Deja Vu

Deja Vu
30. Menyendiri



Neyna sampai diparkiran halaman sebuah salon, dimana tempat dia janjian dengan Rosi dan Mimi untuk memanjakan diri.


Setelah selesai memanjakan diri, mereka bergerak menuju Mall terbesar yang ada dikota itu, mereka pun memasuki salah satu restaurant mewah didalamnya.


“Lo kenapa ney, koq dari tadi gua perhatiin gak seperti biasanya, ada masalah lo?” Tanya Rosi yang paling jago membaca mimik wajah sahabatnya itu.


“Ya,,sebenarnya gua emang lagi ada masalah Ci” ucap neyna lesu, lalu Mimi berucap,


“Cerita dong ke kita ney,,siapa tau kita bisa bantu, kan biasanya juga kita saling curhat kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri,,ntar pusing sendiri lo” ucap Mimi.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Neyna menceritakan masalahnya kepada para sahabatnya itu.


Mimi paling antusias mendengarkan cerita Neyna.


“Ya ampun Ney,,tapi lo gak terima kan lamarannya si Wanda itu? Secara lo punya kisah pahit dengan dia” komentar Mimi.


Neyna hanya menggelengkan kepalanya,


“Gua ngerti perasaan lo Ney, satu sisi lo mencintai kak Bram, disisi lain lo memikirkan perasaan dan kesehatan opanya si Wanda itu, yang udah lo anggap seperti opa lo sendiri, ribet sih” komentar Rosi ditambah anggukan Mimi.


“Jadi aku udah ceritain ke papa, penyebab aku sakit-sakitan dan mogok sekolah waktu itu dan papa mau ngerti, papa akan bantu bicara ke Wanda, mudah-mudahan dia mau ngerti.


“Seumpamanya nih ya, kalaupun aku belum punya kak Bram, aku tetap ogah nikah sama mahluk yang super nyebelin kaya dia itu, kebayang gak sih kalian, setiap hari harus mempersiapkan diri untuk menerima kejahilan dia, kerese an dia,itu tuh Yang buat aku gak mau sekolah ya karena ulah dia itu!” Ucap Neyna kesal.


“Ya udah deh,,mudah-mudahan papa kamu bisa memberi penjelasan ke dia ya ney, sekalian aja papa kasi pelajaran karena dia udah jahatin elu ney, gua denger cerita lo aja gemes,,pengen gua kirikan aja dah dia, udah gesrek kali otaknya, lagian lo kok gak cerita dari dulu sih ney waktu kita studi banding kesekolahnya, biar kita selesai kan secara jantan” ucap Rosi berapi-api.


“Shabar neng,,shabar..” ucap Mimi menenangkan Rosi.


Rosi memang paling sebel kalau ada salah satu sahabatnya Yang diganggu orang, karena dia memiliki rasa setia kawan yang tinggi dan memiliki postur tubuh paling bongsor diantara sahabat-sahabatnya.


Tak lama makanan yang mereka pesan datang, mereka pun melahap makanannya.


Sementara itu, papa dan mama Neyna baru tiba dirumah sakit, “Assalamu’alaikum ibu, gimana kabar Ayah bu?” Tanya papa Neyna ke oma sambil mencium tangan oma dan diikuti mama.


“Kalian naik apa kesini, Neyna mana ?” Tanya Oma, lalu mama Neyna menjawab, “dia tadi ada urusan dengan temannya bu, mungkin nanti dia kesini, jadi kami naik taxi saja” ucap mama, kebetulan opa sedang tidur,papa pun memanggil Wanda.


“nak Wanda, om bisa bicara sebentar nak?” Ucap papa ke Wanda,


“Iya om boleh” sambut Wanda, lalu papa mengajak Wanda keluar ruangan, mereka duduk di kursi Yang berada didepan ruangan opa.


“Nak Wanda, tadi om sudah mencoba memberi pengertian pada Neyna, tapi sepertinya dia menolak niat baik nak Wanda.


Katanya dulu kalian selalu saja berantem, sampai dia sakit-sakitan tidak masuk sekolah, lalu dia mogok sekolah jika masih bersekolah disitu” ucap papa pelan.


Mendengar ucapan papa Neyna Wanda jadi salah tingkah,


“Iya om,,saya mau minta maaf ke om dan Tante juga, memang dulu saya jahat banget Sama Neyna om, kenakalan masa sekolah om,


Rasanya sehari kalau gak liat Neyna kesel dan ngomel-ngomel itu Wanda merasa ada Yang kurang om,,Wanda mohon maaf ya om, karena Wanda gak nyangka sampai segitunya om, ternyata Neyna sakit sampai hampir satu bulan itu karena ulah Wanda ya om? Sekali lagi Wanda minta maaf sebesar-besarnya. Tapi untuk rencana Wanda melamar Neyna itu serius om, bukan karena Wanda merasa tertekan dan gak ada pilihan lain, Wanda bener-bener menyukai Neyna om, dari pertama kami bertemu”


Papa Neyna mengangguk lalu berucap “jadi kamu sudah pernah minta maaf ke Neyna?” Wanda terdiam lalu menggeleng, “gengsi?”


Sebenarnya Neyna itu orangnya gak pendendam loh nak, apalagi nak Wanda sudah minta maaf dengan sungguh-sungguh” Wanda terdiam sejenak.


“Tapi Wanda takut Mencobanya om, sepertinya rasa benci Neyna sudah mendarah daging om, selama bertemu Wanda dia selalu menghindar” papa Neyna mendengarkan curhatan Wanda lalu berucap “apa nak Wanda


Serius mau menikahi Neyna?“ tanya papa ke Wanda, lalu Wanda menjawab


“Iya om, Wanda serius, bagi Wanda pernikahan itu hanya cukup sekali seumur hidup dan hati Wanda jatuh ke Neyna om” ucap Wanda sambil tertunduk.


Papa Neyna menganggukan kepala kemudian berucap,


“Nak Wanda, kamu kan tau Neyna itu putri om satu-satunya, om akan lakukan apa pun itu Demi kebahagiaannya, jadi om boleh minta sesuatu sama kamu nak?”


“Iya om, apa itu om?” Ucap Wanda.


“Nak Wanda harus janji akan selalu menjaga dan melindunginya dan jangan sampai nak Wanda menyakiti hatinya, karena kalau nak Wanda melukai perasaannya berarti nak Wanda juga melukai hati om”


“In syaa Allah, Wanda janji om, akan terus menjaga dan melindungi Neyna om”


“Kalau begitu om akan membantu kamu memberikan pengertian dan meyakinkan Neyna”


“Terima kasih om, Wanda akan ingat janji Wanda dan pesan om” Lalu mereka pun saling berpelukan.


Kemudian mama memanggil papa dan Wanda masuk Karena opa sudah bangun. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00 wib, papa pun menelpon Neyna.


“Assalamu’alaikum Ney, kamu dimana, udah selesai urusannya?” Tanya papa dari seberang.


“Walaikumsalam pah, Neyna masih belum kelar pa, Neyna lagi dikantornya Rosi, papa udah dirumah sakit ?” Tanya Neyna.


“Iya nak, maksud papa tuh kalau kamu sudah kelar kamu sekalian mampir kerumah sakit ya jenguk opa sekalian jeput papa Sama mama nak?”.


Neyna yang tau bakal bertemu Wanda dirumah sakit memilih menghindar, dia tidak mau bertemu Wanda.


“Ney masih lama pa, nanti kalau ney jeput terlalu malam kan gak boleh, udah lewat jam besuk, papa Sama mama naik taxi aja ya?”


“Ya sudah kalau begitu, biar papa Sama mama naik taxi saja, kamu jangan malam-malam pulangnya ya nak, hati-hati, Assalamu’alaikum” pap pun paham Neyna tidak mau menjeput mereka karena menghindari Wanda.


Kemudian papa dan mama Neyna pun pamit ke opa.


“Ayah,,Wira balik dulu ya, in syaa Allah besok Wira datang lagi, Ayah istirahat jangan banyak fikiran, ibu juga istirahat ya, kami pamit Ayah ibu, Assalamu’alaikum” ucap papa Neyna ke opa, opa Yang sulit bicara karena stroke hanya menganggukan kepalanya.


“Om dan tante pulang naik apa? Biar Wanda antarin aja ya” tawar wanda ke papa Neyna.


Tiga puluh menit kemudian mereka pun tiba di apartemen Neyna, terlihat pintunya masih terkunci, menandakan Neyna belum pulang.


Lalu mama membuka pintu apartemen dengan kunci duplikat, mama dan papa mengajak Wanda untuk singgah dan mengobrol.


Wanda pun duduk diruang TV dengan papa dan mama Neyna, tak lama Neyna pulang.


“Assalamu’alaikum, papa sama mama udah lama nyampe, Naik apa ?” Tanya Neyna, namun tanyanya terhenti seketika karena melihat sosok Wanda ada diantara kedua orang tuanya.


“Walaikum salam,,kamu baru pulang nak, sudah makan?” Ucap mamanya, Lau Neyna langsung berucap


“Ney, mau kekamar dulu ya pah, mah, mau istirahat” untuk menghindari Wanda, dia tidak mengacuhkan kehadiran Wanda.


Lalu papa berucap ke Wanda “maafkan Neyna nak, mungkin dia masih emosi, nanti om akan bicara padanya” Wanda pun mengerti dan dia pun berpamitan.


Setelah kepulangan Wanda, Neyna langsung keluar kamar “dia udah pulang pah?” Lalu mamanya berucap “ihh..koq dia sih nak, dia tuh punya nama, Wanda namanya, Iya barusan dia pamit, kenapa kamu pengen ketemu?” Goda mamanya, Neyna langsung cemberut “idiih amit-amit da ah!”


Papa yang mendengar ucapan Neyna langsung nyeletuk “awas,,jangan benci-benci, soalnya antara benci dan cinta itu beda tipis lo,,” Neyna sewot mendengar ucapan papanya


“Papa ini kenapa sih,,koq kaya nya senang banget Sama Wanda, apa perlu ney ingatkan lagi kalau dia yang udah hampir menghancurkan Neyna pa, merusak mental Neyna, untung aja Neyna gak gila pa, dan untungnya lagi Neyna langsung pindah, kalau nggak mungkin anak papa ini udah berakhir di rumah sakit jiwa!”


Papa kaget mendengar ucapan Neyna.


“astaghfirullah ney,,istighfar ney,,gak boleh ngomong gitu nak!”


“Kayanya emang papa setuju banget ya Neyna nikah sama dia? Apapun yang udah dia bilang ke papa Sama mama jangan percaya, kalau papa Sama mama mau Ney memaafkannya ney udah maafin, tapi untuk menikah ney gak mau, maafin Neyna kalau kali ini Neyna gak nurut apa kata papa Sama mama!!”


“Ya ampun ney,,segitunya kamu bencinya nak? Mama gak pernah ngajari kamu jadi orang pendendam nak,,”


“Jadi sekarang mau papa Sama mama apa? Ney menerima lamaran dia gitu, Iya pa,,Iya ma??” Ucap Neyna sambil terisak.


“Apa yang udah dia bilang ke papa Sama mama sehingga kalian mau menerima lamarannya, apa karena opa ? Kalau memang betul begitu, berarti papa tega Sama Anak sendiri”


Papa dan mama Neyna bingung dengan tingkah Neyna, emosinya meledak-ledak padahal papa belum membuka pembicaraan perihal lamaran Wanda.


“Papa mama Neyna udah punya pilihan sediri, kalau memang papa mau minta Neyna segera menikah, Iya,,,sepulangnya kak Bram dari tugas nya dia akan menemui papa Sama mama, jadi tolong jangan paksa Neyna menikah dengan Wanda lagi”


“Bram kakak kelas kamu itu nak? Memang dia dimana sekarang nak?” Tanya mamanya.


“Dia sedang ada proyek tambang di Papua, Dan saat ini dia memang tidak bisa dihubungi karena berada didalam hutan, Dan dia janji sepulangnya dari papua nanti dia akan menemui papa untuk melamar Neyna, jadi papa Sama mama jangan khawatir Neyna gak laku !” Ucap Neyna kesal.


“Nak apa kamu yakin, dia memang benar-benar tidak bisa dihubungi? Papa ini laki-laki nak, papa tau banyak tingkah laki-laki diluar sana, papa gak mau kamu kecewa nak”


Mendengar ucapan papa Neyna semakin terisak, sedikit banyak, dia juga merasakan seperti apa yang diucapkan papanya, karena sudah 2 bulan lebih, Sama sekali Bram tidak bisa dihubungi.


Mendengar ucapan papanya, dia langsung pergi keluar apartemennya menuju parkiran dan pergi mengendarai mobilnya.


Tidak tau kemana tujuannya, dia masih menyetir sambil meneteskan air mata.


Terbayang apa yang diucapkan papanya, segala hal negatif tentang Bram bermunculan dikepalanya.


Sementara itu papa dan mama yang khawatir terjadi sesuatu pada Neyna langsung menghubungi Wanda.


“Assalamu’alaikum nak Wanda, udah dirumah sakit ya?”


“Walaikumsalam om,,belum om, ini masih dijalan lagi nyari makanan buat oma, kenapa om?”


“Nak,,om minta tolong kamu bisa susul Neyna, tadi dia sedang emosi terus dia pergi sambil nyetir sendiri, om takut dia kenapa-napa nak”


“Ohh,,Iya om,,kebetulan Wanda masih disekitaran apartemen kok om, ok om,, coba Wanda susul ya om, om dan tante tenang ya!”


“Makasi ya nak!”


Wanda pun memutar balik kemudinya. Diperjalanan arah balik ke apartemen Neyna, Wanda berpapasan dengan mobil Yang dikendarai Neyna dengan kecepatan tinggi.


Neyna memang sangat lihai menyetir karena sejak kuliah dia sering bangun kesiangan dan berangkat kuliah dengan terburu-buru dan tidak telat karena sudah terlatih.


Wanda yang sejak SMU memiliki hobi balap liar, tidak susah baginya untuk mengejar dan mengikuti Neyna.


Terlihat kendaraan Neyna menuju daerah puncak. Wanda tetap mengikutinya dengan jarak Yang tidak terlalu jauh. Kemudian mobil Neyna berbelok ke kanan, dan berhenti di Padang rumput, dengan rumput yang tidak terlalu tinggi.


Neyna masih tetap didalam mobil. Wanda memperhatikan dari kejauhan dengan mematikan lampu mobilnya.


Tak lama Neyna keluar dari mobil, menatap sekelilingnya,sepi dan jauh dari keramaian.


Dia mencari tempat dimana hanya ada dia, langit malam, bulan dan bintang-bintang.


Lalu dia duduk diatas kap depan mobilnya, duduk dengan menekuk dan memeluk kedua kakinya didada.


Menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Dia berfikir, tak ada orang yang akan mendengar tangisannya malam itu.


Tanpa dia sadari Wanda sedang memperhatikannya dari kejauhan, dia tidak berani mendekat, walaupun saat ini dia ingin sekali memberikan bahunya pada Neyna untuk menumpahkan kesedihan hatinya.


“Ya tuhan,,,apa salahku,,kenapa untuk mencintai seseorang saja sangat sulit buatku, kenapa mencintai itu sesakit ini? Disaat cinta ini berbalas, kenapa Kau memberikan cobaan seberat ini? Kau memberikan pilihan yang sulit buat hamba,,Dan kenapa lagi-lagi aku harus bertemu dengan orang yang paling ingin kulupakan seumur hidupku, aku benciiiii...aku muaakkkk... aku jijik ya tuhan,,,bawa saja dia padamu,,!!”


Neyna berteriak, meluapkan kekesalannya, tanpa disadarinya Wanda mendengarkan semua Yang diucapkannya.


“Ney,,,Segitunya kau membenciku,,aku minta maaf atas semua Yang pernah Ku lakukan padamu,,aku ingin memperbaiki kelakuanku padamu, izinkan aku mencintaimu, menyayangimu, melindungimu, menjadi pahlawan bagi mu, menggantikan dia yang kau cinta”


Wanda mengirim pesan pada orang tua Neyna, memberi kabar kalau Neyna sudah dia temukan dan dalam keadaan baik-baik saja, agar kedua orang tua Neyna tidak cemas.