Hidden CEO

Hidden CEO
Kedatangan ayah Novan



Kebersamaan Yunan dan Cassandra tidak hanya dipenuhi kebahagiaan, namun juga masalah-masalah kecil yang menimpa keluarganya. Seperti halnya masalah yang menimpa Lolita saat ini.


Setelah semalam dari hotel, Yunan dan Cassandra ditelepon oleh Margareth. Ibunya mengatakan bahwa hari ini keluarga dari Novan akan datang ke rumahnya membicarakan tentang masalah yang menimpa keluarga Lolita.


Alhasil, akan melibatkan Yunan lagi. Pagi sekali mereka berangkat ke rumah Margareth. Yunan tidak hanya sendiri, namun ia mengajak Erlan, ayahnya.


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih lumayan sepi. Sengaja Yunan datang lebih pagi dari jam yang ditentukan Ibu mertuanya. Takut terjebak macet.


Jadwal yang begitu padat membuatnya harus secepat kilat menyelesaikan masalah satu persatu. Sebab, setelah ini dia akan ada rapat, dilanjut pertemuan dengan klien di luar kantor. Setelah itu, ia akan berangkat ke Jepang untuk merayakan hari Anniversary selanjutnya.


''Ngantuk lagi?'' goda Yunan sembari mengusap wajah Cassandra dengan lembut. Tentu saja tebakannya itu benar, pasalnya semalam ia tak memberikan waktu sedikit pun untuk Cassandra tidur, bahkan mereka baru selesai ritual jam 04.00 pagi. Setelah itu bangun dan membersihkan diri langsung pulang. Cassandra tidak sempat memejamkan mata.


''Nanti kalau di Jepang, aku nggak mau seperti semalam lagi,'' ucap Cassandra dengan bibir mengerucut.


Yunan tertawa lepas penuh kemenangan. Betapa tidak, dalam setiap permainan, ia yang memimpin, sedangkan Cassandra seperti anak kucing yang selalu mengikuti induknya.


''Terima kasih kamu sudah memberikan hadiah yang spesial untukku di hari ulang tahun pernikahan kita. Aku tidak tahu apalagi yang kamu inginkan. Tapi aku akan terus berusaha membuatmu nyaman berada di sisiku.''


Mobil terparkir di depan gerbang. Sengaja Yunan tidak memasukkan mobilnya, karena dia hanya mampir sebentar untuk berbicara dengan orang tua Novan. Waktunya sangat sempit dan tidak bisa berlama-lama.


''Sepertinya ayah sudah datang.'' Menunjuk mobil Erlan yang terparkir tepat di depan pintu.


Mereka masuk bersamaan dengan tangan saling terpaut, kemudian duduk di samping Erlan dan juga ada seorang pria paruh baya. Yunan tidak mengenalnya, namun Cassandra tahu siapa itu.


Dia adalah ayahnya Novan. Pria yang dulu di agung-agungkan oleh ibunya karena memiliki beberapa bisnis yang mentereng di dalam maupun di luar negeri.


Lolita keluar dan duduk di samping sang adik. Wanita itu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya juga tampak tidak pucat lagi. Disusul Aldo yang duduk di pangkuan Yunan. Meski umurnya sudah 12 tahun, masih tampak manja seperti dulu saat Yunan masih tinggal di rumah itu.


"Apa yang ingin Anda bicarakan, Pak?'' tanya Yunan mengawali pembicaraan.


''Saya hanya ingin masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan, bukan hukum,'' jawab pria itu tegas.


Yunan tersenyum sinis lalu menggeleng. Bisa saja ia mencabut tuntutan itu dan menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi semua ini tergantung Lolita, karena dia yang bersangkutan.


Menatap Lolita yang masih menunjukkan kekesalan. Dari raut wajahnya, sepertinya wanita itu masih trauma dengan kejadian yang menimpa di Singapura kala itu.


''Bagaimana Kak Lolita? Apa kamu setuju masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan?'' tanya Yunan serius.


Semua terdiam, mungkin Lolita masih berpikir keras untuk memberi keputusan. Apakah kasus ini akan berjalan seperti artis Leslar? Ataukah Melinda, mereka pun belum tahu jawabannya.


''Tidak ada yang memaksa. Ikutilah kata hati Kakak, jangan mengikuti orang lain. Jangan pernah takut pada siapa pun. Hidup Kakak adalah pilihan, jangan ragu untuk menentukan. Baik buruknya kehidupan adalah ditentukan kita sendiri.''


Setelah mendengar ucapan Cassandra, Lolita mengangkat dagunya. Menatap semua orang bergantian, berhenti kepada ayah mertuanya.


Mungkin masalah ini memang tidak terdengar di telinganya, atau entah pria itu sengaja tidak mau ikut campur. Akan tetapi, Lolita yakin bahwa pria itu masih menyayanginya seperti dulu.


''Sekarang katakanlah, Nak? Ayah tahu perbuatan Novan memang sudah tidak bisa dimaafkan, tapi ayah harap kamu berbaik hati dan mau memaafkan dia. Banyak manusia yang khilaf, termasuk anak ayah.''


''Apa ibu tahu tentang masalah ini, Yah?'' tanya Lolita dengan bibir bergetar. Tentu saja berat untuk memutuskan. Apakah akan melanjutkan ke kantor polisi ataukah mencabut tuntutan itu dan menyelesaikan secara kekeluargaan.


''Ibu kamu baru tahu kemarin dari kantor polisi. Dia tidak bisa ikut datang ke sini, penyakit jantungnya kambuh.''


Lolita berpikir keras, menolak hatinya yang terkadang sangat keras dan ingin membalas atas perbuatan Novan. Namun ada orang-orang yang sangat dicintainya yaitu, ibu mertuanya.


''Aku ingin jalan perdamaian saja.'' Dan pada akhirnya, Lolita memilih untuk tidak melanjutkan tuntutannya. Cassandra sangat mendukung keputusan itu.


Pada dasarnya, manusia memang diberi kesempatan. Hanya saja mereka ada yang benar-benar tulus ingin berubah, dan ada juga yang tidak bisa mengubah sifatnya.


''Kamu beneran, Nak?''


Lolita mengangguk.


Yunan segera menghubungi seseorang untuk membicarakan masalah ini dengan polisi. Mengatakan bahwa Lolita telah memaafkan Novan.


''Demi Aldo aku akan tetap memaafkan mas Novan, tapi untuk saat ini aku belum ingin kembali sama dia. Tentang masalah pernikahan, aku akan memikirkannya lagi setelah hatiku tenang.''


''Terima kasih, Lolita. Terima kasih banyak.''


Ya Allah, semoga ini pilihan yang tepat.


Yunan dan Cassandra pernah diterpa masalah dan akhirnya mereka bersatu dan hidup bahagia. Seandainya aku tidak berjodoh dengan mas Novan, semoga dia mendapatkan perempuan yang bisa mengerti dirinya. Begitu pun denganku, semoga ada laki-laki yang mau mencintaiku apa adanya.


Ya, perdebatan mereka di awali dengan penampilan Lolita yang biasa saja. Sedangkan Novan menuntutnya untuk berpenampilan lebih.