Deja Vu

Deja Vu
85. Sebatang Kara



Masih dirumah opa, Wanda menagih janji opa, untuk menceritakan pertemuan dengan keluarga Altrialman di puncak kemarin


“Opa udah janjikan mau menceritakan apa hubungan kita dengan keluarga Altrialman itu” ucap Wanda pada opa.lalu opa pun menceritakan


“Sebenarnya opa punya dua anak, satu laki - laki dan satu perempuan, yang perempuan anak sulung opa bernama Rania dan anak kedua opa Ridwan papa mu, opa akui dulu opa sangat memaksakan kehendak opa pada mereka. Bude mu itu anak nya keras, satu hari dia dan pakde mu datang menemui opa, untuk melamar bude mu, tapi opa tidak menyetujuinya karena kedua orang tua pakde mu itu bercerai, paling pantang bagi keluarga opa berhubungan dengan keluarga korban perceraian, saat itu opa memberi pilihan, kalau mau menurut perkataan opa, maka tetap tinggal tapi jika tidak menurut perkataan opa, silahkan angkat kaki dari rumah, hingga akhirnya bude mu memilih keluar dari rumah. Lebih kurang dua puluh lima tahun opa tidak bertemu dengan bude mu, saat itu karena keegoisan opa, sempat opa menganggap bude mu itu sudah mati dan opa hanya punya satu anak yaitu papamu, namun ternyata papamu bernasip buruk karena keegoisan opa, opa terlalu memaksa nya untuk meneruskan perusahaan, padahal papa mu sangat berambisi ingin menjadi seorang pengacara, hingga akhirnya terjadi kecelakaan saat opa menugaskannya keluar kota, opa terpukul dan sangat merasa bersalah atas semua yang telah menimpa anak - anak opa, dan opa berniat untuk mencari dan meminta maaf pada bude mu, lalu opa pun menugaskan Harry untuk mencari tau keberadaan keluarga bude mu” terang opa.


Wanda terdiam, membayangkan kalau ternyata dia dan Bram adalah saudara sepupu selama ini.


“Dunia ini sempit sekali, ternyata selama ini aku sangat dekat dengan saudara ku sendiri” batin Wanda


Neyna pun ikut mendengar kan cerita opa,


“Ya Tuhan kak Bram,,,ternyata aku berada diantara dua pria yang memiliki pertalian darah,,” gumam hati Neyna.


“Ohya...waktu Neyna pingsan, kenapa Bram juga terlihat khawatir nak, apa kalian sebelumnya udah saling kenal?” Tanya oma pada Neyna


Neyna terkejut mendengar pertanyaan oma yang ditujukan padanya, Wanda juga secara spontan menatap kearah Neyna. Neyna masih bingung menjawab pertanyaan oma, lalu Neyna pun menjawab pertanyaan oma


“Oh iya..oma,,kak Bram itu kakak kelas Neyna waktu di SMU dulu, kita memang udah saling kenal” ucap Neyna


“Ya ampun,,,ternyata dunia ini sempit sekali ya nak..” ucap oma.


Untuk menghindari pertanyaan oma selanjutnya, Wanda pun berucap,


“Oma,,,oma masak apa? Wanda lapar nih,,kita makan yuk” ajak Wanda sambil melirik kearah Neyna.


“ehh..iya sampai lupa, kita makan yuk,,oma hari ini masak pepes ikan, sayur asem, ikan asin dan tak ketinggalan Sambel terasinya, hayuk nak kita makan,,kasian ntar cicit oma didalam sana udah minta makan” ajak oma sambil menarik lengan Neyna menuju ruang makan.


“Wahh...oma..tau aja kalau cicit oma mau datang, sampai masakin semua kesukaan mamanya” goda Wanda sambil meraih kursi makan dan membentuk opa duduk.


“Ney,,kamu suka menu yang oma masak ini nak?” Tanya oma


“Suka banget oma, Neyna kan emang suka masakan yang pedas dan segar, ngebayangin sayur asem oma aja Ney udah gak kuat,,hehehe” ucap Neyna


“Ayo nak,,,dimakan jangan malu, nambah juga boleh,,,” ucap opa


Mereka pun mulai menyantap menu makan siang yang disiapkan oma, sambil ngobrol ringan di meja makan.


“Opa sama oma punya rencana mau ngajak keluarga bude mu makan bareng kita disini Opa pingin kita ngumpul bareng dirumah ini, biar suasana nya jadi rame” opa mengutarakan niatnya.


“Ohh...ya udah bagus dong opa,,biar Wanda juga lebih mengenal saudara sepupu Wanda, selama ini kan Wanda sebatang kara” ucap Wanda


“Huss...kamu tuh ngomong apa sih nak, siapa bilang sebatang kara, opa sama oma kamu anggap apa,,malah sekarang udah ada Neyna, jadi kita semua kamu anggap apa Hah?!” Omel oma pada cucunya.


“Yah kalian orang yang paling berharga dalam hidup aku oma, gak ada yang bisa menggantikan nya” ucap Wanda


“Ahh...gombalan jadul,,oma udah kebal di gombal kamu,,Neyna juga pasti sepakat sama oma,,”


Neyna hanya tersenyum menanggapi ucapan oma. Semenjak Neyna hamil, dia lebih banyak diam, penurut dan tidak mau berdebat, hingga terkadang Wanda yang menggodanya merasa tidak bersemangat karena tidak ada perlawanan, tidak seperti dulu, Wanda selalu mencari keributan untuk memancing singa betina nya terbangun dan hal itu yang paling disukai Wanda.


Sore hari mereka pamit pulang keapartemen,


“Oma,,kami balik ya,,besok Wanda harus kerja, lagian biar Neyna istirahat juga” pamit Wanda.


Kemudian Neyna dan Wanda berpamitan pada opa dan oma lalu mencium tangan kedua orang tua itu.


“Hati - hati ya nak,,jangan terlalu capek, makanannya juga di perhatiin ya,,heh..!! Pak dokter!! Tolong dijaga cicit saya yang ada didalam sini ya, emaknya juga dijaga,,dikasi makanan yang bergizi, jangan disuruh masakin kamu terus,,dengar?? Ntar kapan - kapan oma cek ke apartemen ya!” Oma berpesan pada Wanda


“Widiihh...si oma,,udah kayak tim sidak aja,,datang tak dijemput pulang minta ongkos!! Siyap bos,,pasti dijaga lah,,apalagi mamanya,,prioritas!!” Ucap Wanda dengan suara berbisik namun masih terdengar Neyna dan opa, opa tertawa sambil geleng - geleng kepala melihat tingkah cucunya, sementara Neyna hanya tersenyum.


Sesampainya mereka di apartemen, Neyna langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti baju, sementara Wanda memilih duduk Didepan TV.


Neyna menuju dapur menyiapkan makan malam, malam ini dia ingin memasak tomyam sea food. Dengan. Cekatan dia mengeluarkan semua bahan dari dalam kulkas lalu mengolahnya.


Sampai Neyna selesai memasak, Wanda masih tertidur didepan tv, setelah menata meja makan dan masakan yang selesai dimasaknya, Neyna membangunkan Wanda untuk mandi dan shalat maghrib.


“Wanda,,bangun,,udah maghrib, shalat dulu gih” panggil Neyna. Namun tidak jawaban dari Wanda.


Neyna kembali memanggil Wanda, tapi masih belum ada jawaban, hingga akhirnya Neyna mendekat dan menyentuk lengan Wanda membangunkan nya


“Wanda,,waktu maghrib udah mau habis, shalat duku gih!” Panggil Neyna, tapi Neyna merasa suhu tubuh Wanda panas, kemudian punggung tangannya diletakkan di dahi Wanda.


“Kamu demam Nda,,” ucap Neynai.


Neyna ke dapur mengambilkan segelas air hangat untuk Wanda. Neyna membantu Wanda bangkit dari tidurnya lalu memberikan segelas air hangat tersebut.


“Kamu demam, kamu makan dulu ya, biar minum obat” ucap Neyna, Wanda hanya mengangguk lemah, dia merasa sekujur tubuhnya nyeri hingga ke tulang.


Neyna membawakan makanan untuk Wanda.


“Kamu kuat? Sini biar aku suapin” ucap Neyna yang kemudian menyuapin Wanda. Sesekali Wanda menatap wajah Neyna, entah kenapa dia merasa mendapatkan keteduhan disana.


Setelah selesai makan, Neyna membawa Wanda masuk kekamarnya,


“Kamu ganti baju dulu ya, biar gak lengket,,dari tadi kamu belum ada ganti baju kan? Biar aku bantu” ucap Neyna


Neyna menuju dapur mengambil semangkuk air hangat dan wash lap.


Dengan perlahan Neyna membantu Wanda membuka bajunya, lalu menghapus tubuh Wanda dengan wash lap. Setelah selesai Neyna mengeringkannya dengan handuk. Pada saat hendak mengganti celana wanda, Neyna berucap,


“Kamu bisa sendiri kan ganti nya” tanya Neyna, Wanda pun mengangguk, Neyna pun memberikan celana boxer dan pakaian dalam ganti nya, Wanda berjalan masuk kekamar mandi.


Setelah Wanda selesai mengganti baju, ia pun langsung berbaring diatas tempat tidur, kemudian Neyna bertanya,


“Obat kamu dimana biar aku ambil?” Tanya Neyna,


“Di dalam laci meja itu Ney” ucap Wanda sambil menunjuk arah laci meja yang terletak disebelah TV. Neyna pun mengambilnya dan memberikan obat dan segala air untuk Wanda minum.


Selesai minum obat,Wanda kembali berbaring,


“Aku tinggal ya,,” ucap Neyna, Wanda pun mengangguk, saat Neyna sudah berada Didepan pintu kamar Wanda, Wanda memanggil Neyna


“Ney...”


“Iya,,ada apa? Ada lagi yang kamu butuhkan?” Ucap Neyna


“Makasi ya, udah mau ngerawat aku” ucapnya sambil tersenyum, Neyna membalasnya dengan anggukan lalu keluar kamar.


Setelah Neyna selesai makan, sebelum tidur ia menyempatkan memeriksa suhu tubuh Wanda.


Dibukanya pintu kamar Wanda, terlihat Wanda sedang tertidur, ditempelkannya punggung tangannya pada dahi Wanda, untuk memeriksa suhu tubuhnya.


Tiba - tiba terdengar suara Wanda,


”jangan pergi,,jangan tinggalkan aku Ney, jangan pergi kumohon,, tetaplah bersamaku disini,,” Wanda mengigau dengan matanya yang masih tertutup, ia menggenggam tangan Neyna, hingga Neyna tidak bisa beranjak dari sisi tempat tidur Wanda.


Neyna menatap lekat wajah Wanda yang tertidur pulas dan masih menggenggam tangannya seakan tak ingin Neyna pergi dari sisinya.


Ada sedikit rasa iba, mengingat ucapannya siang tadi saat Dirumah opa, yang mengatakan kalau dia sebatang kara. Neyna merasakan ada rasa sedih yang teramat dalam.


Neyna menghapus lembut pipi Wanda, entah apa yang sedang difikirkan nya.