
Pagi itu Wanda sudah bangun dan menyiapkan sarapan, namun dia hanya membuat sarapan sederhana, hanya roti bakar dengan selai coklat dan keju plus segelas susu.
Neyna keluar dari kamarnya karena mendengar suara berisik didapur.
Didapur Neyna melihat Wanda sedang sibuk menyiapkan sarapan,
“Tumben kamu buat sarapan, dalam rangka apa ?” Tanya Neyna sambil meneguk segelas air putih ditangannya
“Lagi latihan jadi suami siaga, biar terbiasa” ucapnya santai
Spontan mulut Neyna yang tadinya sedang penuh berisi air putih yang diminumnya muncrat mendengar ucapan Wanda
“Kamu gak apa - apa, minumnya hati - hati Ney” Ucap Wanda sambil mendekati Neyna dan mengelus punggung Neyna sambil memberikan tissue.
Neyna kaget melihat kelakuan Wanda pagi ini yang tak biasa, dari mulai bangun lebih awal dari Neyna, memasak sarapan hingga membantu Neyna karena tersedak.
“Kamu hari ini gak usah kerja dulu ya, istirahat aja dirumah, gak usah masak, nanti pesan online aja, pokoknya kamu full istirahat” Ucap Wanda
“Nanti apa kata karyawan yang lain, baru beberapa hari bekerja udah gak masuk?” Ucap Neyna
“Kenapa kamu harus mikirin apa kata mereka? Mending kamu mikirin kesehatan kamu, lagian kenapa mereka Yang keberatan sih kalo kamu gak masuk, aku aja gak merasa keberatan tuh,,namanya juga sakit” Ucap Wanda
“Yeee...biasa aja dong ngomongnya,, kok malah ngegas sih! Bikin rusak mood aja nih pagi - pagi!” Ucap Neyna kesal
Wanda tersadar atas sikapnya, kemudian dia kembali bicara dengan lembut,
“Gak gitu Sayang,,,aku Cuma gak mau kamu mikirin apa kata mereka, mendingan kamu mikirin aku” goda Wanda
Neyna langsung melotot mendengar omongan Wanda,
“Bisa gak gak usah pake kata sayang? Soalnya telinga aku langsung berontak mendengar kamu ngomong gitu ke aku!” Ucap Neyna sewot
“Iyya deh,,,terus aku harus bilang apa dong? Soalnya kamu itu udah kaya sianida !” Ucap Wanda
“Apa sianida?!..sembarangan ya kalo ngomong!!” Jawab Neyna sewot
“Iyaa,,,karena kamu udah meracuni hatiku !!” Ucap Wanda sambil senyum - senyum
Mendengar gombalan receh Wanda Neyna langsung memasang wajah jijik. melihat ekspresi jijik Neyna Wanda pun tergelak.
“Udah sekarang kamu duduk dan minum susu dulu, sambil nikmati roti bakar keju coklat buatan suami siaga” oceh Wanda
Neyna masih tidak habis pikir melihat tingkah Wanda yang sangat aneh di pagi ini, entah apa yang telah merasukinya membuat dia berulah seperti ini yang sukses membuat Neyna bergidik.
Neyna pun mulai menikmati sarapan paginya, karena memang perutnya terasa lapar. Sedang asyik menikmati roti buatan Wanda tiba - tiba Neyna merasa mual, dia pun langsung berlari menuju kamar mandi dikamarnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Wanda yang juga duduk dimeja makan terkejut,
“Ney,,kamu kenapa,,Neyna kamu jangan lari - lari nanti kamu jatuh!!ucap Wanda, Wanda pun mengikuti Neyna kekamarnya.
Neyna mengeluarkan isi perutnya yang baru saja diisi dengan roti dan susu hingga tak bersisa.
Wanda mencoba mendekati Neyna yang sedang dikamar mandi, karena pintunya terbuka, ia pun masuk membantu Neyna mengurut punggungnya, Setelah Neyna selesai mengeluarkan isi perutnya dia pun terlihat lemas tak berdaya.
Wanda membopong tubuh Neyna keatas tempat tidur lalu membaringkan tubuh Neyna. Kemudian Wanda menuju dapur mengambilkan segelas air putih hangat untuk Neyna
“Ini minum dulu Ney” Ucap Wanda dengan membantu Neyna bangkit.
Setelah minum, Neyna kembali berbaring sambil memijat kepalanya
“Duhh...kepalaku sakit banget,,!” Ucap Neyna sambil memegang kepalanya.
Dengan membawa alat pengukur tekanan darah miliknya, Wanda pun mengukur tekanan darah Neyna dan hasilnya sudah lebih baik dari kemarin, mungkin pusing dan mualnya karena morning sickness nya pikir Wanda dalam hati sambil iya tersenyum namun merasa kasihan melihat Neyna yang tersiksa.
Entah mengapa sejak kecelakaan itu, Wanda sangat khawatir jika Neyna kenapa - napa, dia sangat takut kehilangan Neyna hanya saja terkadang dia masih gengsi untuk menunjukkan perasaannya itu.
“Gimana udah enakan?” Tanya Wanda yang masih duduk di sisi tempat tidur Neyna
“Udah mendingan kita kedokter aja yuk?!” Ajak Wanda
“Ngapain ? Kan baru semalam kedokter, masa hari ini mau kedokter lagi sih!!” Ucap Neyna
“Hanya untuk memastikan lagi aja, kalau kamu mau kita kedokter spesialis aja,,gimana?” Ucap Wanda
“Iiyaa...ya untuk lebih memastikan lagi aja, siapa tau diagnosa aku berbeda dengan dokter spesialis, mau ya?” Pinta Wanda
“Gak ah,,ntar juga baik kok,,aku udah biasa begini, Cuma kali ini sedikit beda karena biasanya aku mual nya hanya sekali aja, tapi ini kenapa bolak balik mualnya, masuk angin kali ya,,apa aku diurut aja ya” Ucap Neyna
Mendengar ucapan Neyna Wanda langsung panik dan berucap,
“Jangan..!!jangan diurut Ney,,bahaya!!” Ucapnya spontan
“Hahhh?! Kamu kenapa sih, bahaya apa, Sama aku? sok perhatian banget sih!!” Ucap Neyna ketus
“Iiyaa..itu tuh gak boleh diurut Ney, ntar urat - uratnya pada geser lagi itu berbahaya, ntar diurut kamu kesakitan” jawab Wanda sekenanya.
“Udah...kamu gak berangkat kerja?” Tanya Neyna mengacuhkan ucapan Wanda barusan
“Iya,,,aku siap - siap dulu ya,,tapi kamu gak papa kan kalau aku tinggal,,kamu janji jangan diurut ya?” Ucap Wanda
“Ya gak apa - apa lah,,,emang kenapa aku harus kamu jagain terus ? udah kaya anak bayi aja aku di jagain terus!” Ucap Neyna sewot
“Iyaa..kan bentar lagi punya bayi” ucap Wanda sedikit berbisik, namun Neyna mendengarnya
“Apa...kamu ngomong apa,,punya bayi? Siapa yang punya bayi?” Tanya Neyna
Wanda terkejut mendengar ucapan Neyna lalu berucap
“Ya kamu lah,,kamu kan wanita,,nantikan bakalan punya bayi dan jadi ibu” ucap Wanda.
Setengah jam kemudian Wanda sudah keluar dari kamarnya dan sudah memakai pakaian kerja dan bersiap pergi ke kantor, dihampirinya pintu kamar Neyna yang sedikit terbuka dan melihat keadaan Neyna.
Neyna sedang berdiri disisi jendela, sambil menatap keluar, entah apa yang sedang difikirkanya, Wanda menghampirinya, ingin rasanya ia memeluk Neyna dari belakang seperti yang sering dilakukannya saat Neyna masih amnesia, namun sekarang jangankan memeluknya, mendapat senyuman ikhlas dari bibirnya saja menjadi hal langka bagi nya.
“Ney,,aku berangkat dulu ya,,kamu gak usah ngapa - ngapain, kamu istirahat aja, aku usahain cepat pulang kerja” ucap Wanda berpamitan pada Neyna.
Neyna merasa Wanda agak aneh sejak kemarin, dia hanya menatap Wanda tanpa berucap apa - apa.
Saat dalam lift hendak turun dari apartemen Wanda, tiba -tiba ponselnya berbunyi
Kring..
Kring..
Nama Rian muncul pada layar ponselnya, dia pun langsung menerima panggilan tersebut,
“Hallo bro,,,iya ini gua udah jalan menuju rumah sakit, lu udah di sana kan? Ok...sampai ketemu” Wanda mengakhiri panggilan masuk tersebut.
Rian menelpon Wanda untuk menyampaikan kalau dia sudah menunggu di rumah sakit Permata Kasih tempat Wanda melakukan CT Scan kemarin.
Hari ini Wanda akan melanjutkan Check up darah lengkap untuk memastikan keluhan yang sering dirasakan Wanda beberapa minggu belakangan.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, Wanda langsung menuju ruangan Rian
“Hai bro...duduk dulu,,eh..lu puasa kan ?” Sapa Rian
“Iya bro...gua puasa,bro.. langsung aja ya, karena habis ini aku mau langsung ke kantor karena ada yang perlu aku kerjakan” ucap Wanda
“Wihhh...Dahsyat bapak dokter sekaligus merangkap pengusaha kita ini, padat jadwalnya,,,hahaha” goda Rian
“Gak lah bro...bukan sok sibuk,,tapi emang lagi banyak kerjaan,,hehehe..” ucap Wanda
“Ok deh,,,yuk kita Langsung kebagian Laboratorium aja ya” ucap Rian sambil beranjak dari kursinya dan mengajak Wanda keluar ruangannya menuju laboratorium.
Sesampainya Didepan pintu laboratorium Wanda pun dipersilahkan masuk, dan langsung melakukan pengambilan sampel darahnya.
Setelah selesai, Wanda pamit pada Rian untuk langsung menuju kantor nya
“Ok bro gua langsung jalan ya, thanks ya udah mau bantuin gua” ucap Wanda
“Ahh...ngomong apa sih lo! Hati - hati dijalan, ntar gua hubungi elo kalau hasilnya udah keluar,. jangan lupa sarapan sesampainya dikantor kamu, ntar pingsan lagi,hahaha...” goda Rian.
Wanda hanya tergelak sambil melambaikan tangannya dan menuju parkiran.