
Bab. 52
"Dia nggak lagi kesambet, kan?" tanya Alex sembari menyenggol lengan Amira. Karena mereka melihat hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Bagaimana tidak heran dengan sikap seseorang yang kini ada di hadapan mereka. Tanpa merasa terusik sedikit pun, dan seolah tidak mau di ganggu. Dilla begitu menikmati rujak manisnya. Bahkan tidak menawari kedua temannya yang hanya bisa meneguk liurnya sendiri.
"Dari sikapnya sih kayaknya iya," sahut Amira memperhatikan Dilla makan. "Liat aja deh. Bahkan dia nggak nawarin kita sama sekali. Cuma di suruh jadi penonton doang." Lanjut Amira.
Melihat Dilla makan begitu lahap, padahal isi rujak manis tersebut lebih banyak buah yang rasanya masih masam. Namun, wanita itu tampak seperti sedang makan nasi dan sambal terasi saja. Tanpa jeda sedikit pun.
"Kalian nggak usah pada ngoceh nggak jelas deh. Kalau pingin, ya beli sendiri. Gue beli dikit soalnya," ucap Dilla yang mendengar obrolan teman-temannya.
"Nggak deh, makasih," sahut Amira cepat.
Melihat Dilla makan buah masam aja sudah membuat mulutnya berliur dan ngilu. Gimana makan secara langsung. Iihh ... Amira tidak akan sanggup menahan rasa masam buah mangga dam kedondong yang terlihat masih sangat muda tersebut.
"Lagian lo itu kenapa sih, Ayang Dilla. Kok tumbenan aja makan kayak gitu?" tanya Alex yang sangat penasaran. "Akhir-akhir ini juga lo sering ngemil. Tuh, lihat pipi lo. Udah bisa dicubit," imbuh Alex.
Dilla langsung menghentikan kegiatan makan rujaknya. Mendengar pipinya mengalami perubahan, wanita itu pun langsung mengambil cermin dari dalam tasnya dan berkaca. Melihat pantulan wajahnya di balik cermin tersebut.
"Nggak tuh. Sama aja deh perasaan," gumam Dilla sembari mengamati wajahnya sendiri.
"Bene—"
Amira langsung membungkam mulut Alex ketika pria itu akan berkata sesuatu lagi. Dapat Amira pastikan, kalau Alex akan berkata yang nantinya bakalan menyinggung perasaan Dilla.
"Haish! Daripada lo berisik, mending duduk di tempat lo. Karena sebentar lagi dosen killer itu datang. Bisa dibantai lo sama dia kalau liat lo nggak ada di tempat," ingat Amira tentang kelas yang sebentar lagi di mulai. "Dan lo, Dill. Cepetan beresin atau lo kena hukum sama itu dosen," lanjut Amira untuk Dilla.
Meski kesal karena tidak bisa menghabiskan rujak itu, namun Dilla juga tidak mau berurusan dengan dosen yang sebentar lagi akan mengajar di kelas mereka. Sudah cukup dirinya berurusan dengan dosen yang nyebelin itu. Tidak untuk dosen yang lain.
Tidak berselang lama, orang yang sedang mereka bicarakan pun tiba dan langsung masuk ke kelas.
Tampak semua mahasiswa langsung diam. Tanpa berani ada yang membuka suara.
Namun, tidak berlaku untuk Dilla.
"Ck! Kenapa dosen itu balik ke sini, sih? Bukannya lebih baik kerja di luar negeri saja. Makin tambah satu lagi orang yang nyebelin sekarang," gumam Dilla dengan suara sedang.
Entah sengaja atau tidak, tetapi gumaman Dilla tadi pun terdengar oleh yang bersangkutan.
Plak!
Sebuah penghapus pun melayang tepat di meja depan Dilla. Membuat wanita itu mengeram kesal.
"Kalau tidak ingin mengikuti materi saya, silahkan keluar!" titah dosen tersebut dengan tatapan yang begitu tajam.
Dilla memutar bola matanya jengah. Kebetulan juga dia tidak suka dengan materi yang akan diajarkan oleh dosen itu, pun Dilla langsung bangkit tanpa diminta untuk kali kedua. Membuat mahasiswa yang lain membatin kagum dengan sikap Dilla yang berani. Bukan bukan. Lebih tepatnya memang wanita itu sedikit berbeda.
"Dengan senang hati," sahut Dilla sembari memberikan senyuman paling manis ke arah dosen tersebut.