Deja Vu

Deja Vu
44. Kenyataan Pahit



Rosi pun mengajak Bram duduk, Rendy juga ikut bergabung bersama mereka, sementara Caca dan Mimi masih menatap cemas akan reaksi Bram saat mendengar semuanya.


“Kak,,aku harap kakak jangan berfikir macam - macam tentang Neyna ya, aku tau perasaan dia ke kakak dan aku juga tau perasaan kakak ke Neyna” Rosi menarik nafas panjang dan menghembuskannya berlahan.


Rosi mulai menceritakan semua yang sudah terjadi sampai akhirnya Neyna menikah dengan Wanda.


Bram mendengarkan dengan antusias, sambil sesekali dia menghapus wajahnya dengan ekspresi wajah kecewa dan hancur.


Sementara itu, Wanda didalam ruangan IGD sedang berbicara dengan dokter.


“Bagaimana keadaan istri saya sok?”


dengan nada suara cemas Wanda bertanya.


“Begini pak, istri bapak mengalami pendarahan di otak akibat benturan di kepalanya, kami akan melakukan CT Scan terlebih dahulu untuk melihat seberapa besar pendarahannya, jika pendarahannya mengecil dalam beberapa hari ini, kemungkinan tidak dibedah, tapi jika pendarahan masih tetap dan tidak mengecil, kami akan mengambil tindakan pembedahan pada tengkorak kepalanya, bapak siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi?” Terang dokter pada Wanda.


“Apa pun itu, lakukan yang terbaik untuk istri saya dok, karena saya juga seorang dokter, jadi saya percaya dokter pasti akan mengambil tindakan terbaik dan sudah memikirkan segala resikonya” ucap Wanda.


Kemudian Wanda keluar dari ruangan IGD dan disusul perawat yang mendorong tempat tidur Neyna untuk dibawa ke ruang CT Scan.


Bram langsung bangkit dan mendekat, menatap wajah Neyna yang masih tidak sadarkan diri.


“Mau dibawa kemana Neyna, dia kenapa?” Tanya Bram ke Wanda.


“Mau keruangan CT Scan, ada pendarahan di otak, dokter mau memastikan pendarahannya, apa perlu dilakukan pembedahan” Ucap Wanda sambil berlalu.


Bram hancur, dia menghapus wajahnya.


“Ya tuhan tolong Selamatkan Neyna, aku gak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan” dengan wajah cemas. Bram pun ikut menuju ruangan CT Scan.


“Ya tuhan Ney, kenapa jadi gini Ney, Neyna kamu harus bertahan” ucap Mimi. Mereka pun menyusul wanda dan Bram keruang CT Scan.


Sesampainya didepan pintu ruangan tersebut, semua disuruh menunggu diluar.


Neyna pun dibawa kedalam ruangan tersebut. Ruangan yang sangat dingin. Kemudian Neyna diangkat dan dibaringkan diatas meja periksa benda tersebut.


Benda itu bergerak membawa tubuh Neyna kedalam benda bulat yang mirip terowongan sampai sebatas kepala.


Setelah selesai, Neyna kembali dibawa keruangan IGD sambil menunggu dokter membaca hasil CT Scannya.


Mereka yang menunggu diluar serentak berdiri melihat Neyna sudah dibawa keluar menuju ruangan IGD.


Mereka mengikutinya, sesampai didepan pintu, hanya Wanda yang diperbolehkan masuk.


Didalam ruangan dokter mulai melihat hasil CT Scannya, yang juga diikuti Wanda.


Dokter tersebut menjelaskan dengan bahasa kedokteran, Wanda pun mengangguk paham.


“Baiklah saya ada kasi resep untuk memperkecil pendarahannya, kita lihat dalam tiga hari kedepan, akan kita lakukakan CT Scan kembali, jika gumpalan pendarahannya mengecil kemungkinan tidak akan dibedah” terang dokter, Wanda pun mengangguk setuju.


Kemudian Neyna dipindahkan keruang rawat inap VVIP sesuai permintaan Wanda.


Bram mendekati Wanda dan bertanya keadaan Neyna


”gimana keadaan Neyna, apa kata dokter?” Tanya Bram ingin tau.


“Masih di observasi tiga hari kedepan, jika gumpalan pendarahannya mengecil kemungkinan tidak di bedah, tapi kalau sebaliknya, ya..harus dilakukan pembedahan” terang Wanda.


Terlihat wajah Bram sedikit lega tapi masih menyimpan sejuta pertanyaan di kepalanya.


Setelah itu Wanda menelpon keduanya orang tua Neyna memberi kabar, terdengar suara papa dan mama Neyna shock mendengar kabar dari Wanda dan mereka langsung bergegas.


Wanda dan Bram duduk berhadapan didepan ruangan VVIP tempat Neyna dirawat. Sementara Rendy, Caca, Rosi dan Mimi sudah pulang.


Kemudian Bram membuka percakapan dengan Wanda


“Udah berapa lama kalian menikah?” Tanya Bram


“Kurang lebih 2 bulan, kami dijodohkan kedua orang tua Neyna dan opa ku” jawab Wanda. dia masih gengsi mengakui kalau sebenarnya dia sangat menginginkan Neyna.


Bram terdiam, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rosi, hingga dia menanyakan langsung ke Wanda.


“Apa kamu benar - benar mencintai Neyna ?” Tanya Bram lagi memastikan apakah Wanda benar mencintai Neyna.


Wanda hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bram.


“Bukankah dari dulu kamu selalu menyakiti Neyna, membuat dia sedih, marah dan membencimu?” Tanya Bram.


“Semua orang memiliki kelakuan masa kecil yang pastinya berbeda dengan sifatnya setelah dewasa, aku rasa untuk usia sekolah itu biasa dilakukan” jawab Wanda.


Lalu Wanda meninggalkan Bram dan masuk kedalam ruang perawatan Neyna.


Wanda duduk dikursi yang terletak disebelah tempat tidur Neyna. Memandang lekat - lekat wajah Neyna, tiba - tiba keluar butiran bening disudut matanya.


“ Ney, maafin aku ya, aku janji gak akan buat kamu kesal lagi,kamu bangun ya, semangat, aku kangen dimasakin lagi sama kamu, kangen


dimasakin nasi goreng, nasi goreng buatan kamu enak, aku suka banget, bangun ya Ney,,aku gak akan memaafkan diriku jika terjadi hal yang tidak diinginkan sama kamu, mungkin kali ini aku yang akan berakhir di rumah sakit jiwa, buka mata kamu Ney” Wanda berbicara sambil membelai rambut dan pipi Neyna kemudian mencium punggung tangan Neyna.


Wanda pun beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu untuk melakukan shalat malam.


Bram masih diluar ruangan VVIP menunggu sampai Neyna sadar, lalu dia membaringkan tubuhnya dikursi panjang sambil memainkan kotak cincin yang harusnya sudah terpasang dijari Neyna.


“Ney,,aku gak tau kedepan harus gimana. Semua rencana ku berantakan Ney. Ney,,kenapa mencintaimu sesakit ini ? walaupun hatimu untukku tapi ragamu masih miliknya. Kini kau terbaring tak berdaya, tak sanggup menghadapi ini semua Neyna”


Hati Bram berkata - kata. Dan akhirnya dia tertidur di kursi ruang tunggu itu.


Pagi hari, kedua orang tua Neyna tiba dan langsung menuju rumah sakit tempat Neyna dirawat.


Tok..


tok..


Wanda tertidur dikursi yang berada disebelah tempat tidur Neyna sambil menggenggam tangan Neyna.


Sakin lelahnya, dia tidak mendengar kehadiran kedua orang tu Neyna.


“Kasian Wanda ya pa, mungkin dia kelelahan,gak usah dibangunkan pa, biar dia terbangun sendiri” ucap mama ke papa.


Papa dan mama Neyna memperhatikan keadaan anaknya.


wanda pun terbangun mendengar suara orang tua Neyna


“Eh..papa Sama mama udah nyampe? Maaf Wanda ketiduran” ucap Wanda ke papanya Neyna.


sambil dia mencium tangan keduanya.


Lalu papa menanyakan kondisi Neyna, Wanda pun menceritakan semuanya.


Terlihat raut wajah papa sedikit cemas dan khawatir, begitu juga mama yang menteskan air mata sambil membelai rambut putrinya.


“Maafin Wanda pa, Wanda gak bisa jaga Neyna dengan baik, sampai mengalami kecelakaan ini” ucap wanda.


“Sudahlah nak, ini sudah takdir yang diatas, kamu juga kan ikut menjadi korban, gak ada yang mau terjadi seperti ini, sudahlah jangan menyalahkan diri kamu sendiri” ucap papa sambil menghapus punggung Wanda yang terlihat sedih dan menyesal.