Hidden CEO

Hidden CEO
Fakta



Keraton At The Plaza, Tentu saja itu bukan nama yang asing di telinga Yunan, bahkan ia memiliki tiga unit apartemen di sana. Namun, datangnya bukan untuk menginap, melainkan untuk sebuah misi  yang akan menentukan tentang masa depan sang adik. 


''Kamu gak salah lihat, 'kan?'' tanya Yunan kepada dua orang pria yang menyambutnya. 


''Tidak, Tuan. Perempuan yang Anda maksud ada di lantai lima,'' jawab orang itu jujur dan yakin. 


Yunan turun dari mobilnya. Ia berjalan  masuk. Menghampiri dan menyapa penjaga yang memang sudah akrab dengannya. 


''Sudah sangat lama Anda tidak ke sini, Tuan. Apa kabar?'' tanya penjaga itu sopan. 


''Alhamdulilah saya baik, Pak. Iya, saya ke sini pingin istirahat sebentar saja,'' ucap Yunan asal. 


Tidak mungkin ia berkata jujur tentang tujuannya. Itu hanya akan membuat suasana sedikit heboh. Terlebih dugaanya belum terbukti, benar atau salah. Setelah puas berbincang Yunan meninggalkan penjaga itu dan masuk ke lift ditemani dua orang suruhannya tadi. 


Setibanya di lantai lima, Yunan langsung menghampiri sebuah unit yang ditunjuk bodyguardnya seorang diri, sedangkan yang lain  menunggu di tempat tersembunyi.  


Mengetuk pintu dengan pelan. Mengulangnya hingga tiga kali. Hampir saja mengetuk lagi, pintu di buka dari dalam. Yunan pura-pura bingung dan garuk-garuk kepala. 


''Anda siapa?'' tanya Yunan pura-pura bodoh. 


Wanita itu membisu, matanya tak teralihkan dari wajah tampan Yunan. Seolah terpana dengam pesona sang pria. Hingga sebuah tepukan membuyarkan lamunannya. 


''Tadi saya tanya? Anda siapa?'' tanya Yunan mengulang. 


''Nama saya Lioni. Apa sebelumnya kita sudah saling kenal?'' tanya wanita itu ramah dan lembut. 


Yunan menggeleng. Mengatupkan tangannya tanda perkenalan. Matanya menyusuri ruangan depan yang tampak sepi, mungkin wanita itu memang tinggal sendiri. 


''Kenapa kamu bisa ada di unit saya?'' tanya Yunan memasang wajah heran. 


Dahi Lioni mengernyit. Ia mengangkat kedua bahu, bingung dengan pengakuan Yunan. Padahal, jelas-jelas tempat itu adalah miliknya. 


''Maaf, ini punya saya, kalau Anda tidak percaya saya bisa menunjukkan surat-suratnya,'' ucap Lioni meyakinkan. 


''Boleh?'' tanya Yunan. Ia masuk dan mengikuti langkah Lioni lalu duduk di ruang tamu.


Sementara sang pemilik masuk ke sebuah kamar. Tak lama kemudian Lioni keluar membawa sertifikat dan meletakkannya di depan Yunan. 


''Anda bisa membacanya sendiri, Pak,'' ucap Lioni menunjukkan namanya. 


''O, ini lantai lima ya?'' tanya Yunan memastikan, tentu itu juga pura-pura. Menepuk keningnya untuk meyakinkan bahwa semua real, bukan sandiwara. 


Lioni mengangguk tanpa suara. Menatap Yunan yang tampak kebingungan. Lalu, ikut duduk di depan pria itu. 


''Maaf, punya saya di lantai enam. Itu  artinya saya yang salah,'' ucap Yunan sambil mengatupkan kedua tangannya. Tersenyum malu karena sudah salah tebak. Begitu kita-kira akting yang diperankan.


''Gak pa-pa, Pak. Maklum, sepertinya Anda memang sangat buru-buru tadi." Lioni tidak mempermasalahkan. 


''Benar sekali.'' Yunan menjentikkan jarinya. 


Bersandar di sandaran sofa sambil mengetik tulisan di layar ponselnya. Membalas pesan dari sang istri yang menanyakan tentang keberadaannya.


''Anda masih muda, tapi sudah hebat bisa membeli sebuah apartemen.'' Yunan mulai memancing. 


''Ah, Anda bisa saja, Pak. Ini dibantu pacar saya,'' ucap Lioni yang mulai termakan oleh umpan Yunan. 


''Pacar saya baik sekali, Pak.''


''Saya jadi penasaran seperti apa pacar Anda sampai rela membelikan apartemen mewah seperti ini,'' tanya Yunan menyelidik. 


''Ya. Dia memang sangat baik, tapi sayang.'' Lioni menundukkan kepalanya. Sepuluh jarinya saling meremas kuat, seakan ragu untuk menjelaskan.


''Kenapa?" tanya Yunan semakin penasaran.  


''Dia tidak mau menikahiku karena masih punya istri,'' lanjut Lioni. 


Dada Yunan meletup-letup menahan amarah. Mengepalkan kedua tangannya, jika saja saat ini Zafan ada di depannya mungkin sudah babak belur. Sayang sekali ia akan bermain cantik dan akan mempermalukan adik iparnya tersebut.


''O, jadi pacar kamu itu punya istri.'' Yunan terus memancing lebih jauh. 


Lioni mengangguk tanpa suara. 


''Kenapa gak nyari yang single saja. Kamu cantik, kenapa mau dengan pria beristri?" tanya Yunan masih mode berakting. 


''Memangnya siapa nama pacar kamu?'' Yunan kembali melayangkan pertanyaan yang terakhir. 


''Zafan,'' jawab Lioni.  


Sabar Yunan. Belum saatnya untuk membuka suara, kamu harus bisa mempermalukan Zafan, permainkan dia seperti dia yang mempermainkan adikku.


Mencoba untuk bersabar seluas samudra dan tidak gegabah. Takut semua akan runyam sebelum selesai. 


''Baiklah, sepertinya saya harus pamit. Semoga pacar kamu segera sadar dan mau menerima kamu sepenuhnya,'' ucap Yunan konyol mematikan rekaman ponselnya lalu meletakkan benda pipihnya di tas. 


Lantas, Yunan keluar, sedangkan Lioni hanya bisa menatap punggung Yunan berlaku menuju lift. 


Brengsek. 


Yunan memukul dinding hingga tangannya memar dan berdarah. Ia tidak lagi bisa membendung kemarahannya yang semakin membuncah. Itu hanya akan membuatnya semakin sakit saja. 


''Ingat Zafan, kamu akan membayar semua yang kamu lakukan. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja.''


Meninggalkan apartemen itu dengan hati yang sangat kecewa. Yunan pikir, Zafan adalah pria yang baik dan setia. Namun sayang, justru sebaliknya. Bahkan sudah berani melakukan penghinatan yang cukup besar. 


Setelah dari apartemen, Yunan langsung pulang ke rumah orang tuanya. Menyusul sang istri dan putri kecilnya. Juga ingin sekali bertemu dengan Laurent dan memeluknya. 


''Maafkan aku, Laurent. Aku janji akan memberikan pelajaran yang berharga bagi Zafan. Dia harus mendapat balasan karena sudah menghianatimu.''


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Yunan hanya bisa membisu. Sesekali bertanya kepada sang sopir yang mengendalikan kuda besinya. Juga memintanya untuk lebih cepat.  


Kedatangannya kali ini disambut hangat dua bocah yang sedang berlarian di halaman. Senyum mengembang di sudut bibir Yunan kala putri kecilnya berlari menghampirinya. Disusul Akram dari belakang. 


''Bunda di mana, Nak?'' Yunan menggendong kedua bocah itu dan membawa mereka masuk. 


''Bunda tidur, Ayah. Tadi katanya mual dan pusing. Kalau onty Laurent ada di dapur, masakin papanya Akram,'' terang Khalisa dengan suara khas. 


Yunan membawa kedua bocah itu masuk. Wajahnya mendadak cemas mendengar ucapan sang putri. Pasti Cassandra menderita tanpa ia di sisinya. Menghampiri Layin dan Laurent di ruang makan. 


''Apa benar tadi Cassandra muntah, Bu?" tanya Yunan buru-buru. 


''Iya. Tapi sekarang dia sudah tidur. Lihat saja, barangkali ia butuh sesuatu,'' suruh Layin. 


Yunan segera menurunkan kedua bocah itu dan berlari menuju tangga, namun pergerakannya tercekat saat melihat Zafan dari atas. 


Hingga beberapa saat Yunan dan Zafan saling sapa dengan tatapan masing-masing