
Bab. 63
Dilla merasa ada yang mengganggu tidurnya. Wanita itu bergerak gelisah dengan mata yang terpejam. Tubuh bagian atas terasa sangat geli, oleh karena itu Dilla mencoba untuk menyingkirkan sesuatu dari atas tubuhnya. Namun, bukannya segera menjauh, rasa itu semakin jelas. Lenguhan pun taj tertahan lagi olehnya.
"Mmhhhh ... Dilla masih mau tidur," rengeknya sembari mengubah posisinya untuk miring, akan tetapi tetap tidak bisa. Tubuhnya benar-benar terasa berat.
Janggal dengan semua rasa yang ia terima, dengan sedikit rasa malas akhirnya Dilla membuka matanya secara perlahan.
Betapa terkejutnya Dilla saat mendapati Kendra ada di atas tubuhnya. Dan yang lebih parahnya lagi pria itu tengah mendekap dua benda kembar miliknya.
"Apa yang kamu lakukan!" tanya Dilla dengan suara yang sangat keras serta wanita itu mencoba untuk mendorong tubuh Kendra. Namun, sia-sia karena pria itu rupanya tidak berniat untuk beranjak sedikit pun dari sana.
Memang, Kendra tidak menindihnya secara langsung. Karena mungkin pria itu tidak mau membahayakan anak mereka. Namun, posisinya yang seperti ini benar-benar mengunci pergerakan Dilla.
"Minum dikit doang, Dill," sahut Kendra dengan begitu santai.
Membuat Dilla sangat kesal. "Minggir, nggak?" bentaknya lagi dengan tatapan yang sangat kesal.
"Bentar, ini nanggung banget, Dilla. Baru satu yang kurasain. Satunya lagi belum, karena kamu keburu bangun," tolak Kendra yang sama sekali tidak mau minggir dari atas tubuhnya Dilla.
"Ini namanya pelec—aaahh ....!"
Kalimat yang belum selesai terucap tersebut berubah menjadi sebuah desahaan yang sangat panjang, di saat Kendra dengan sengaja menggigit kecil ujung merah jambu dadaa Dilla. Benar-benar membuat Kendra begitu gemas.
Tidak hanya digigit, Kendra pun tidak membuang kesempatan di saat pemiliknya terlena dengan apa yang ia lakukan. Tentu saja Kendra menyesap, menggigit, dan memberi tanda di sekitar ujung yang berwarna merah jambu tersebut dan juga di sekitar dadaa serta leher.
Suara lenguhan dari Dilla memang sangat dahsyat pengaruhnya. Namun, beruntungnya Kendra masih bisa sadar dan akal sehatnya berjalan kembali secara normal, setelah beberapa menit yang lalu tidak berfungsi sama sekali.
"Apa sakit?" tanya Kendra.
Buru-buru pria itu turun dari atas tubuh Dilla dan segera memakai handuknya. Ia tidak mau Dilla shock melihatnya dan justru menjerit. Sementara di luar masih ada mamanya. Bisa-bisa dirinya dipenyet campur tempe dan juga daun kemangi nanti.
Dilla masih mengerjap menyadarkan diri. Setelah Kendra memberi sensasi yang membuat dirinya terlena, dan sudah hampir sampai di ujung tetapi pria itu justru menghentikannya.
Entah, ia harus senang atau kecewa. Yang jelas Dilla ingin sekali menjambak rambut pria itu.
Kendra yang sekarang ini membantu menaikkan baju Dilla lagi, walaupun sangat susah untuk membenahi kacamata dalamnya, pria itu memekik terkejut di saat tiba-tiba saja tangan Dilla menarik rambutnya dan menggoyangkan kepalanya. Tidak hanya itu saja, wanita barbar itu juga tidak lupa menggigit bahu Kendra.
"Kamu pikir aku apa, hah!" sentak Dilla yang masih terus meluapkan kekesalannya. Tidak memperdulikan kondisi tubuhnya. Toh, Kendra sudah melihat semuanya. Pikir Dilla. Walaupun kain segitiga masih menempel di tubuhnya.
"Iya, iya ... maafin aku. Aku khilaf, Dill," elak Kendra yang padahal sudah ada niat sedari masuk kamar.
"Kalau sudah memulai, kenapa nggak diselesaikan juga!"
"Hah?"
Seketika pikiran Kendra kosong. Seolah otaknya yang cerdas itu tidak berfungsi detik ini. Mendengar ucapan Dilla yang cukup membuatnya bingung.
"Maksudnya? Boleh?" tanya Kendra menatap tidak percaya ke arah wanita yang tangannya berhasil ia cekal dan kini Kendra tekan di sisi kepalanya.
Kendra bisa melihat, tatapan Dilla yang seolah kecewa kepadanya. Kendra pikir, Dilla kecewa karena dirinya berbuat lebih jauh daripada ciuman seperti yang ia lakukan. Tetapi rupanya di sini Kendra menangkap arti lain dari kekecewaan Dilla. Lebih lagi ketika wajah itu bersemu merah dan berusaha untuk berpaling darinya.
"Dilla ... jangan buat aku mengartikan yang salah. Memangnya boleh, aku jenguk Dedek sekarang?" tanya Kendra sekali lagi.
Karena tidak mendapat jawaban dari Dilla, Kendra menyatukan tangan Dilla di atas kepala wanita itu sendiri, lalu satu tangannya yang bebas berusaha untuk meraih bukit yang terlihat menggoda.
"Mmhhhh ...."
Kendra tersenyum miring di saat suara desahaan Dilla keluar. Ia semakin yakin maksud Dilla.
"Kalau memang mau, nggak usah sok nolak terus malu-malu. Bikin aku tambah nggak sabar," bisik Kendra tepat di sebelah telinga Dilla.
Jangan tanyakan wajah Dilla sekarang seperti apa. Wanita itu merutuki tubuhnya yang telah berkhianat. Niat hati menolak, justru suara desahaan yang keluar.
Kendra menurunkan tangannya dan menyelinap ke dalam kain segitiga. Memanfaatkan jarinya dengan sangat baik di sana.
Tentu saja, membuat Dilla tersentak kaget namun suara desahaannya sungguh begitu berhasraat.
"Jangan kasar ... Mas," ingat wanita itu dengan wajah bersemu merah.
Ah, Kendra benar-benar bisa gila kalau melihat ekspresi pasrah Dilla yang sangat menggemaskan.
"Kamu membuatku gi—"
Tok tok tok
Ucapan dan pergerakan Kendra terhenti seketika di saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Padahal kini bibirnya sudah siap melahap bibir seksi Dilla.
"Kend ... buruan bangunin Dilla! Masakannya udah matang!" teriak sebuah suara yang sangat mereka kenali.