
Hari ini tepat 40 hari setelah kepergian Wanda, Dirumah opa sedang mempersiapkan acara kirim do’a dan bersedekah untuk anak yatim.
Neyna terlihat sedang menggendong Rey dikamarnya, hari - hari di lalui Neyna hanya menghabiskan waktu dikamarnya bersama Reyhan, tak jarang oma mengajaknya turun kelantai bawah untuk berkumpul dengan bude dan pakde Nia, karena semenjak kepergian Wanda , bude Nia dan keluarga sering menginap Dirumah oma, agar mereka tidak merasa kesepian.
Seperti saat ini, bude Nia dan keluarga sudah berada Dirumah opa,
“Ma,,Neyna dimana,,kok gak kelihatan ?” Tanya Nia
“Dikamarnya, semenjak kepergian Wanda, dia jarang turun ke bawah, dia lebih sering menghabiskan waktunya dikamar bersama Reyhan, hanya saat makan saja dia baru turun, mama juga gak berani ganggu, tapi terkadang sesekali mama naik keatas, melihat apa yang dilakukannya, tak jarang saat Rey tertidur, mama melihatnya sedang melamun, biasanya kalau week end dia paling senang memasak, mama jadi sedih melihatnya” ucap oma
“ya udah,,,coba aku lihat keatas ya ma” ucap bude Nia
“Rheina ikut mah,,mau godain Rey..” ucap Rheina
Mereka pun menuju kekamar Neyna yang berada di lantai dua.
Tok..tok..
“Neyna,,,boleh bude masuk nak ?”
Tidak ada jawaban, kemudian bude Nia mengetuk kembali pintu kamar Neyna, namun masih tidak ada jawaban, hingga bude meraih handle pintu dan membukanya,
“Ney...Neyna...ini bude nak,,”
Bude melebarkan pandangannya keseluruh sudut di ruangan itu, namun tidak menemukan, hanya asa Rey yang sedang tertidur pada box bayinya.
Rheina mencari kekamar mandi, namun tidak menemukan Neyna, hingga pandangan bude Nia tertuju pada pintu keluar kearah balkon yang sedikit terbuka ,
“Ney..kamu lagi apa nak?”
Neyna sedang melamun dengan tatapan kosong, hingga dia tidak menyadari bude Nia sudah berada disampingnya,
“Ney...lagi mikirin apa nak?” Sapa bude Nia sambil menyentuh pundak Neyna, membuat Neyna tersadar akan kehadiran bude Nia
“Eh...bude kapan datangnya ?” Ucap Neyna sedikit terkejut kemudian meraih tangan bude Nia dan menciumnya.
“Bude udah dari tadi nyari in kamu didalam, sampai kesini, sampai bude udah berdiri disebelah kamu pun kamu nggak ngeh,,kamu lagi mikirin apa nak, cerita sama bude ?”
“Ehh.. gak ada bude,,Ney cuma lagi menikmati pemandangan pagi ini aja, sekalian berjemur menaikkan imun tubuh” jawab Neyna
Bude Nia tersenyum mendengar jawaban Neyna, karena dia yakin itu bukanlah yang sebenarnya,
“Kamu kalau ada masalah ataupun ada yang difikirkan, kamu cerita ke bude, anggap bude ini mama kamu, karena Wanda kan juga anak bude, jangan ragu untuk cerita ke bude nak”
“Sebenarnya ada sih yang mau Ney ceritakan, tapi Ney masih ragu”
“Soal apa nak, apa soal almarhum ?”
“Bukan bude”
“Terus apa dong, ayok..ceritain ke bude nak ?”
“Begini bude, Wanda kan udah gak ada, terus Neyna disini juga gak melakukan apa - apa, Ney gak mau menyusahkan opa sama oma jadi Neyna berniat untuk kembali keapartemen Neyna ataupun Ney pulang kerumah mama aja”
“Nak...kamu ini ngomong apa sih,,menyusahkan gimana? Justru dengan kamu tetap tinggal disini, bisa menghibur rasa sepi opa sama oma nak, juga bisa mengobati kerinduan mereka terhadap Wanda dengan adanya Rey dirumah ini, bude yakin pasti mereka gak setuju kalau kamu pindah dari sini”
“Iya...tapi Neyna kan sekarang single parent, Neyna juga harus memikirkan masa depan Rey, maksud Ney itu Neyna akan kembali bekerja”
“Kamu gak perlu memikirkan kebutuhan hidup kamu dan Rey, itu udah menjadi tanggung jawab kita nak, kamu gak usah khawatir akan hal itu ya,,”
“Memang selama ini seluruh kebutuhan kami tercukupi bude, tapi Ney merasa gak enak dengan opa dan oma, Neyna kan masih sehat, masa harus berdiam diri terus dirumah, maksud Neyna biarlah Neyna bekerja, setidaknya bisa membantu meringankan beban opa dan oma”
“Ya sudah,,coba nanti bude bicarakan sama opa dan oma ya,, mudah - mudahan mereka bisa mengerti, kalaupun kamu mau bekerja kembali mungkin memang mereka mengizinkannya, tapi untuk pindah dari rumah ini bude rasa mereka tidak akan mengizinkannya, ya sudah...ayo kita turun ke bawah, Rey juga udah bangun, sekalian kita bawa ke bawah ya”
“Biar Rheina aja yang gendong Rey ya kak” pinta Rheina yang sedari tadi sudah bermain bersama Rey
Neyna hanya mengangguk dan tersenyum,
“Hati - hati gendongnya Rhei,,” ucap bude Nia
“Ok ma...”
Mereka pun turun ke lantai 1 untuk berkumpul dengan keluarga yang lain, sambil mempersiapkan acara nanti malam.
Selesai ustad memberikan ceramah dan memimpin do’a, kemudian Neyna , opa dan oma pun memberikan santunan kepada anak - anak panti asuhan yang datang.
Para tamu dan undangan pun pamit pulang meninggalkan rumah opa, terlihat sahabat Neyna Caca dan suaminya, Rosi dan suaminya Rendy, sedang Mimi hanya sendiri, mereka jug berpamitan
“Ney..gua pulang ya, lo sehat-sehat ya, kalau lo butuh teman cerita gua siap jadi pendengar yang baik buat lo” ucap Mimi sambil memeluk Neyna
“Iya...sekarang lo gak sendiri lagi mi,,kita berdua sama,,sama - sama single parent” ucap Neyna sambil tersenyum tipis
“Iya,,,tapi bedanya lo dan Rey tinggal sama - sama, kalau gua..kangen Ney,,pengen peluk anak gua aja gua gak bisa” ucap Mimi
“Insyaa Allah ada jalan buat lo dan anak lo bersatu kembali ya mi” ucap Neyna
“Aamiin...”
“Kita pamit ya Ney,,lo baik - baik ya, kalau ada apa - apa kabari gua ya,,” ucap Rosi sambil memeluk Neyna
Begitu juga dengan Caca,
“Neyna sayang,,,maaf kemarin gua gak bisa datang, karena gua lagi mabok parah,,,makannya ini udah mulai enakan, gua bela - belain datang, gua pengen ketemu elo,,yang sabar ya sayang...mudah - mudahan lo diberi kesehatan dan kekuatan, dan juga Lo dan Rey selalu dilindungi Allah ya,,” ucap Caca yang sekarang sudah berubah lebih religius
“Aamiin...Makasi ya Ca,,udah berapa bulan kandungan lo? Kalau lahiran kabar - kabari gua ya,,lo juga sehat - sehat, makan yang banyak, biar ponakan gua yang didalam sini sehat ya” ucap Neyna sambil mengelus perut Caca yang mulai membuncit.
Setelah Neyna mengantarkan para sahabatnya pulang sampai Didepan pintu utama rumah opa, Neyna pun masuk kedalam rumah, saat akan masuk, terdengar suara seseorang memanggil Neyna
“Neyna...”
Neyna menoleh kebelakang, terlihat dokter Rian sahabat Wanda,
“Dokter,,masih disini,,kirain udah balik, ada apa dok?” Ucap Neyna ramah
“Jangan panggil dokter dong, panggil Rian aja, lagian ini kan bukan Dirumah sakit,,Oh..iya tadi aku emang udah mau pulang, tapi aku hampir lupa mau kasi ini buat kamu, yang aku temukan dibawah bantal Wanda saat Dirumah sakit, jadi tuh kata perawat Dirumah sakit, malam sebelum Wanda meninggal dia sempat minta kertas dan pena, mungkin dia mau nulis ini buat kamu” ucap Rian sambil memberikan Kertas pada Neyna.
Neyna menerima surat itu,
“Ohya..aku langsung pamit ya Ney,,kamu jaga kesehatan” ucap Rian
“Eh iya...makasi ya dok,,eh..maksudnya Rian,,”
“Sama - sama Ney” ucap Rian sambil masuk kedalam mobilnya.
Neyna pun masuk kedalam rumah sambil memegang kertas yang diberikan Rian, lalu Neyna langsung masuk kekamarnya, terlihat Rey juga sudah tertidur pulas di box bayinya.
Neyna pun membuka lipatan kertas yang diberikan Rian tadi.
Just for you...
Dear istriku...
maaf mungkin setelah kamu baca surat ini aku udah gak ada bersama kamu lagi. Maaf kan aku yang belum bisa menjadi suami Yang selalu ada buat kamu, aku egois ya? Sekali lagi maaf, karena udah menjadi orang ketiga diantara hubungan kamu dengan Bram Yang ternyata adalah sepupu aku sendiri.
Neyna Wira Tanaya Istriku, selama kita menikah aku memang belum pernah mengungkapkan tentang perasaanku selama ini, sebelum aku tidur malam ini, aku sempatkan menulis sepucuk surat cinta ini untuk mu, anggap saja ini surat cinta dariku buat kamu untuk Yang kedua kalinya, karena Yang pertama surat cinta dari ku buat kamu waktu kita SMU (masih ingat kan??) saat itu aku kesal karena kamu gak mau datang ke caffe yang aku sebutkan di surat itu, sejak itu kenakalanku semakin menjadi,,lucu ya,,,cinta ditolak, emosi memuncak,,hahaha...
Istriku Neyna, aku mohon maaf tidak bisa menemani kamu dalam membesarkan Reyhan, tapi aku yakin kamu pasti bisa mendidik Rey menjadi anak Yang soleh dan cerdas kebanggaan kita,aamiin.
Istriku Neyna, maaf kalau surat cinta ini sedikit berbeda, karena tidak ada kata - kata manis, rayuan gombal ataupun puisi, karena suami mu ini orangnya memang tidak romantis, namun percayalah cinta ku lebih dari kata - kata romantis, rayuan gombal dan puisi cinta yang sering terdapat dalam surat cinta pada umumnya.
Aku menuliskan surat cinta ini buat kamu untuk mengungkapkan perasaanku selama ini padamu, Yang sampai saat ini belum pernah aku ungkapkan dengan kata.
Istriku,,,aku ingin kamu tau, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat mencintai kamu, bahkan lebih dari cinta pada diriku sendiri, itulah Yang aku rasakan saat ini, rasa Yang terlambat kusadari.
Melalui surat ini aku ungkapkan perasaan ku padamu, karena seandainya aku tidak memiki kesempatan menikmati sinar matahari esok pagi, aku sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaan ku padamu.
I LOVE YOU Istriku, dulu, kini dan selamanya.
with love ❤️
WH
Neyna menghapus air mata yang membasahi pipinya, didekapnya erat didadanya.