
Dokter Hanna pun masuk kedalam ruangan, lalu menyapa Wanda,
“Gimana Nda,,kamu siap kan?” Tanya dokter Hanna
“Lah..Yang mau lahiran kan istri aku, kenapa kamu jadi menyangsikan kesiapan aku?” Tanya Wanda heran
Dokter Hanna tersenyum mendengar jawaban Wanda, sambil memakai sarung tangannya,
“Kebanyakan tuh aku kalau lagi nangani pasien, kalau suaminya ikut masuk tuh ya,biasanya suaminya suka lemes bahkan sampai pingsan, makanya aku pastiin kamu udah siap, kalau selama ini kan kamu biasa menghadapi pasien tapi kan gak ada hubungan dengan kamu, kalau sekarang kan beda, ini istri kamu, orang yang paling berharga dalam hidup kamu” Ucap dokter Hanna sambil masih tersenyum
“Siaplah Haan,,insyaallah aku kuat, ayo kita mulai” Ucap Wanda
Dokter Hanna pun mulai memeriksa Neyna, bidan yang mendampingi juga sudah menginformasikan bahwa sudah bukaan lengkap.
Dokter Hanna pun memberi kode anggukan pada Wanda, menandakan kalau proses persalinan Neyna akan dimulai.
Wanda mengambil posisi duduk disamping kanan Neyna sambil menggenggam tangan Neyna dia berucap memberi semangat,
“Bismillah..Semangat ya sayang, kamu pasti bisa, kamu wanita kuat, sebentar lagi kita akan berjumpa dengan anak kita,,bismillah ya sayang,,cupp..” sambil Wanda mengecup kening Neyna.
Dokter pun mulai memberi instruksi pada Neyna untuk mengatur nafas dan mulai mengejan. Wanda melihat dan mengikuti semua prosesnya, sambil menggenggam erat tangan Neyna, sesekali dia mengecup kening Neyna, wajahnya terlihat khawatir dan meneteskan air mata, melihat langsung bagaimana perjuangan seorang Ibu melahirkan anaknya, seketika ia terbayang akan wajah Ibu nya.
Sampai kemudian terdengar suara tangisan bayi, wajah Wanda yang tadinya sendu berubah sumringah,
“Selamat ya ibu, bapak,,anaknya sudah lahir, bayi laki - laki yang ganteng, lengkap dan sehat, denger nangisnya kencang banget” Ucap sang bidan sambil mengangkat bayi Neyna dan meletakkannya di dada Neyna, kemudian bidan tersebut kembali mengambil bayinya untuk di bersihkan dan diukur berat , lingkar kepala dan panjangnya.
Setelah bayinya dibersihkan, bidan tersebut menyerahkan bayinya kepada Wanda untuk segera di azankan oleh nya. Sementara Wanda mengazankan, Neyna pun dibersihkan oleh para perawat.
Dengan tangan yang bergetar, dia menyambut bayinya dari tangan bidan tersebut, diciumnya pipi bayi mungilnya tersebut, kemudian dia mengazankannya pelan tepat ditelinga sang bayi.
“Terima kasih ya Allah,,engkau masih mengizinkan hamba untuk melihat kelahiran anak hamba dan mengazankannya”
Diluar ruangan bersalin, terlihat dari kejauhan, papa dan mama Neyna baru tiba
“Assalamu’alaikum Ayah, Ibu” Sapa papa Neyna pada opa dan oma
“Walaykumsalam nak, apa kabar, kalian sehat ?” Tanya opa sambil papa mencium tangan opa dan oma yang diikuti oleh nama Neyna.
“Alhamdulillah baik yah,,Ayah ibu apa kabar, sehat kan?” Tanya papa Neyna
“Alhamdulillah seperti Yang kamu lihat, Ayah sangat bersyukur sekali, ternyata tuhan masih memberi izin pada Ayah untuk melihat cicit Ayah”
“Alhamdulillah Ayah, senang melihat Ayah sehat seperti ini” ucap papa Neyna
“Oh ya...sampai lupa,,kenalkan nak ini anak sulung Ayah Rania dan suaminya Altrialman, Nia, Al,,ini anak angkat papa yang pernah papa ceritain Yang juga orang tua Neyna” opa memperkenalkan kedua orang tua Neyna pada bude Rania dan pakde Altrialman.
Wajah papa dan mama Neyna terlihat bingung karena sebelumnya mereka tidak pernah tau kalau opa memiliki anak selain kedua orang tua Wanda.
“Kamu pasti bingung? Nanti pasti Ayah ceritakan” Ucap opa.
Tak lama pintu ruangan bersalin terbuka,
“Alhamdulillah bapak dan Ibu, ibu Neyna sudah melahirkan seorang putra yang sehat dan ganteng, sebentar lagi akan kami pindah kan keruang perawatan” Ucap perawat tersebut memberi kabar baik.
“Alhamdulillah ya Allah, Neyna nya juga sehat kan sus?” Tanya mama Neyna
“Iya bu, ibu dan bayinya sehat, permisi bu” Ucap perawat berpamitan.
Terlihat wajah - wajah yang tadinya sedikit tegang, berubah menjadi tawa bahagia.
Tak berapa lama, Wanda pun keluar dari ruangan persalinan dan menemui seluruh keluarga yang menunggu diluar.
“Alhamdulillah, makasi pa, berkat do’a kalian, keduanya dalam keadaan sehat” Ucap Wanda
Kemudian mama Neyna pun memeluk Wanda sambil meneteskan air mata,
“Selamat ya nak, semoga kalian bahagia selalu” Ucap mama, yang dibalas anggukan oleh Wanda. Kemudian opa memeluk Wanda erat sambil meneteskan air mata.
“Selamat ya nak, akhirnya opa bisa melihat cicit opa, opa kira opa gak sempat menikmati masa - masa ini nak, Selamat sudah menjadi seorang Ayah” Ucap opa sambil menepuk lembut punggung Wanda yang juga meneteskan air mata, karena dia juga merasa bahagia masih bisa menemani dan memeluk putranya.
Kemudian oma juga memeluk Wanda mengucapkan selamat, selanjutnya dia memeluk dan menyalami bude dan pakdenya.
Setelah itu Wanda kembali masuk keruangan bersalin. Neyna sudah selesai dibersihkan, Neyna sangat lelah dan mengantuk, namun perawat pun datang untuk memindahkan Neyna keruang rawat inap Yang sudah disiapkan.
“Ibu,,kita pindah ke Kamar dulu ya, biar ibu lebih nyaman istirahatnya” Ucap si perawat Yang kemudian memindahkannya ke tepat tidur yang akan membawanya keruangan.
Wanda pun mengikutinya keluar ruangan persalinan, didepan pintu ruangan tersebut sudah menunggu kedua orang tua Neyna, opa, oma, bude Nia dan pakde Al.
Mereka bersama - sama menuju ruangan VVIP Yang letaknya di lantai yang sama dengan ruangan persalinan.
Sesampainya didalam ruangan dan Neyna sudah berpindah tempat di kasur Yang ada diruangan tersebut.
Kemudian mama dan pala Neyna mendekat dan mengucapkan selamat
“Alhamdulillah, Selamat ya sayang, sekarang kamu udah sah menjadi seorang ibu, sehat selalu ya nak,,cup” mama mengecup kening Neyna, kemudian diikuti papa Yang mencium keningnya dan mengucapkan selamat.
Opa, oma, bude dan pakde pun bergantian memberi selamat, baik kepala Neyna begitu juga dengan Wanda. Seluruh keluarga tampak bahagia menyambut anggota baru keluarga mereka.
Tak lama pintu ruangan diketuk
Tok..tok..
“Permisi bapak dan Ibu, kita mau bawa bayi ketemu mamanya” Ucap sang perawat
“Wah...ini cucu kita pa,,boleh kami gendong kan sus?” Tanya nama pada perawat
“Boleh bu,,,jangan lama - lama nanti dia jadi keenakan, kasian mamanya” ucap perawat
“Baiklah suster, terima kasih” ucap mama Neyna yang langsung menggendok cucunya yang lucu dan imut itu.
“Wahh,,,gantengnya cucu oma,,mirip siapa ya,,mirip siapa kira - kira pa?” Tanya mama ke papa Neyna
“Kayanya wajahnya mirip Wanda ya, ehh bentar - bentar, mirip Neyna deh?! Ucap papa
“Namanya masih bayi, masih berubah - ubah nak,,,” celetuk oma
“Iya ya oma,,kita liat beberapa hari lagi, nanti dia mirip siapa,,ini Ibu mau gendong” ucap mama memberikan nya pada oma, yang langsung disambut oma dengan senyum bahagia,
“Assalamu’alaikum anak ganteng, cicit oma, cepat besar ya nak, jadi anak soleh kebanggaan kedua orang tua ya nak,,” sambil oma mencium pipi mungil itu, opa pun mendekati oma yang mencium pipi bayi mungil tersebut sambil meneteskan air mata
“Jika saat ini Tuhan mencabut nyawaku aku ikhlas, karena semua harapanku sudah terwujud” opa berucap sambil meneteskan air mata.
Wanda dan bude Nia mendekati opa, kemudian Wanda memeluk opa erat, sambil keduanya meneteskan air mata
“Opa jangan ngomong begitu, kita jalani bersama - sama ya opa, semoga kita bisa kuat dan bertahan melalui cobaan ini” ucap Wanda dalam pelukan opa, bude Nia pun tak kuasa menahan tangisnya, sia pun meneteskan air mata, sementara papa dan mama hanya diam, mereka tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Setelah itu, oma memberikan bayi mungil itu kepada Wanda, wanda pun menggendongnya dengan penuh cinta dan tatapan bahagia menatap wajah mungil tersebut dengan sendu dan senyum lembut,
“Hai anakku sayang, welcome to the world nak, sehat dan bahagia lah selalu, bahagiakan lah Ibu mu, dia berhak mendapatkannya, mungkin papa tidak bisa menemanimu sampai kau besar, tapi yakinlah cinta papa abadi didalam hatimu, lindungilah mama karena setelah ini mungkin papa tidak bisa mendampingi dan melindungi kalian, tapi percaya kalau papa sangat mencintai kalian berdua” gumam hati Wanda.