Deja Vu

Deja Vu
22| A BELIEVE



"Aku sudah percaya kepadamu dan ku mohon janganlah kau menghancurkan kepercayaan ku. Cukup sulit untukku meyakinkan diriku sendiri untuk mengatakan kalimat itu kepadamu," ujar Siyeon dengan tiba-tiba membuat Taeyong langsung terdiam seketika.


"Apakah kau bersungguh-sungguh mengatakannya?" tanya balik pria itu.


"Ya, aku sangat bersungguh-sungguh dan aku juga mencintaimu," jelas Siyeon.


Taeyong yang mendengar pernyataan itu tidak bisa menampik kebahagiaannya, pria itu langsung memeluk wanita di sampingnya dengan sangat erat dan Siyeon membalas pelukannya tak kalah erat. Keduanya sama-sama bahagia, jantung mereka seakan ingin meledak. Siyeon sudah tidak ragu lagi, ia yakin kalau taeyong benar-benar orang yang tepat untuknya. Pria itu selalu hadir di kala dirinya sedang dalam bahaya atau pun bersedih.


"Aku tidak akan mengecewakanmu, terimakasih sudah bersedia menerimaku di hatimu," ujar Taeyong dengan menguraikan pelukan mereka, pria itu menatap dalam manik mata Siyeon yang berwarna putih dengan perpaduan merah di tengahnya. Tatapan yang sangat cantik, membuatnya tidak bisa mengalihkan tatapannya itu.


"Sangat indah, aku menyukai tatapan indahmu ini," ucap lembut Taeyong membuat Siyeon mengembangkan senyumnya, tangan dingin wanita itu mengusap pelan pipi Taeyong yang begitu hangat, hingga ia merasakan hangat tubuh Taeyong menjalar ke dalam tubuhnya.


Perlahan wajah Taeyong mendekati wajah Siyeon, tatapan mereka masih sama-sama terkunci dan bibir mereka mulai saling bersentuh. Perlahan Taeyong menggerakkan bibirnya, namun pria itu menghentikannya ketika mendengar suara perut Siyeon yang begitu kencang. Siyeon sendiri menundukkan kepalanya, dengan wajah memerahnya. Wanita itu begitu malu, karena suara perutnya begitu keras.


"Haha, kau lucu sekali. Aku akan mencarikanmu makanan dulu, kau tunggulah di sini, aku tidak akan lama," ujar Taeyong dengan mengusap puncak kepala wanitanya, pria itu langsung menghilang di telan cahaya hijau yang membungkus tubuhnya.


"Ah... kenapa kau berbunyi di waktu yang tidak tepat?" kesal Siyeon dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Telinganya terlihat sangat memerah, sangat kontras dengan kulit putih pucatnya itu.


Taeyong melesat dan berada di atas pohon apel berwarna hitam, wajah tampannya semakin bersinar dengan senyum lebar yang menghiasinya. Pria itu tidak bisa menampiknya, ia sangat bahagia. Tanpa sadar tangannya mungusap kedua bibirnya yang sempat bersentuhan dengan bibir pucat dan manis milik Siyeon. Wanita yang sangat di cintai olehnya. Jantungnya tetap berdetak sangat cepat, membuat dadanya terasa sangat sesak.


"Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa memlikinya. Menjadikannya milikku dan melindunginya lebih baik lagi, aku tidak akan membiarkan kegelapan untuk menyakitinya," tatapan Taeyong berubah menjadi sangat tajam, ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Tatapan yang penuh dengan marah dan kebencian itu, mampu menakuti orang lain.


Taeyong mulai mengambil beberapa buah apel untuknya dan juga Siyeon. Warnanya memang hitam, namun tidak ada racun yang terkandung di dalamnya. Rasanya seperti apel biasanya, setelah di rasa cukup Taeyong mencari sumber air untuk di minum. Ia menajamkan indera pendengarannya dan tersenyum saat mendengar gemercik air yang tidak jauh dari tempatnya. Dengan cepat, pria itu melesat menuju sumber air yang mengalir tersebut.


"Ternyata airnya berwarna bening, tidak ada racun atau pun kekuatan di dalamnya," Taeyong mengirup aroma air yang mengalir di sebuah sungai dan ternyata air tersebut berwarna bening, seperti air-air sewajarnya. Pria itu membuat wadah dari dedauan yang keluar dari tangannya, wadah itu cukup besar dan bisa menampung banyak air di dalamnya.


"Menakjubkan," ucap Taeyong membuatnya terkejut. Bola-bola es yang di buat olehnya langsung terjatuh kembali ke dalam danau. Siyeon membalikkan tubuhnya dan melihat Taeyong berdiri di belakangnya, pria itu berdiri tidak jauh dari Siyeon.


"Kau cepat sekali," ucap Siyeon dengan mengambil buah apel dari wadah yang di buat olehnya. Taeyong hanya menaikkan sebelah alisnya menatap wajah merona kekasihnya, pria itu tertawa kecil dan menghampiri kekasihnya yang terlihat enggan berdekatan dengannya. Taeyong duduk di sebelah kekasihnya dan merangkul pundaknya, membuat wanita itu terkejut saat tangan hangat memeluk erat tubuhnya.


"Kenapa kau menatapku? Apakah aku sangat tampan?" tanyanya dengan nada menggoda membuat Siyeon mendengus dan mengalihkan pandangannya. Wajahnya semakin memerah, sehingga ia tidak ingin Taeyong melihatnya dan menertawakan kekonyolannya.


"Sayang, jangan menatap ke arah sana. Di sana tidak ada yang menarik! Tataplah kekasihmu yang tampan ini!" seru Taeyong dengan menarik dagu kekasihnya agar menatap ke arahnya, wajah mereka sangat dekat membuat Siyeon menahan nafasnya. Wajah Taeyong begitu tampan saat di lihat olehnya, tetapi sekarang ketampanannya bertambah jika di lihat dengan jarah yang sangat dekat. Deru nafas Taeyong menerpa wajahnya yang dingin.


"Kau sangat cantik," gumam Taeyong membuat dada Siyeon menjadi sesak. Debaran jantungnya bertambah cepat dari sebelumnya, membuatnya cukup kesulitan untuk bernafas.


"Bernafaslah sayang! Aku tidak ingin kau kenapa-napa kalau terus-terusan menahan nafass seperti itu!" titah Taeyong membuat Siyeon langsung menarik tubuhnya agar sedikit berjauhan dengan pria yang bersamanya itu. Wanita itu tidak bisa terus-menerus berdekatan dengan Taeyong, bisa-bisa ia akan terserang penyakit jantung.


"Suara detak jantungmu bisa di dengar olehku lho!" ujar Taeyong dengan nada menggoda, Siyeon memejamkan matanya dan dengan keberanian. Wanita itu menatap ke arah kekasihnya yang tersenyum menggoda kepadanya. Siyeon menatap tajam pria yang menjadi kekasihnya dan mendekatinya dengan langkah kaki yang di hentak-hentakkan.


"Berhentilah menggodaku terus-menerus! Atau aku akan membunuhmu!" ancam Siyeon dengan suara tegasnya, tetapi Taeyong hanya tersenyum lebar mendengar kalimat penuh ancaman itu. Pria itu menarik tangan Siyeon dengan lembut, sehingga wanita itu jatuh ke dalam dekapannya yang terasa hangat dan nyaman.


"Aku tidak akan takut dengan ancaman darimu, karena aku yakin kau tidak akan pernah melakukannya. Apalagi, aku adalah pria yang kau cintai. Kau tidak akan bisa berbuat seperti itu," ujar Taeyong dengan penuh keyakinan. Siyeon yang awalnya hendak membalas pelukan Taeyong langsung mengurungkan niatnya ketika beberapa orang dengan penampilan seperti seorang prajurit datang menghampiri mereka berdua.


"Siapa kalian? Kenapa kalian datang ke mari?" tanya Taeyong dengan menyembunyikan Siyeon di belakang tubuhnya. Pria itu menatap tajam para prajurit yang sedang menyodongkan senjata mereka. Para prajurit itu mulai mengelilingi mereka berdua. Siyeon sama sekali tidak takut dengan mereka, tetapi saat pimpinan mereka datang tubuhnya mulai menegang dan jantungnya berdetak tak karuan.


TBC...