
Neyna berlari menuju lantai satu kemudian menemui opa, oma dan bude Nia yang sedang berkumpul di ruang keluarga
“Oma,,tadi ada telpon dari rumah sakit, Wanda lagi Dirumah sakit, aku kesana ya oma!”
“Ney,,,sabar nak,,memang Wanda kenapa kok sampai masuk kerumah sakit?” Tanya oma
“Tadi Rian telpon, katanya tadi Wanda datang kerumah sakit ngeluh mual dan pusing, setelah selesai diperiksa dan masih ngobrol dengan Rian, tiba - tiba dia pingsan di ruangan Rian oma” terang Neyna
“Ya udah, kamu kerumah sakit sama bude aja ya, tapi Rey jangan dibawa, kamu ada stok ASI di kulkas?” Tanya bude Nia
“Ada bude,,” jawab Neyna
“Ya udah, Rey tinggal Dirumah aja biar dijaga si mba, ayo kita berangkat Ney” ucap bude Nia.
Neyna dan bude Nia pamit berangkat duluan kerumah sakit, sedang Rosi dan Caca juga berpamitan pada oma dan opa kemudian menyusul kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit,Neyna langsung menuju ruangan dokter Rian,
“Gimana keadaan Wanda mas Rian?” Tanya Neyna dengan mimik wajah khawatir
“Ney, tante silahkan duduk dulu ya” dokter Rian mempersilahkan duduk.
“Begini Ney, selama ini Wanda memang tidak mau menjalani kemoterapi, memang itu tidak menjamin kesembuhan, tapi setidaknya bisa memperlambat perkembangan sel kanker, karena kian hari sel kanker yang ada di tubuhnya menggerogoti jaringan dan alat vital di tubuhnya sehingga tidak dapat bekerja maksimal lagi, berikan saja apa yang diinginkannya dan apa yang membuat dia bahagia” terang dokter Rian pada Neyna dan bude Nia.
Mendengar penjelasan Rian, mata Neyna berkaca - kaca, dia belum siap mendengar kabar terburuk yang kapan saja bisa terjadi.
Bude merangkul pundak Neyna dan menghapus lembut memberikan kekuatan, dia tau bagaimana perasaan Neyna, disaat Neyna dan Wanda sedang berbahagia menikmati peran mereka sebagai orang tua baru, disaat itu pula kebahagian mereka terancam.
“Sa..saya sudah boleh menemuinya kan dok?” Tanya Neyna pada dokter Rian, dokter Rian pun mempersilahkan Neyna menemui a Wanda yang sudah dipindahkan keruang perawatan.
Neyna pun beranjak menuju ruangan Wanda, sementara bude Nia masih duduk di ruangan dokter Rian.
“Dok,,saya boleh bicara sebentar?” Ucap bude Nia pada dokter Rian
“oh...boleh tante, tante panggil arisan aja ya, tante mau tanya apa?” Ucap Rian
“Begini dok, apa memang penyakit Wanda tidak bisa disembuhkan dok? Apa memang sudah separah itu ya?”
“Kalau menurut riwayatnya memang Wanda ada keturunan dari ibu nya tante dan ibu nya juga meninggal dunia karenanya dan lagi kanker yang diderita Wanda ini sudah stadium akhir, itu berarti sel kankernya sudah menyebar diseluruh tubuhnya jadi sepertinya memang sangat sulit sembuh, bukannya saya mau mendahului Tuhan tante, kembali lagi kan, jodoh, rezeki dan maut itu ditangan Tuhan, tidak ada sesiapa pun mengetahuinya tapi menurut pengalaman dan diagnosa saya tante, dan kita hanya tinggal berharap keajaiban dari Tuhan” terang dokter Rian
“Baik lah nak, terima kasih ya nak, tapi tolong jika nanti opa atau oma menanyakan tentang penyakit Wanda, tolong jangan ceritakan yang sebenarnya, tante mohon”
“Iya tante, saya tidak akan menceritakan yang sebenarnya tan” ucap dokter Rian.
Sementara Neyna didalam ruangan Wanda, duduk disebelah tempat tidur Wanda, ditatapnya lamat - lamat wajah pria yang belakangan ini selalu mengisi hari - harinya, pria yang dahulu sangat dibencinya, pria yang paling ingin dihindarinya, tapi takdir Tuhan berkata lain, dia malah berjodoh dengan pria itu, yang tak pernah dibayangkannya, apalagi diimpikannya.
Buliran air mata menetes disudut matanya, merasa belum siap untuk berpisah dengan pria itu, pria yang sudah menjadi ayah dari anaknya.
“Nda,,,kamu harus bertahan, demi Rey demi aku juga, kami sangat membutuhkan mu, terlebih Rey yang sangat membutuhkan sosok ayahnya, kamu harus semangat ya, kita berjuang sama - sama” ucap Neyna sambil menggenggam tangan Wanda.
Tiba - tiba mata Wanda terbuka berlahan, dilihatnya Neyna yang sedang tertunduk dan meneteskan air mata sambil menggenggam tangannya
“Sayang..kok nangis?” Tanya Wanda
Neyna mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah Wanda yang sedang tersenyum menatap kearahnya, lalu Wanda meminta Neyna mendekat.
Neyna pun mendekatkan wajahnya ke Wanda yang sedang berbaring, lalu Wanda pun menghapus air mata Neyna dan membelai pipinya yang basah karena air mata.
“Jangan tinggali aku sama Rey ya, janji kamu harus semangat sembuh, kamu mau di kemo ya,,” pinta Neyna
“Aku gak apa - apa sayang, ngapai harus di kemo ? Aku cuma kecapean aja, besok juga aku udah boleh pulang, percaya deh,,ya.. aku gak apa - apa kok” ucap Wanda meyakinkan Neyna
“Nda,,bisa gak sih, sekali aja kamu itu gak keras kepala, kamu dengar permintaan aku, selama ini aku gak pernah menuntut apa - apa sama kamu, tapi kali ini aku mohon dengan sangat kamu mau menjalani kemo, stop untuk berpura - pura baik - baik saja, stop bilang kalau kamu gak apa - apa, kamu tau gak, walaupun bibir kamu selalu berucap kalau kamu itu tidak apa - apa, tapi dari wajah kamu terlihat kamu sedang menahan sakit dan tubuh kamu lemah. Kalau memang kamu masih menganggap aku ini istri kamu, aku mohon dengar permintaan aku ini,,please..” ucap Neyna lirih sambil menghapus air matanya.
Wanda menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan,
“Rian dimana, aku mau bicara dengan Rian” ucap Wanda
“Aku akan minta dokter Rian kesini tapi kamu harus janji untuk mau menjalani kemotherapy” ucap Neyna, kemudian Wanda membalas dengan anggukan.
Neyna pun bergegas keluar ruangan menuju ruangan dokter Rian, yang masih mengobrol dengan bude Nia
Tok..tok..
“Permisi,, dokter Wanda udah sadar, dia mau bicara dengan dokter” ucap Neyna
“Oh...baiklah saya segera kesana” dokter Rian pun langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan Wanda, bude Nia pun beranjak keluar,
“Ney,,,bude mau bicara” ucap bude Nia, lalu mereka pun duduk diruang tunggu Didepan ruangan dokter Rian.
“Ney,,bude mohon kamu jangan ceritakan yang sebenarnya pada oma dan opa ya, demi kesehatan mereka, bude takut opa drop lagi” ucap Huda Nia
“Iya bude, Ney gak akan menceritakan yang sebenarnya” ucap Neyna, kemudian mereka beranjak menuju ruangan Wanda, masih Didepan ruangan Wanda, Mimi dan Rosi pun tiba,
“Ney,,gimana keadaan Wanda ?” Tanya Rosi, sementara bude pamit masuk kedalam ruangan Wanda, meninggalkan Neyna bersama kedua sahabatnya itu.
Neyna menceritakan keadaan Wanda pada kedua sahabatnya itu, kemudian Rosi dan Mimi memeluk Neyna yang terisak.
“Lo yang sabar yang Ney, kita yakin lo pasti kuat, ingat lo sekarang punya Rey, lo jaga kesehatan, kalau lo sakit atau setres itu bisa dirasakan Rey, jangan sungkan hubungi kita kalau lo butuh bantuan, kita ini sahabatan udah lama banget, sedih lo sedih kita juga, bahagia lo bahagia kita juga, Ok Ney” ucap Rosi
Merek bertiga pun kembali berpelukan dan ketiganya pun meneteskan air mata. Kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan Wanda.
Didalam ruangan, dokter Rian dan bude Nia masih berada didalam,kemudian dokter Rian berucap pada Neyna,
“Ney,,Wanda udah boleh pulang, tapi Dirumah harus istirahat, nanti saya resepkan obat yang harus rutin diminum ya” ucap dokter Rian
“Apa gak perlu dirawat inap dulu dok?” Tanya Neyna
“Wanda gak apa - apa kok Ney, dia cuma kecapean aja, butuh istirahat yang cukup, jadi untuk sementara Wanda jangan kerja dulu ya” ucap dokter Rian
“Baiklah dok,,terima kasih dok, tapi kalau nanti tiba - tiba saya hubungi dokter gak apa ya dok?” Ucap Neyna
“Boleh Ney, kapan pun kamu telpon aku siap membantu kok” ucap dokter Rian.
Mereka pun beranjak pulang kerumah, bude Nia pun memberi kabar pada oma kalau Wanda tidak dirawat inap, agar mereka tidak menyusul kerumah sakit.
Rosi dan Mimi pun berpamitan pulang,
“Ney, kita pulang ya, jangan lupa pesan kita, kalau ada apa - apa atau lo butuh bantuan jangan sungkan hubungi kita, lo juga jaga kesehatan ya Ney” ucap Mimi
“Iya Mi,, Makasi ya, lo bedua selalu ada buat gue, kalian hati - hati dijalan” kemudian Rosi dan Mimi pun berpamitan pada bude Nia dan Wanda.
“Ney, kalian berdua pulang sama supir, biar bude yang bawa mobil Wanda”
“Iya bude, bude hati - hati ya” ucap Neyna
“Iya nak” ucap bude Nia, lalu Wanda dan Neyna pun menaiki mobil.