Deja Vu

Deja Vu
35. Malam Pertama



Setelah kedua orang tua Neyna pulang,


“Kalian pulang lah nak, Ayu sudah menyiapkan kamar untuk kalian, oma gak apa sendirian, disini kan banyak suster” ucap oma ke Wanda dan Neyna, “kami nginap diapartemen aku aja ma,,besok pagi-pagi kami kesini ngantarin oma ke bandara” ucap Wanda


“Kenapa ke apartment kamu? Itu udah lama gak kamu tinggali nak, pasti belum dibersihkan, Kaliankan capek, beristirahat lah dirumah, besok biar oma suruh Dian mengirim orang keapartemen kamu buat bersih-bersih”


Lalu Wanda pun menurut, mereka pun berpamitan pada opa dan oma, mencium tangan keduanya dan berjanji besok pagi mereka akan datang kerumah sakit.


Diperjalanan menuju rumah oma mereka tidak saling bicara. Sesekali Wanda melirik ke arah Neyna. Mengagumi parasnya,


“Ney,,aku gak nyangka bisa sedekat ini dengan mu, walau ekspresi mu dingin terhadapku, aku gak peduli. Aku berjanji akan merubah rasa bencimu menjadi rasa cinta, ahh...makasi opa dan oma yang sudah menyatukan kami dalam ikatan suci ini, aku sayang kalian”


Mereka pun tiba dihalaman rumah opa. Mereka berjalan masuk melalui pintu utama dan disambut oleh ibu Rahayu


“selamat datang mas Wanda dan mba Neyna, silahkan masuk, kalau butuh apa-apa jangan sungkan hubungi saya dan jika saya sudah berangkat besok mas Wanda dan mba Neyna bisa minta bantuan Dian asisten saya” ucap ibu Rahayu, Wanda hanya mengangguk lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.


“Maaf bu,,kalau kamar saya dimana ya?” Tanya Neyna ke ibu Rahayu


“Kamar mba Neyna di Lantai 2 dikamarnya mas Wanda, kamarnya udah kami siapkan, barang-barang mba juga sudah diatas” ucap Ibu Ayu, dia tersenyum faham karena Neyna baru menikah jadi masih lupa kalau dia sudah punya suami.


Sementara Wanda sudah beranjak duluan naik ke lantai 2. Neyna naik ke lantai 2 menuju kamar Wanda.


Neyna bingung melihat ada beberapa pintu, kemudian terdengar pintu dibuka


“Sebelah sini” terdengar suara Wanda, lalu Neyna menuju pintu Yang terbuka.


“Disitu masih banyak kamar kan? Mungkin salah satunya bisa aku tempati?” Tanya Neyna.


“Kamu mau tidur di kamar tamu? Kamu tau disini dinding pun bisa bicara, kalau kamu tidur dikamar tamu, itu akan sampai ketelinga oma dan opa, terus Kamu mau jawab apa?”


Neyna terdiam, dia pun pasrah


Masuk kekamar Wanda.


Wanda masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, sedang Neyna masih terduduk di tempat tidur, memandang sekitarnya, terlihat kamar Wanda ditata selayaknya kamar pengantin, dengan rangkaian bunga mawar putih dibeberapa sudut, ada aromatherapy yang menyala membuat ruangan terasa nyaman.


Neyna masih berfikir, kenapa dekorasinya menggunakan mawar putih padahal sebelumnya tidak ada yang tau kalau dia suka mawar putih.


Tak lama Wanda keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk, Neyna langsung berbalik dan menutup matanya


“bisa gak sih agak sopan sedikit!!” Ucap Neyna kesal, Wanda dengan santai menjawab


“Ada masalah? ini kan kamar aku, lagian kan kita juga udah suami istri” goda Wanda.


“Heii....!! kita kan punya perjanjian, kamu jangan belaga bego ya!!” Ucap Neyna kesal.


“Emang aku melakukan apa? Kan gak ada yang melanggar perjanjian, santai aja,,aku ingat koq semua poin nya”


“Bagus kalo kamu ingat,,sekarang gimana, aku mau ganti pakaian tapikan aku gak bawa pakaian, kirain tadi pulangnya ke apartemenku” Ucap Neyna.


“Kamu tenang aja, dilemari udah ada


barang-barang kamu disiapin bu Ayu” Ucap wanda sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Neyna membuka lemari, betapa terkejutnya Neyna melihat beraneka model lingerie dengan beragam warna


“Baju tidur ini bukan milikku, aku gak pernah memakai pakaian seperti ini, aku mau pulang ke apartemen mengambil barang-barangku” Ucap Neyna sambil bergegas.


“Kamu mau kemana dengan kebaya begitu? Lagian ini udah malam, pastinya mama Sama papa udah tidur, pakai Yang ada aja dulu, besok baru kita ambil barang-barang kamu”


Neyna mendengar kata KITA, dia langsung menaikkan bibirnya tidak suka.


Dia pun memilih-milih lingerie yang paling sopan diantara semua yang ada.


Akhirnya pilihannya jatuh pada lingerie berwarna abu-abu panjang selutut dengan bagian dadanya yang sedikit tertutup, lumayanlah daripada Yang lain modelnya udah gak karu-karuan, ada yang menerawang seperti dalam akuarium, ada yang ribet kaya jaring spiderman dan ada juga model rumbai menjuntai bak semak belukar.


Neyna masuk kekamar mandi membersihkan diri dan berganti baju. Setelah selesai Neyna pun keluar dengan menyilangkan kedua tangannya didada, sementara Wanda duduk diatas kasur dengan mengenakan celana boxer dan kaos putih asyik memainkan gadgetnya, kemudian melirik


“Astaga Neyna, kau terlihat sangat menggoda, tubuhku terasa panas,,andai saja tidak ada perjanjian itu, andai saja ini pernikahan yang kita berdua inginkan, mungkin malam ini adalah malam yang paling indah”


“Neyna pun memakai mukena untuk melaksanakan shalat isya. Saat Neyna shalat, Wanda memperhatikan Neyna dari awal hingga selesai, kemudian dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya ketika Neyna selesai.


Setelah membuka mukenanya dengan kedua tangan masih menyilang didadanya,


“Aku ngantuk, aku mau tidur” ucap Neyna


“Ya udah tidur aja disini, kan kasurnya masih luas” ucap Wanda yang masih fokus dengan gadgetnya, Neyna mulai kesal


“Kamu tidur dibawah! nih bantal dan selimutnya!!” Neyna menaruh bantal dan selimut dibawah.


Wanda menoleh ke Neyna dan menoleh kebawah tempat Neyna menaruh bantal san selimutnya


“kenapa harus aku? Lagian kamu gak liat dibawah kan langsung lantai tanpa alas sama sekali,,aku gak mau, ntar masuk angin lagi” ucap Wanda sambil mengambil bantal dan selimut itu dan menaikkannya ketempat tidur.


Wanda langsung mengatur posisi tidur mereka


“gak ada yang akan tidur dibawah, ini pembatasnya, aku gak akan melewati batas ini” ucap Wanda sambil meletakkan bantal guling diantara mereka berdua. Lalu Wanda merebahkan tubuhnya membelakangi Neyna memejamkan matanya sambil tersenyum.


Neyna menatap Wanda kesal, lalu merebahkan tubuhnya menarik selimut dan membelakangi Wanda tapi matanya tak mau terpejam, dia merasa asing apalagi dia tidur tidak sendiri.


Berbalik kearah Wanda Lalu mengepalkan tangannya ingin menonjok Wanda.


Neyna merebahkan tubuhnya kembali menarik selimut dan memaksa memejamkan matanya.


“Ya ampuun!! udah jam 7! Neyna langsung bergegas kekamar mandi membersihkan diri, sementara Wanda masih terlelap.


Setelah Neyna selesai dan bersiap-siap, Wanda belum beranjak dari tidurnya


“Brutus,,bangun udah siang! Ntar telat nganterin opa ke bandara” Ucap Neyna, Lalu Wanda membuka perlahan matanya dan melirik jam dinding


“Waduuh!! Kok kamu gak banguni aku sih?!” Sambil ia bergegas menuju kamar mandi


“Siapa bilang gak di banguni, itu barusankan aku banguni, dasar kamu aja tidurnya kaya kebo” Ucap Neyna sambil berdandan.


Setelah Wanda selesai bersiap-siap, mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan.


Dian asisten ibu Ayu sudah mempersiapkan.


Mereka berdua pun sarapan kemudian bergegas menuju bandara.


Sesampainya dibandara, opa, oma dan kedua oeang tua Neyna sudah menunggu mereka


“Duhhh pengantin baru, pasti bangunnya kesiangan nih? Hehehe...oma maklum kok” ucap oma sambil memeluk Wanda dan Neyna.


“Jam berapa pesawatnya oma?” Tanya Wanda


“Jam 9 nak, ohyaa...nanti selama opa dan oma disana kamu bantu ngurusin perusahaan ya, jadi setiap butuh tanda tangan opa kamu yang gantikan ya nak. Terus pendidikan spesialis kamu kapan mulainya?” Tanya oma


“Minggu depan oma, Iya nanti Wanda bantu cek perusahaan, oma fokus ke pengobatan opa aja dulu, insyaallah cepat selesai dan gak ada masalah”


“Aamiin...kalian baik-baik ya, jangan lupa segera kasi kabar baik untuk oma dan opa ya” sambil oma mencium Pipi Neyna, Neyna hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan oma.


Kemudian Wanda memeluk opa,


“Opa semangat sembuh ya, pokonya pulang dari sana harus udah banyak perubahan” sambil mencium tangan opa, opa yang mengalami stroke dan susah bicara hanya meneteskan air mata.


Kemudian mama dan papa Neyna pun menyalami dan memberi semangat ke opa.


Setelah oma, opa dan ibu Ayu beranjak menaiki pesawat


“Nak, selesai dari sini kalian mau kemana?” Tanya papa Neyna, lalu Neyna menjawab


“Neyna mau ke apartemen ambil beberapa barang Neyna pa, papa Sama mama mau kemana lagi?” Tanya Neyna


“Mama Sama papa mau balik sore ini nak, kasian mba Muni, udah lama ditinggal sendiri” ucap mamanya


“lah..??mama kasian sama mba Muni, terus sama anak sendiri apa gak kasian?” Mama yang mendengar ucapan Neyna langsung tersenyum dan berucap


“Kalau kamu kan udah ada yang jagain jadi mama Sama papa gak khawatir lagi ninggali kamu sendiri,,ya kan nak Wanda?”


Wanda tersenyum dan mengangguk.


Teedengar ponsel Neyna berbunyi, panggilan dari Kakak nya Fahri


“Assalamu’alaikum kak, Iya kak, kakak apa kabar!”


“Adik degilkuuu..selamat atas pernikahannya ya, semoga samawa till jannah. Terus laki - laki mana yang kurang beruntung itu yang menjadi suami mu? Hahahaha” goda Fahri.


“Yeee,,,yang ada kebalikannya dong, dia yang beruntung bisa menaklukkan adikmu yang tangguh dan keras kepala ini!” Ucap Neyna.


Wanda sedikit tersenyum mendengar kan ucapan Neyna dengan kakaknya itu.


“Ok adikku sayang, sekali laagi selamat menempuh hidup baru ya, maaf Kakak mu yang ganteng ini tidak bisa menghadirinya karena jadwal terlalu padat, ok Sama Sama suami kamu dan Sama mama papa juga ya, jangan bandel- Handel jadi istri, ntar durhaka lo! Udah ah,,,Assalamualaikum”


“Ok kalau kalian mau ke apartemen kita jalan sekarang ya” ucap papa Neyna dan mereka pun menuju apartemen Neyna.


Neyna mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya.


Tepat pukul 15.00 wib, Neyna dan Wanda mengantarkan papa dan mama Neyna ke stasiun kereta.


“Kalian baik-baik ya, kalau ada masalah dibicarakan dengan kepala dingin, harus saling melengkapi, karena sekarang kalian tidak hidup untuk diri kalian sendiri, kamu Neyna harus taat dan berbakti pada suami karena surganya kamu itu bukan lagi ditelapak kaki ibu tapi sudah di Ridho nya suami, mau apa dan mau kemana harus izin dengan suami ya nak, jangan disamain kaya dulu. Kamu juga nak Wanda, harus menjaga dan melindungi istrimu, baik buruknya istri itu tergantung bimbingan suami, kalau ada perbedaan itu wajar, namanya juga menyatukan 2 jiwa dan karakter yang berbeda, harus saling mengerti. Kalian baik-baik ya, jaga kesehatan dan jangan lupa shalat” papa memberi nasehat kepada mereka berdua, dan tak lama panggilan untuk pada penumpang agar segera naik.


Setelah mereka mencium tangan kedua orang tua Neyna.


Setelah kedua orang tua Neyna berangkat


“Kita balik ke rumah opa sekarang?” Tanya Neyna, Wanda hanya mengangguk


“Kalau gitu, kamu balik duluan aja, biar ntar aku nyusul sekalian bawa mobil, karena besok aku udah mulai kerja, biar ada kendaraan buat jalan kekantor” Ucap Neyna ke Wanda


“Udah besok biar aku antar kamu sekalian aku mau kekampus ngurusin berkasku”


“Maksudnya??kamu mau temen kantorku tau kalau aku udah nikah gitu?”


“Emang mereka bisa tau kalau hanya perkara nganterin doang? Hebat banget temen-temen kamu, udah kaya dukun aja” ucap Wanda.


“Pokoknya semua harus sesuai dengan perjanjian, selama opa, oma, papa dan mama gak ada kita sepakat menjalani hidup kita masing-masing seperti biasa, no debat!!”


“Ok,,kamu Kira kalau kita masih tinggal dirumah opa perjanjian itu bisa berjalan? kan udah aku bilang, dirumah opa dinding juga bisa bicara, semua apa yang kita lakukan akan sampai ketelinga opa dan oma”


“Yah terus gimana dong? Aku gak mau ya semua tidak berjalan sesuai rencana!”


“Ya udah kita kerumah opa dulu, nanti kita fikirkan selanjutnya” lalu mereka pulang kerumah opa.