
“Dari mana saja kamu?” tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan sedang menatap tajam ke arah wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah dalam keadaan acak-acakan. Tidak serapi sebelumnya lagi.
Wanita itu tampak mendengkus pelan. Lalu dengan cueknya melepas sepatu dan berganti sandal rumahan baru kemudian pergi berlalu mengabaikan papanya yang jelas-jelas sedang bertanya kepadanya.
“Adilla!” sentak papa Atmadja dengan suara yang begitu tinggi. “Apa sopan kamu bersikap seperti itu ketika Papa bertanya padamu!” sepertinya kesabaran yang di miliki oleh papa Atmadja memang setipis tisu jika sendang menghadapi sikap putri semata wayangnya.
Kenapa juga dulu ia tidak membuatkan adik untuk anak itu. Sehingga paling tidak ia memiliki pilihan lain jika memang Dilla sedikit bandel seperti ini. Pikir papa Atmadja yang tentu saja itu tidak akan terjadi lagi. Sebab pria itu sendiri sudah lama menjadi duda selama puluhan tahun.
Sementara Dilla menghentikan langkahnya. Malas sekali sebenarnya berbicara dengan papanya yang jelas-jelas akan membahas hal yang sangat tidak dia sukai sama sekali. Wanita itu melangkah menuju sofa yang ada di seberang papanya. Menatap dengan tatapan yang begitu lelah.
“Ada apa?” tanya Dilla dengan suara malas. Bahkan dia pun tidak menatap ke arah papanya. Dilla memilih menatap ke arah luar jendela, di mana warna jingga di langit pun tampak begitu jelas.
“Dari mana saja kamu? Bukannya tadi kuliahnya pulang siang? Dan kamu nggak ke perusahaan meskipun sudah di hubungi sama Agnes.” Cecar papa Atmadja yang tidak bisa lagi membendung rasa geramnya pada Dilla yang memang sangat menguji kesabaran.
“Tentu saja aku belajar, Pa. Mau ke mana lagi memangnya?” sahut Dilla yang jelas-jelas wanita itu berbohong.
Oleh karena itu, Dilla memilih untuk memesan jus apel saja dan beberapa camilan yang tersedia di sana. tentu dengan di temani dentuman music yang tidak terlalu seru seperti malam tiba.
Dilla hanya ingin melepas rasa penat dan rasa keterkejutannya ketika mengetahu jika pria pemilik bibit yang pernah dia beli pun masih ingat dengan sangat jelas sekali.
Bahkan yang lebih parahnya lagi dan tidak Dilla sangka, pria itu merupakan anak dari dosen kesayangannya. Tidak hanya itu saja, entah memang kebetulan atau memang sudah di rencanakan sebelumnya, pria itu pula yang menjadi dosen pengganti untuk beberapa hari ke depan.
Semakin membuat Dilla merasa kurang nyaman. Ia sudah berencana untuk tidak masuk ke depannya jika ada kelas pria tersebut. akan tetapi Dilla berpikir kembali.
Ia merupakan anak tunggal dari keluarga Atmadja, meskipun akhlaknya sangat minim tetapi paling tidak ia mempunyai sesuatu yang dapat di unggulkan. Dilla selalu menekankan dirinya untuk tidak boleh mendapat nilai di bawah rata-rata. Itulah sebabnya Dilla harus memupuskan rencana sebelum benar-benar memulai kuncupnya.
Papa Atmadja menggeleng kepala samar serta memijit sebentar bagian pelipisnya. Kepalanya terasa sakit jika berhadapan dengan putrinya sendiri.
“Papa mau bicara serius sama kamu, Dilla,” kali ini suara papa Atmadja tidak lagi menggebu seperti sebelumnya, setalah pria paruh baya tersebut mengatur napas dan juga emosinya. Menanangkan dirinya agar tidak selalu terpancing dengan tingkah putrinya, meskipun sempat meledak sebentar tadi.