Deja Vu

Deja Vu
104. Kehilangan



Pagi hari adzan shubuh belum berkumandang, Rey sudah rewel, Neyna memeriksa popoknya dan memberikan ASI berusaha menenangkannya, tapi Rey tetap menangis.


Neyna tidak ingin Wanda terganggu karena tangisan Rey, Lalu dia membawa Rey keluar kamar dengan menggendongnya berkeliling rumah sakit.


Setelah Rey kembali tertidur, Neyna meletakkannya diatas tempat tidur dan Neyna beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu menunaikan shalat shubuh.


Setelah selesai shalat dan melipat mukenanya, dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.20 wib, diliriknya Wanda masih tertidur pulas, tapi kenapa sedari tadi posisinya tidak berubah.


Neyna pun mendekat dan meraba dahi Wanda dengan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuhnya, suhu tubuh Wanda sedikit dingin, mungkin karena suhu pendingin ruangan, pikirnya lalu Neyna pun menaikkan suhunya.


Tapi saat Neyna menatap Wanda seperti ada yang aneh, karena biasanya Wanda dengan sigap bangun jika mendengar suara Rey menangis bahkan sebelum Neyna bangun.


Diperhatikannya wajah Wanda yang terlihat tenang dan tersenyum, tapi kenapa tidak terlihat gerakan nafasnya.


Neyna merasa ada yang tidak beres, kemudian dia meletakkan jarinya Didepan hidung Wanda, dia tidak merasakan hangat nafas yang berhembus, Neyna mulai panik, kemudian dirabanya pergelangan tangan Wanda untuk memeriksa denyut nadinya, tapi tidak ada denyut nadi yang dirasakannya, Neyna pun semakin panik, ditempelkannya telinga kanannya pada dada Wanda, juga tidak ada detak jantung disitu. Neyna semakin panik, dipencetnya bel untuk memanggil perawat, sambil Neyna memanggil namanya dan menepuk lembut pipi Wanda membangunkan, namun tidak ada respon yang diberikan. Dua Perawat pun masuk keruangan,


“Sus..tolong suami saya sus, saya tidak merasakan denyut nadi dan detak jantungnya sus” ucap Neyna panik


“Baik bu..sebentar kami periksa..” ucap sang perawat, sedang yang satunya menghubungi dokter Rian dengan ponselnya.


“Gimana keadaan suami saya sus,,tolong sus...tolong suami saya,,dari tadi dia tidak bergerak,,!”


“Ibu tenang dulu ya bu,,”


Tak lama Rian muncul dan langsung memeriksa Wanda, Neyna tampak sudah meneteskan air mata. Rian meraba denyut nadi pada leher Wanda dan meraba suhu tubuh Wanda.


Dilihatnya Neyna yang sudah mulai terisak, begitu juga Neyna yang menatapnya penuh harap, namun Rian hanya memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


Seketika tangis Neyna pecah, dia tak menyangka akan secepat ini Wanda meninggalkannya, Rian menatap Neyna yang terisak menggigit bibir bawahnya, merasa kesal dan belum bisa menerima kenyataan.


Neyna mendekati Wanda, menggoyangkan tubuh Wanda,


“Ndaaa...bangun da..bangun..jangan pergi Nda...jangan tinggali aku dan Rey,,,Wandaaa...ya Allah kenapa secepat ini kau panggil dia...dokter tolong periksa lagi,,,dia pasti sedang tidur...coba cek sekali lagi dokter aku mohon...tolong dok...!!” Teriak Neyna sambil mengatupkan kedua tangannya didada memohon pada Rian untuk memeriksa kembali untuk memastikan bahwa Wanda hanya sedang tertidur.


“Ney...kamu harus ikhlas ya...Wanda sudah gak ada Ney..” ucap dokter Rian meyakinkan Neyna


“Dokter bohong..!! Dokter berbohong kan?!! Iya kan...?!!”


Rian hanya menggelengkan kepala, dan mengatakan kalau dia tidak berbohong,


“Gak Ney,,,aku gak bohong...Wanda sudah pergi meninggalkan kita semua,,,” ucap Rian


“Gak mungkin..!!! Aku gak percaya..!!kamu pasti bohong..!!” Teriak Neyna sambil memukul - mukul dada bidang Rian, kemudian Rian merangkul Neyna dan memeluknya.


“Ssstt...udah kamu tenang ya,,kamu harus ikhlas..kamu juga harus kuat, kasian Rey..” ucap Rian sambil memeluk Neyna yang terisak.


Setelah Neyna sedikit tenang, Rian menghubungi bude Nia atas permintaan Neyna, karena dia takut untuk menyampaikannya kepada opa dan oma langsung, mengingat kondisi opa yang tidak begitu sehat.


“Assalamu’alaikum Ney..iya nak gimana keadaan Wanda nak?” Ucap bude Nia


“Walaykumsalam...maaf tante ini saya Rian pake ponsel Neyna, begini saya mau kasi kabar kalau Wanda...Wanda sudah tidak ada lagi tan,,Wanda sudah meninggal” ucap Rian pelan


“Innalillahi wainnailaihi roji’un...ya Allah...kapan nak? Jadi gimana keadaan Neyna dan Rey?” Tanya bude


“ Pagi tadi tante,,Neyna masih shock..Rey juga masih disini, tapi opa dan oma belum saya hubungi, tadi Neyna bilang biar tante aja yang hubungi opa dan oma, karena kondisi opa yang kurang sehat”


“Ok nak,? biar nanti tante yang hubungi,,tante segera kesana ya,,titip Neyna dan Rey ya nak” ucap bude Nia dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Bude Rania pun bersiap - siap menuju rumah sakit, sebelum dia berangkat kerumah sakit, terlebih dahulu bude menelpon oma, karena oma yang kondisi kesehatan lebih baik.


“Assalamu’alaikum ma..mama lagi ngapai ma?” Tanya Nia


“Walaykum salam nak,,ini mama baru selesai masak mau dibawa kerumah sakit untuk sarapan Neyna dan Wanda, kenapa nak?” Tanya oma


“Mah...mama gak usah kerumah sakit lagi ya mah...”


“Loh..kenapa nak ? Wanda udah mau dibawa pulang?” Tanya oma


Dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya berlahan, bude Nia pun berucap,


“Iya ma,,Wanda mau dibawa pulang kerumah, Wanda udah...Wanda udah pergi meninggalkan kita ma” ucap bude


“Nia,,,kamu ngomong apa sih,,”


“Mama..benar ma,,,Wanda udah gak ada,,dan pihak rumah sakit sedang mempersiapkan kepulangannya ma”


“Ya Allah....Innalillahi wainnailaihi rojiun...cucuku....”


“Walaykumsalam...”


Oma masih terisak Didepan pintu kamar mandi dikamarnya, tiba - tiba opa muncul dan melihat oma terisak,


“Ma...ada apa? Mama kok nangis ?” Tanya opa sambil mendekati oma


Oma menatap opa dengan mata yang sembab dan basah karena air mata,


“Pa...Wanda..pa...ya Allah...”


“Wanda kenapa ma...mama duduk dulu” opa menarik tubuh oma duduk dipinggir tempat tidur


“Wanda...Wanda udah pergi meninggalkan kita pa,,,”


Seketika wajah opa terkejut, tak percaya secepat itu Wanda pergi meninggalkan mereka, opa terdiam,kemudian menghapus wajahnya dengan telapak tangannya.


“Innalillahi wainnailaihi roji’un...habis sudah kau panggil anak, menantu dan cucuku ya Allah” opa terduduk disamping oma dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


Sementara itu, bude Nia sekeluarga baru tiba Dirumah sakit, mereka langsung menemui Neyna yang masih terduduk lemah di ruangan VVIP tempat Wanda dirawat, sementara Rey digendong oleh perawat.


“Ney...kamu yang kuat ya nak,,,kita semua kehilangan Wanda...” seketika tangis bude Nia dan Neyna pecah dan mereka berpelukan.


“Ney gak nyangka akan secepat ini bude, kemarin kami baru pergi bersama menghadiri pembukaan rumah sakit ini, dia terlihat baik dan bersemangat, namun ternyata dia juga lah yang menjadi pasien pertama Dirumah sakit ini” ucap Neyna masih dalam pelukan bude Nia.


“Sabar ya nak,, kita semua sedih kehilangan dia, tapi mungkin inilah yang terbaik buat dia, agar dia tidak merasakan sakit lagi, insyaa Allah husnul khatimah,,kita do’a in aja ya nak,,udah yuk kita siap - siap pulang”


Bude nia melepaskan pelukannya dan membantu Neyna membereskan barang - barang Neyna dan Rey. Kemudian Rheina yang juga ada disitu pun mendekati Neyna dan memeluknya,


“Kak...kakak yang sabar ya, Rheina yakin kakak pasti kuat, demi Rey, kalau kakak butuh apa - apa atau butuh sekedar teman buat ngobrol, kakak bisa hubungi Rhein ya kak” ucap Rheina.


Setelah semua urusan selesai, mereka pun bergerak menuju rumah opa bersamaan dengan mobil ambulance yang membawa jenazah Wanda.


Neyna memilih naik di ambulance yang ditemani Rheina, sedangkan pakde, bude dan Bima di mobil mereka.


Sepanjang perjalanan, Neyna tak henti menangis dan memeluk jasad Wanda yang sudah terbujur kaku, sementara Rey digendong oleh Rheina.


Sesampainya Dirumah opa, keadaan Dirumah susah ramai para pelayat, dari tetangga, sahabat maupun colega Wanda, juga para sahabat Neyna, Mimi, Rosi dan suaminya Randy juga sudah ada, hanya Mimi dan suami yang belum muncul karena masih dijalan.


Setelah jenazah Wanda diturunkan dari ambulance dan dibawa kedalam rumah duka, seketika terdengar suara tangisan oma yang memeluk Neyna, begitu juga bude Nia dan opa.


Semua larut dalam kesedihan, masih terkejut dengan kabar duka ini, mereka masih tidak menyangka akan secepat ini Wanda pergi meninggalkan mereka, terlebih opa, yang paling merasa hancur, karena dia sudah kehilangan menantu, anak dan saat ini cucu satu - satunya dari anak lelaki satu - satunya juga sudah menghadap sang Khalik.


Setelah itu, Rosi dan Mimi juga mendekati Neyna dan memeluk Neyna bergantian mengucapkan turut berbela sungkawa dan memberikan semangat untuk Neyna.


neyna tak kuasa menahan tangisnya dipelukan sahabatnya itu,


“Ci,,,maafin Wanda kalau dia ada salah ya, do’a in dia ya ci,,,” ucap Neyna dipelukan Rosi


“Iya Neyna,,kamu yang sabar ya, kamu harus kuat demi Rey,,karena dia masih sangat butuh kamu” ucap Rosi


Kemudian Mimi pun memeluk Neyna untuk mengucapkan bela sungkawa dan memberi semangat buat Neyna


“Ney sayang...lo yang sabar ya..gua yakin lo pasti kuat menghadapi semua ini, karena lo sahabat gua yang kuat,,semangat ya sayang..” ucap Mimi penuh haru sambil memeluk Neyna.


Tak lama kedua orang tua Neyna pun tiba Dirumah opa, dan langsung memeluk putri kesayangan mereka, lagi - lagi tangisan Neyna pecah kala kedua orang tuanya datang dan memeluknya.


“Yang ikhlas ya nak,,kamu pasti kuat nak,,Allah gak akan kasi cobaan diluar batas kemampuan ummatnya” nasihat mama ditelinga Neyna saat memeluknya.


Terasa remuk hatinya ketika melihat wajah kedua orang tuanya, ingin rasanya dia menangis di pangkuan mamanya, meluapkan kesedihannya, entah mengapa Neyna merasa sangat kehilangan, walau awalnya dia sangat membenci almarhum suaminya, tapi setelah Wanda pergi rasa penyesalan dihatinya, karena dia mulai merasa nyaman berada disisi Wanda dan mungkin saja cinta sudah tumbuh dihatinya, tapi semua itu sudah terlambat, Wanda sudah pergi meninggalkan nya.


Setelah shalat zuhur, mereka pun mengantarkan Wanda ke peristirahatan yang terakhir, Neyna tidak disarankan untuk ikut, namun dia memaksa untuk ikut ke pemakaman.


Akhirnya Neyna pun ikut kepemakaman. Saat proses pemakaman berlangsung, pandangan Neyna tak lepas dari jenazah Wanda yang mulai dimasukkan ke liang lahat, terlihat Neyna sudah sedikit tenang.


Diantara para pelayat yang ikut mengantarkan Wanda, terlihat Rian juga hadir, yang terus menatap ke arah Neyna.


Setelah selesai acara pemakaman, Neyna masih duduk disisi pusara Wanda, menghapus nisan yang bertuliskan namanya, merapihkan kembang - kembang diatas gundukan tanah tersebut


“Ney,,,pulang yuk,,semua sudah bubar, kasihan Rey nungguin Dirumah” ajak bude Nia


“Sebentar bude, Neyna masih mau disini, sebentar lagi ya bude” ucap Neyna


“Ney,,kita pulang dulu, besok pagi kita kesini lagi, kamu juga kan harus istirahat, nanti kalau kamu sakit, gimana dengan Reyhan ? ayo nak kita pulang” ucap papa Neyna, sementara Mamanya tidak ikut ke pemakaman karena menjaga Reyhan Dirumah opa.


Mendengar ucapan papanya, Neyna pun beranjak dari duduknya meninggalkan pusara Wanda.