Deja Vu

Deja Vu
67. Bram Kembali



Hari itu Wanda berangkat bekerja, Neyna pun sudah berangkat ke pasar bersama ART, untuk membeli bahan masakan yang akan mereka masak untuk menyambut kedua orang tua Neyna.


Setelah Neyna selesai belanja, dia dan oma langsung memasak didapur dan dibantu oleh para ART.


Pukul 12.00 Wib, mobil wanda memasuki halaman rumah opa.


“Opa, Neyna dimana? Tanya Wanda ke opa yang sedang duduk diruang keluarga.


“Neyna didapur sedang memasak bersama oma, istri kamu itu pintar memasak ya nak, pagi - pagi dia sudah ke pasar berbelanja, opa kira dia tidak bisa memasak karena dia kan wanita pekerja, ternyata opa salah” ucap opa


“Makanya kalau kami tinggal di apartemen kan dia bakal masakin aku tiap hari opa, soalnya aku udah kecanduan masakan Neyna, kalau disini kan ada ART jadi gak murni hasil karyanya, ada campur tangan si mba juga” ucap Wanda


“Bisa aja kamu ya,,ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu, tapi sekali - kali nginap sini juga dong, biar rame” pinta opa


“Iya deh,,seminggu sekali kami usahain nginap disini, ohyaa..aku mau ke dapur dulu ya opa” ucap


Wanda yang dibalas anggukan oleh opa.


“Ney,,kamu belum siap - siap? Sebentar lagi papa mama nyampe lo” ucap Wanda


“Iya..sebentar,,ini lagi mau ganti baju,,” ucap Neyna sambil beranjak dari dapur menuju lantai 2.


Setelah berganti baju, Wanda dan Neyna pun berpamitan pada opa dan oma untuk menjemput papa dan mama di stasiun kereta.


Sesampainya distasiun, keduanya pun turun dari mobil menuju ruang tunggu kedatangan, namun Wanda sedang berbincang dengan petugas parkir stasiun kereta, Neyna berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Wanda yang masih ngobrol dengan petugas tersebut.


Saat Neyna hendak melangkahkan kakinya pada dua anak tangga menuju ruang tunggu kedatangan tersebut, tiba - tiba ada seseorang yang setengah berlari yang tak sengaja menabrak Neyna hingga Neyna nyaris terjatuh, namun tangannya ditahan oleh orang yang menabraknya tadi sehingga Neyna tidak jatuh ke lantai.


“Maaf...maaf...kamu gak apa - apa?” Ucap orang Yang menabrak Neyna tersebut.


Orang tersebut pun membantu Neyna berdiri, namun ketika Neyna mengangkat wajah menatap orang tersebut, betapa kagetnya Neyna


“Kak Bram..??” Ucap Neyna masih dengan posisi tangan Neyna berpegangan dengan lengan Bram.


Wanda yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung berlari mendekati Neyna


“Kamu gak apa - apa? Ada yang sakit?” Ucap Wanda khawatir sambil meraih tangan Neyna yang masih memegang lengan Bram


“Maaf..Neyna kakak lagi buru - buru, kamu gak apa - apa kan? Ada yang sakit?” Tanya Bram yang gak kalah khawatir


“Ga apa - apa kak,,Neyna cuma kaget aja,,” ucap Neyna


“Udah kamu gak perlu khawatir, Neyna gak apa - apa kok, katanya tadi kamu buru - buru” ucap Wanda sambil mengangkat tangannya menunjukkan jalan keluar gedung.


“Oh..Ok kalau begitu,,” ucap Bram singkat dan berlalu meninggalkan mereka.


Sementara Wanda memegang erat tangan Neyna seolah dia merasa akan ada yang merampas Neyna dari genggamannya.


“Duuhh..sakit tau!! Kenceng amat sih!!lepasin!!” Ucap Neyna sambil memegang tangannya yang digenggam Wanda.


Wanda melepaskan genggamannya dan masih terdiam.


“Ya Tuhan,,dia sudah kembali,,ingatan Neyna juga sudah kembali,,apa mungkin ini pertanda kami akan berpisah? Aku mohon Tuhan jangan ambil kebahagiaan ku saat ini” gumam hati Wanda.


Tak lama suara pengeras suara berbunyi, menginformasikan bahwa kereta yang membawa kedua orang tua Neyna sudah tiba.


Mereka langsung berdiri menuju pintu keluar penumpang dan dari kejauhan Neyna sudah melihat papa dan mamanya, dia pun langsung melambaikan tangannya.


Neyna pun memeluk mama dan mencium tangannya, begitu juga pada papanya, dia mencium tangan papa, yang diikuti Wanda.


“Kalian sehat nak? Sudah lama menunggu?” Tanya papa


“Alhamdulillah sehat pa, kita baru nyampe kok pa, sini kopernya papa” ucap Wanda sambil meraih koper yang dipegang papa, Neyna hanya melirik Wanda kemudian mencibir


“Hmmm...sok perhatian sama mertua!” Ucap Neyna, Wanda hanya melirik Neyna, kemudian mereka pun menuju parkiran dan Wanda memasukkan koper papa kedalam bagasi mobilnya.


Papa duduk didepan, sedangkan Neyna duduk dibelakang bersama mama.


“Pa,,papa sama mama nginapnya dirumah aja ya, dari pagi opa udah nunggui, dia pengen kumpul keluarga , soalnya dirumah udah lama gak ada acara kumpul - kumpul keluarga” ucap Wanda


“Begitu? Ya sudah papa ikut saja, yang penting opa senang nak” ucap papa Neyna.


Mobil Wanda tiba diparkiran halaman rumah opa, kemudian Wanda memanggil pak Rahmat untuk menurunkan barang - barang papa dan membawanya ke kamar tamu yang dilantai satu.


“Assalamu’alaikum” ucap papa


“Assalamu’alaikum ayah,,gimana keadaan ayah?” Ucap papa Neyna sambil meraih tangan opa dan menciumnya, setelah itu opa langsung memeluk papa dan meneteskan air mata


“Ayah kira, ayah gak akan ketemu kalian lagi, ternyata Tuhan masih memberikan ayah kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga ayah, kalian sehat kan?” Tanya opa


“Alhamdulillah sehat ayah,,kemarin kami lagi ada urusan jadi tidak bisa langsung kemari, begitu urusan kami selesai kami pun menuju kemari gak sabar mau menjenguk ayah “ terang papa.


“Sudah waktunya makan siang, kita langsung ke ruang makan saja ya nak” ucap oma


Mereka pun menuju ruang makan yang bersebelahan dengan ruang keluarga.


Ruang makan yang cukup luas, terdapat meja makan berukuran jumbo yang terbuat dari kayu jati, dengan selusin kursi, lima disisi kanan meja, lima disisi kirinya dan dua berada di masing - masing sudut meja.


Semua hidangan sudah tertata diatas meja, lengkap dengan buah - buahan yang sudah dikupas dan dipotong.


“Ayok nak,,silahkan makan, kalian habis dari perjalanan jauh, pasti lapar,” ucap opa mempersilahkan


Kemudian mama pun mengambilkan nasi kepiring papa beserta lauk pauknya, begitu juga oma yang mengambilkan nasi opa, lalu Neyna pun melakukan hal yang sama, dia pun meraih piring Wanda dan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya, setelah selesai Neyna menyerahkannya pada Wanda,


“Makasi ya sayang” ucap Wanda pelan sambil tersenyum menggoda Neyna, Neyna hanya melirik tak berkomentar.


“Duuhh pengantin baru ini,,manis banget ya” ucap oma, Wanda pun tersenyum mendengar ucapan oma.


Kemudian mereka pun menyantap hidangan makan siang yang lumayan banyak disediakan oleh oma dan juga Neyna.


“Ibu,,,kenapa banyak sekali makanannya, padahal yang datang hanya kami berdua, tapi oma menyiapkan menu yang bermacam seperti ini, bagaimana cara menghabiskannya ini?” Ucap mama karena melihat terlalu banyak menu yang terhidang di meja makan.


“Gak apa nak, sesekali masak banyak, biar semua yang ada Dirumah ini bisa menikmatinya juga nak” terang oma, mama pun mengangguk dan tersenyum.


“Ohya..gimana kuliah spesialis kamu nak, kapan kamu melanjutkannya? Tanya opa


“Iya opa,,Wanda masih agak banyak kerjaan, ada dua proyek yang sedang berjalan, sepertinya kalau Wanda sambil kuliah takutnya Wanda gak sempat” ucap Wanda


“Sepertinya kamu harus ada yang Bantuin nak, Kemaren kata oma Neyna bosen dirumah aja, karena udah terbiasa bekerja jadi bingung ya nak gak ada kesibukan,,gimana kalau Neyna ikut bekerja diperusahaan bersama Wanda, sekalian bantu Wanda daripada kamu bosan gak ada kegiatan,, benar kan Wir?


Opa memberi tawaran


“Benar ayah, lagian biar Wanda terbantu juga, walaupun Neyna gak ada basic dibidang itu nantikan sambil berjalan bisa sambil belajar nak” ucap papa Neyna


“Iya nak,,lagian kamu kan sebelumnya kerja di perbankan, oma rasa tidak jauh beda kok, biar kalian lebih sering bersama - sama juga kan” ucap oma sambil tersenyum


“Gimana nak? Mama rasa gak ada salahnya kamu bantu suami kamu, sekalian agar otak kamu bekerja, jangan kelamaan diam, ntar jadi pelupa” ucap mama


“Iya ma,,akan Neyna fikirkan, Neyna takut gak bisa, soalnya Neyna kan bukan dibidang bisnis” ucap Neyna menolak secara halus


“Gimana dengan Wanda nak? Pendidikannya juga bukan dibidang bisnis, malah jauh melenceng dari bidangnya, tapi ala bisa karena biasa, nanti kalau Neyna sudah terbiasa pasti bisa, percaya sama opa?” Ucap opa meyakinkan Neyna


“Yess...ayo opa,,kamu bisa untuk meyakinkan Neyna agar mau bekerja, biar dia gak punya waktu buat ketemuan sama Bram,,!” Gumam hati Wanda


“Ya sudah lah opa,,kasi Neyna waktu untuk berfikir dulu, jangan langsung dipaksa harus mau, jangan begitu” ucap oma


“Iya nak,silahkan kamu berfikir, nanti kalau kamu sudah memutuskannya kamu kabari opa” ucap opa.


Selesai makan, mereka beranjak keruang keluarga untuk mengobrol - ngobrol.


Waktu beranjak sore, lalu Wanda pun berpamitan pulang pada opa,


“Loh...memangnya mereka mau kemana opa? Bukannya nginap disini ya?” Ucap oma heran


“Biarlah mereka kembali ke apartemen, biar mereka lebih mandiri dalam menjalani rumah tangga, tapi ingat ya, Harus sering main kesini, besok juga kesini ya!!” Opa menegaskan


“Siyap opa, Insyaallah kami besok kesini, Wanda pamit ya opa, oma,,jaga kesehatan opa, jangan terlalu banyak Fikiran ya, lebih dari 50% penyakit itu berasal dari fikiran, jadi opa nikmatilah masa pensiun opa, biar Wanda yang mengurus semua yang sebentar lagi akan dibantu Neyna, opa dan oma duduk manis aja dirumah ya” Wanda berpamitan sambil mencium tangan keduanya, begitu juga Neyna.


Kemudian Wanda dan Neyna juga berpamitan pada kedua orang tua Neyna


“Pa, ma, Ney balik dulu ya, besok Ney kesini lagi” Neyna berpamitan pada kedua orang tuanya dan mencium tangan keduanya.


“Pa,ma,,Wanda balik dulu ya, mau beres - beres apartemen, udah lama ditinggal, besok kami kesini lagi” ucap Wanda sambil mencium tangan keduanya


“Baiklah nak,,kalian hati - hati ya, nanti kalau sudah sampai dirumah, kabari papa atau mama ya” ucap papa, Neyna pun mengangguk.


Mereka berdua pun keluar dan masuk kedalam mobil.