Deja Vu

Deja Vu
103. Detik Terakhir



Tepat pukul 19.00 WIB opa dan oma tiba Dirumah sakit milik keluarga Rian, berhubung rumah sakit tersebut baru diresmikan siang tadi jadi kondisinya masih sepi, hanya ada beberapa perawat dan dokter yang berjaga di ruang IGD.


Mereka langsung menuju ruang ICU dimana Wanda dirawat, opa dan oma dengan wajah yang sedikit tegang, membayangkan cucunya yang ternyata sedang dirawat di ruang ICU, karena sebelumnya bude Nia tidak memberi kabar kalau Wanda sedang dirawat di ICU.


Sesampainya Didepan ruangan ICU, oma dan opa langsung mendekati Neyna, pakde dan Bude Nia juga duduk diruang tunggu khusus keluarga pasien yang dirawat diruang ICU. Oma langsung memeluk Neyna


“Ada apa nak, apa yang terjadi? Kenapa tiba - tiba Wanda dirawat di ruangan ini?” Tanya oma sambil meneteskan air mata, sementara Rey yang tertidur diatas stroller langsung di sambut pakde dan bude Nia.


“Tadi setelah acara peresmian selesai, saat semua undangan dan tamu lainnya berfoto bersama, tiba - tiba Wanda jatuh pingsan oma, tadinya dia gak ada ngeluh sama sekali, setelah pingsan dan dibawa ke ruangan IGD oleh dokter Rian, setelah itu dia langsung dipindah ke ruang ICU, kata dokter Rian biar tetap dipantau kondisinya” terang Neyna sambil menghapus air matanya.


“Jadi dari tadi Wanda belum sadar nak, apa kata Rian?” Tanya opa


“Kata dokter Rian, Wanda mungkin kelelahan, memang dia kan gak boleh terlalu capek, tapi pas tadi sebelum berangkat kesini dia baik - baik aja, gak ada yang dikeluhkannya, malah dia terlihat bersemangat sekali datang kesini” terang Neyna lagi.


“Kita do’a in aja yang terbaik buat Wanda ya nak, kamu yang sabar ya” ucap opa menenangkan.


Tak lama, terdengar suara pintu ruangan ICU dibuka, terlihat dokter Rian keluar dari ruangan tersebut


“Opa dan oma sudah datang?” Sapa Rian


“Iya nak, baru saja, gimana keadaan Wanda, apa sudah boleh dijenguk ?” Tanya opa


“Wanda masih belum sadar opa, makannya dia saya masukin ke ICU biar kita pantau terus, Wanda kelelahan opa, mungkin hari ini dia melakukan banyak kegiatan, mudah - mudahan sebentar lagi sadar, ohya..kasi opa dan oma mau masuk, boleh tapi jangan lama - lama ya, setelah itu boleh bergantian” ucap Dokter Rian


“Baiklah nak,, terima kasih,,opa sama oma boleh kan masuk bersamaan?” Tanya opa


“Boleh kok opa, tapi tidak lebih dari 2 orang ya opa, Ok saya pamit dulu sebentar keruangan saya, nanti saya kembali lagi” pamit Rian


Rian pun berlalu meninggalkan opa, oma dan yang lain. Kemudian opa dan oma masuk kedalam ruangan ICU.


Didalam ruangan ICU, oma seperti kembali kemasa lalu, saat opa dirawat di ruangan ICU, air mata oma mulai membasahi pipinya, di belainya lembut tangan cucu yang sudah menambah warna dalam hidupnya, memberikan keceriaan padanya disaat dia kehilangan anak dan menantunya.


“Nak,,,ini oma,,kamu yang semangat ya, Rey dan Neyna menunggu kamu, kasian mereka yang masih sangat membutuhkan kamu, terlebih Rey yang membutuhkan sosok seorang Ayah, oma trauma sama ruangan ini, jadi kamu jangan lama - lama disini, kamu harus cepat bangun ya, biar bisa segera pulang berkumpul Dirumah”


Opa juga menepuk lembut lengan Wanda, dia tak bisa berkata apa - apa, sepertinya semua yang ingin diucapkannya sudah terwakil kan oleh oma, didalam hatinya hanya berharap yang terbaik untuk cucunya yang tinggal sebatang kara, setelah sejak kecil ditinggal oleh orang tuanya.


“Opa pamit nak, cepat bangun ya dan kita pulang” ucap opa singkat, Lau mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Setelah opa dan oma keluar, selanjutnya pakde dan bude Nia pun masuk menjenguk Wanda.


Tak lama, lebih kurang lima menit, pakde dan bude Nia sudah keluar dari ruangan ICU, mereka mengerti karena jam besuk di ruangan ICU itu terbatas dan lagi Neyna dan Rey bisa lebih lama menjenguk Wanda.


Setelah didalam ruangan ICU, Neyna yang tidak sendiri, dia sambil membawa Rey didalam strollernya,


“Nda,,cepat bangun dong, Rey kangen sama papanya, pengen diajakin main, biar bisa jalan pagi lagi sama papa” ucap Neyna mengajak Wanda bicara sambil membelai pipi dan rambut Wanda.


Neyna mengangkat Rey yang sudah terbangun dan meletakkannya disamping Wanda.


Rey sudah mulai bisa mengoceh, Neyna pun mengajak Rey berbicara untuk memancing Rey mengoceh


“Rey,,kangen ya sama papa, papa bobo terus sih, he'um kan sayang, mama juga kangen, kangen jalan - jalan pagi bareng papa kan nak, ayo bangun pa, biar bisa ajarin Rey main basket, ntar Gede Rey mau jadi atlet basket”


Neyna berbicara dan Rey menanggapinya dengan ocehan - ocehan ceria nya, membawa suasana menjadi haru, melihat interaksi keluarga kecil itu, gerakan - gerakan Rey pun menyentuh tangan Wanda, sehingga merangsang Wanda.


Air mata menetes di pipi Neyna, dia merasa belum siap jika sesuatu yang terburuk terjadi pada Wanda, walaupun sudah jauh - jauh hari dia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehilangan itu, tapi tetap saja belum siap untuk menghadapinya.


Sambil menggenggam tangan Wanda dan Rey juga terus menyentuh pipi wanda dengan jari jemari mungilnya dan terus mengoceh, membuat Neyna semakin larut dalam sedihnya.


Dari kejauhan, terlihat Rian sedang memperhatikan mereka, Rian merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa - apa, karena memang tidak ada lagi yang bisa diperbuat Rian, hanya menunggu keajaiban dari Tuhan sang maha pencipta.


Dalam hati Rian merasa tak tega untuk menyampaikan yang sebenarnya, membayangkan nasib Rey kedepannya, bukan perkara materi, tapi kasih sayang seorang ayah yang tidak didapatnya dengan usianya yang belum genap setahun.


Saat Neyna memperhatikan wajah Wanda dan sambil menggenggam tangannya, tiba - tiba Neyna merasa jari Wanda bergerak, Neyna menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya, kelopak mata Wanda mulai bergerak, Rian yang sejak tadi memperhatikan mereka, langsung berlari mendekat.


Rian langsung memeriksa denyut nadinya, kemudian perlahan kelopak mata Wanda terbuka.


“Nda,,kamu udah sadar,,alhamdulillah” ucap syukur Neyna.


“Lemes gak bertenaga, haus juga, aku pengen minum” ucap Wanda


Neyna langsung mengambil segelas air yang terletak di meja sebelah tempat tidur Wanda dan mengambil sedotan yang sudah disiapkan.


Wanda langsung meminumnya, setelah selesai,


“Makasi ya sayang,, Rey mana?” Ucap Wanda sambil tersenyum lembut, dia berusaha terlihat segar dan kuat Didepan Neyna, walau dia merasakan sakit.


“Ini di stroller,,” ucap Neyna sambil mendekatkan stroller Rey ke Wanda. Rian memperhatikan mereka.


“Gimana dok ? Apa sudah bisa pindah keruang perawatan saja, Wanda juga kan sudah sadar biar dia lebih nyaman lagi” tanya Neyna


Rian diam sejenak, kemudian dia pun menyetujuinya, dan dia langsung menelpon perawatan untuk menyiapkan kamar VVIP untuk Wanda, agar Neyna dan Rey lebih nyaman lagi.


Satu jam kemudian, Wanda sudah berada diruang VVIP bersama dengan opa, oma, pakde dan bude Nia.


Tak lama bude dan pakde pun pamit pulang dan berjanji esok mereka akan datang lagi.


“Nak,,bude sama pakde pulang dulu ya, besok kami datang lagi, Ney..kalau ada apa - apa jangan sungkan hubungi bude ya nak, ohya...kamu juga jaga kesehatan ya, Kamu kan juga menyusui, ntar kalau kamu sakit, Rey juga ikutan sakit, ya udah bude pulang ya nak” ucap bude berpamitan pada Neyna dan Wanda, kemudian bude pun berpamitan pada opa dan oma.


Setelah bude pulang, opa dan oma masih dirumah sakit, sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 wib.


“Opa,,oma,,pulang aja, udah malam,,biar bisa istirahat, aku dan Rey gak apa kok nemeni Wanda oma”


“Iya,,,opa sama oma pulang aja, istirahat dirumah, nanti jadi sakit lagi,Wanda gak apa - apa kok pa, ma,,lagian disinikan ada susternya” ucap Wanda


“Ya udah kalau begitu, tapi kamu yakin sendiri nemeni Wanda nak? Apa perlu oma suruh Rahayu nemeni kamu disini buat jagain Rey?” Tanya oma


“Gak apa oma, Neyna bisa kok, oma sama opa jangan khawatir” ucap Neyna menenangkan mereka.


Dan akhirnya opa dan oma pun berpamitan pulang dan berjanji besok pagi mereka akan datang


“Opa pamit nak, kamu istirahat ya cukup, jangan terlalu banyak fikiran, yang penting kamu harus semangat


demi Rey dan Neyna”


“Iya opa,,aku semangat kok, insyaa Allah aku gak apa - apa, tapi jangan lupa besok oma bawain kotak gold aku yang ada di ruangan kerja ya” ucap Wanda, oma pun mengiyakannya dan lalu berpamitan.


Sepeninggalnya opa dan oma, dan Neyna sedang menidurkan Rey di tempat tidur khusus untuk penjaga disebelah tempat tidur Wanda.


Ditatapnya wajah Neyna yang sedang tertidur pulas sambil memeluk Rey, terasa ada kehangatan didadanya melihat wajah kedua orang yang saat ini paling dicintainya, mereka terpisah hanya beberapa meter saja, antara tempat tidurnya dan tempat tidur Neyna tapi entah kenapa Wanda merasa mereka terpisah sangat jauh, mereka terlihat tapi sulit di dekap.


Sesak didadanya, perlahan bulir air mata mengalir dari sudut matanya. Dihapusnya perlahan, tak lama masuk seorang perawat hendak memeriksa tekanan darahnya.


“Selamat malam pak, saya cek dulu tekanan darahnya” ucap perawat tersebur sambil mulai memasang alat pengukur tekanan dara di lengan Wanda.


Setelah selesai, saat perawat berpamitan hendak keluar ruangan,


“Sus,,,saya boleh minta kertas dan pena?” Ucap Wanda


“Oh..boleh pak,,sebentar saya ambilkan ya, ohya,,.tapi bapak jangan terlalu malam tidurnya, karena bapak butuh istirahat lebih ya pak” ucap si perawat


“Baik sus,,sekalian saya pinjam papan alas untuk menulisnya ya”


“Baik pak, sebentar saya ambilkan” ucap si perawat sambil berlalu keluar ruangan.


Kemudian si perawat masuk kembali dengan membawa selembar kertas HVS, pena dan papan alas menulis.


“Ini pak, silahkan..”


“Terima kasih suster” ucap Wanda sambil tersenyum pada perawat tersebut. Kemudian Wanda pun mulai menulis pada kertas tersebut.


Setelah selesai, Wanda pun melipat kertas yang sudah ditulisnya tadi, lalu menaruhnya dibawah bantalnya. Kemudian Wanda pun kembali berbaring miring menghadap kearah tempat tidur Neyna dan Rey.