Deja Vu

Deja Vu
20| A LIGHT IN THE DARK



Siyeon membuka kedua matanya, ia terkejut ketika dirinya berada di dalam hutan berwarna hitam. Langitnya juga berwarna hitam, tidak ada cahaya yang menyinarinya. Penampilannya yang sangat kontras membuatnya sangat bersinar di dalam hutan yang gelap itu, suara burung gagak dan burung hantu bersautan di atas pohon membuatnya sangat terkejut. Siyeon mencoba untuk menyusuri hutan yang sunyi itu.


"Di mana ini? Kenapa tidak ada cahaya sama sekali?" gumamnya dengan terus melangkah dan menatap sekitarnya. Hawa dingin menusuk ke dalam kulit putihnya, di hutan tersebut udaranya sangat berbeda dari hutan-hutan yang pernah di lewatinya.


"Sangat menakutkan," Siyeon bergidik ngeri saat melihat banyak sekali bayangan yang melintas. Ia tidak tahu apa bayangan tersebut, ia hanya terus melangkahkan kakinya untuk mencari jalan keluar dari hutan yang menurutnya sangat aneh itu.


"Tidak ada cahaya sama sekali? Ini sebenarnya di mana?" Siyeon mulai menatap gelisah sekitarnya, suasananya semakin mencenkam. Ia merasakan aura bahaya yang berada di dalam hutan ini, sangat menyeramkan dan besar.


Siyeon memejamkan kedua matanya, tangannya ia angkat sehingga munculkan sebuah obor yang terbuat dari crystal putih dan juga cahaya yang di keluarkan adalah cahaya putih yang bisa menerangi jalannya sampai satu kilometer. Ia menatap takjub dengan cahaya yang di buat olehnya, sungguh ia merasa lebih tenang untuk sekarang.


"Ternyata semuanya hitam, pohonnya dan juga hewannya," gumam Siyeon yang melanjutkan langkahnya. Wanita itu menatap sekitarnya, ia tidak menemukan bayangan yang melintas di hadapannya tadi. Kini tidak menyeramkan seperti tadi.


"Kemana perginya bayangan tadi? apakah mereka takut dengan cahayaku? Hihi, penampilanku saja ssudah seperti hantu kalau di bumi. Pasti orang-orang bumi ketakukan, jika mereka melihat penampilanku seperti ini," kikik Siyeon membayangkan reaksi orang bumi, ketika melihat penampilannya sekarang ini. Pasti mereka akan pingsan saat melihatnya.


"Apakah di sini ada air terjun dan cahaya hitam pekat seperti di hutan-hutan sebelumnya? Di dalam buku itu di jelaskan kalau aku ingin mendapat tongkat, maka aku harus bisa mengumpulkan cahaya pekat dari air terjun di setiap crystal dan aku yakin sekarang aku berada di tempat kekuasaan kegelapan," gumam Siyeon yang kini mulai memfokuskan para inderanya, ia mencari keberadaan air terjun yang terdapat cahaya dari kekuatan crystal yang masih belum di milikinya.


"Aku sudah mempunyai tiga cahaya dan kurang satu cahaya lagi, agar kekuatanku sempurna untuk mengalahkan kegelapan," Siyeon tersenyum saat mengetahui keberadaan air terjun yang cukup jauh dari tempatnya berada saat ini. Wanita itu melangkah cepat ke arah air terjun yang mulai mengusik indera pendengarannya.


Perjalanan yang di rasakan Siyeon begitu lama, sudah lelah ia melangkah. Tetapi, dirinya belum sampai di air terjun yang di carinya. Masih setengah perjalanan dan dirinya mulai kelelahan, Siyeon menghembuskan nafasnya yang mengeluarkan uap seperti dirinya berada di tempat bersalju. Siyeon merasa kedinginan dan suara-suara aneh kembali terdengar.


"Apakah ada kehidupan di sini? Aku tidak yakin, kalau di sini ada orang seperti di tempatku," Siyeon memutar matanya untuk melihat sekelilingnya, ia tidak melihat cahaya sedikit pun, selain dari obor yang di buat olehnya. Ia berharap melihat seseorang atau rumah penduduk di sini, pasti terlihat cahaya lampu rumah mereka, meskipun dirinya berada di dalam hutan. Karena, pada hutan-hutan sebelumnya, ia bisa melihat beberapa rumah.


"Memang tidak ada, apakah ini yang membuat kegelapan murka? Di sini, seperti tidak ada kehidupan manusia sama sekali," ucap lemah Siyeon, wanita itu cukup sedih dengan keadaan hutan ini. Jauh berbeda dari tempat tinggalnya, ia ingin menyatukan semuanya.


Di dalam buku yang di bacanya, semua clan melebur menjadi satu. Tidak ada pertengkaran dan hidup mereka selalu tentram tanpa ada permusuhan, ayahnya sudah bisa membuat mereka bersatu. Tetapi, saat kedua orang tuanya mati terbunuh. Kegelapan mulai menakuti-nakuti semua orang. Membuat mereka semua mengungsi ke kerajaan crystal putih untuk menunggu ratu mereka yang akan membebaskan mereka dari kegelapan.


"Bukankah Taeyong bisa terbang? Berarti aku juga bisa terbang kan? Tapi, bagaimana caraku terbang? Aku sampai melupakan SuA!" serunya, ia kembali berhenti untuk bertanya kepada SuA bagaimana caranya untuk terbang.


"Akhirnya aku tahu caranya," ucap senang Siyeon, ia mulai memejamkan matanya dan cahaya putih menutupi tubuhnya. Tak selang beberapa lama, dirinya mulai terbang. Dengan hal itu, ia bisa lebih cepat sampai di air terjun dan juga tidak akan kelelahan seperti berjalan. Siyeon sangat senang, ia bisa terbang tanpa adanya sepasang sayang di punggungnya. Ini adalah hal yang tak pernah di duga olehnya.


"Menjadi seorang putri dari raja dan ratu kerajaan crystal putih tidak pernah terlintas di pikiranku. Aku tidak akan menyalahkan takdirku, aku cukup bahagian dengan membuat rakyatku bahagia," gumam Siyeon yang kini mempercepat terbangnya. Ia sudah merasakan air terjun itu, sangat dekat dengannya dan cahaya hitam pekat itu mulai memanggil dirinya.


"Akhirnya aku sampai juga," Siyeon menapakkan kakinya di atas tanah yang berwarna hitam, air terjun sudah ada di hadapannya. Sekarang ia tinggal turun ke bawah untuk mencari cahaya hitam pekat yang sangat kuat itu. Langkah pelannya membuat beberapa bebatuan terjatuh ke dalam air terjun. Siyeon mencoba untuk melangkah dengan hati-hati, tetapi tetap saja batu-batu itu akan terjatuh ke dasar air terjun yang curam itu.


"Itu dia cahayanya!" Siyeon sudah melihat cahaya itu. Ia mendekatinya dan aura yang di pancarkan oleh cahaya itu sangatlah kuat, hingga membuat tubuhnya memanas.


"Mari kita serap kekuatanmu," Siyeon mengulurkan tangannya dan menyentuh cahaya itu, ia memejamkan matanya dan merasakan cahaya itu mulai merambat dari tangannya menuju tubuhnya. Cukup lama untuk mengambilnya, Siyeon juga merasakan tubuhnya lebih sakit dari sebelumnya. Ini sangat menyiksanya, sekuat tenaga ia memfokuskan konsentrasinya untuk menyerap semua cahaya itu.


"Akh, ini sangat menyakitkan," Siyeon terduduk di tanah setelah semua cahaya itu masuk ke dalam tubuhnya. Nafas wanita itu mulai memburu dan badannya merasakan sangat kepanasan, seperti terbakar di dalam bara api yang berwarna merah.


"Kau sudah mendapatkan keempat kekuatan cahaya ternyata?" suara seseorang membuat Siyeon terkejut, ia melihat iblis berdiri di hadapannya dengan mata merah menyala. Siyeon bangkit dan mundur beberapa langkah ketika iblis itu mendekatinya.


"Jangn menyentuhnya iblis sialan!" seru seseorang di samping Siyeon. Ia melihat cahaya putih keluar dari tubuh orang itu. Ketika cahaya itu mulai meredup, Siyeon melihat Taeyong berdiri di sebelahnya dan menggenggam tangannya.


"Kita pergi sekarang juga!" seru Taeyong dan mereka mulai menghilang dari hadapan iblis yang menggeram marah, hingga membuat hewan-hewan di hutan berterbangan.


TBC...