
Diperjalanan menuju apartemen Neyna,
“Ney,,kamu baik-baik saja kan nak?” Tanya papa memecah sunyi di mobil.
“Iya Neyna baik koq pa”
Sesampainya diapartemen, Neyna langsung masuk kekamarnya untuk istirahat.
Selesai bersih-bersih dan melaksanakan shalat isya, Neyna langsung merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
Terdengar suara ketukan dipintu kamar Neyna, “Ney,,udah tidur nak? boleh papa masuk?” Ucap papa dari balik pintu kamar, Neyna langsung membuka pintu, papa masuk dan di susul oleh mamanya.
“Nak,,papa Sama mama tidak memaksa nak, keputusan sepenuhnya ada ditangan kamu, kebahagiaan kamu adalah kebahagian papa dan mama juga, papa akan mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu. Awalnya memang papa setuju untuk menjodohkan kamu dengan Wanda, tapi setelah papa mengetahui semuanya, papa menyerahkan sepenuhnya kepada kamu nak, papa paham perasaan kamu saat ini, jadi kamu jangan merasa terbebani dalam mengambil keputusan, semua belum terlambat, tinggalkan apa yang membuatmu sedih dan raihlah apa yang membuatmu bahagia”
Mendengar ucapan papanya, Neyna tak kuasa membendung air matanya, ia pun memeluk dan menangis dipelukan papanya.
Sejak kecil Neyna memang sangat dekat dengan papanya, dia sangat penurut dengan kedua orang tuanya, tak pernah membantah keinginan mereka, karena orang tua lebih tau yang terbaik untuk anaknya.
Lalu mamapun memeluk Neyna erat dan mencium keningnya, kemudian mereka keluar dari kamar Neyna.
Sementara Wanda yang masih belum bisa tidur, masih memikirkan apa Yang sudah terjadi, dia tidak menyangka akan secepat ini dia melamar Neyna dan lebih tidak menyangka lagi Neyna menerima lamarannya.
Wanda bangkit dari sofa tempatnya berbaring, ditatapnya satu persatu wajah orang Yang paling disayanginya yang sedang tertidur pulas.
Opa yang tertidur dengan wajahnya yang damai lalu dia menatap wajah omanya yang tertidur dengan tersenyum.
“Ya tuhan,,bagaimana mungkin aku bisa mengecewakan mereka yang paling kusayangi, Cuma mereka Yang kupunya di dunia ini, aku ingin selalu melihat mereka tersenyum bahagia, lindungi dan jaga mereka tuhan, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan mereka. Papa, mama semoga anak kalian ini bisa membahagiakan mereka Yang sudah menjadi pengganti kalian didunia ini, aku rindu kalian”
Wanda meneteskan air mata, dia merasa sudah saatnya dia berbakti pada opa dan omanya yang sudah menggantikan peran kedua orang tuanya.
Keesokan harinya sepulang dari kantor, Neyna menghubungi nomor Wanda.
Dirumah sakit, terdengar ponsel Wanda berbunyi, dia melihat dilayar ponselnya tertulis nama Neyna,
Degg....
sakin shocknya melihat nama yang muncul dilayar, ponsel Wanda jatuh dilantai. Dia buru-buru mengambilnya dan mengangkatnya sambil menjauh dari oma dan opanya.
“Ya halo,,ada apa?”
“Aku mau kita ketemu dan bicara, aku tunggu di caffe depan kantor, 30 menit”
Tit..tit....tit..
Telepon langsung terputus, belum sempat Wanda menjawabnya.
Wanda langsung bergerak menuju caffee tersebut, meninggalkan opa, oma dan kedua orang tua Neyna.
Tepat 24 menit Wanda tiba dicaffe tersebut. Wanda langsung menelpon Neyna menanyakan posisinya dimana.
Kemudian Wanda menuju meja dimana Neyna duduk.
Sambil melirik jam di tangannya, Neyna berucap
“boleh la!” Lalu Wanda duduk dengan posisi tepat dihadapan Neyna “ada apa ?” Ucap Wanda
“aku mau membicarakan masalah perjanjian kita, dan aku mau perjanjian ini benar-benar dibuat didepan pengacara, jadi tidak ada masalah dibelakang hari” Ucap Neyna tegas, Wanda menyimak, sambil menatap bola mata Neyna yang menyala saat berbicara serius dengannya, yang membuat jantungnya berdebar.
Kemudian Wanda menanggapi
“ok aku setuju, apa saja Isi perjanjiannya?” Tanya Wanda, dia sedikit lega sekaligus bahagia karena itu menandakan kalau Neyna menyetujui pernikahan mereka.
Tanpa basa basi Neyna mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi perjanjian apa saja Yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah mereka resmi menikah.
Wanda membaca lembar demi lembar. Lalu Neyna berucap,
“baiklah, kita akan kekantor Rosi untuk membuat perjanjian ini” Neyna mengambil ponselnya dan menelpon Rosi sahabatnya
“Halo Ci, lo dimana, lagi sibuk gak?”
“Gak,,baru kelar meeting, ni masih dikantor, ada apa Ney?”
“Gua ada perlu, gua kekantor lo sekarang ya, urgen”
“Ok,,,apalagi yang urgen Ney, ok deh gua tunggu ya!”.
Tanpa basa basi Neyna mematikan teleponnya.
“Kita jalan sekarang, aku naik taxi aja” ucap Neyna, Wanda menatap heran
“Lohh?! Bukannya tujuan kita sama ya? Aku bawa mobil sedang kamu gak bawa mobil, kenapa kita gak barengan aja kesana” Ucap Wanda
Neyna menjawab dengan nada datar,
“Aku gak mau hutang budi” Wanda menaikkan kedua alisnya lalu menggelengkan kepalanya dan berucap
“Udah,,gak segitunya juga,,,lagian kan makan waktu kalau kamu naik taxi, Iya kalau taxinya langsung dapat dan Iya juga kalau yang nyetir cepat, ntar malah jadi lama”
Setelah Wanda membayar bill minuman, Wanda menuju parkiran
“ayolah Ney, hanya perkara hutang budi, aku janji gak menganggap kamu hutang budi sama aku, jadi plis kamu ikut aku biar kita cepat nyampe dan urusan perjanjian kelar” Neyna menatap dingin Lalu menjawab singkat “ok, deal!!”.
Neyna pun naik ke mobil Wanda. Sore itu situasi jalanan sedikit macet karena jam pulang kantor. Didalam mobil mereka tidak saling bicara. Wanda menyetir santai sedang Neyna sibuk menatap kearah jam tangannya.
“ohh,,,gitu,,kirain kamu gak suka Ngebut,,ok pakai safebelt ya” lalu Wanda mulai menginjak pedal gasnya, dengan lihai dia memutar kemudinya, karena kondisi jalanan sedikit padat. Wanda yang hobi balap liar, tidak susah baginya mengemudi dengan kecepatan tinggi ditengah jalanan yang lumayan rame.
Neyna tetap tenang meskipun sesekali Wanda mengerem mendadak. Dan benar saja, Wanda hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba dikantor Rosi, Yang seharusnya waktu tempuh normalnya 35 menit dengan kondisi Lalu lintas yang lengang.
Lalu Neyna turun dari mobil Wanda dan langsung menemui Rosi.
“Wahh,,,cepat amat neng nyampenya, pasti ngebut ini?!” Sapa Mimi, Mimi melirik kebelakang Neyna, kemudian berucap
“Ohh...berdua datangnya, ayo masuk Ney, Udah di tunggu Rosi didalam” Neyna yang tak banyak bicara dengan Mimi langsung berjalan masuk keruangan kerja Rosi.
“Ney...apa sih yang urgen ?” Tanya Rosi dan dia melirik pada sosok dibelakang Neyna
“Berdua?? ada apa ini?” Rosi sedikit heran.
Neyna masih memasang tampang dingin.
“Ci,,,gua mau minta tolong elu, buatin surat perjanjian antara gua sama dia” sambil Neyna menunjuk kearah Wanda.
Rosi menatap heran pada sahabatnya, karena sebelumnya neyna juga belum cerita apa-apa
“sorry gua belum paham Ney, maksudnya perjanjian apa antara elu sama Wanda ?” Selidik Rosi, Mimi juga Sama penasarannya dengan Rosi, kenapa Neyna bisa datang bareng Wanda dan minta dibuatin surat perjanjian.
“gini Ci, gua bakal nikah sama dia, tapi gua mau sebelum nikah kami harus buat perjanjian dulu” terang Neyna ke Rosi, Rosi yang masih memasang wajah bingung bertanya lagi
“ney,,tapi perjanjian seperti apa yang harus aku buat, aku belum paham ini,” Neyna mengambil posisi duduk tepat didepan Rosi begitu juga Wanda yang duduk disebelah Neyna, mereka berdua menghadap Rosi.
“Ci..gua setuju nikah sama dia, jadi gua harap lo buatkan perjanjian apa Yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama kita dalam ikatan pernikahan, ini poin-poinnya dan satu lagi buat masa berlakunya setahuan sejak tanggal kita menikah dan setelah itu kita akan memilih jalan hidup masing-masing” Ucap Neyna sambil menyerahkan lembaran kertas yang sudah disiapkannya.
Rosi sedikit kaget mendengarnya
“lo yakin dengan keputusan elo Ney?” Tanya Rosi memastikan
“Iya gua yakin” Ucap Neyna singkat.
Wanda hanya diam mengikuti permainan Neyna, dia tidak protes Sama sekali, karena baginya dengan Neyna menyetujui pernikahan itu sudah sangat membantunya untuk membahagiakan opa. Lalu Rosi beralih ke Wanda dan bertanya
“kamu setuju dengan Neyna?” belum sempat Wanda menjawab, Neyna langsung memotong pembicaraan
“Udah Ci, dia udah setuju, sekarang elu buat aja perjanjiannya dengan poin yang udah gua tulis dikertas itu”
Rosi langsung meminta bantuan Mimi. Mereka memulai mengetik Isi perjanjiannya.
Setelah Mimi selesai mengetik, lalu mencetaknya dan kemudian Rosi membacakan isi dari perjanjian tersebut.
Kemudian Neyna menegaskan kembali
“Ok,,,jadi jelas kan semua poin-poinnya? yang perlu aku tegaskan, setelah kita menikah kita tetap menjalani kegiatan masing-masing, kamu atau aku tidak boleh ada larangan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan sebelum menikah, kita tinggal dikamar masing-masing dan tidak boleh menyentuh barang pribadi masing-masing, jangan menuntut terlalu banyak soal hak dan kewajiban sebagai suami istri, kamu faham maksudnya kan?” Wanda mengerutkan keningnya sambil menggeleng
“Maksudnya aku atau pun kamu tidak akan melakukan kewajiban sebagai suami istri, seperti nafkah lahir bathin”
Rosi dan Mimi saling pandang, sedang kan Wanda masih terlihat tidak faham
“Jadi seumpamanya kita sedang berkunjung kerumah opa ataupun kerumah orang tua kamu, kita juga harus mengikuti Isi perjanjian ini? Bukannya nanti mereka jadi curiga ya, gimana ceritanya suami istri tapi tidurnya beda kamar?” Ucap Wanda
“Untuk kondisi seperti itu ada pengecualian, jadi misalnya kalau kita lagi nginap dirumah opa ataupun di rumah orang tua aku, kita ya selayaknya suami istri tapi dengan catatan kamu tidak boleh menyentuh aku, cuma tidurnya aja dalam satu kamar”
“Lohh,,,tadi kamu bilang kalau dirumah opa atau dirumah papa kamu kita harus terlihat selayaknya suami istri, bukannya suami istri itu harus memberikan pelayanan dan nafkah lahir bathin kan ya?” Ucap wanda sedikit memancing emosi Neyna
“Kamu nyari ribut ya?!! Kecuali itu!!kalau kamu gak terima gak apa-apa, kita batalin aja rencana pernikahan ini??!” ancam Neyna, Wanda yang mendengarnya langsung terdiam, kemudian berucap
“ok..ok..aku setuju, jadi aku harus tanda tangan dimana?” Kemudian Rosi berucap
“ini kalian yakin mau buat perjanjian kaya gini? Lo jugak Ney, ada-ada aja ya, segala nafkah lahir bathin dimasukkan kedalam poin-poin perjanjian, nikah itu ibadah kalau nikahnya model begini, koq jatuhnya kaya mau buat perjanjian sewa menyewa ya?” Neyna langsung menjawab
“itu kalau nikahnya dengan akal sehat Ci, tapi ini pernikahan yang tidak didasari dengan akal sehat, udah sekarang lo revisi aja poin yang ada perubahan biar segera di tanda tangani” Mimi pun langsung merevisi perjanjian tersebut, kemudian dicetak dan diserahkan pada Neyna dan Wanda.
Setelah mereka baca Lalu Neyna pun menanda tanganinya, begitu juga dengan Wanda. Selesai di tanda tangani, Wanda berucap
“Jadi udah beres kan ya? Gak ada masalah lagi kan? Ayo kita balik?” Neyna melirik kearah Wanda
“aku bisa pulang sendiri, kamu balik aja duluan, aku masih ada urusan sama Rosi dan Mimi” Ucap Neyna ketus.
“Gak bisa gitu dong, tadi kan kita datangnya bareng, ya pulangnya harus bareng juga dong, lagian papa kamu masih dirumah sakit” Ucap Wanda, namun Neyna tetap tidak mau pulang bareng Wanda.
Kemudian ponsel Wanda berbunyi
Kring..
Kring...
“Ya om,,,opa kenapa om?! Ok..ok..Wanda langsung kesana om” Wanda langsung mematikan ponselnya, telepon dari papa Neyna Yang mengabarkan bahwa opa dilarikan ke ruang ICU karena mendadak sesak nafas. Neyna sedikit kepo Lalu bertanya
“Ada apa?”
“Opa dilarikan ke ICU karena tiba-tiba sesak nafas” terang Wanda, sambil mau bergegas
“Aku ikut!!” Ucap Neyna Yang juga langsung bergegas dari tempat duduknya. Kemudian mereka pamit ke Rosi dan Mimi.
Diperjalanan menuju rumah sakit, Wanda menyetir seperti sedang balapan, sesekali Neyna menutup matanya ngeri, tapi dia tidak berbicara. Tak lama mereka pun tiba dirumah sakit.