
"Menyamar?" suara mengerikan itu menusuk ke dalam indera pendengaran Siyeon. Dengan keberanian, Siyeon menatap ke arah sumber suara. Di sana berdirilah sang iblis dengan tatapan menyalanya. Siyeon tertegun, ketika melihat wajah sang iblis yang sangat mirip dengan seseorang. Bahkan, aura yang di keluarkan juga sama persis.
"Putraku yang satu ini memang sangat pintar dalam hal menyaram dan menghilang!" serunya yang sudah berdiri di hadapan Taeyong dan Siyeon. Penampilannya langsung berubah, matanya menjadi hitam legam yang sangat menyeramkan. Seringai lebar muncul di bibirnya, iblis itu menatap tajam Siyeon yang masih terdiam terpaku oleh apa yang di lihatnya. Wanita itu tidak menyangka kalau selama ini, ia berada bersama orang yang salah.
"Ubahlah ke dirimu yang sebenarnya!" seru iblis menatap tajam Taeyong dan dalam sekejab penampilan pria itu berubah seperti iblis. Siyeon melangkah mundur untuk menjauhi kedua, tetapi dengan cepat para prajurit itu menahan tubuhnya yang mulai tak berdaya itu.
"Ayah tidak akan membiarkanmu kembali berkeliaran, prajurit bawa ratu bodoh itu ke ruang bawah tanah. Kita tinggal menunggu waktunya tiba untuk melenyapkannya dan kau Taeyong! Kembalilah ke kamarmu!" perintah iblis yang tak terbantahkan, Taeyong mengepalkan tangannya kuat-kuta. Pria itu menatap ke arah Siyeon yang kini menatapnya dingin dan tatapan penuh kebencian, ada sesak di dada keduanya ketika fakta itu terungkap.
"Tunggu apa lagi? Apa kau mau Ayah meleyapkannya sekarang juga?" marah iblis membuat Taeyong langsung menghilang. Begitu pun dengan iblis dan para prajurit yang membawa Siyeon. Tubuh Siyeon di hempaskan di sebuah lantai dengan granit, ia meringis merasakan sakit di tubuhnya dan juga hatinya. Wanita itu merasakan hawa dingin mulai menusuk ke dalam pori-pori tubuhnya, isak kecil mulai keluar dari bibirnya yang bergetar.
Siyeon melangkah tertatih menuju ke pojokan ruangan sempit yang tidak ada pencahayaannya sama sekali, pintunya terbuat dari bahan seperti beton. Siyeon mengadakan kepalanya ke atas, ia sangat menyesali keputusannya dan berharap semua ini adalah sebuah mimpi buruknya saja. Tetapi, rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya mengatakan kalau yang terjadi saat ini adalah sebuah kenyataan yang tidak di inginkan olehnya.
"Kau bodoh! Kau adalah wanita yang sangat bodoh, Siyeon!" pekiknya di sela-sela tangisannya. Siyeon terisak dengan sangat keras, wanita itu meringkuk dengan memeluk lututnya sendiri, rasa dingin yang menghinggapinya kini sudah tidak terasa lagi.
"Kenapa kau tidak bisa menyadari keanehan dari pria sialan itu? Kenapa kau melupakan kegelapan yang sangat kuat dari pria itu! Kau sangat bodoh!" teriaknya dengan suara lantang, tetapi tidak ada yang bisa mendengarnya. Karena, di tempat itu dirinya sendirian, tidak ada seorang pun yang bersamanya. Bahkan, para penjaga tempat itu tidak ada di sana, karena Siyeon tidak akan bisa keluar. Iblis sudah menyegelnya.
Saat Siyeon sedang menangis, ada cahaya merah yang menghampirinya. Liontin yang ia simpan di kamarnya tiba-tiba sudah mengalung di leher jenjangnya. Wanita itu terdiam sejenak dan menatap liontin yang menyala itu, matanya terpejam dan ia mengingat anak laki-laki yang memberinya liontin itu. Siyeon membuka kedua matany dan tersentak kaget, ia melihat jelas wajah anak laki-laki itu yang sangat mirip dengan seseorang.
"Taeyong? Jadi, anak laki-laki itu adalah Taeyong?" gumam Siyeon saat tahu kebenarannya, ia hendak melepaskan liontin itu. Tetapi, hasilnya nihil. Ternyata tidak bisa di lepas, Siyeon mendesah lelah. Wanita itu menatap kosong ke arah depan. Tak lama senyum getir terbit dari bibirnya, tangannya mengepal kuat.
"Jadi, begitu ya? Sungguh pria brengsek!" geramnya dengan menendang sebuah batu di hadapannya hingga membentur tembok di hadapannya yang membuat batu tersebut menjadi kepingan kerikil. Wajah Siyeon memerah, ia kembali mengingat detik-detik kedua orang tuanya tewas. Orang yang memegang pedang dan menghilang itu, suaranya sangat tidak asing di telingannya. Siyeon sangat mengenali suara itu.
"Apa ini? Kenapa semuanya bergetar?" panik iblis saat tempat yang ia duduki bergetar sangat kencang, bahkan beberapa barang yang ada di ruangannya mulai pecah dan terjatuh di lantai yang berwarna hitam. Semua yang ada di sana dapat merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar dan juga menakutkan.
"Getaran ini? Ini berasal dari Siyeon. Ku harap kau tidak membenciku, kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ku mohon, jangan benci kepadaku," lirih Taeyong yang berada di dalam kamarnya. Ayahnya sudah mengurung dirinya dan menyegel kamarnya, sehingga ia tidak bisa keluar. Pria itu sudah mencoba berbagai cara untuk melemahkan segel yang di taruh di kamarnya, tetapi usahanya percuma. Kekuatannya tidak bisa menyamai ayahnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Besok malam, Ayah akan membunuh Siyeon. Aku harus mencari cara agar Ayah tidak membunuhnya. Aku tidak ingin mengikuti Ayah, aku hanya ingin hidup tenang dan berada di jalan yang benar," ucap lemah Taeyong, pria itu kembali mencoba untuk melemahkan segel di kamarnya.
"Akh!" ringisnya, ketika tubuhnya terpental dan menabrak tembok kamarnya. Semua kekuatan yang di keluarkan olehnya, kembali lagi kepada dirinya sendiri. Ia merasakan tubuhnya remuk, tulang-tulangnya patah semua. Pria itu memejamkan matanya mencoba mengeluarkan cahaya merah untuk menyembuhkan sakit di seluruh badannya.
"Kekuatanku tidak berguna, aku tidak bisa menyembuhkan lukaku sendiri," gumam Taeyong dengan langkah tertatih. Pria itu beranjak dari lantai dan berdiri di depan pintu keluar, tangannya menyentuh gangang pintu, namun dirinya langsung terpental saat cahaya hitam yang merambat ke tangannya menyetrum dirinya. tubuhnya semakin kesakitan.
"Argh..." teriaknya dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Aku tidak bisa keluar dari sini!" lirihnya dengan mencoba untuk kembali bangkit. Ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang membuatnya mulai mati rasa, pria itu meringis kecil dan memejamkan matanya. Tak lama setelah ia membuka kedua matanya, cahaya merah datang kepadanya. Matanya mulai melebar tak percaya saat cahaya itu menutupi tubuhnya hingga tak terlihat, Taeyong merasakan sakit yang lebih besar dari sebelumnya.
"ARGH!" teriaknyadengan geraman tertahan, setelah cahaya merah itu menghilang tubuh Taeyongmulai melemah. Pria itu tidak bisa menopang berat badannya, hingga terjatuh diatas lantai yang terasa dingin. Matanya tertutup dengan rapat dan detak jantungnyatidak terdengar lagi, hembusan nafas panjang dari hidungnya sebagai penjelasdari semuanya.
TBC...