
Happy Reading
Siyeon merasakan aneh di dalam tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan kalung yang ia gunakan tiba-tiba memancarkan sinar putih dengan setitik merah di tengahnya. Rambut hitamnya juga berubah menjadi putih sangat panjang. Ia terus menatap penampilannya di depan cermin, ia tak percaya dengan keadaan fisik yang berubah sangat drastis.
"Rambutku seperti raja dan ratu di dalam mimpi itu!" gumam Siyeon saat melihat matanya berwarna putih dengan titik merah di tengahnya. Siyeon tertegun dan melebarkan kedua matanya, ia mencoba melihat dirinya lebih jelas lagi.
"Aku baru mengingatnya! Di mimpi itu, penampilanku juga seperti ini!" serunya, ketika ia baru menyadari penampilannya kali ini. Malam ini, dirinya tidak mendapat misi dan bulan yang terdapat di langit berwarna putih dengan titik merah di tengahnya. Semua warna merajuk ke putih dan merah, dirinya tidak mengerti arti warna tersebut.
"Ada apa dengan bulannya? Kenapa semuanya berwarna seperti itu?" Siyeon membuka jendela kamarnya dan menatap ke arah langit. Semilir angin menerpa rambut putih panjangnya, tetapi Siyeon tidak merasakan apa-apa. Dirinya hanya termenung dan berpikir keras tentang semua yang aneh tersebut. Bulu matanya lentiknya juga menjadi putih.
Gaun putih yang sangat panjang hingga menyapu lantai ikut bergerak seiring dengan hembusan angin. Siyeon tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari atas pohon, mata yang menyala dengan warna merah gelap itu menatap intens wajah Siyeon. Senyum kecil terlukis di wajahnya yang tak terlihat, ia sangat senang dengan perubahan Siyeon saat ini. Ia sangat merindukan penampilan Siyeon yang jauh lebih cantik.
"Kau akan menjadi ratuku, tunggu saja!" serunya dengan menyeringai, dalam sekejap tubuhnya tak terlihat menyatu dengan angin. Siyeon yang merasa ada yang memperhatikan, menatap ke arah pohon yang sangat tinggi. Ia yakin, orang yang memperhatikannya itu berada di sana, namun ia tidak menemukan apa pun di sana. Angin yang datang begitu kencang.
"Aneh!" Siyeon menutup jendelanya, lalu ia beranjak kembali melangkah ke arah cermin, dirinya menatap penampilannya yang tak berubah. Tanpa sadar ia menggenggam kalung di lehernya dan memejamkan matanya, setelah ia membuka kedua matanya. Ia sangat terkejut, penampilannya sudah kembali ke semula.
"Tunggu dulu! Akan ku coba sekali lagi!" Siyeon menggenggam erat kalunganya dan memjamkan matanya. Saat ia membuka kedua matanya, penampilannya kembali aneh. Ia tersenyum puas saat mengetahui kekuatan dari kalung aneh itu.
"Apakah aku mempunyai sihir? Penampilanku seperti penyihir? Aku akan mencobanya," Siyeon mencoba mengangkat tangannya dan kata pertama yang terlintas di pikirannya adalah api, dalam beberapa detik tangannya mengeluarkan api kecil dan hal itu membuatnya terkejut. Hingga api itu jatuh ke karpet, dengan mengangkat telunjuknya Siyeon menggumamkan kata air dan air keluar dari tangannya. Api itu padam dengan cepat, Siyeon menyeringai puas. Ia kembali menatap penampilannya di depan cermin.
"Dengan ini, aku bisa membunuh mereka tanpa senjata! Aku harus melataih kekuatanku dan mencari tahu apa saja kekuatan yang aku miliki. Aku akan mengontrol mereka, kenapa aku begitu bodoh tidak menyadarinya dari dulu?" kekeh Siyeon dan kembali merubah penampilannya dengan semula. Ia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul dua belas malam, dirinya ingin tidur dan mencari tahu tentang kekuatannya besok atau di dalam mimpinya.
"Sunyi selalu saja," gumam Siyeon sebelum dirinya menutup mata, perlahan air matanya mulai jatuh dari pelupuk matanya. Siyeon menangis dalam diam, dirinya selalu mengeluarkan air mata di dalam kesunyian setiap malamnya. Hatinya begitu hampa, tak ada secercah cahaya yang membuat hatinya yang gelap menjadi bercahaya.
"Ku harap, bisa menemukan bukti diriku! Aku sangat bingung dengan diriku sendiri," gumam Siyeon dengan terisak kecil, tangisan yang penuh dengan kepiluan itu selalu menjadi senandungnya sebelum mengantarnya ke dalam dunia mimpi yang tak pernah masuk akal itu.
Siyeon membuka kedua matanya, dirinya berada di hamparan pasir yang sangat putih. Ia menatap penampilannya yang kembali menggunakan gaun putih. Rambut panjangnya bertebrangan dan langit bertabur bintang menjadi objek penglihatannya. Siyeon melangkah mendekati sebuah cahaya biru yang sangat indah dengan taburan crystal putih di setiap sisinya.
"Cahaya apa ini?" tanyanya dengan menyantuh cahaya itu, dirinya tertarik ke dalam cahaya itu. Ia melihat sebuah tempat yang indah dengan nuansa putih di, terdapat beberapa crystal putih yang menjadi batu di tanah putih dan juga air terjun crystal dengan warna-warni.
"Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa bahagia berada di tempat ini?" Siyeon memegang dadanya yang berdebar begitu kencang, dirinya tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Perasaan aneh yang membuatnya tersenyum begitu manis dan tulus.
"Kau ingin mengetahui apa saja kekuatanmu?" tanya seseorang membuat Siyeon terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya, ia melihat seorang pria dengan wajah rupawan tersenyum kepadanya. Pria itu memiliki rambut merah, mata merah dan juga bajunya berwarna merah.
"Siapa kau?" tanya Siyeon yang mulai berjalan mundur untuk menjauhi pria asing itu. Dirinya tidak pernah melihat atau bertemu dengan pria di depannya ini.
"Aku adalah pelindungmu," jelasnya membuat Siyeon mengernyitkan dahinya. Ia menatap tajam pria di hadapannya, dengan tangan yang siap mengluarkan kekuatan yang di miliki olehnya. Pria tersebut tersenyum melihat Siyeon yang terlihat waspada kepadanya.
"Kau tak perlu takut, di sini aku hanya ingin memberitahumu tentang kekuatan yang ada di dalam dirimu," jelasnya membuat Siyeon menurunkan tangannya, api yang sudah di buatnya langsung lenyap begitu saja. Pria itu mengajak Siyeon untuk duduk di sebuah bangku panjang berwarna putih, Siyeon duduk di sampingnya dan pria itu hanya menatap lurus ke aarh depan.
"Apa kekuatan yang aku miliki?" tanya Siyeon yang terlihat tidak sabar. Pria itu tersenyum dan menatap lembut Siyeon yang duduk di sampingnya.
"Kau sudah tahu api dan air kan?" tanyanya yang di balas anggukan oleh Siyeon.
"Kau mempunyai lima elemen," jelasnya membuat Siyeon bingung.
"Lima elemen? Apa saja itu?" tanya Siyeon dengan wajah penasarannya, belum pernah ia menampakkan wajahnya yang seperti ini. Dirinya pun tak sadar sudah menampilkan ekspresi seperti itu, membuatnya sangat lugu dan orang-orang tidak akan percaya kalau ia yang membunuh orang-orang dengan begitu mudahnya.
"Elemen api, air, angin, es dan crystal," jelasnya membuat Siyeon sangat terkejut.
"Bagaimana caranya aku mengontrol dan mengeluarkan kekuatanku sendiri?" tanya Siyeon yang sangat penasaran dengan kekuatan yang di milikinya. Ia hanya bisa mengeluarkan elemen api dan air saja, padahal ia sudah mencoba untuk mengetes kekuatannya yang lain.
"Aku akan mengajarimu, tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi!" ujarnya membuat Siyeon menatapnya dengan mata memicing, pria itu tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.
TBC...