
Taeyong membuka pintu kamar Siyeon dengan keras, ia melihat tubuh Siyeon yang berguncang hebat membuatnya semakin khawatir. Pasalnya, ia mendengar suara seruling yang penuh akan arti itu. Taeyong langsung memeluk tubuh Siyeon dan mencoba untuk mengembalikan kesadaran wanita itu, dirinya memeluk erat tubuh bergetar Siyeon.
"Bangunlah! Ku mohon bangunlah! Jangan biarkan ia menemukan keberadaanmu!" seru Siyeon mencoba untuk membangunkan Siyeon, perlahan tubuh Siyeon melemas dan ia membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Tubuhnya merasakan kehangatan yang belum pernah di rasakan olehnya, ia mendongak dan melihat wajah Taeyong yang menatapnya khawatir.
"Syukurlah kau sudah bangun," desah lega keluar dari Taeyong membuat Siyeon menatapnya bingung. Siyeon mendudukkan tubuhnya dan Taeyong mengatur nafasnya yang tak teratur itu, dengan keringat yang terus keluar membasahi wajah tampannya.
"Memang ada apa? Kenapa kau terlihat begitu khawatir?" tanya Siyeon.
"Tidak ada apa-apa, tadi kau berteriak. Makanya, aku langsung membangunkan mu," jawabnya dengan mengalihkan pandangannya dari Siyeon, sehingga Siyeon tidak tahu kalau apa yang di ucapkan olehnya itu adalah sebuah kebohongan. Karena, belum saatnya Siyeon tahu.
"Apakah kau berbohong?" tanya Siyeon yang kini mencoba menatap ke arah mata Taeyong yang mencoba untuk menghindarinya. Siyeon tahu, jawaban tersebut kebohongan.
"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang kau kembalilah tidur, karena ini masih malam. Selamat malam," Taeyong beranjak keluar dan menutup rapat pintu kamar Siyeon. Sedangkan Siyeon masih terus menatapnya dengan tatapan curigai, ia tahu ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Taeyong dan ia akan terus mencari tahu apa yang sedang di sembunyikan itu.
"Aku harus membuat pelindung, agar ia tidak bisa melihat keberadaan Siyeon," gumam Taeyong yang melangkah keluar dari rumahnya. Taeyong berdiri tepat di hadapan rumahnya, ia membentangkan tangannya lebar-lebar dan memejamkan matanya.
Sekelebat cahaya merah bercampur hijau mulai keluar dari tangannya, cahaya itu mulai mengelilingi rumahnya sampai tak terlihat. Taeyong membuka kedua matanya yang kini berwarna merah dan hijau, seringai kecil keluar dari bibirnya. Ia melihat cahaya itu memudarkan keberadaan rumahnya, meskipun cahaya itu ada batasannya. Tetapi, setidaknya ia bisa mengantisipasi keadaan untuk menghindari sesuatu yang sangat berbahaya, tentunya.
"Aku bisa merasakan kehadirannya, aku akan mengawasi Siyeon agar tidak di lihat olehnya. Ia tidak boleh tahu tentang keberadaan Siyeon," mata Taeyong langsung berubah menjadi hijau pekat, uratnya pun berubah menjadi hijau yang terlihat dari kulit putih pucat nya.
Taeyong melangkah masuk kembali ke dalam rumahnya, ia tahu dirinya sekarang tidak akan bisa bebas berkeliaran. Itu tidak akan membuatnya menyesal melindungi Siyeon dari orang itu, dirinya tidak akan membiarkan Siyeon jatuh ke tangannya. Dirinya akan merubah dirinya untuk mengelabui orang yang sebentar lagi datang, Taeyong tahu malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan melelahkan.
"Aku akan melindungi mu darinya," Taeyong berdiri tepat di depan pintu kamar Siyeon. Di balik mata hijaunya, ia bisa melihat bahwa Siyeon tidak tertidur lagi. Namun, ia masih berada di depan pintu kamar wanita itu, untuk menjaganya dalam wujud yang berbeda.
Tubuh Taeyong mulai berubah, mata hijau pekatnya kini berkilau rambutnya berubah menjadi hijau dan pakaiannya berubah menjadi warna hijau dan hitam. Tetapi, wajahnya tetap sama. Hanya Siyeon yang bisa melihat wajahnya tetap menjadi Taeyong, sedangkan yang lain tidak akan mengenalinya sama sekali. Ini adalah salah satu dari keistimewaan Taeyong yang di sembunyikan cukup lama, sehingga tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.
"Aura apa ini? Kenapa sangat pekat?" Siyeon merasakan ada aura aneh yang begitu kuat di depan kamarnya, namun aura itu tidak berbahaya sama sekali. Berbanding terbalik dengan aura berbahaya yang mulai mendekat ke tempatnya.
"Taeyong? Kenapa penampilanmu berbeda?" bingung Siyeon saat penampilan Taeyong berubah, bukannya menjawab Taeyong menatapnya tajam dan tidak membuatnya ketakutan sama sekali. Siyeon membalas tatapan pria itu dengan tak kalah tajamnya.
"Cepat ubah penampilanmu!" bentak Taeyong di depan wajah Siyeon, mata pria itu menatapnya dengan penuh amarah membuatnya sedikit ketakutan. Dengan cepat penampilan Siyeon kembali semula membuat Taeyong menghembuskan nafas kasar.
"Ada apa? Kenapa kau menyuruhku merubah penampilanku? Padahal, aku merasakan aura bahaya yang mulai mendekati ke tempat ini!" Taeyong tak menjawab pertanyaan dari Siyeon, ia hanya menatap tajam wanita yang kini menatapnya dengan sedikit ketakutan.
Siyeon tidak tahu ada apa dengan Taeyong yang sangat berbeda, pria itu terlihat ketakutan dan juga marah kepadanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa penampilannya tiba-tiba berubah begitu saja tanpa ia minta, Siyeon merasakan aura berbahaya itu semakin dekat. Begitu pun dengan Taeyong yang kini menggeram dengan penuh amarah.
Pintu kamar Siyeon menutup dengan sendirinya, ketika tangan Taeyong mengarah ke pintu. Angin kencang dan badai tiba-tiba datang membuat suasana menjadi mencengkam. Aura itu semakin dekat tak sampai satu kilometer jauhnya. Tubuh Taeyong mengeluarkan cahaya hijau yang kini menyelimuti tubuh Siyeon yang langsung terdiam kaku.
"Dia berhasil menemukan keberadaanmu, tapi aku akan meyamarkan aromamu," ujar Taeyong dengan memejamkan matanya. Siyeon tidak bisa bergerak atau pun mengeluarkan sepatah kata, dirinya hanya bisa terdiam dengan kabut hijau pekat hampir menutupi seluruh tubuhnya. Mata Taeyong menyala dan petir mulai bergemuruh di luar.
"Sial, aku kalah cepat dengannya!" seru Taeyong dan cahaya yang menyelimuti Siyeon langsung lenyap begitu saja. Tubuh Siyeon kembali lagi, ia bisa menggerakkan tubuhnya. Belum sempat ia melemparkan pertanyaan kepada Taeyong pria itu langsung memeluknya dengan erat.
"Diamlah dan jangan bersuara atau menyebut namaku," bisik Taeyong di telinganya.
"Kau masih hidup dan bersembunyi ternyata?" suara mengerikan itu langsung masuk ke dalam indera pendengaran Siyeon dan Taeyong. Dari jendela yang tirainya terbuka Siyeon dan Taeyong dapat melihat sesosok bayangan hitam yang begitu besar dengan mata merah menyala yang sedang terbang di luar dengan badai dan angin yang semakin kencang.
Bayangan hitam itu mulai terlihat ketika petir membuat cahaya terang di luar, wajahnya begitu mengerikan membuat Siyeon cukup ketakutan. Namun, pelukan hangat Taeyong bisa menenangkannya, Siyeon menyimpan wajahnya di dada Taeyong. Belum pernah dirinya setakut ini, bayangan itu memiliki aura yang sangat menyeramkan dan bahaya.
"Panglima crystal hijau? Kau yang melindunginya? Ku kira kau sudah mati terbunuh oleh putraku. Ternyata kau kembali bangkit, aku akan membunuhmu!" seru bayangan itu yang mulai mendekat, namun belum sampai bayangan itu langsung terpental jauh.
"Aku akan kembali dan ku lenyapkan si crystal putih! Tunggu saja ke datanganku!"
TBC...