
Setelah menempuh perjalanan dengan kapal cepat, akhirnya Bram dan Neyna tiba diseberang, mereka pun langsung berjalan menuju gudang tempat penyimpanan mobil dan kemudian mereka segera bergegas pulang.
Diperjalanan, Neyna tidak banyak bicara, didalam pikirannya masih terbayang kejadian yang barusan di alaminya, andai saja ia tidak pergi bersama Bram, ntah apa yang sudah terjadi.
Neyna juga memikirkan ucapan Bram saat mereka baru tiba di tepi pantai pagi tadi, Bram yang mengutarakan niatnya untuk melamar Neyna.
Sepertinya memang dia butuh seseorang yang bisa melindunginya setiap saat, seseorang tempat bersandar dan berbagi suka duka.
Tak bisa dipungkiri memang Bram masih memiliki tempat khusus dihatinya, hanya saja Neyna merasa dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan Bram yang pernah dekat dengannya walaupun akhirnya harus kecewa.
Rey membutuhkan figur ayah yang juga menjadi alasan utama bagi Neyna untuk memilih pasangan hidup karena bagi Neyna menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati yang sudah saling mencintai tapi juga tiga hati.
Neyna perlu mempertimbangkan matang - matang dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan ia dan putranya kelak, seseorang yang bisa menjadi imam dan membimbingnya menjadi lebih baik lagi karena menikah adalah ibadah dan menyempurnakan agama.
“Ney...kamu pasti lelah,, tidur aja lagi Ney,,,” ucap Bram agar Neyna beristirahat karena seharian mereka belum ada tidur.
“Harusnya kakak yang istirahat, dari kemarin kakak gak ada tidur, sekarang harus nyetir lagi untuk 4 jam kedepan,, supaya kakak lebih fresh,, gimana kalau kita ngopi sekalian makan siang,,ini udah jam 17.30 wib, kak” ucap Neyna
“Biar kita cepat nyampe rumah, kamu pasti udah kangen banget sama Rey”
“Kangen sih,,,tapi masa buat istirahat aja gak boleh,, gak usah terlalu dipaksakan kak,,udah kita cari restauran atau caffe aja dulu,, perut Ney udah mulai terasa lapar” ajak Neyna Bram pun setuju, mereka pun mencari caffe atau restauran.
Sampailah mereka dihalaman parkir sebuah caffe rooftop, yang letaknya sedikit menjorok kedalam dari jalan raya, caffe yang asri alami, dihalaman depan banyak terdapat tanaman berwarna hijau, juga ada kolam ikan koi dengan gemericik air yang terdengar lembut menambah hangatnya suasana alam.
Mereka memilih tempat duduk dan langsung memesan makanan. Sambil menunggu pesanan, mereka pun menikmati pemandangan langit yang perlahan berubah warna menjadi jingga karena senja.
“Bagus ya caffe nya Ney, kamu tau darimana tempat ini, bukannya ini kali pertama kamu kesini ya ?” Tanya Bram
“Taraaa....Mbah gugel lah!! Terus Ney liat pada ngasi bintang lima, ya Ney penasaran lah,,,ternyata emang bener bagus, lokasi check,, tinggal masakannya nih,, recomended apa gak” ucap Neyna sambil terus menebar senyum menikmati udara segar dan pemandangan senja yang begitu indah.
Pelayan pun datang, mengantarkan makanan yang mereka pesan, tak perlu menunggu lama, mereka berdua yang sama - sama lapar langsung melahap makanannya dengan semangat 45, selain karena lapar ternyata memang masakannya enak, hingga dipiring mereka nyaris tak bersisa makanan.
“Masakannya enak juga kok Ney, gimana menurut kamu ?” Tanya Bram
“Hu'uh...enak banget kak,,gak tau deh apa beneran enak atau karena lapar, hahaha...” Ucap Neyna sambil tertawa karena melihat kondisi piring mereka yang nyaris tak meninggalkan sisa makanan.
Setelah selesai menyantap makanannya, mereka pun memesan kopi hitam, mereka menikmati secangkir kopi sambil menikmati langit yang sudah berubah gelap.
“Hmmm...kopinya wangi banget Ney, takarannya juga pas,, emang gak salah deh kamu pilih tempat ini, selain tempatnya yang memanjakan mata, masakannya juga memanjakan lidah,, perfecto” ucap Bram
“Bener kak,,, emang Ney gak salah pilih deh,,paket kumplit nih !” Ucap Neyna
“kak... Neyna boleh ngomong sesuatu gak ?” Ucap Neyna
“Ya boleh lah,, kamu mau ngomong apa Ney ?” Tanya Bram sambil meneguk kopinya
“Soal...yang kakak omongin tadi pagi di tepi pantai,, sepertinya Neyna sudah memiliki jawabannya” ucap Neyna dengan mimik wajah yang agak serius
“Kalau kamu masih ragu, kakak gak paksa kok Ney, kakak akan menunggu sampai kamu siap dan memiliki jawabannya, gak perlu buru - buru” ucap Bram
“Tapi saat ini Neyna sudah memiliki jawabannya dan harus segera Ney sampaikan ke kakak” jawab Neyna
Saat ini berganti wajah Bram yang terlihat sedikit tegang. Bram pun menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Ok.. insyaa Allah kakak siap,, apapun keputusan kamu” ucap Bram
“Tegang banget deh,,, udah kaya nunggu hasil interview lamaran kerja aja,,” ucap Neyna bercanda agar suasana tidak tegang.
“Memutuskan untuk menerima kakak sebagai pendamping hidup Neyna” ucap Neyna dengan masih tertunduk
“Hah... serius Ney ? Boleh diulang sekali lagi ?” Pinta Bram
“Neyna menerima kakak sebagai calon pendamping hidup Neyna, untuk berbagi suka duka, menua bersama kakak sampai maut memisahkan” lanjut Neyna.
Terlihat wajah Bram terkejut, tatapan matanya sedikit tidak percaya dengan ucapan Neyna
“Ney... ini gak mimpi kan, cubit kakak Ney, tolong cubit yang kencang” ucap Bram
“Ihh.... paan sih..pake di cubit segala,, nih..Ney cubit ya” ucap Neyna sambil mencubit pipi Bram dan bram pun mengaduh.
“Aw...iya...bener..ini memang bener bukan mimpi,,alhamdulillah ya Allah,,,akhirnya kau menjawab do’a ku selama ini,, Makasi sayang..” ucap Bram bahagia sambil mengecup punggung tangan Neyna.
“Terus apa rencana selanjutnya ?” Tanya Bram
“Rencana siapa kak ?” Tanya Neyna balik
“Ya...rencana...rencanaaa siapa ya ? Kok jadi bingung??” Ucap Bram sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Rencananya..ntar aja deh,,yang penting kita harus kasi tau seluruh keluarga, terutama papa dan mama Neyna, juga papa dan mama kakak,takutnya pakde dan bude gak setuju karena status Neyna saat ini” ucap Neyna, khawatir kedua orang tua Bram tak setuju atas hubungan mereka karena status Neyna sebagai single parent.
“Papa sama mama itu menyerahkan sepenuhnya untuk urusan jodoh, jadi kamu gak usah khawatir sayang” ucap Bram.
“Ya udah...kita pulang yuk,,,biar cepat nyampe,,tapi kita shalat maghrib dulu yuk” ajak Neyna.
Mereka pun berjalan menuju mushalla Yang tersedia di caffe tersebut, setelah berwudhu dan melaksanakan shalat maghrib, Bram tak lupa menyelipkan do’a agar hubungannya dan Neyna mendapat restu dari kedua orang tua mereka.
Setelah shalat mereka pun menuju parkiran dan menaiki mobil, untuk melanjutkan perjalanan.
Dua jam kemudian mereka sudah tiba di gerbang parumahan opa, lalu Bram pun menuju rumah opa dan memarkirkannya dihalaman rumah opa yang cukup luas menampung beberapa mobil.
“Ney..kok banyak mobil ya,, emang opa buat acara apa ?” Tanya Bram
Neyna yang tidak tahu menahu akan acara apa yang sedang berlangsung dirumah opa langsung menjawab
“Gak tau kak, setau Ney opa gak ada rencana buat acara apa- apa sih,,, tapi ini kok rame banget ya,, ini mobil siapa aja ? Eh...ini kan mobil Rosi, Loh...kok Rosi gak ngabari Ney kalau mau datang” Neyna bertanya- bertanya.
Akhirnya, untuk menghilangkan rasa penasaran mereka pun langsung masuk kedalam rumah melalui pintu utama, tapi diruang tamu tidak ada siapa - siapa dan juga tidak ada keramaian, mereka pun beralih keruang keluarga juga masih Sama, akhirnya mereka menuju teras belakang, tempat dimana opa dan keluarga lainnya sering bersantai menghabiskan waktu dan benar saja, teras belakang sudah didekorasi dengan balon - balon berwarna biru muda, hingga ketaman belakang, meja panjang Yang penuh dengan hidangan, sebuah lagi meja khusus permen, coklat dan cemilan anak.
Neyna tiba - tiba tersadar saat membaca tulisan Happy Birthday Reyhan
“Astagaaa...kaaak!! Neyna lupa Rey ulang tahun hari ini!!” Teriak Neyna
Kemudian Neyna pun mendekati kerumunan para anggota keluarga Yang sedang bermain dengan Rey, sambil tersenyum haru dia menghampiri anak Semata wayangnya itu, menggendongnya, memeluk erat dan tak henti meciumi pipi gembul bayi kesayangannya itu Yang hari ini genap berusia 1 tahun.
Tak kuasa Neyna membendung air matanya, rasa sedih, bahagia bercampur haru karena mereka dikelilingi orang - orang yang menyayangi dia dan putranya.
Semua yang ada pun ikut terharu melihat momen tersebut, ada opa dan oma yang juga meneteskan air mata, papa dan mama Neyna juga hadir dan menteskan air mata melihat putri bungsunya, ada pakde dan bude Nia yang tersenyum haru sambil dirangkul oleh Bram putra sulungnya, ada Rosi dan suaminya Rendy, Mimi yang juga mengharu biru juga ada Fahri kakak nya Yang juga baru pulang dari menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.
Semua keluarga dan orang - orang terdekat Neyna hadir untuk merasakan ulang tahun Reyhan disaat dia lupa akan hari ulang tahun putranya karena kesibukannya.
“Maafkan mama nak,,, mama sampai lupa hari ini hari ulang tahunmu, tapi percayalah nak,, do’a dan cinta mama tak pernah putus untuk mu,,Cuma kamu Yang mama miliki,, Selamat ulang tahun anakku Reyhan Putra Husein, sehat selalu, jadi anak yang soleh dan penyejuk hati keluarga, do’a terbaik mama panjatkan untukmu selalu,, I love you anakku” Ucap Neyna sambil meneteskan air mata dan memeluk putranya.