
Semua tamu yang hadir ikut terharu menyaksikan Neyna dan Rey yang saling berpelukan.
Rey yang masih bayi berusia satu tahun itu seakan paham akan apa yang dirasakan Ibu nya,dia pun menghapus air mata yang menetes dipipi Neyna dengan jari - jari imutnya.
“Mamma...mamma..” ocehan Rey membuat semua yang melihatnya tersenyum gemes.
Kemudian Neyna menyalami semua tamu yang hadir dan mengucapkan Terima kasih, setelah itu dia menemui opa, oma dan kedua orang tuanya
“Opa..oma,, terima kasih banyak atas surprisenya,Neyna juga mohon maaf sampai lupa ulang tahun anak sendiri, sekali lagi Terima kasih banyak opa dan oma” Ucap Neyna sambil mencium tangan dan memeluk keduanya.
“sama - sama nak,, opa sama oma paham kesibukan kamu, opa juga mau minta maaf karena sudah membuat waktu kamu berkurang dalam melihat tumbuh kembang Rey, yang seharusnya tidak ada momen yang kamu lewatkan nak, opa berjanji akan segera mengurus semuanya, agar kamu tidak terlalu sibuk dikantor” Ucap opa merasa bersalah
“Gak kok opa,, Neyna ini hanya belum terbiasa dan belum bisa membagi waktu, Neyna juga belum membuat skala prioritas jadi yah..masih kelabakan begini, tapi Neyna akan terus belajar kok opa,, opa dan oma nikmati aja masa pensiunnya” Ucap Neyna
“Iya...memang udah saatnya yang muda yang mengambil alih urusan perusahaan nak, oma dan opa ini hanya tinggal menunggu waktu saja” Ucap oma
“Iihhh.. mama ini ngomong apa sih,, mama sama papa itu harus tetap sehat dan kuat, kalau yang lain biar menjadi urusan kami - kami para anak dan cucu mama, lagian mama Sama papa harus sehat terus, apa kalian gak pengen liat Bram menikah ?” Ucap bude Nia yang sontak membuat raut wajah Bram dan Neyna berubah.
“Hah,,maksud mama apa ?” Tanya Bram
“Iyyaa...kamu kan mau menikah,, emang kamu gak mau menikah?” Ucap bude Nia balik
“Ya...ya..mau ma,,tapi kan aku belum kasi tau mama siapa calonnya” Ucap Bram
“Kamu tuh lama.... bikin mama greget,, udah deh biar langsung mama Lamar aja”
Bram semakin salah tingkah mendengar ucapan mamanya, Bram pun langsung memandang wajah Neyna yang juga terlihat bingung mendengar ucapan bude Rania.
“Duuhh..mama..jangan bilang kalau mama udah melamar Maudy untuk Bram,,waduhh..kacau..kacau...! Baru juga hubungan aku dengan Neyna selangkah lebih maju, ada aja rintangannya,, tapi kali ini aku akan berjuang mempertahankan pilihanku jika mama tidak menyetujui aku dengan Neyna” gumam Bram dalam hati
“Gimana,,kamu setujukan Bram ? Biar mama langsung ngomong sama kedua orang tuanya” Ucap bude Nia lagi
Kini pandangan Bram beralih ke Rheina adiknya, tatapannya mengisyaratkan pada Rheina meminta penjelasan apa sebenarnya Yang sudah terjadi, namun Rheina hanya bersikap santai dan mengangkat bahunya.
“Ma...udah ya..nanti aja kita omongin dirumah, disini lagi banyak orang ma,, Bram kan malu jadi berasa gak laku banget deh sampe dijodoh - jodohin segala,, udah ya ma” Pinta Bram dengan suara pelan.
“Ssssttt... ini urusan mama biar mama yang urus,,kamu diem aja ya” Ucap mama gemes.
“Ma...tapi maa....?!!”
“Ssttt....”
“Kalian ini ada apa sih? Kami semua Yang disini jadi bingung” ungkap opa yang merasa bingung melihat tingkah Ibu dan anak itu
“Maaf pa,, mumpung semua lagi pada kumpul disini, saya mau mengutarakan niat baik saya, pada mas Wira dan mba, saya mau menyampaikan niat baik saya untuk melamar Neyna menjadi menantu saya” Ucap mama Nia yang sontak membuat seluruh keluarga dan juga para sahabat dan tamu lainnya terkejut mendengarnya.
Raut wajah Bram sangat terkejut mendengar ucapan mamanya, begitu juga Neyna yang sama kagetnya dengan Bram.
“Iya..saya mau melamar Neyna menjadi istri putra sulung saya, karena saya rasa dia juga setuju dengan niat saya ini, hanya saja dia memang terlalu lambat untuk urusan cinta, jadi saya yang melamar Neyna langsung, gimana mas,, apakah mas menerima lamaran saya ini ?” Ucap Rania to the point
“Ma..mama apaan sih ma? Kok mama gak bilang dulu ke Bram ?” Ucap Bram
“Kalau nunggu kamu kelamaan, terus banyak pertimbangan, padahal sudah jelas - jelas kalian saling mencinta, tapi kamunya lelet, masa Iya Neyna yang nembak duluan,, jadi gimana mas Wira dan mba,,apakah lamaran saya ini diterima ?” Ucap mama Nia kembali bertanya pada Wira yang masih terkejut dengan lamaran dadakan ini.
“Terus terang saya kaget banget ini, saya kesini karena mau rayain ulang tahun Rey, kalau saya dan istri menyerahkan sepenuhnya pada Neyna, dia sudah dewasa dan dia yang akan menjalaninya, yang penting dia bahagia” Ucap Wira
“Saya mohon maaf mas atas lamaran dadakan ini, tapi sepertinya ini saat yang tepat, mengingat memang mereka sudah lama saling kenal, Yang saya tau dari putri saya bahwa mereka memiliki perasaan yang sama” Ucap Rania, Rheina yang merasa namanya dibawa - bawa langsung bergeser perlahan menjauh, namun Bram cepat - cepat menghadangnya
“Mau kemana lo bocah tengil!! Jangan kemana - mana, lo harus jelaskan semuanya ke gua” Ucap Bram
“Aa..aanuu kak,, Rhe ma..mau ke toilet,,” Ucap Rheina terbata
“Gak bisa !! Ntar aja urusan toiletnya!!” Ucap Bram pelan dengan gigi rapat.
Rheina pun menurut, dia pun tetap berada diantara keluarga besarnya. Rosi dan Mimi pun ikut senang mendengar kabar bahagia yang baru mereka dengar dan gak sabar ingin mengucapkan Selamat pada sahabatnya itu.
“Gimana Ney,, apa kamu menerima lamaran keluarga Bram, sepenuhnya keputusan ada di tangan kamu nak” Ucap papa Neyna
Neyna terlihat gugup, karena langsung diminta menjawab lamaran keluarga Bram, walau dihatinya mengatakan Iya tapi dia cukup tau diri karena statusnya saat ini.
Kali ini Bram merasa dia harus angkat bicara, karena sedari tadi hanya mama Rania yang bicara
“Sepertinya kita semua udah tau Ney, kamu sudah tidak sendiri lagi, ada Rey, kakak hanya butuh jawaban kamu menerima lamaran ini atau nggak ?”
“Gitu dong!! Dari tadi kek,, masa ngarepin mama terus yang ngomong,, ini baru namanya gentleman” bisik mama Rania ke Bram
Neyna terdiam sejenak, sambil menatap kearah Rey yang sedang digendong oleh mamanya.
Rey memang butuh sosok Ayah untuk menemaninya tumbuh dan berkembang dan Neyna merasa Bram adalah sosok yang tepat yang bisa melindungi mereka, selain Bram pria yang baik dan bertanggung jawab, Bram masih memiliki hubungan darah dengan almarhum Wanda Ayah Rey.
“Ya..ya..sudah kak,, Ney menerima lamaran kakak” Ucap Neyna tertunduk
“Alhamdulillah....akhirnya pecah telur juga” Ucap mama Rania sambil menghapus telapak tangannya ke wajah
“Alhamdulillah...makasi ya Ney” Ucap Bram tersenyum bahagia, ingin rasanya dia memeluk tubuh mungil yang dihadapannya.
“Mama apaan yang pecah telur?” Ucap papa Al
“Ya pecah telur pa,,akhirnya anak sulung papa nikah juga, next siap - siap giliran kamu Rhe,,cepat kenalin ke mama teman dekat kamu” Ucap mama ke Rheina
“Waduhh!! Kok jadi Rheina dibawa - bawa sih ma,,,Rhe masih kuliah ma, Rhe masih mau kerja dulu menikmati masa muda, masa harus buru - buru nikah!” Tolak Rheina, membuat semua yang mendengarnya tertawa.
“Ok..mas Wira,,nanti untuk lamaran secara resminya akan kami rencanakan ya” ucap papa Al.
Fahri langsung mendekati adiknya untuk mengucapkan selamat
“Hai dek,,Selamat ya,, widihh!! Ngebut ammat lo ya!! Gua sekali aja belum,, nah Eluu udah mau dua kali,,” goda kakaknya yang udah lama tak berjumpa sambil mengacak - acak rambut Neyna seperti anak kecil
“Iihhh...kak Fahri!! Sekolah aja terooss!! Aku bukan anak kecil lagi tauk!! Nohh...udah bisa bikin anak kecil !!” Ucap Neyna sambil nunjuk kearah Rey yang sedang digendong mamanya
“Ohh...iya...!! Gua lupa dek!! Tapi ngomong - ngomong ganteng juga anak lu ya,, gimana cara buatnya?” masih kangen menggoda adiknya
“Kak fahriiii...'!!” Teriak Neyna Fahri pun tertawa bahagia melepas rindu menggoda adiknya yang bawel.
Kemudian Neyna mengenalkan kakaknya Fahri ke Bram
“Kak..kenalin ini kakak Neyna yang udah jadi bang Toyip gak pulang - pulang” Ucap Neyna
“Eh...iya..Bram kak,,,sering dengar cerita tentang kakak tapi gak pernah ketemu orangnya” Ucap Bram sambil bersalaman dengan Fahri
“Fahri,, ohya...dia ngomongin apa aja,, pasti yang jelek - jelek ya??”
“Nggak kok kak,,dia bangga banget kok kak” Ucap Bram
“Hemm...kak Bram,, jangan bohong deh!! Mana ada Ney banggain dia, besar kepala ntar dia kak” Ucap Neyna
“Bangga aja pake malu - malu dek,,, kakak tau kok kalau kamu mangga punya kakak ganteng kaya kakak mu ini” Ucap Fahri sambil tersenyum tipis dan mengangkat alisnya
“Astagaahh,,,,” Ucap Neyna sambil berlalu meninggalkan kakaknya dan Bram
Neyna pun menyapa para sahabatnya yang juga hadir malam itu
“Neyna sayaang!!! Selamat ya..akhirnya cinta kalian bersatu juga,,walau melalui banyak kerikil tajam yang menghadang...uhh...” Ucap Mimi sambil memeluk Neyna
“Bahasa lo Mi...sok penyair banget..! Selamat ya Ney,,gua ikut senang, akhirnya lo dan kak Bram berakhir indah,,gua do’ain semoga lancar dan langgeng sampai kakek nenek” Ucap Rosi sambil memeluk sahabatnya itu
“Makasi ya Ci, Mi...kalian Saksi dari kisah hidup gua ini, mudah - mudahan tuhan merestui ya,, aamiin” Ucap mereka bebarengan.
“Eh...ngomong - ngomong kapan lounchingnya ini ?” Ucap Neyna sambil mengelus perut buncit Rosi yang sedang hamil
“Do’ain lancar ya Ney,, insyaallah tiga bulan lagi” ucap Rosi sambil menatap kearah Rendy
“Iya...minta do’anya ya Ney,,mudah - mudahan lancar dan sehat - sehat keduanya” Ucap Rendy minta do’a dari Neyna
“Aamiin...iya Neyna pasti do’ain yang terbaik buat sahabat Neyna” Ucap Neyna.