
Wajah lelah Siyeon mulai terlihat, langit pun juga sudah berubah warna. Namun, Siyeon masih belum menemukan jalan keluar dari hutan ini. Dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, sehingga ia memutuskan untuk duduk di sebuah pohon besar yang tumbang. Siyeon memejamkan matanya, menikmati angin yang menerpa wajahnya. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya dan juga tubuhnya begitu lemah.
"Di mana jalan keluarnya? Aku sudah berjalan cukup jauh dalam lama," gumam Siyeon di sela-sela hembusan nafasnya yang tak beraturan itu.
"Kakiku sudah tidak kuat lagi. Meskipun aku menyukai berjalan kaki, tetapi tetap saja perjalan jauh ini membuat kakiku kebas," keluh Siyeon. Ia mengambil botol air yang di bawanya, airnya sisa sedikit. Tetapi, air itu cukup untuk meringankan rasa lelahnya.
Siyeon menatap ke arah bulan yang nampak berbeda, warnanya merah pekat dengan cahaya hitam di pinggirnya. Siyeon tertegun, ia baru menyadari keadaan bulan yang begitu berbeda. Ia merasakan aura aneh di dalam bulan itu, bayangan sesosok menyeramkan di malam badai itu terlintas di pikiran Siyeon, ia merasakan bahwa bulan itu ada hubungannya dengan sosok iblis itu. Tubuh Siyeon mulai kedinginan.
"Sial! Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi? Bagaimana kalau iblis itu menemukanku, sebelum aku mendapatkan tongkat itu?" kesal Siyeon, ingin rasanya menanyakan jalan keluar kepada SuA. Tetapi, Siyeon tidak ingin mengambil resiko besar dengan kehilangan semuanya, termasuk SuA yang sangat di butuhkan olehnya.
"Aku harus melanjutkan perjalanku!" Siyeon kembali bangkit dan berjalan menyusuri hutan. Taeyong sudah semakin dekat dengannya, bagaimana pun Taeyong dapat menemukan keberadaan Siyeon. Meskipun wanita itu sudah menyembunyikan keberadaannya dengan kekuatan yang di miliki, tidak ada yang bisa menghalangi Taeyong.
Siyeon merasakan keberadaan Taeyong dengan aura yang lebih kuat dan gelap, dirinya sangat yakin kalau itu Taeyong. Dengan langkah cepat Siyeon mulai menjauh, ia mengganti jalannya menjadi berlari dengan kencang. Dirinya tidak ingin berada di dekat Taeyong, ia harus segera menemukan jalan keluar dari hutan yang panjang ini.
"SIYEON!" teriakan Taeyong menggema di dalam hutan, Siyeon semakin menambah kecepatan berlarinya. Ia tidak ingin Taeyong menangkapnya dan menyekapnya atau bisa jadi Taeyong melenyapkan dirinya. Siyeon tidak ingin mati sebelum membalaskan dendamnya dan mengembalikan alamnya, ia masih memiliki misi besar yang sedang menantinya.
"Aku tahu kau sedang berlari, kau tak akab pernah bisa keluar dari sini!"suara Taeyong semakin mendekat, Siyeon yang sudah tidak kuat berlari akhirnya terjatuh di atas tanah. Ia mendongak dan menatap sekitar, matanya melebar saat tahu di mana tempatnya berada. Ia mengusap kedua matanya untuk memastikan penglihatannya.
"Bukankah ini pohon yang tadi?" gumamnya saat melihat pohon yang sama ketika ia duduk tadi. Dirinya melihat kembali keadaan sekitar dan semuanya sama persis.
"Lalu? Pohon ini juga yang aku duduki ketika menghilangkan keberadaanku. Jangan bilang aku masih berada di tempat yang sama?" Siyeon mengucapkannya dengan tak percaya, semuanya sama dan ia tersadar sudah melewati tempat ini lebih dari sepuluh kali. pantas saja dirinya tidak keluar-keluar dari hutan ini, ternyata dirinya terjebak di tempat yang sama. Sia-sia saja dirinya terus berlari sampai kakinya terkilir.
"Ada apa dengan hutan ini? Kenapa aku tetap berada di tempat yang sama? Apakah hutan ini sebuah ilusi?" Siyeon menyandarkan kepalanya di pohon besar dengan tubuh yang terduduk di tanah, ia tidak bisa bangkit lagi. Kakinya begitu sakit dan ia tidak bisa berjalan.
"Ini bukan ilusi yang kau katakan!" Siyeon hanya memejamkan matanya saat mendengar suara yang sangat di kenal olehnya. Ia enggan membuka matanya dan melihat Taeyong yang kini berjongkok di hadapannya.
"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kemana pun kau melangkah di situ ada aku dan aku akan menemukanmu. Apalagi di hutanku sendiri, kau tak akan pernah menemukan jalan keluar. Karena, hutan ini berbeda. Hanya aku yang bisa keluar dari sini, meskipun kau adalah seorang putri sekali pun. Kau tak akan bisa keluar dari tempatku," jelas Taeyong.
"Tubuhmu sangat hangat dan aku kedinginan," ucap Taeyong membuat Siyeon langsung membuka kedua matanya, ia melihat penampilan Taeyong yang sangat berbeda dan mengerikan. Wanita itu hendak menjauhi tangan Taeyong, tetapi kakinya masih terkilir.
"Akh," ringisnya dan memegangi kakinya yang sedang sakit. Tatapan Taeyong beralih ke kaki Siyeon yang membiru, karena memar. Tangannya menarik kaki Siyeon dan memijatnya, Siyeon merasakan tulangnya remuk seketika saat tangan Taeyong mencengkramnya dengan kuat. Air matanya mulai menetes, itu sangat menyakitkan bagi Siyeon. Belum pernah ia merasakan sakit yang membuat tulangnya retak.
"Tidak usah menangis, coba kau gerakkan kakimu!" suruh Taeyong dengan suara dinginnya. Siyeon mulai menggerakkan kakinya dan rasa sakit atau pun nyeri hilang, Siyeon pun berdiri dan meloncat-loncat kegirangan. Kakinya sudah sembuh dan tanpa sadar ia memeluk tubuh jangkung Taeyong yang berdiri di hadapannya.
"Ah... maafkan aku," Siyeon hendak melepaskan pelukannya. Namun, Taeyong menahannya dan memeluknya dengan erat. Jantung Siyeon berdetak begitu cepat dan ia juga merasakan detak jantung Taeyong berdetak tak kalah cepat darinya.
"Begini sebentar saja, aku mencemaskan mu," ucap Taeyong membuat tubuh Siyeon menghangat. Tangannya tanpa sadar membalas pelukan Taeyong tak kalah eratnya.
Mereka sama-sama terdiam menikmati ketenangan yang tercipta, suara angin yang menyapa keduanya. Mereka enggan melepaskan pelukan yang terasa nyama itu, tanpa sadar Siyeon memejamkan kedua matanya dan menghirup dalam aroma Taeyong yang menenangkan itu. Begitu pun dengan Taeyong yang menikmati aroma manis Siyeon yang memabukkan di hidung, aroma yang membuatnya nyaman.
"Kenapa bulannya berbeda?" tanya Siyeon ketika mereka berdua duduk di atas pohon besar. Taeyong menatap ke arah bulan yang di lihat oleh Siyeon.
"Bulan itu menunjukkan keberadaan ku saat ini," jawab Taeyong yang menatap wajah Siyeon yang bersinar di terpa cahaya bulan yang sangat terang malam ini.
"Apakah perubahannya, di sebabkan penampilanmu yang sangat menyeramkan ini?" pertanyaan itu membuat Taeyong mendelik ke arahnya.
"Apa yang kau katakan? Menyeramkan? Ini adalah penampilan yang sangat keren!" ujar Taeyong yang percaya dirinya membuat Siyeon mendengus kesal mendengar kalimat yang menyakiti telinganya. Baru pertama kali dirinya mendengar pria di sampingnya mengucapkan kalimat yang sangat mengerikan untuk di dengar.
"Sudahlah, aku mengantuk dan ingin tidur di sini," Siyeon memejamkan matanya dan menyandar di bahu Taeyong membuat tubuh pria itu menegang seketika. Jantungnya yang sudah kembali normal, kini sudah tidak beraturan lagi.
TBC...