Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 41. Kurang Nyaman



Bab. 41


Satu bulan sudah Dilla menjalani hidupnya pasca merelakan keperawanannya demi misinya. Namun, wanita itu belum melihat adanya perubahan pada bentuk tubuhnya. Selain dadanya yang semakin terlihat membesar. Itu pun juga ada sebabnya. Tentu saja Dilla merasa frustasi. Masa iya harus mengulang perbuatan itu lagi.


Dan dalam satu bulan itu juga hidupnya di kampus menjadi tidak sebegitu tenang. Bagaimana bisa tenang, jika dosen pengganti bu Mawar masih saja aktif di sana.


Terkadang Dilla ingin sekali menjenguk bu Mawar. Ingin tahu seberapa parah kah penyakit yang di derita wanita paruh baya tersebut.


Akan tetapi, niatnya selalu terhalangi. Setiap kali ia bertanya pada Kendra, pria itu selalu menjawab lain dari pertanyaan yang Dilla lontarkan. Mengatakan kalau Dilla sangat tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya. Jelas saja, Dilla menelan kembali niatnya.


Ini sudah satu minggu Dilla tidak melihat dan terganggu lagi oleh dosen gadungan tersebut. Sehingga membuat harinya di kampus terada kembali seperti dulu. Walaupun ada yang sedikit berbeda.


"Eh, itu Bu Mawar udah datang," ucap Amira yang sedang duduk di pinggir jendela kelas. Kebetulan juga wanita itu menatap ke arah luar jendela dan tidak sengaja melihat kedatangan dosen yang sudah lama tidak masuk.


Dilla yang mendengarnya pun menoleh, ikut mengintip dan benar saja. Wanita paruh baya yang sempat dia khawatirkan sekarang sudah masuk kembali.


Ada rasa lega, namun ada rasa yang hilang dari dalam diri Dilla. Entah apa itu. Yang jelas terasa tidak nyaman.


Semua diam di saat bu Mawar masuk kelas. Materi pun di mulai. Dan di sepanjang materi yang disampaikan oleh bu Mawar, Dilla tampak diam dan tatapannya mengarah ke ponsel yang ada di atas meja. Seolah berharap ponsel tersebut menyala.


"Lo kenapa? Sakit?" tanya Amira ketika mendapati sahabatnya bersikap lain. "Biasanya kan kalau pas ada Bu Mawar, lo antusias banget. Kok ini kek ogah-ogahan gitu mukanya."


Tentu saja, sebagai teman dekat Dilla, Amira sangat tahu kebiasaan Dilla jika sedang bersama dengannya. Lebih lagi ini sedang ada dosen favorit Dilla yang mengajar.


Sementara Dilla menggelengkan kepala. "Lagi pusing mikirin perusahaan," ujar Dilla.


Memang tidak sepenuhnya berbohong. Karena setelah acara keluarga yang di adakan beberapa minggu lalu, Dilla dipaksa untuk aktif di perusahaan. Bukan tanpa alasan, tentu saja papa Atmadja dan kakeknya tidak ingin apa yang menjadi hak wanita itu ajan berpindah tangan ke omnya. Hingga selama itu pula ia jarang masuk ke kampus jika ada meeting atau urusan dadakan di kantor.


"Ya gimana lagi, orang lo anak tunggal. Mau nggak mau kan juga lo harus belajar jadi pemimpin, kan?" sahut Amira.


Bukan. Bukan itu sebenarnya yang sedang Dilla renungkan saat ini. Entah kenapa perasaannya jadi tidak nyaman saja.


"Lo mau jadi adik angkat gue nggak? Biar lo aja yang pusing, ntar dananya masuk ke gue," tawar Dilla begitu asal. Mencoba untuk menghilangkan rasa kurang nyaman yang ada di dalam dirinya.


Amira langsung melirik sinis. Lalu memukul pelan lengan Dilla.


"Ogah banget gue, lo jadiin mesin Atm kek begitu." sahutnya yang mendapat kekehan kecil dari Dilla.


Padahal dia serius. Tetapi kalau papanya mengijinkan. Sehingga dia tetap bisa hidup bebas seperti dulu. Tidak seperti sekarang.


"Ntar gue bilang ke Papa suruh angkat lo jadi anak," ucap Dilla yang masih melanjutkan pembahasan tersebut.


"Eh! Jangan ngadi-ngadi deh!" seru Amira yang tanpa sadar. Membuat seisi kelas menoleh. Bahkan sampai bu Mawar menggeleng kepala melihat tingkah lakunya.


Di pertengahan materi yang masih berlangsung, tiba-tiba saja Dilla merasakan perutnya yang kurang nyaman. Sampai-sampai wanita itu memegang dan sedikit menekannya agar rasa kurang nyaman yang dia rasakan segera pergi.


Kali ini Alex yang duduk di belakang Dilla pun mengernyitkan kening. Bingung dengan apa yang dilakukan oleh Dilla.


"Lo kenapa, Yaang Dill?" tanya Alex sembari mendekatkan kepalanya ke arah Dilla. Bertanya dengan suara lirih.


Dilla menggeleng. "Enggak tau, tiba-tiba aja perutku rasa mu—hmmp!"


Dilla tidak menyelesaikan kalimatnya. Wanita itu membungkam mulut dan langsung berlari keluar kelas tanpa ijin terlebih dulu.