menagih hutang penjelasan kepada Dilla. Mereka tidak akan memalingkan tatapan mereka sebelum mendapatkan apa yang sedang mereka pertanyakan saat ini.
"Kalian kenapa sih, kayak gitu? Kek nggak pernah liat cewek cantik aja!" ucap Dilla merasa sedikit kesal. Karena memang sedari awal dirinya masuk ke kelas, mereka menatap ke arahnya tanpa berucap satu patah kata pun.
Joana menggeleng kepala. Lalu menatap ke arah Amira yang duduk di sampingnya. Sementara Alex, berada di samping Dilla.
"Temen lo boleh gue rujak sekalian nggak sih, Mir?" tanya Joana menatap gemas ke arah Dilla sekarang ini.
"Boleh aja sih. Udah bosen gue sama orang tukang bo'ong," jawab Amira begitu enteng.
Sontak, membuat Dilla melotot ke arah Amira dan mencubit kecil lengan wanita itu hingga memekik sakit.
"Enak aja kalo ngomong!" ucap Dilla yang tidak terima ketika Amira dengan mudahnya menyerahkan dirinya sebagai tumbal untuk Joana. "Lagian, lo kenapa juga masuk kuliah, Jo? Orang udah tinggal launching juga. Make banyak tingkah," tanya Dilla kepada Joana.
Sementara yang ditanya hanya mengangkat bahunya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Dilla.
"Kuliah mah cuma buat alibi doang," ucap Joana dengan suara lirih.
"Terus yang bener?" timpal Alex yang juga penasaran. Padahal pria itu juga sedikit ngeri melihat perut Joana yang sangat besar, namun wanita itu malah dengan santainya berjalan ke sana dan kemari.
"Aslinya ya cuci mata. Lumayan, banyak yang muda. Kalau liat om om gue kan udah bosen lah!" jawabnya sambil terkekeh.
Amira menggeleng kepala mendengar ucapan Joana. Kenapa ketiga temennya ini tidak ada yang normal sedikit pun.
"Terus kalo lo gimana, Dill?" tanya Amira yang masih belum mengerti status Dilla saat ini.
Dilla menghela napas pasrah di tatap seperti ini oleh sahabatnya. Tidak mungkin dirinya bisa mengelak lagi. Di tambah kejadian tadi sudah terlihat sangat jelas sekali sikap Kendra kepada dirinya.
"Dia suami gue," ucap Dilla dengan suara yang sangat lirih.
Bahkan sangking lirihnya sampai-sampai membuat Alex yang duduk di sampingnya pun melotot dengan mulut terbuka. Sementara dua wanita yang ada di kursi seberang, mereka mengerjakan mata beberapa kali. Barang kali pendengaran mereka bermasalah.
"Ulang!" punya Joana dengan nada yang keras. Membuat beberapa mahasiswa yang ada di dekat meja mereka menoleh. Menatap penasaran kenapa ibu hamil tersebut berteriak seperti itu.
"Gue hamil, si Dospen itu Bapaknya. Dan sekarang kita udah nikah," ucap Dilla dengan lebih jelas lagi.
Demi apa, Alex langsung terjungkal ke belakang mendengar kenyataan mengenai Dilla. Beruntung, pria itu tidak meraih tangan Dilla. Karena dengan cepat Dilla refleks menjauh dari Alex. Hapal betul tabiat sahabatnya yang satu itu.
"Sudah gue dugong," cicit Amira yang tidak heran lagi.
Plak!
"Awh!" pekik Amira tertahan. "Kenapa lo malah tampar gue, pe'ak!" rotes Amira yang tiba-tiba saja mendapat tamparan dari Joana lumayan cukup keras. Terasa panas di pipi.
Sedangkan sang pelaku dengan wajah tanpa rasa bersalah sama sekali, wanita itu menggeleng.
"Enggak, gue cuma mau benerin mulut lo doang. Siapa tau karena shock, bahasa lo makin hancur," elak Joana yang kemudian menahan kekehnya saat melihat pipi Amira memerah akibat tamparan darinya.
"Bangs—"
"Huusstt!" dengan cepat Joana menempelkan jari telunjuk nya di depan bibir Amira. "Ada dua ponakan lo di sini. So, jaga bahasa lo. Oke?" ucap Joana seraya tertawa tertahan.
Dilla dan Alex pun mencoba menahan tawa mereka melihat wajah Amira yang memerah, menahan amarah pada bumil dan tidak bisa dilampiaskan begitu saja.