Deja Vu

Deja Vu
121. Pulang



Pagi itu dikediaman orang tua Neyna, semua sedang sibuk mempersiapkan kedatangan keluarga Altrialman untuk melamar Neyna secara resmi.


Ini kali pertama Reyhan berkunjung kerumah kakek dan neneknya, begitu juga dengan Neyna yang kali pertama pulang kerumah orang tuanya setelah kepergian Wanda.


Banyak perubahan yang terjadi setelah lebih satu tahun Neyna tidak pulang, terlebih kamarnya, yang saat ini sudah sangat berubah, foto Neyna dan teman - temannya yang tertempel memenuhi dinding kamar sudah tidak ada, hanya ada foto Neyna saat wisuda, tempat tidur dikamarnya juga sudah berganti dengan ukuran yang lebih besar, lemari dan meja riasnya juga sudah berganti.


Didapur mama dan mba Muni dibantu beberapa anggota keluarga, terlihat sangat sibuk mempersiapkan hidangan, sedang papa asyik menemani Rey bermain diruang keluarga.


Neyna sedikit bernostalgia dengan rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan masa kecilnya, rumah yang selalu dirindukannya saat dia sedang berada diluar kota,, kemudian kakaknya Fahri datang menghampirinya yang sedang duduk melamun diteras depan rumahnya


“Oii...ngelamuni apa dek ?” Ucap Fahri membuyarkan lamunannya


“Eh...nggak ada kak, Cuma lagi teringat masa kecil aja kak, dirumah ini terlalu banyak kenangan dirumah dan dikota ini,, kota yang selalu Ney rindukan disaat Neyna jauh”


“Gimana kakak Ney? Nyaris sepuluh tahun kakak tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini, gak tebayang betapa rindunya dengan segala yang ada di kota ini, terkhusus rumah ini dan pastinya papa dan mama,, mereka yang sudah mulai menua,, begitu juga kita”


“Iya ya kak...waktu terlalu cepat berlalu, Neyna juga gak pernah membayangkan nasib Ney seperti ini, tapi ini lah namanya hidup juga takdir yang sudah tersurat untuk Ney”


“Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan kamu dan Rey, kakak yakin Bram adalah orang tepat untuk kalian”


“Aamiin,, mudah - mudahan ya kak,,kakak sendiri gimana? Apa belum ada niat untuk menikah ?” Tanya Neyna


“Kakak belum mikir ke situ dek, Ntar kalau kakak udah selesai kuliahnya baru deh serius”


“Ketuaan kali..!! Gak apa juga kok sambil menimba ilmu sambil cari jodoh,siap tau ada bule yang kepincut, secara mereka kan sukanya yang rada-rada aneh gitu kan, item,dekil, jahil,,upss”


“Jadi maksudnya kakak punya semua kriteria itu?! Dasar adek durhaka!!”


Neyna pun kabur meninggalkan kakaknya yang kesal karena ucapannya, sambil tertawa girang karena sudah lama dia merindukan saat - saat seperti ini, berkumpul dengan keluarganya, bercanda dan menggoda kakak satu - satunya yang sejak dulu sudah menjadi kebiasaannya.


Malam menjelang, usai melaksanakan shalat maghrib, Neyna juga sudah selesai didandani, dengan mengenakan kebaya berwarna putih kesukaannya, rambut ditata rapi dengan model klasik berponi, dengan menyelipkan dua kuntum mawar putih pada sudut kanan rambutnya yang menambah anggun dan cantiknya tampilan Neyna malam itu.


Reyhan juga tak ketinggalan yang didandani dengan mengenakan jeans dan kemeja putih berkerah tinggi dipadukan dengan sepatu sport berwarna putih.


Ibu dan anak itu terlihat serasi sekali mengenakan pakaian dengan warna senada.


Ini bukan kali pertama Neyna dilamar, namun kali ini dia merasa jauh lebih gugup dari yang pertama, karena malam ini dia dilamar orang yang dicintainya sejak dia SMU.


Fahri yang sedang menggendong Rey melihat wajah adiknya yang gugup langsung mendekatinya,


“Santai aja dek,, ini bukan mau pembacaan putusan sidang, ini mau ngelamar” Ucap Fahri


“Iss...kakak paan sih!! Emang udah pernah ngelamar anak orang?”


“Ya...ya...bellum!!” Ucap Fahri salah tingkah


“Nah itu!! Ngomong mah enak,,!” Ucap Neyna sambil memanyunkan bibirnya, hingga kakaknya Fahri pun tertawa melihat adiknya yang sedang berusaha keras menghilang kan rasa gugupnya.


Tak lama, terdengar suara klakson mobil memasuki halaman rumah. Papa, mama dan Beberapa anggota keluarga lainnya menyambut kedatangan keluarga Altrialman, sementara Neyna masuk kedalam kamar yang ditemani Rosi, Caca dan Mimi sahabatnya.


“Eh...gua kaya berasa dejavu deh,, kayanya tuh kita pernah ngumpul gini deh sebelumnya, pake baju putih - putih begini” Ucap Neyna


“Bisa jadi Ney,,bisa jadi juga lo kebanyakan ngayal dilamar kak Bram” Ucap Mimi menggoda sahabatnya itu


“Paan sih lo Mi!! Emang gua cewek pemimpi!” Ucap Neyna sewot.


“Eh tapi ya,,,menurut gua tuh memang benar kata pepatah, jodoh itu gak bakal kemana, buktinya ya, Neyna yang udah dijodohkan dengan Wanda, kemudian Wanda sakit dan meninggal dunia. Lalu Neyna dipertemukan lagi dengan kak Bram dengan cara yang gak terduga, yang ternyata kak Bram dan Wanda tuh sepupuan, terus opa Usman itu Ayah angkatnya papa kamu Ney dan kamu dipertemukan lagi sama kak Bram, jodoh sebenarnya kamu, ya gak sih??!” Ucap Caca


“Benar juga ya,,,emang jodoh itu gak akan ketukar deh,, tumben lu bener Ca, apa karena lu udah punya anak dua otw tiga ya,, jadi pemikiran lo udah maju?” Goda Mimi


“Iss..lu paan sih Mi?! Jadi selama ini pemikiran gua masih ketinggalan zaman gitu,, tega ammat Sama temen sendiri!” Ucap Caca sambil manyun dan menghapus - hapus perutnya yang membuncit karena sedang hamil anak ke tiga.


Sementara diluar, acara lamaran sudah selesai, kemudian Neyna dipanggil untuk keluar kamar untuk acara penyematan cincin.


Neyna pun keluar didampingi oleh Mimi, kemudian duduk berhadapan dengan mama Rania dan tersenyum.


Bram sedari tadi sudah tidak sabar ingin bertemu Neyna, matanya tak berkedip melihat Neyna yang begitu cantik dibalut dengan kebaya putihnya.


Kemudian Mama Nia pun memasang kan cincin dijari manis Neyna setelah itu Neyna pun mencium punggung tangan Rania dan Rania pun memeluk Neyna


“Sekian lama dicari,, ternyata orangnya sudah sangat dekat sekali selama ini, selamat ya sayang, mudah - mudahan lancar sampai hari H” Ucap Rania sambil memeluk Neyna dengan mata yang berkaca - kaca.


Neyna pun membahas pelukan Rania sambil tersenyum lembut dan berucap


“Aamiin...Terima kasih bude,,”


“Mulai sekarang jangan panggil bude sama pakde lagi ya,, tapi panggil mama sama papa” Neyna pun mengangguk sambil tersenyum.


Kemudian seluruh keluarga pun berfoto dan setelah itu Neyna dan Bram pun berfoto bersama para sahabatnya sambil Neyna mengarahkan jari yang sudah memakai cincin dengan wajah bahagia.


Semua terlihat begitu bahagia malam itu, terlebih Neyna yang terlihat sangat bahagia karena akan menikah dengan seseorang yang sudah dia cintai sejak lama.


Setelah para sahabat Neyna berpamitan, keluarga Altrialman dan opa masih ngobrol dan bermain dengan Rey, Neyna dan Bram pun mengobrol berdua diteras depan rumah Neyna.


Senyum masih terpancar dari bibir keduanya, mereka mengobrol lepas ambil sesekali tertawa mengingat - ingat masa mereka sekolah dulu


“Ney...kamu ingat gak waktu kakak antarin pulang acara perpisahan, kamu Yang ketiduran di bahu kakak sampai kamu gak sadar kalau udah nyampe depan situ tuh” Ucap Bram sambil menunjuk depan pintu gerbang rumah Neyna


“Iya...iya..Ney ingat,, yang kakak bangunin Ney kan,,hahaha”


“Bisanya dia tidur dimotor, untung aja gak jatuh Ney, diajakin ngobrol eh...dia nya malah molor dibelakang,,pake ngiler lagi,,hahaha”


“Ihhh...kakak paan sih!! Ney gak ngiler ya!!”


“Ngiler lah,,,orang gitu udah nyampe depan gerbang situ, kakak liat mulut kamu kebuka kok,,hahaha”


“Ahhh....tapi kan kakak sampe ke bawa mimpi kan,,malamnya mimpi in Ney, nyebut- nyebut nama Ney,,Hati ngaku..?! Kan Bima yang cerita”


“Iya...iya...emang kakak sampe mimpiin kamu,, habis wajah kamu lucu lagi tidur an di bahu kakak sambil mangap gitu,,hahaha”


Mereka pun tertawa mengingat masa lalu mereka.