Deja Vu

Deja Vu
25| MY DEJA VU



"Siyeon! Bangunlah ku mohon!" Taeyong mencoba membangunkan Siyeon yang sedang terlelap di dalam kamarnya, bukan terlelap sebenarnya. Tetapi jiwa dari wanita itu sedang berada sangat jauh dari raganya, sehingga Taeyong terus mencoba membuatnya terbangun. Pria itu terlihat gusar melihat detak jantung Siyeon tak berdetak.


"Ku mohon, bangunlah sayangku. Sebentar lagi iblis akan sampai, kau harus bangun untuk melawannya," jelas Taeyong dengan terus-menerus menepuk pelan pipi Siyeon. Perlahan mata indah Siyeon mulai terbuka, dengan bola matanya yang mempunyai empat warna. Taeyong melebarkan matanya saat melihat perubahan mata kekasihnya.


"Taeyong, kenapa aku bisa di sini?" tanya Siyeon yang kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya, Taeyong yang masih belum tersadar dari rasa terkejutnya hanya menatap kekasihnya dengan mata yang membulat sempurna.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan penampilanku?" tanyanya dengan menatap bingung Taeyong yang masih terlihat terkejut itu.


"M—matamu!" serunya dengan suara bergetar, Siyeon beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah cermin besar di dekat tempat tidurnya. Wanita itu menatap penampilannya yang berbeda, apalagi matanya yang sangat berbeda itu. Senyuman kecil terlihat di ujung bibirnya, wanita itu membalikkan tubuhnya dan menghampiri kekasihnya.


"Apakah kau takut dengan penampilanku yang seperti ini?" tanyanya dengan nada dingin membuat Taeyong langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku hanya terkejut saat melihat matamu yang berubah. Itu artinya?" tanyanya yang di balas anggukan sekali dari Siyeon.


"Kau benar dan aku sudah memaafkanmu. Aku sudah mendengar semuanya dari kedua orang tuaku. Terimakasih, sudah melindungiku dan menepati janjimu kepada kedua orang tuaku, pangeran," jelas Siyeon membuat kekasihnya itu tersenyum lembut.


"Aku akan melindungi calon ratuku dan ibu dari anak-anakku kelak," balas Taeyong dengan merengkuh tubuh Siyeon ke dalam pelukannya. Siyeon tersenyum senang mendengar pernyataan dari kekasihnya itu. Wanita itu memeluk erat Taeyong.


"Aku merasakan kehadirannya, sebentar lagi kegelapan akan datang. Apakah kau siap membantuku dan memusnahkan ayahmu?" tanya Siyeon menatap ragu Taeyong yang berdiri di hadapannya. Pria itu nampak sedih, saat tahu kalau dirinya akan memusnahkan ayahnya sendiri. Taeyong merasakan usapan lembut di lengannya, ia melihat wanita yang di cintainya tersenyum hangat menatapnya dengan penuh kepercayaan.


"Iya, aku sudah sangat siap. Aku hanya membela kebenaran dan tidak ingin mengikuti nafsu yang akan membuat banyak orang menderita karenanya," jelas Taeyong dengan tegas.


"Mereka sudah datang, biarkan aku yang menghadapinya terlebih dahulu. Kau bersiap-siaplah, aku mencintaimu," Taeyong mencium kening Siyeon sebelum keluar dari kamar wanita itu dengan mata yang berwarna merah, hitam dan juga hijau.


"Aku juga mencintaimu," senyum Siyeon dan memejamkan kedua matanya. Wanita itu mengeluarkan cahaya merah yang sangat pekat dan penampilannya kini sudah berubah. Bajunya seperti baju perang dengan warna merah, sayang empat warna keluar dari punggungnya, matanya tetap memiliki empat warna yang sangat mengagumkan.


"Aku akan melindungi mereka," Siyeon melesat keluar dari balkon kamarnya, ia terbang menggunakan sayap empat warnanya. Ia melihat suasana di luar istana, di mana para prajuritnya dan prajurit iblis saling berhadapan satu sama lain. Taeyong juga sedang menghadapi ayahnya yang mengeluarkan sayap hitam di punggungnya dengan Taeyong yang memiliki sayap tiga warna seperti matanya.


Siyeon masih berdiri di atas untuk mengawasi semuanya, ia akan melesat ketika iblis mulai lemah atau tidak fokus. Terlihat Taeyong menyerang ayahnya dengan seluruh kemampuannya yang terlihat sebanding dengan ayahnya, Siyeon masih menyembunyikan tongkat yang sudah berada di dalam jiwanya. Ia tidak ingin iblis melihat keberadaan tongkat itu, meskipun penampilan Siyeon sudah menjelaskan semuanya.


"Kau sudah mengkhianati Ayahmu sendiri Taeyong Bleak!" marah iblis kepada Taeyong yang terus menyerangnya. Tatapan mata Taeyong tidak berubah, tetap dingin dan tajam. Pria itu terus mencari celah untuk melumpuhkan ayahnya yang mulai kelelahan, meskipun pria itu juga mulai kelelahan. Tetapi, ia tidak ingin berhenti sebelum tenaganya benar-benar habis. Ini semua demi Siyeon, wanita yang di harapkan oleh semua orang.


"Aku akan terus membela kebenaran! Meskipun, mati di tanganmu. Aku tidak akan pernah menyesal, karena sudah berjuang untuk semua orang," ujar Taeyong membuat ayahnya menggeram marah. Kedua matanya mengeluarkan cairan hitam yang membuat Taeyong sedikit terkejut dengan hal tersebut. Pria itu tahu, kalau ayahnya sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya dan berlindung pada jiwa yang ada di dalam tubuhnya.


"Matilah kau pengkhianat!" gelegarnya dengan melaju cepat ke arah Taeyong yang masih terkapar lemah di atas tanah. Pria itu memejamkan kedua matanya, bersiap menerima kematiaannya yang akan datang dari tangan ayahnya sendiri.


"Kau yang akan mati iblis sialan!" seru Siyeon yang menendang iblis hingga terjatuh di tanah. Wanita itu sudah berdiri di hadapan iblis yang meringis dan mencoba bangkit lagi.


"Kau sudah mendapat tongkat itu rupanya? Wah, ini adalah keberuntungan untukku!" seru iblis yang kini berdiri di hadapan Siyeon. Tatapan keduanya sama-sama tajam dan aur mematikan di pancarkan oleh kedua. Iblis memejamkan matanya sejenak dan luka di tubuhny langsung hilang tak berbekas, kemudian ia melihat wajah terkejut Siyeon.


"Kau tidak bisa menandingiku, ratu bodoh!" kekehnya yang lebih terdengar sangat menakutkan. Tetapi, Siyeon masih berdiri kokoh di tempatnya dengan tatapan yang masih sama. Secepat kilat, iblis menyerang Siyeon. Namun, Siyeon bisa menangkis serangannya.


"Kau tidak bisa terus bertahan ratu bodoh!" geram iblis, ketika Siyeon terus-menerus menahan serangannya. Siyeon sudah memperhitungkan semuanya, ia hanya bisa bertahan sejenak untuk membuat kekuatannya menjadi sempurna. Tanpa di sadari oleh iblis. Kini penampilan Siyeon kembali berubah dan auranya lebih kuat dari sebelumnya.


"Kau akan mati!" gertak Siyeon yang kini berbalik menyerang iblis. Wanita itu teruss menyerang iblis yang sedang melakukan pertahan. Dari belakang Taeyong berdiri dan menghunus pedangnya ke arah jantung iblis, membuat iblis menggeram kesakitan. Tak sampai di situ, Siyeon langsung mengeluarkan tongkat crystal-nya, ketika iblis mencoba mengganti jiwanya dengan yang lain.


Siyeon menusukkan tongkat itu ke arah jantung iblis dan cahaya empat warna keluar dari tongkat itu, iblis berteriak kesakitan. Setelah cahaya itu meredup, tubuh iblis sudah menghilang menjadi butiran crystal yang bertebranganya ke atas. Semua orang terdiam melihat butiran yang terus menutup alam crystal. Perlahan langit yang berwarna kelam, berubah menjadi cerah dan kekuatan orang-orang yang sudah lenyap kembali lagi kepadanya.


"Apakah sudah selesai?" tanya Siyeon kepada pria di sampingnya.


"Belum selesai," jawabnya membuat Siyeon menatap ke arahnya.


"Maksudmu?" tanyanya dengan bingung.


"Kita belum menikah dan aku akan menikahimu besok pagi, ratu Siyeon Lambency."


"Aku akan menunggunya raja Taeyong Lambency."


End.


Okay... endingnya gini aja ya...terimakasih bagi yang masih setia dengan cerita ini. Aku sebagai penulis, cukup bingung menjabarkan cerita seperti ini. Karena, ini adalah kali pertamaku buat cerita seperti ini.


Sekali lagi terimakasih atas kesetiaan kalian dengan cerita-ceritaku ;)


See you in next story.