Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 45. Saya Suaminya!



Bab. 45


Kendra melihat ada dua centang berwarna biru di pesan yang beberapa menit lalu ia kirim ke Dilla. Itu artinya Dilla sudah membaca pesan darinya.


"Siall! Cuma di baca doang," kesal Kendra.


Ia mencari ke rumah wanita itu, namun kata penjaga gerbang di rumahnya nona muda tersebut belum pulang. Sehingga membuat Kendra berbalik arah entah ke mana mengemudikan mobilnya sembari menghubungi Dilla. Meskipun tidak mendapat jawaban sama sekali dari orang yang sangat ia khawatirkan saat ini.


Akan tetapi, Kendra tidak berhenti dan menyerah. Pria itu mencoba untuk menghubungi Dilla lagi. Meskipun panggilan pertama tidak di jawab, Kendra tetap mengulangnya sembari mengemudikan mobilnya tak tentu arah.


"Kenapa sih nelpon-nelpon!" sahut suara seorang wanita di seberang sana penuh dengan nada yang sangat kesal. Membuat sudut bibir Kendra tertarik ke atas.


Bukannya marah karena Dilla berbicara dengan nada kasar kepadanya, Kendra justru merasa lega. Karena wanita itu masih bisa mengomel kepadanya.


"Kamu ada di mana?" tanya Kendra dengan nada yang sangat lembut. Sama sekali tidak terpancing dengan cara bicara Dilla.


"Bukan urusan Bapak!" sahut Dilla dari seberang telepon.


Kendra tidak berbicara lagi. Pria itu justru menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu mengotak ngatik sebentar baru kemudian menempelkan kembali ke telinganya.


"Jangan ke mana-mana. Aku akan segera ke tempatmu," ujar Kendra kemudian dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya.


Tentu saja membuat Dilla yang sekarang ini masih menunggu giliran dia dipanggil pun merasa heran sekaligus bingung.


"Maunya dia apa sih!" kesalnya. "Sudah untung aku jawab, tapi main putus gitu aja. Nyebelin banget jadi orang." gerutu Dilla yang masih berlanjut. Bahkan sampai membuat satu orang yang ada di sebelahnya pun menoleh dengan tatapan aneh.


Dilla memberi gerakan meminta maaf karena sudah mengganggu kenyamanan orang tersebut.


Tidak berselang lama orang itu pun di panggil dan kini tinggal Dilla sendirian menunggu di sana.


Beberapa menit berjalan terasa membosankan. Dilla memilih untuk mengecek bursa di perusahaan orang tuanya. Tanpa terasa ia mendengar ada orang yang tengah memanggil dirinya.


"Nona Adilla Atmadja!" panggil orang itu untuk yang ke dua kalinya. Karena yang pertama Dilla seolah tidak mendengar.


"Ah, iya, Sus. Saya!" sahut Dilla.


Wanita itu segera berdiri dan menuju ke ruang dokter yang praktek di klinik tersebut.


Namun, ketika sudah berada di depan ruangan dokter, tiba-tiba saja ada seorang pria yang berlari ke arahnya. Menubruknya pelan lalu memeluknya dengan sangat erat. Membuat Dilla terkesiap kaget.


"Lepasin, Pa—Mas," ralat Dilla ketika ingin memanggil pria itu dengan sebutan 'pak', namun segera ia ubah. Karena mendapat tatapan dari suster yang ada di sana.


Akan aneh jika ia memanggil Kendra dengan sebutan 'pak'. Pikir Dilla. Dikiranya nanti ia sedang menjalin hubungan dengan suami orang. Dari cara Kendra memeluknya saja sudah terlihat jelas sikap posesif pria itu. Bahkan napas pria itu masih terengah.


Kendra segera menarik diri, sadar dirinya sekarang berada di mana.


"Ada apa denganmu? Kenapa ada di klinik? Kamu nggak enak badan? Kata Mama tadi kamu muntah-muntah?" cecar Kendra dengan puluhan pertanyaan yang semakin membuat Dilla bertambah pusing saja.


Sementara suster yang memanggil Dilla tadi mencoba untuk menahan senyum.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Dilla. Sudah jelas sangat kesal.


Bagaimana tidak kesal, jika pria ini datang-datang langsung menubruk terus memeluknya begitu erat tanpa permisi. Mana di tempat umum seperti ini. Untung saja tidak ada anak kecil yang melihat tindakan Kendra kepada dirinya.


Malu? Jangan ditanya lagi. Sudah jelas Dilla rasakan.


"Apaan, sih! Nanya tanpa spasi sama sekali," kesal Dilla namun dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.


Kendra tersenyum meskipun raut khawatir masih terlihat begitu kentara di wajahnya.


"Aku khawatir sama kamu, Dilla," ujar Kendra.


"Maaf menyela sebentar, Nona. Silahkan masuk terlebih dulu, Dokter sudah menunggu anda," sela suster yang ada di ambang pintu.


Dilla menghela napas. Menormalkan emosinya terlebih dulu sebelum masuk. Kemudian mengabaikan Kendra dan mengikuti langkah kaki suster tersebut.


"Aku ikut!" ucap Kendra yang main masuk begitu saja. Membuat Dilla terkejut. Namun, yang lebih terkejut lagi kalimat lanjutan dari pria itu ketika mendapati tatapan keberatan dari suster. "Saya suaminya." tekan pria itu yang tidak bisa di bantah.


Dilla menunduk malu sembari meremas bajunya sendiri. Menyalurkan amarah yang terkurung untuk saat ini.


'Dopen sialaaaann!' umpat Dilla di dalam hati.