Deja Vu

Deja Vu
47. Memutar Balikkan Fakta



Pagi ini adalah jadwal Neyna melakukan pemeriksaan CT Scan kembali untuk memeriksa pendarahan di otak Neyna akibat benturan itu.


Wanda memang tidak memberi tahu pada opa dan oma yang berada di luar negeri, karena takut akan menjadi beban fikiran mereka.


Wanda bersama kedua orang tua Neyna dan dibantu perawat membawa Neyna keruangan CT Scan dirumah sakit tersebut.


Rumah sakit tempat Neyna dirawat adalah rumah sakit tempat opa dirawat sebelum dibawa ke luar negeri.


Rumah sakit terbesar yang memiliki fasilitas lengkap, begitu juga para dokter yang sudah sangat mengenal opa dan keluarga.


Wanda dan kedua orang tua Neyna menunggu diluar ruangan, sementara Neyna dibawa perawat masuk.


Setelah selesai mereka kembali keruangan perawatan Neyna. Wanda pun langsung menuju ruangan dokter untuk melihat hasil CT Scan.


“Baik lah,,sejauh ini tidak ada masalah, pendarahannya sudah tidak ada lagi dan gumpalan darahnya sudah mengecil, jadi kita tidak perlu melakukan pembedahan” terang dokter.


Raut wajah Wanda terlihat bahagia dan bersyukur


“syukurlah kalau begitu dok, selanjutnya apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan ingatannya ?” Tanya Wanda


“Melalui therapy, keluarga juga bisa melakukannya dirumah, tapi ingat jangan terlalu dipaksa, perlahan saja, misalnya dengan menggunakan benda atau barang - barang yang sering digunakannya atau yang paling disukainya, itu akan mengembalikan ingatannya secara perlahan” terang dokter dan Wanda mengangguk paham.


Selama dirumah sakit, Wanda selalu


mendampingi Neyna, mengajaknya bicara.


“Nda,,sebenarnya kamu siapa, kenapa begitu peduli padaku, merawat aku membantu semua keperluanku?” Tiba - tiba Neyna bertanya pada Wanda


Wanda terdiam sejenak menyiapkan jawaban atas pertanyaan Neyna, kemudian dia tersenyum sambil mengelus rambut Neyna


“Aku ini suami kamu, kita menikah 2 bulan yang lalu” ucap Wanda lembut


Neyna menatap lekat wajah Wanda


“Tapi wajahmu sangat asing, berbeda dengan laki - laki yang kemarin menjengukku, terus dia siapa?” Tanya Neyna


Walaupun Wanda sedikit kesal, namun dia berusaha menyembunyikan kekesalannya


“dia itu teman kamu sekolah, tapi kamu sering berantem sama dia, dia suka jahilin kamu, nge bully kamu, pokoknya dia tuh iseng anaknya” terang Wanda yang memutar balikkan fakta


Neyna mengangguk paham, kemudian dia melihat jari tangannya


“terus ini cincin kawin kita ya, kamu kok cincinnya beda?” Tanya Neyna sambil masih melihat cincin yang melingkar dijari manis sebelah kanan.


Cincin yang dikenakan Neyna adalah cincin yang dihadiahkan Bram waktu mereka jadian, sementara cincin nikahnya bersama Wanda tidak dipakai.


Wanda terkejut melihat cincin nikah Neyna tidak ada dijarinya


“Neyna,, mengapa cincin pernikahan kita kau lepas dan itu? Apakah itu cincin pemberian Bram waktu itu?” Ucapnya dalam hati.


“Ohh..kamu juga punya cincin yang sama kok, cuma lagi kamu buka aja kemarin, karena agak kegedean, liat aja jari kamu imut - imut begitu” goda Wanda mengalihkan pertanyaan Neyna.


Wanda akan membuat memori baru untuk Neyna, dengan cara memutar balikkan fakta.


Wanda mengatakan pada Neyna kalau Bram adalah orang yang selalu mengganggu dia, semua kejahatan yang dulu dilakukannya ke Neyna diputar balik olehnya dengan mengatakan bahwa Bram lah yang selalu menjadi mimpi buruknya.


Selama dirumah sakit, Wanda selalu membantu Neyna, dari mulai menyuapinya makan, menyisir rambutnya dan memotong kuku Neyna.


Berbeda sekali dengan Wanda yang sebelumnya. Dia yang selalu mencari cara untuk membuat Neyna naik darah, memancing keributan dan membuat emosi, saat ini dia berubah drastis, sangat perhatian dan sayang pada Neyna.


Tanpa sadar, papa dan mama Neyna memperhatikan Wanda yang begitu telaten mengurus Neyna seperti dokter pribadi.


Setiap perawat datang membawa obat suntikan, dia yang selalu menyuntikkannya ke Neyna, menyuapi Neyna dan membawa Neyna jalan - jalan berkeliling taman rumah sakit.


Selama 15 hari Neyna dirawat dirumah sakit, akhirnya hari ini mereka sudah diperbolehkan pulang, untuk selanjutnya Neyna harus kontrol sebulan sekali.


Kabar kepulangan Neyna pun sampai ketelinga Bram. Dia pun berniat kerumah sakit.


Saat Wanda mengurus administrasi, Bram muncul dari balik pintu


“Assalamu’alaikum” ucap Bram


“Walaykumsalam, masuk nak” ucap mama Neyna pada Bram.


“Makasi Tante, yang lain kemana ?” Tanya Bram, secara tidak langsung menanyakan Wanda


“Oh..Wanda dan papa sedang mengurus administrasi, nak Bram datang sendiri?” Tanya mama


“Iya tante,,Rosi dan yang lain pada sibuk, mungkin setelah pulang kerja mereka datang kerumah” ucap Bram, mama pun mengangguk.


“Ney,,gimana udah enakan?” Tanya Bram


Neyna menatap kearah Bram lama, melihat senyum tulus dan lembut di wajah Bram, yang membuat hatinya teduh


“Apa benar pria ini adalah mimpi buruk ku? Tapi kenapa saat aku menatap wajahnya aku merasa teduh dan hangat, aku tidak merasa ada sesuatu yang mengancam pada dirinya, apa mungkin dia pandai bersandiwara, karena ada mama jadi dia berpura - pura baik? Ahhh,,,kepalaku pusing!!”


Dalam hati Neyna berkata - kata.


“Alhamdulillah baik, tapi masih sering pusing, maaf kalau boleh tau nama kamu siapa, terus gimana hubungan kita dulu?” Tanya Neyna


Bram tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Neyna


“Nama aku Bram, kita teman dari SMA, aku kakak kelas kamu, kamu biasa panggil aku dengan sebutan kak Bram atau aa’” terang Bram


“Gimana hubungan kita dulu kak?” Tanya Neyna yang membuat Bram sedikit bingung untuk menjelaskannya karena status Neyna


“Ya hubungan kita dulu baik, bahkan sangat baik, kita dulu sama - sama pengurus OSIS disekolah” terang Bram tidak terlalu detail karena khawatir akan menimbulkan pertanyaan baru bagi Neyna.


Sebenarnya Bram ingin sekali mengatakan kalau mereka sebelumnya adalah sepasang kekasih, namun Bram mengurungkan niatnya.


“Apa kita memiliki hubungan yang buruk kak?” tanya Neyna lagi


Bram terkejut mendengar ucapan Neyna, namun saat Bram hendak menjawab pertanyaan Neyna, Wanda muncul


“Assalamu’alaikum” ucap Wanda


“Walaykumsalam, gimana nak sudah selesai? Apa kita sudah bisa pulang?


Tanya mama ke Wanda, namun Wanda tidak langsung menjawab, tatapannya langsung tertuju pada Neyna dan Bram yang sedang berbincang - bincang disudut ruangan ditepi jendela kaca.


“Nak Wanda, gimana? Kita jalan sekarang?” Tanya mama kembali


Wanda tersadar kemudian langsung menjawab


“Eh..iya ma,,sebentar lagi, kita tunggu mobil ya ma, udah otw ke sini kok” ucap Wanda yang langsung mendekat kearah Neyna dan Bram.


“Sayang,,kamu kok masih duduk disini, kamu tuh harus banyak istirahat jangan terlalu capek dan jangan terlalu berfikir yang berat - berat, ayo baringan lagi” ajak Wanda sambil melirik Bram. Dalam hati wanda berkata


“Apa saja yang sudah mereka bicarakan, apa saja yang sudah diucapkannya ke Neyna?”


Neyna pun kembali berbaring, untuk beristirahat. Bram menatap Wanda yang mendampingi Neyna


“Apa yang aku fikirkan, mereka sudah menikah walaupun hanya sandiwara tapi hati ini tidak bisa menerimanya. Ya Tuhan,,kenapa disaat aku akan mengutarakan niatku, Kau memberi pembatas antara aku dan Neyna?”


Bram menarik nafas dalam dan menghembuskan berlahan.


Terdengar suara ketukan pintu. Caca, Rosi dan Rendy terlihat di balik pintu.


“Assalamu’alaikum,,” ucap Rosi dan Caca, yang langsung dijawab oleh mama.


Kemudian mereka mencium tangan kedua orang tua Neyna lalu mendekat kearah Neyna.


“Ney,,gimana keadaan kamu, udah baikan?” Tanya Mimi sambil memeluk Neyna, Neyna tersenyum menanggapi Mimi sambil berusaha mengingatnya.


“Neyna aku kangen banget,,huuu,,,aku khawatir dengan keadaan kamu makanya aku datang lagi untuk memastikan keadaan kamu,,kamu udah ingat aku kan?” Tanya Caca masih dengan nada suara mewek.


Rosi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Caca yang sedikit lebay menurutnya.


“Gimana Ney,,udah semangat lagi kan?” Tanya Rosi tersenyum memeluk Neyna.


“Makasi semua udah mau jenguk Neyna, tapi maaf Neyna belum bisa mengingat kalian satu persatu, tapi aku yakin kita pasti dekat banget, kalian pasti sahabat aku?” Ucap Neyna bersemangat.


“Lo tenang aja Ney,,ntar kita bakal sering -sering jenguk lo dirumah, sambil ngobrol masa lalu kita” ucap Mimi memberi semangat


“Bener ya, kalian sering main kerumah ya, aku bakal kesepian dirumah gak ada temen” ucap Neyna


“Insyaallah kita bakal sering jengukin elo Ney” sambung Rosi sambil memegang tangan Neyna.


Neyna terilihat bersemangat setelah kedatangan sahabat - sahabatnya. Sementara Wanda memperhatikan Bram yang terus menatap Neyna.


Waahh!! nih anak!! Gak tau apa ya itu bini orang, matanya gak bisa dikondisikan!! Gak akan aku biarkan mereka sering - sering menjenguk Neyna, karena mereka akan menceritakan siapa aku dan Bram yang sebenarnya”


Gumam hati Wanda yang sedang cemburu melihat Bram yang terus menatap Neyna.


Kemudian Rosi dan teman - temannya pamit pulang, dan berjanji akan mengunjungi Neyna. Bram pun pamit pulang.