Deja Vu

Deja Vu
82. Menyatakan Cinta



Bram sadar, memang Wanda lah yang lebih berhak atas Neyna, dia pun membiarkan Wanda membawanya ke rumah sakit.


Oma dan opa juga terlihat panik karena kejadian itu, sementara Altrialman dan Rania masih bingung apa hubungan keponakan nya itu dengan Neyna.


“Bram,,kamu mau kemana nak?!” Tanya Rania, namun Bram tak mengacuhkannya, Bram menuju parkiran dan menaiki mobilnya.


Bram pergi meninggalkan tempat itu,dengan perasaan hancur, dimana Wanda yang ternyata adalah saudara sepupu nya dan mereka mencintai orang yang sama.


Ingin rasanya berteriak menumpahkan semua kekesalannya, ingin rasanya ia bercerita tapi entah pada siapa ia meluapkan Isi hatinya Yang sedang bergejolak. Dipacunya mobil dengan kecepatan tinggi hingga sampai dihalaman rumahnya.


Sementara itu Wanda yang sudah tiba dirumah sakit, langsung membawa Neyna menuju dokter kandungan, karena memang ini saat yang tepat untuk membawa Neyna memeriksakan kandungannya, Wanda khawatir telah terjadi sesuatu pada kandungan Neyna, karena diperjalanan tadi Neyna membeli pembalut.


“Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya dokter tersebut karena Wanda tanpa mendaftar pada perawat Yang ada didepan, ia langsung mengangkat tubuh Neyna kedalam ruangan dokter tersebut dan membaringkannya di tempat pemeriksaan.


“Dok,,tolong istri saya, dia tadi pingsan” Ucap wanda panik


Dokter tersebut masih terlihat bingung, karena pasiennya pingsan tetapi mengapa langsung dibawa ke spesialis kandungan, bukan ke IGD terlebih dahulu. Dan dokter tersebut langsung memeriksa Neyna.


Saat dokter sedang memeriksa denyut nadinya, perlahan mata Neyna terbuka. Dokter tersebut tersenyum padanya


“Maaf bu,,kita periksa dulu ya” Ucap dokter sambil sang perawat membuka kancing baju Neyna kemudian memberikan cairan gel diperut Neyna.


Neyna menatap heran pada dokter tersebut dan berganti menatap Wanda


“Saya kenapa dok? Kenapa perut saya diperiksa? Wanda..ada apa ini?” Tanya Neyna sambil menatap Wanda, Wanda hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.


Mata Wanda menatap kearah monitor yang ada di atas. Lalu dokter tersebut berucap,


“Janinnya sehat ya bu, usianya sudah 10 minggu, ibu jangan terlalu capek ya, nanti akan saya resepkan vitamin” Ucap dokter.


“Hahhh!!! Hamil?!!” Teriak Neyna terkejut, kemudian beralih menatap Wanda, tatapan mata yang meminta penjelasan pada Wanda atas apa yang baru ia dengar barusan.


“Iya bu,,ibu belum cek sendiri ya, anak pertama pasti? Biasanya memang begitu kalau anak pertama, calon ibu belum tau tanda - tanda kehamilannya, baiklah selamat ya buat ibu dan bapak, dijaga ya, karena masih di trimester pertama ini masih rawan” Ucap dokter sambil bangkit menuju kursinya.


Neyna terlihat masih shock, setelah dokter memberikan resep vitamin dan anti mual, mereka pun keluar dari ruangan dokter. dengan penuh amarah Neyna menghempaskan tangan Wanda yang menggenggam tangannya


“Tolong jelas kan,,apa sebenarnya yang terjadi?! Kenapa aku bisa hamil?” Tanya Neyna


“Gak enak diliatin orang, kita ngomong di mobil ya” ajak Wanda


Neyna pun mempercepat langkahnya menuju parkiran mobil lalu masuk kedalam mobil.


“Ok,,,sekarang jelaskan!” Ucap Neyna.


Wanda menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan


“Iya kamu hamil,,,anak kita” Ucap wanda pelan


Tubuh Neyna seketika bergetar menahan amarah, matanya mulai tergenang,


“Kapan?!” Tanya Neyna singkat


“Kapan semuanya terjadi, kapan kamu melakukannya?” Ucap Neyna dengan air mata yang mulai jatuh dari sudut matanya


“Ney...apa itu penting? Yang terpenting sekarang adalah kamu harus menjaga kesehatan kamu dan juga kesehatan janin Yang ada di kandungan kamu, anak kita” Ucap Wanda


“Kenapa kamu melakukannya?” Ucap Neyna lirih


“Ney...kita melakukannya dalam keadaan sadar dan tidak ada paksaan dan menurut aku itu wajar, karena kita pasangan yang sah” terang Wanda


“Kamu memanfaakan kondisi aku saat itu,,Iya kan? Kamu juga melupakan perjanjian yang sudah sama - sama kita sepakati sebelum menikah” Ucap Neyna berteriak.


Wanda melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit, karena pihak keamanan rumah sakit mulai memperhatikan mereka. Kemudian menghentikannya di antara perkebunan teh,


“Apa yang harus aku lakukan? saat ini kamu hamil anak aku, kita harus sama- sama menjaganya agar dia tumbuh sehat dan berkembang” Ucap Wanda masih dikursi kemudi.


“Aku kira mimpi burukku akan segera berakhir, tapi aku salah,, mimpi buruk itu ternyata baru saja di mulai,,” Neyna berucap sambil terisak


Wanda menoleh kearah Neyna,


“Ney,,ini bukan mimpi buruk Ney,,ini anugrah rezeki dari yang maha kuasa, berarti kita sudah di percaya untuk memegang amanah dari nya, sekarang yang terpenting adalah menjaganya agar dia tumbuh sehat didalam rahim kamu hingga dia terlahir kedunia” Wanda berucap


“Aku gak peduli !!” Ucap Neyna singkat


“Tapi aku peduli,,aku ayahnya dan aku akan melakukan apapun untuk nya, bahkan nyawaku sekalipun akan aku berikan untuknya”


“Terserah Kau saja!! Lakukan apapun sesuka mu aku gak peduli!!” Ucap Neyna


“Ney,,mari kita mulai menjalani rumah tangga ini seperti rumah tangga pada umumnya, aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk keluarga kita” Wanda meyakinkan Neyna


“Sejak dulu aku gak percaya sama kamu, jadi apa alasanku untuk percaya sama kamu?!” Ucap Neyna ketus.


Wanda terdiam sejenak, menghapus kasar wajahnya, sementara Neyna meraih handle pintu dan membukanya, ia keluar mobil dan berjalan menuju gazebo yang ada diantara perkebunan teh.


Wanda pun keluar mobil dan berjalan mendekati Neyna yang sudah terduduk di gazebo sambil menatap hamparan perkebunan teh yang hijau terbentang luas.


“Sejak dulu impianku sederhana, aku berharap kelak aku akan menikah dengan seseorang yang mencintaiku dan aku juga mencintainya, menjalani rumah tangga sederhana dan bahagia, menjalani hari - hari bersama keluarga kecilku kelak, aku gak pernah membayangkan jalan hidup ku seperti ini, menikah dengan orang yang paling aku benci, orang yang benar - benar ingin kuhapus dari perjalanan hidup ku”


Wanda hanya terdiam mendengarkan, Lalu Wanda berucap


“Maaf...maaf kan aku Ney, maaf kan aku atas kebodohan yang aku perbuat, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maaf dari kamu Ney?”


“Maaf mungkin bisa aku berikan, tapi semuanya sudah sangat membekas dihati, disaat aku hendak memulai hariku berharap menjalaninya dengan ceria, bahagia, disaat itu pula mimpi buruk itu menyapa dan sekarang mimpi buruk itu sangat dekat dengan ku” Ucap Neyna lirih


“Ney,,,sebenarnya sejak kamu masuk dikelas itu, sejak kamu duduk dibangku didepan ku dikelas itu, sejak itu pula aku merasa ada sesuatu dalam diriku, aku bahagia melihatmu tersiksa, hingga setiap hari aku selalu memikirkan hal bodoh apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu marah dan tersiksa. Tapi karena kebodohan itu hingga membuat luka yang begitu membekas dihati kamu Ney, padahal sebenarnya itu wujud perasaanku agar aku tak luput dari perhatian kamu Ney,,tapi caranya salah, sampai pada hari terakhir kamu sekolah di sekolah itu, aku melihat kamu berpamitan pada guru wali kelas di depan ruang guru, sejak itu aku merasa hampa dalam hidup ku, yang ternyata itu adalah rasa kehilangan, kehilangan cinta pertama ku” Ucap Wanda.


Neyna menoleh kearah Wanda, Wanda juga sedang menatap kearahnya, hingga pandangan mereka bertemu


Wanda menatap dalam mata Neyna,


“Aku mencintaimu Neyna, kamu cinta pertamaku” Ucap Wanda sambil menatap Neyna.