
Sebulan setelah acara lamaran Neyna dan mereka juga sudah kembali ke ibukota, kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa, sementara untuk persiapan resepsi pernikahan Neyna akan dilakukan oleh kedua orang tua Neyna, karena resepsi nya akan dilaksanakan di dua tempat, yaitu di kota kediaman kedua orang tua Neyna dan untuk resepsi ngunduh mantu akan dilaksanakan di Ibukota di kediaman keluarga Altrialman saat ini.
Pagi itu Neyna akan berangkat kekantor dengan dijemput Bram. Opa sudah meminta Bram untuk memegang perusahaan opa yang akan dibantu oleh Neyna dan Harry.
Bram turun dari mobilnya, menyapa opa dan oma yang sedang bermain diteras depan bersama Rey yang sudah sangat lincah berlari.
“Assalamu’alaikum opa,,oma,,”
“Walaykumsalam nak,,sebentar Neyna keluar kok, kalian bawa supir aja nak?” Tawar opa
“Gak perlu opa,,Bram kan masih bisa nyetir sendiri, lagian gak jauh juga kok”
“Tapikan biar kalian lebih santai diperjalanan, ohya..jadi gimana persiapan resepsi kalian nak, udah beres semua kan?” Tanya oma perihal resepsi ngunduh mantu
“Oma,,,nikah dan resepsi dirumah papa Neyna aja belum, jangankan resepsinya, nikahnya aja belum,,tapi mama udah prepare semua kok, opa Sama oma tenang aja, pokoknya tinggal duduk manis aja deh,, kan ada Rheina juga yang bantuin mama” Ucap Bram
“Soalnya mama mu kok ya sudah jarang kesini, apa dia terlalu sibuk ngurusin persiapan resepsi ngunduh mantunya” Ucap oma
“Omaa..kaya gak tau mama aja, mama tu kalau ngurusin sesuatu detail lo, pokoknya semua harus terlihat sempurna, gak ada yang kurang menurut pandangan dia, paling Rheina yang pusing,,soalnya kemana - mana Rheina diajak terus sama mama”
“Ya..syukurlah kalau Rheina bantuin mama, tapi apa Rheina ndak kuliah nak?” Tanya oma
“Dia kan udah selesai ma, lagi skripsi, jadi jadwalnya gak terlalu padat” terang Bram
Neyna pun keluar dari pintu utama rumah opa kemudian berpamitan pada opa, oma dan Rey
“Opa,,oma,,Neyna berangkat dulu ya” ucap neyna sambil mencium tangan keduanya, lalu beralih mencium Rey yang sedang digendong Tari pengasuhnya
“Jagoan,, mama berangkat kerja dulu ya nak, baik - baik dirumah sama eyang buyut sama mba Tari juga ya anak pintar, love you” pamit Neyna sambil mencium kedua pipi gembul Rey
“Hai...sayang...papi sama mami berangkat kerja dulu ya nak, makan dan minum susu yang banyak ya, biar cepat Gede, biar kita main basket” pamit Bram sambil mencium Rey
“Lho...kok papi sama mami kak?” Tanya Neyna
“Gak apa dong,, biar rada beda dikit Yang penting kan artinya sama,,” Ucap Bram, Neyna hanya tersenyum.
“Kalian hati- hati ya nak, seminggu lagi kalian akan menikah, kata orang darah manis lo, jadi Bram jangan ngebut ya” pesan oma
“Siap laksanakan oma!! Assalamu’alaikum” Ucap Bram sambil mengangkat tangan seperti menghormat pada oma.
Mereka berdua pun menaiki mobil Bram dan Bram pun mulai memutar kemudinya keluar dari halaman rumah opa.
Seminggu lagi mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri, setelah sekian lama keduanya memiliki perasaan yang sama.
Dirumah kedua orang tua Neyna juga sudah mulai sibuk mengurusi segala keperluan resepsi dari mulai baju seragam, gedung, catering, dekorasi dan MUA tak luput dari urusan mama, karena ini kali pertama mereka mengadakan resepsi pernikahan Neyna karena sebelumnya Neyna dan Wanda hanya proses akad nikah saja dan dilakukan dirumah sakit atas permintaan opa yang kala itu sedang dirawat.
\*\*\*\*\*
Seminggu berlalu, hingga tibalah hari yang paling dinanti yaitu hari pernikahan Neyna dan Bram. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ballroom sebuah hotel terbesar dikota kelahiran Neyna.
Pagi itu akan dilaksanakan proses ijab qobul, hingga seluruh keluaga dari kedua mempelai sudah hadir di ballroom tersebut.
Neyna yang sudah selesai didandani dan masih berada didalam kamar pengantin yang disediakan khusus oleh pihak hotel yang merupakan rekanan bisnis papa Bram, ditemani oleh para sahabat setia nya
“Duuhhh....gak nyangka ya Ney, akhirnya lo nikah juga dengan kak Bram, setelah melewati berbagai lika - liku yang lo hadapi, sampai akhirnya kalian bisa bertemu dan bersatu dengan cara yang gak disangka - sangka” ucap Mimi sambil menggenggam tangan Neyna
“ aku juga gak nyangka Mi, kalau takdir ku akan bersatu dengan cinta pertamaku lagi yang ternyata adalah sepupu almarhum suamiku sendiri” ucap Neyna dengan mata yang berkaca - kaca.
Keempat sahabat itu pun saling berpelukan turut berbahagia atas pernikahan sahabatnya itu, tak lama acara nikah pun dimulai.
Sesaat kemudian, terdengar dalam satu tarikan nafas, Bram mengucapkannya dengan lancar dan tegas, hingga semua yang menyaksikan berucap
“Sah...”
“Sah...”
“Alhamdulillah..” semua berucap syukur, kemudian berdo’a.
Setelah selesai berdo’a, Neyna pun dibawa keluar untuk menandatangani buku nikah.
Neyna dibawa menuju kursi tempat ijab qobul berlangsung tadi yang di damping oleh Mimi dan Rheina adik Bram.
Semua mata tertuju pada Neyna, terutama Bram, dengan tatapan takjub menatap Neyna, kecantikannya terpancar dan bertambah berpuluh kali lipat dari biasa, mungkin karena dia akan menikah dengan orang yang dia cintai hingga kebahagian terpancar di wajahnya yang membuat semakin terlihat cantik.
Setelah Rheina dan Mimi mengantarkan Neyna duduk berdampingan dengan Bram, mereka pun bergabung bersama tamu dan undangan lainnya.
Neyna dan Bram pun menanda tangani buku nikah mereka, setelah selesai Neyna pun mencium tangan Bram dan Bram pun mencium kening Neyna sambil berucap pelan,
“Alhamdulillah”
Kemudian sesi foto pengantin dan juga foto bersama keluarga, kemudian mereka berfoto bersama para sahabat yang sudah hadir di acara akad nikah pagi itu.
Seluruh keluarga terlihat bahagia, opa dan oma tak kuasa membendung air mata mereka, menyaksikan pernikahan cucunya untuk kedua kali, dengan wanita yang sama.
“Opa,,,alhamdulillah Allah masih kasi kita rezeki usia sampai saat ini, hingga kita bisa menyaksikan pernikahan dua cucu kita, walau yang sebelumnya sudah meninggalkan kita ya opa, tapi Allah ganti dengan dipertemukan nya kita kembali dengan Cucu kita yang lain, hingga keluarga kita menjadi lengkap kembali” ucap Oma sambil menghapus bulir air mata yang membasahi pipinya.
“Kita gak tau rencana Allah ma, gadis yang kita harapkan menjadi cucu menantu kita, tapi Allah berkehendak lain, Wanda pun pergi meninggalkan kita, namun hari ini dia kembali lagi bersanding dengan cucu kita Bram yang ternyata kedua cucu kita itu menyukai gadis yang sama, Neyna memang gadis yang baik, tak salah memang para cucu kita memilihnya, semoga pernikahan mereka sakinah, mawaddah dan warohmah sampai maut memisahkan mereka” do’a tulus opa dari kejauhan sambil menatap kebahagian cucunya, yang di aamiin kan oma.
Setelah selesai acara ijab qobul, berlanjut ke resepsi pernikahan, para tamu dan undangan yang hadir silih berganti memberikan do’a dan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Kemudian MC meminta kedua mempelai untuk naik keatas pentas menyumbangkan sebuah lagu untuk para undangan
“Ok baiklah...kali ini ada bisikan - bisik goib yang saya terima, katanya kedua mempelai ini jago banget nyanyinya, bahkan konon katanya di jaman penjajahan Belanda mereka sering duet maut di berbagai acara, bagaimana kalau kita panggilkan saja kedua mempelai kita yang dari tadi tak hentinya menebar senyum kebahagiaan mereka, untuk mas Bram dan mba Neyna mohon segera menyumbangkan sebuah dua buah lagu untuk menghibur para tamu undangan yang hadir di tempat ini, baiklah buat mas dan mba nya kami persilahkan...” ucap sang MC
Kemudian Bram pun menggandeng tangan Neyna menuju pentas,
“Waduh...kita gak ada persiapan sama sekali nih,, tapi demi semua para sahabat dan para tamu yang udah hadir diacara pernikahan kami ini, kami ucapkan terima kasih banyak dan kami akan mempersembahkan sebuah lagu kenangan kami sejak jaman penjajahan Belanda seperti kata mas MC tadi, lagu ini memiliki kesan tersendiri buat kami berdua, baiklah mohon maaf kalau suara dan musiknya mungkin gak kompak, maklum in aja karena memang gak ada persiapan sebelumnya” ucap Bram, kemudian mereka pun mulai bernyanyi lagu favorit mereka berdua, sebuah lagu dari Budi Doremi yang berjudul Tolong.
Semua bertepuk tangan melihat penampilan mereka berdua, Bram duduk sambil bermain gitar, sementara Neyna berdiri disisi Bram sambil bernyanyi.
Setelah selesai bernyanyi, tiba - tiba Mimi dan Caca berteriak dari bawah pentas,
“Mau lagi.....”
“Lagi...lagi..lagi..lagi...lagi.......” teriak mereka berdua.
Hingga Bram dan Neyna pun, memutuskan untuk menyanyikan lagu berikutnya, sebuah lagu dari duet Barbara Streisand dengan Bryan Adams.
I finally found someone
That knocks me off my feet
I finally found the one
That makes me feel complete
It started over coffe
We strated out as friends
It's funny how from simple things
The best things begin
This time is different
And it's all because of you
It's better than it's ever been
'Cause we can talk it though
"Can I call you sometime"
It's all you had to say
To take my breath away
This is it, oh I finally found someone
Someone to share my life
I finally found the one
To be with every night
'Cause whatever I do
It's just got to be you
My life has just begun
I finally found someone
Did I keep you waiting? I didn't mind
I apologise, baby that's fine
I would wait forever just to know you were mine
You know I love your hair
Are you sure it looks right?
I love what you wear
Isn't it too tight?
You're exceptional
I can't wait for the rest of my life
This is it, oh I finally found someone
Someone to share my life
I finally found the one
To be with every night
'Cause whatever I do
It's just got to be you
My life has just begun
I finally found someone
And whatever I do
It's just got to be you
My life has just begun
I finally found someone
Mereka sangat menghayati lagu yang mereka nyanyikan, walau tanpa persiapan tapi mereka sukses menyanyikannya dengan baik dan kompak, hingga semua tamu dan undangan yang melihatnya bertepuk tangan.
Setelah selesai acara resepsi, para tamu undangan pun sudah pulang, yang tinggal hanya pengantin dan para keluarga.
“Ok..malam ini kita semua pulang kerumah, kecuali pengantin yang akan tetap tinggal di hotel ini, bukan apa - apa ya, maksudnya itu kedua pengantin akan dijadikan jaminan karena pembayaran akan dilakukan esok hari, jadi sebagai jaminannya pengantin harus tetap tinggal di sini, jadi kalau kira - kira pembayaran tidak terjadi esok hari berarti pengantinnya harus rela magang jadi karyawan hotel selama satu bulan tanpa dibayar” ucap mama Nia menggoda Bram dan Neyna
“Oh...mama..dengan senang hati kami jadi jaminannya mamaku,, gak masalah kok, ya kan sayang,,,? Terus besok dijeputnya jangan cepat - cepat ya ma, agak siangan dikitlah atau malamnya juga boleh kok, Ok Mam..” ucap Bram membalas mamanya
“Enak aja..! Besok habis shalat shubuh mama datang jeput kalian, jangan kelamaan jadi raja dan ratunya, masih ada kerjaan lagi buat resepsi berikutnya”
“Jangan dong mah...udah deh...biar adil sorean dijeput nya ya ma,,Ok mama yang cantik, baik hati dan Solehah?”
“Emang paling jago nge gombal ya nih anak,,,baiklah kalau begitu” ucap mama
Akhirnya seluruh keluarga pun kembali kerumah, Bram dan Neyna yang masih menginap di hotel karena khusus kamar pengantin dapat voucher nginap gratis satu malam.
Mereka pun masuk kekamar, Neyna pun mulai membuka aksesorisnya, Neyna terlihat kesusahan membuka kancing baju kebayanya yang berada dibagian belakang.
Bram yang sedari tadi sudah memperhatikan Neyna, langsung mendekati Neyna,
“Ngomong dong sayang kalau butuh bantuan, jangan diam aja, sini biar kakak bukain” ucap Bram, jika dilihat dengan mata bathin, ada dua tanduk yang muncul dikepalanya.
“Eh...gak usah kak,,Ney bisa kok,,” ucap Neyna sedikit menjauh, namun Bram tetap membantunya membuka.
Walaupun bagi Neyna ini adalah pernikahannya yang kedua, tapi sensasi pengantin baru yang buat deg - degan baru kali ini Neyna rasakan, hingga jantungnya meronta saat Bram mulai membuka satu persatu kancing baju Neyna.
“Tuh,,,kan selesai,,kalau kamu buka sendiri pasti sampai besok pagi gak kelar - kelar sayang”
“Eh..iya kak..Makasi ya kak,,”
“Hmmm... bisa gak diganti panggilannya jangan kakak lagi ?” Pinta Bram
“Kakak mau dipanggilnya apa ?” Tanya Neyna
“Sayang juga dong, kan sekarang kakak sayangnya kamu dan kamu sayangnya kakak” ucap Bram sambil memencet hidung Neyna yang mancung
“Iya deh...say...ney mandi dulu ya say”
“Duhh...jangan say dong,, kok berasa kaya sayton yak,,,”
“Hahaha....iya deh...sayangkuh my honey, bunny, sweety, lovely,,ney mandi dulu ya”
“Gitu dong Sayang...Eh...berani ? Mau ditemenin gak mandinya?” Goda Bram lagi
“Ye...sayang...kamu tuh modus banget ya,,ney berani kok,,,sini aja yak” Ucap Neyna sambil menahan tubuh Bram Yang mendekatinya sambil tersenyum menggoda Neyna.
Tiga puluh menit kemudian, Neyna selesai membersihkan diri dan hanya mengenakan bathrobe, lalu dia mencari - cari sesuatu.
“Kamu nyari apa sayang ?” Tanya Bram
“Kak..Eh...yank,,,kopernya dimana ya?” Tanya Neyna
Bram pun baru menyadari, ternyata koper miliknya juga tidak ada,
“Eh...iya ya sayang,,kemana ya? Koper kaka juga gak ada, tadi udah di bawa supir kok ke sini, bentar kakak tanya Rheina” Ucap Bram sambil meraih ponselnya dan menghubungi Rheina
“Ya hallo Kakak ku yang paling ganteng, ada apa ganggu malam - malam ?” Ucap Rheina
“Rhe...koper kakak tadi udah dibawa ke kamar pengantinkan, tapi kok gak ada ya? Koper mba Neyna juga gak ada dek?” Ucap Bram
“Ouw...gitu...koper kakak disini kok, koper mba Neyna juga,,aman,,, besok Rheina bawa ya”
“Dek...terus ini kakak Sama mba Neyna pake baju apa dong? Masa Iya pake baju jas Sama kebaya mau tidur”
“Ya udah..pake Yang ada aja dulu,, dilemari coba liat deh,,,kalau gak ada yang mau dipake,, ya polos aja juga gak apa kok, udah halal juga,,udah ya Rheina ngantuk,, bay...Assalamu’alaikum” dengan senyuman jahil Rheina pun memutus telponnya dan langsung mematikan ponselnya, agar Bram tidak bolak - balik menghubunginya.