
"Apakah kegelapan akan datang malam ini?" gumam Siyeon ketika ia menatap hamparan bintang yang sangat berbeda dari yang ada di bumi. Wanita itu termenung, di balkon kamarnya yang sangat luas. Ia ingin memasuki kamar kedua orang tuanya, tetapi ia masih belum bisa melihat kembali bayangan kedua orang tuanya di sana.
"Entahlah, tapi aku yakin waktu itu akan tiba juga," sahut seseorang yang berada di belakang tubuh Siyeon, tanpa perlu melihatnya ia sudah tahu suara siapa itu.
"Dari mana saja kau? Kenapa baru datang?" tanya Siyeon yang mencari keberadaan pria di belakangnya sejak tadi. Para prajurit mengatakan kalau mereka tidak melihat Taeyong pergi. Jadi, Siyeon mencari keberadaan pria itu untuk mengajaknya makan malam bersama.
"Kenapa kau mencari ku? Apakah kau merindukanku, Ratu?" tanyanya dengan nada menggoda membuat Siyeon mendengus kesal mendengar suara itu.
"Jangan bercanda! Aku hanya ingin mengajakmu untuk makan malam, ayo aku sudah sangat lapar," Siyeon melangkah terlebih dahulu meninggalkan Taeyong yang masih tersenyum. Pria itu menyusul Siyeon yang sudah pergi menjauh.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku!" seru Siyeon ketika mereka berada di ruang makan. Hanya mereka berdua di ruangan itu, karena semua orang sudah makan. Siyeon meminta para prajurit, pelayan dan orang-orang yang ada di dalam istana untuk makan terlebih dahulu, meskipun mereka menolak. Namun, dengan sifat keras kepala yang di miliki wanita itu, mereka semua tidak bisa menolaknya, lagi pula Siyeon adalah ratu mereka.
"Pertanyaan yang mana?" tanya balik Taeyong setelah menelan makanannya.
"Ck! Kau dari mana tadi?" kesal Siyeon membuatnya terkekeh geli. Suara marah Siyeon begitu menggemaskan dan membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
"Bukannya menjawab kau malah tertawa!" gerutu Siyeon membuat Taeyong langsung menghentikan tawanya dan berdehem satu kali.
"Aku hanya keluar sebentar untuk mencari udara segar, sudah lama aku tidak keliling di alam crystal aku sangat merindukannya," jelas Taeyong yang kembali memasukkan makanannya, Siyeon menatap pria di hadapannya dengan sangat kesal.
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah menjawab pertanyaanmu?" tanya Taeyong saat melihat kekesalan Siyeon. Pria itu menghentikan makannya dan menatap lekat wanita di hadapannya. Siyeon yang di tatap seperti itu langsung membuang pandangannya.
"Jangan menatapku seperti itu!" serunya dengan menatap ke arah lain. Dirinya tidak ingin pria di hadapannya itu tahu kalau wajahnya sedang memerah, karena tatapan dari pria itu. Taeyong menahan senyumannya saat melihat telinga Siyeon memerah, ia tahu kalau saat ini wanita itu sedang malu, karena ia menatapnya lekat.
"Aku hanya ingin tahu kenapa kau masih terlihat kesal? Padahal aku sudah menjawab pertanyaanmu," jelas Taeyong dengan suara tenangnya.
"O—oh itu, aku hanya kesal kepadamu," sahut Siyeon yang masih enggan menatap pria di hadapannya, wajahnya masih memanas dan ia tidak bisa membiarkan Taeyong menertawakannya. Ini memang terlihat konyol, tapi Siyeon juga tidak tahu kenapa wajahnya sangat panas. Padahal udara di ruangan tersebut begitu sejuk dan dingin.
"Kesal kepadaku? Apa yang membuatmu kesal?" Taeyong tidak melanjutkan makannya, ia lebih senang memperhatikan wajah Siyeon yang sangat cantik ketika sedang memerah seperti. Ingin rasanya ia mencubit pipi Siyeon yang terlihat sedikit berisi.
"Aku kesal karena kau tak mengajakku jalan-jalan! Aku juga ingin jalan-jalan dan melihat rakyatku," ujar Siyeon membuat Taeyong mengerti. Pria itu beranjak dari duduknya membuat Siyeon menatapnya bingung. Taeyong melangkah mendekati kursi Siyeon dan pria itu mengulurkan tangannya di hadapan Siyeon.
"Apa ini?" bingungnya yang di balas senyuman kecil dari Taeyong.
Siyeon menatap takjub dengan pemandangan di hadapannya, Taeyong membawanya ke daerah perbukitan untuk melihat pemandangan istana dan juga rumah-rumah rakyatnya yang begitu terang dengan lampu-lampu crystal putih yang bercahaya di setiap rumah mau pun jalan. Meskipun sudah malam, tetapi Siyeon dapat melihat begitu banyaknya orang-orang yang masih banyak yang berjalan-jalan atau berlatih kekuatannya.
"Ini sangat indah, sungguh kejam bila kegelapan ingin menghancurkan semua ini. Aku tidak akan membiarkannya menghancurkan semua ini," gumam Siyeon dengan suara pelannya, tetapi masih dapat di dengar oleh Taeyong yang duduk di sebelahnya.
"Ya, kau benar. Kebahagiaan mereka tidak boleh di hancurkan oleh nafsu seorang iblis, mereka tidak boleh merasakan itu. Kebahagiaan rakyat adalah kebahagiaan seorang pemimpin, rakyat adalah segalanya," sambung Taeyong yang di setujui oleh Siyeon.
"Aku sangat setuju dengan ucapanmu itu, bolehkah aku meminta satu hal kepadamu?" tanya Siyeon yang pandangannya beralih kepada pria di sampingnya.
"Apapun yang mulai ratu," jawab Taeyong dengan menunduk hormat.
"Kau akan menjadi pendampingku untuk mengurusi alam crystal dan alam Dewa, setelah kita berhasil memusnahkan iblis itu. Apakah kau bersedia?" pinta Siyeon membuat pria di hadapannya itu mengembangkan senyumnya dengan lebar.
"Aku selalu bersedia yang mulai ratu, aku akan mendampingimu untuk memimpin alam crystal dan alam Dewa," jawab tegas Taeyong dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih, tapi... tolong jangan panggil aku ratu. Panggil saja aku Siyeon, kau sudah banyak membantuku dan aku tidak ingin kau memanggilku dengan sebutan itu," ujar Sieyon dengan tegas membuat Taeyong mau tak mau menuruti keinginannya. Mereka kembali terdiam, menikmati indahnya malam ini.
"Sangat cantik," gumam Taeyong.
"Iya, kau benar pemandangannya sangat cantik," sahut Siyeon yang menyetujui ucapan Taeyong. Di malam hari ini, terdapat sebuah hal yang tak terduga sama sekali oleh Siyeon. Ada pelangi yang muncul dengan kilauan crystal yang sangat indah di ujung utara.
"Di sini ada pelangi yang muncul di malam hari, sangat berbeda dari apa yang ada di bumi. Aku sangat senang di sini, tempat aku di lahirkan dan juga di besarkan. Aku merindukan kedua orang tuaku," lirih Siyeon.
"Mereka pasti berada di sisimu, aku yakin mereka sedang sedih ketika melihatmu menangis. Jadi, janganlah kau bersedih. Tersenyumlah," perkataan Taeyong membuatnya langsung menghentikan tangisannya, tangan Taeyong terulur untuk mengusap air mata Siyeon membuat tubuh wanita itu langsung membeku seketika.
"Jangan menangis lagi, aku tidak suka melihatmu menangis," ujar Taeyong membuat Siyeon terdiam mendengar kalimat itu. Hatinya berdesir dan wajahnya kembali menghangat.
"Apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya Siyeon membuat Taeyong tersenyum kecil. Pria itu mengambil kedua tangan Siyeon dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku mencintaimu," pernyataan itu membuat Siyeon terdiam seketika. Ia berharap pernyataan itu adalah sebuah kebohongan, ia tidak ingin kata itu terucap oleh pria di hadapannya. Tanpa sadar, Siyeon menangis dengan kencang.
TBC...