
Betapa shocknya Neyna melihat sosok yang ada Didepan matanya sepagi itu.
”elo,,ngapai lo pagi-pagi kesini?” lalu papanya bertanya.
“Siapa Ney, siapa yang datang?” Neyna masih belum mepersilahkan Wanda masuk, mereka masih sama - sama berdiri didepan pintu.
“ehh..itu pa ada tamu” ucap Neyna, papanya sudah tau siapa yang datang karena sebelumnya Wanda sudah menghubungi papa Neyna, lalu papa berucap,
“suruh masuk tamunya Ney, koq berdiri didepan pintu terus sih”
ucap papa sambil melirik kearah mamanya. Kemudian Neyna melebarkan pintu dan mempersilahkan Wanda masuk, “masuk lo,,” ucapnya singkat dan langsung meninggalkan Wanda.
Neyna pun menuju meja makan untuk melanjutkan suapannya yang tertunda.
Namun baru saja dia mau menyuap sendokkan pertamanya, mama pun langsung mengambil sendok yang ada ditangannya
“ehh,,,gak sopan!! ada tamu dia malah makan, sana gih buat minum untuk tamu!” Neyna kesal, memejamkan matanya.
“ya Tuhan, cobaan apa ini, sepagi ini harus kuhadapi ? kapan perutku ini mendapatkan haknya” gerutu Neyna sambil berlalu ke dapur membuatkan teh untuk tamu tersebut.
Setelah Neyna membuatkan teh dia langsung mengantarkan teh tersebut keruang tamu.
Papa meminta Neyna untuk duduk bergabung dengan mereka, namun Neyna menolak, “tapi Ney lagi makan pah,,” ucap Neyna kesal, lalu papa mengajak tamu tersebut bergabung dengan mereka sarapan pagi.
“ohyaaa..nak Wanda sekalian aja sarapan sama-sama ya” Neyna mendengar ucapan papanya langsung melotot dan kemudian memasang wajah meringis.
“Ya tuhan,,,apa karena aku shalat shubuh kesiangan sehingga cobaanmu datang bertubi-tubi sepagi ini, kenapa pagi-pagi aku udah melihat wajahnya ya Tuhan,,kenapa,,??”
Selesai mereka sarapan bersama, papa Neyna mengajak Wanda duduk diruang TV, sedangkan Neyna masih di dapur membantu mamanya merapihkan meja makan.
Setelah Neyna dan mama selesai merapihkan meja makan, papa memanggil Neyna dan mama untuk bergabung bersama mereka.
Dengan berat hati Neyna menuruti papanya, dan dia duduk di sebelah mamanya dengan posisi duduk membelakangi Wanda.
Papa yang melihat tingkah anaknya langsung menegur Neyna,
“Ney,,,koq gitu sih duduknya, gak sopan membelakangi orang, duduk yang bener” Neyna seperti anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya.
Neyna menurut dan mengubah duduknya. Wanda melihat tingkah Neyna hanya diam tak banyak komentar, hanya sesekali dia tersenyum tipis, berbeda sekali dengan Wanda yang Neyna kenal.
Lalu papa Neyna memulai pembicaraan.
”jadi nak Wanda, tujuannya kesini itu ada apa ya? padahal om dan tante sudah mau bersiap kerumah sakit mau lihat keadaan opa, opa gimana keadaannya nak?” Wanda tersenyum dan menjawab
“alhamdulillah opa udah dipindah keruangan rawat inap om, tapi masih dalam pantauan dokter dan rencananya opa akan dibawa berobat ke singapur om”
Papa mengangguk dan berucap “syukurlah kalau opa bersedia dibawa berobat keluar”
Lalu Wanda berucap.
”sebenarnya opa gak mau dibawa ke singapur om,, dari dulu memang tidak pernah mau ke singapur om, sampai kemarin Wanda bilang ke opa, kalau Wanda gak akan menikah kalau opa gak mau berobat ke singapur”.
Sementara Neyna merasa tersiksa berada diantara mereka, untuk mengusir rasa bosannya dia memainkan Gadgetnya, Wanda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Neyna. Kemudian Wanda melanjutkan bicaranya.
“tapi opa mau berangkat setelah Wanda menikah” Neyna melirik sinis kearah Wanda dan pandangannya kembali pada gadgetnya.
Papa dan mama Neyna sebenarnya sudah tau maksud dan tujuan Wanda datang pagi itu. Karena oma sudah menceritakan bahwa penyebab opa dan Wanda bertengkar.
“jadi apa rencana nak Wanda ?”, Wanda memperbaiki posisi duduknya kemudian menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya berlahan,
“Tujuan Wanda kesini, Wanda mau melamar Neyna jadi istri Wanda om”
Papa memberi isyarat kepada mama untuk menyusul Neyna.
“Om..Wanda minta maaf, tapi Wanda melamar Neyna bukan karena dorongan dari opa yang memaksa Wanda untuk segera menikah, tapi Wanda memang menyukai Neyna sejak awal kami satu sekolah dulu om, hanya saja Wanda selalu membuat Neyna kesal dan marah, sehingga dia sangat benci dengan Wanda om”
Terang Wanda menjelaskan pada papa Neyna bahwa dia memang benar - benar mencintai Neyna dan bukan hanya sekedar pelarian.
Papa terdiam mendengar ucapan Wanda, kemudian papa pun bicara “apa kamu memang benar-benar mencintai Neyna? bukan karena paksaan opa untuk kamu segera menikah?”
“Demi Tuhan om, Wanda memang mencintai Neyna, tapi mungkin benci Neyna sudah sampai mendarah daging, Wanda ngerti om, makanya Wanda mau minta bantuan sama om dan tante untuk meyakinkan Neyna”
Papa Neyna pun mengangguk paham.
“baiklah Wanda, om dan tante akan coba memberi pengertian dan meyakinkannya, mudah-mudahan dia mau mengerti ya”
Mendengar ucapan papa Neyna, Wanda sedikit mendapat angin segar, dia berharap Neyna bersedia menikah dengannya, karena dia berprinsip menikah hanya untuk sekali seumur hidup, dan Neyna adalah cinta pertamanya”.
Kemudian Wanda pun berpamitan, “kalau begitu Wanda pamit dulu om, Wanda mau balik kerumah sakit”.
“Baiklah nak, tante sama om akan mencoba memberi pengertian ke Neyna, ohya...mungkin om dan tante akan kerumah sakit selesai shalat zuhur ya, sampaikan salam om ke opa dan oma” lalu Wanda pun mengangguk dan berpamitan.
Sementara itu Neyna sedang berada di kamarnya bersama mama sedang berbicara serius.
“Nak,,koq kamu langsung masuk gitu sih, gak sopan nak,,hargailah sedikit niat baik Wanda, dia itu bener-bener lo Ney”
“Mama tau gak, dia itu udah terpojok, karena opa Usman yang selalu saja menyuruh dia menikah ma, dia tuh jahat mah, dia tuh tega, dia tuh..ahhhhh...mama gak ngerti!!”
“Mama gak ngerti maksud kamu nak? Tapi yang mama liat dia anaknya baik, sopan dan tidak banyak bicara malahan, kenapa kamu berkata seperti itu Ney ?”
Sambil menarik kasar rambutnya, Neyna pun berucap dengan nada yang masih berapi-api.
“Mama,,Neyna tuh udah kenal dia sejak kita kelas satu SMU waktu di Nusa Bangsa dulu mah,,mamah tau gak apa yang membuat Ney sakit -sakitan dan tertekan, membuat Neyna gak mau sekolah dan meminta pindah sekolah,,mama tau gak kenapa? ya karena dia mah,,,dia yang udah menghancurkan hari - hari Neyna selama sekolah disana mah, yang tadinya Neyna berharap dilingkungan baru Neyna akan mendapat teman baru yang asik seperti di SMP dulu, tapi dia merusak segalanya mama, terus sekarang dia yang akan menjadi suami Neyna ?coba mamah bayangkan gimana kalau mama diposisi Neyna mah?”
Ucap Neyna masih berapi-api dan mulai meneteskan air mata. Mama terkejut, ternyata Wanda lah yang menyebabkan Neyna sakit dan mogok sekolah saat itu, papa yang juga diam - diam mendengarkan pembicaraan mama dan Neyna juga terkejut lalu mendekati Neyna, dan memeluk putri kesayangannya itu, karena teringat penderitaan Neyna kala itu, sampai dia sakit dan mogok sekolah.
“Baiklah nak,,papa tidak akan memaksa kamu, nanti papa akan coba bicara ke Wanda, sekarang tenangkan dirimu”
“Pah,,,Neyna gak mau ya pa, jangan paksa Neyna pah..sejak kecil apapun perintah papa selalu ney ikuti pa, tapi kali ini Neyna mohon sama papa dan mama, jangan paksa Ney, Ney trauma pah,,,”
Ucap Neyna lirih. Lalu papa dan mama menenangkannya. Kedua orang tua Neyna keluar dari kamarnya.
“Pah,,mama gak nyangka ternyata Wanda lah penyebab Neyna mogok sekolah waktu itu, jadi sekarang gimana pa?” tanya mama ke papa Neyna yang duduk terdiam.
Papa Neyna bingung harus berbuat apa, satu sisi ada putrinya sedangkan disisi lain ada opa Usman yang sudah dianggap seperti Ayah nya sendiri.
Sudah lama opa Usman menyampaikan niatnya ingin menjodohkan Neyna dengan Wanda, saat itu papa berucap menyerahkan sepenuhnya pada mereka berdua.
Dan saat ini, dia teringat akan penderitaan Neyna kala itu, membuat dia mengurungkan niatnya untuk menjodohkan mereka.
“Gak tau lah ma,,papa jadi bingung mau gimana,,papa gak tega liat Neyna begitu shocknya ketika tau Wanda akan melamarnya, tapi papa juga gak tega melihat opa Usman yang sudah berharap sekali pada Neyna”
Tiba-tiba Neyna keluar dari kamarnya yang sudah berganti baju dan membawa tas tangannya.
“Kamu mau kemana nak?” Ucap mama,
“Ney ada janji Sama Rosi dan Mimi mau kesalon bareng mah, ney jalan dulu ya?”
“Ya sudah hati-hati ya nak, papa dan mama kerumah sakit naik taxi aja nanti”
Neyna pun mengangguk dan langsung berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya.