
Siyeon membuka kedua matanya, ia menguap dan meregangkan otot-ototnya. Tidur di sofa membuat tubuhnya terasa sakit semua, matanya juga terasa berat, karena dirinya terlalu banyak menangis. Ia mendengar kicauan burung yang terdengar di luar, Siyeon melihat sepiring nasi dan segelas air di atas meja. Terdapat juga sebuah surat di kertas di pinggir piringnya, Siyeon mengambil surat dengan kertas berwarna hijau itu. Ternyata surat tersebut berasal dari Taeyong yang sedang keluar sebentar.
"Sepertinya Taeyong sedang menghindari ku," gumam Siyeon dengan mengambil gelas di atas meja, ia meneguknya sampai isinya tinggal setengah.
Siyeon mulai memakan makanannya hingga tandas, setelah kenyang dirinya mulai beranjak menuju ke arah kamarnya. Hanya pintu utama dan jendela yang Taeyong kunci dengan kekuatannya, sehingga Siyeon dapat masuk ke mana saja yang ia inginkan. Siyeon membersihkan tubuhnya dengan air hangat, Taeyong membelikannya beberapa baju untuknya. Siyeon memejamkan matanya menikmati air hangat yang masuk ke dalam pori-porinya, rasanya begitu nyaman dan badannya terasa ringan.
"Aku ingin mencari tahu siapa orang itu dan membalas dendam ku," lirih Siyeon setelah selesai mandi, ia membersihkan rambutnya yang masih basah.
Siyeon menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia menatap manik matanya yang berwarna hitam dengan titik merah di tengahnya. Dirinya tidak pernah menatap dirinya lekat-lekat manik matanya, hingga ia tidak begitu sadar kalau memilik mata seperti itu. Senyum sinis muncul dari bibirnya dengan cepat penampilannya langsung berubah.
"Aku yakin, buku kecil itu ada di dalam diriku!" Siyeon mengadahkan tangannya dan memejamkan matanya, tak lama cahaya putih keluar dari telapak tangannya dan buku kecil dengan empat warna itu berada di genggamannya.
"Aku adalah putri Siyeon Lambency dari kerajaan crystal putih dan aku berjanji, akan menyelamatkan alam crystal dan Dewa dari kegelapan. Aku juga akan menghabisi pembunuh kedua orang tuaku!" ujar Siyeon yang membuat buku di genggamannya langsung terbuka.
"Tuan Putri yang agung," suara itu berasal dari buku di genggaman Siyeon yang kini sudah terbang di depannya, buku itu berubah wujud menjadi sesosok wanita dengan gaun putih panjang, rambut putih dan juga mata putih seperti Siyeon.
"Siapa kau?" tanya Siyeon dengan menatap tajam wanita di hadapannya itu.
"Saya adalah SuA yang akan menjadi tangan kanan anda sekaligus pendamping anda," jelas dengan menunduk hormat kepada Siyeon.
"Apakah kau tahu tentang segalanya? Tolong ceritakan kepadaku!" titah Siyeon yang duduk di sofa dengan SuA yang masih berdiri di hadapannya.
"Tentang apa tuan Putri?" tanyanya membuat Siyeon sedikit berpikir, sebenarnya ada banyak yang ingin ia tanyakan. Namun, dirinya takut kalau Taeyong akan datang dan tahu akan ke datangan SuA. Siyeon mulai menatuh curiga kepada pria itu.
"Sebenarnya ada banyak, tetapi aku tidak memiliki banyak waktu. Jadi, aku hanya bertanya bagaimana cara aku keluar dari sini? Tempat ini sudah di tutupi oleh kekuatan yang aneh dan aku ingin pergi dari sini," ujar Siyeon dengan keyakinannya. Dirinya tidak bisa berlama-lama dengan Taeyong yang sangat misterius itu.
"Akan saya coba tuan Putri," balas SuA dengan menutup kedua matanya. Siyeon hanya terdiam memperhatikan wanita di hadapannya itu. Sekelebat cahaya putih dan merah mulai keluar dari tangan SuA, cahaya itu mulai keluar dengan sangat banyak. Tak lama setelah itu, SuA membuka kedua matanya dan tersenyum.
Siyeon juga kembali dengan penampilan awalnya, ia bergegas keluar dari rumah Taeyong sebelum pria itu datang dan menahannya di sini lagi. Ia hanya ingin mencari tahu kebenarannya sendiri, dirinya tidak bisa diam saja setelah mendengar semuanya. Ia akan menuju ke tempat iblis dan meleyapkannya, ia sudah membaca bahwa iblis itu adalah raja dari crystal hitam yang ingin mengusai alam crystal dan alam Dewa.
"Akhirnya aku bisa keluar juga, sekarang aku harus pergi dari sini. Aku merasakan aura Taeyong mulai mendekat, ia pasti mengetahui penghalangnya sudah musnah," Siyeon langsung berlari menyusuri hutan yang sanga lebat itu. Dirinya memang tidak tahu di mana tempatnya berada dan satu tujuannya adalah mencari jalan keluar agar menjauh dari Taeyong.
Siyeon terus melangkah menyusuri jalan setapak, dirinya tidak taku sama sekali dengan hewan buas yang akan menerkam dirinya nanti. Ia akan memusnahkan mereka semua yang menghalangi jalannya, termasuk dengan Taeyong. Ia ingin melenyapkan pria itu, karena dari postur tatapannya Siyeon tahu pria itu sedang menyembunyikan hal besar darinya.
"Aku yakin, Taeyong akan mencari keberadaanku. Sebaiknya aku mencari cara agar Taeyong tak bisa menemukanku. Tapi, bagaimana caranya? Pria itu sangat hebat dan kekuatan sama besarnya denganku," Siyeon berhenti sejenak di sebuah pohon besar yang tumbang, ia duduk di pohon itu dengan menyeka keringatnya.
"Aku tanya SuA!" Siyeon memanggil SuA, dirinya mencoba untuk memanggilnya langsung menggunakan telepati salah satu keistimewaan dari keturunan crystal putih. Itu adalah fakta yang Siyeon baca di buku kecil yang sangat menakjubkan itu.
"SuA, bagaimana caranya agar ia tidak menemukan keberadaanku?" tanya Siyeon dengan telepatinya, ia memfokuskan pikirannya agar SuA mendengarnya.
"Keluarkan cahaya merah dari tubuh anda, tuan Putri. Anda cukup menyebut cahaya merah, maka cahaya itu akan menghilangkan jejakmu," jelas SuA membuat Siyeon langsung memperaktekkannya, Siyeon terus mengucapkan cahaya merah dan cahaya itu langsung keluar dari tubuhnya. Tubuh Siyeon langsung tertutup kabut merah.
"Aku bahkan tidak merasakan kekuatanku di dalam tubuh," gumam senang Siyeon. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Sedangkan di tempat lain, Taeyong menatap rumahnya yang sudah tak ada kekuatannya lagi. Ia berlari ke dalam rumahnya dan mencari keberadaan Siyeon yang sudah menghilang.
"Sial, wanita itu kabur dariku!" kesalnya dan seketika wujudnya berubah menjadi gelap. Jubah hitam, rambut hitam dan juga mata hitam legam kini menjadi penampilannya. Aura kegelapan mulai keluar dari tubuhnya. Matanya berubah-ubah antara merah dan hitam.
"Ini adalah diriku yang sebenarnya, kau ingin bermain-main denganku rupanya," ujar Taeyong dengan seringai mengerikan dari bibirnya yang berwarna merah darah.
"Siyeon kau tak akan pernah bisa kabur dariku! Aku pasti menemukan keberadaanmu, lihat saja seberapa jauh dirimu sekarang. Aku pasti akan dapat menemukanmu dan membawamu lagi," Taeyong langsung melesat seperti cahaya meninggalkan rumahnya. Pria itu sungguh menyeramkan dengan wujudnya yang sekarang ini, siapa saja yang melihatnya akan ketakutan dan memilih lari menjauh dari jangkauannya.
TBC...