
Wanda masih menatap lekat pria Yang bersama Rosi dan Caca. Wanda merasa ragu meninggalkan Neyna pergi bersama mereka.
“Nda,,aku kesana ya?” Ucap Neyna
“Ayo biar aku antarin kesana” Ucap wanda, sambil berjalan menggandeng tangan Neyna mendekat kearah Rosi, Rendy dan Mimi.
“Gua Kira lo kesiangan Ney, jam segini baru nyampe” Ucap Mimi
“Kan belum telat kan? Siapa bilang aku kesiangan, seluruh Isi rumah udah aku banguni dari jam 4 pagi, mana mungkin aku kesiangan” Ucap Neyna bersemangat.
“Apa kabar Wanda? Kamu ikut juga kan?” Sapa Rendy
“Baik,,Aku gak bisa, ada sedikit pekerjaan yang gak bisa aku tinggalkan” Ucap Wanda
“Lo tenang aja, kita bakal jagain Neyna kok,,bahkan sebelum lo nikah sama dia kami udah saling menjaga” Ucap Rosi meyakinkan Wanda.
Wanda hanya mengangguk menanggapi ucapan Rosi. Tak lama suara panggilan terdengar pada pengeras suara, agar semua penumpang naik keatas kereta.
Neyna pun berpamitan pada Wanda
“Nda,,aku pergi dulu ya, kamu hati - hati dijalan”Ucap Neyna
Wanda menatap lekat wajah Neyna, Ntah mengapa ketika dia melihat Rendy, dia merasa curiga kalau Bram juga berada dalam kereta tersebut, perasaan nya semakin tak karuan.
“Kamu hati - hati ya, jangan terlalu capek, kalau ada apa - apa hubungi aku segera, Salam sama mama dan papa” Ucap Wanda sambil mengecup kening Neyna didepan Rosi, Caca dan Rendy.
Rosi menatap Wanda, dan bergumam dalam hati
“Hebat kamu Wanda, kamu pandai memanfaatkan keadaan Neyna saat ini, yang membuat dia bertekuk lutut padamu”
Neyna dan para sahabatnya pun beranjak naik keatas kereta. Sementara Wanda menuju parkiran mobilnya.
Sepanjang perjalanan Pulang, pikiran wanda melayang kemana - mana,
“Kenapa aku gak tenang melepas
Neyna pergi bersama mereka, aku merasa Bram juga ada disana, ahh,,,tapi kata orang suruhanku, Bram masih di Papua, dia tidak pulang, tapi kenapa hati ku tak tenang, fyuhhh..”
Wanda menghapus kasar wajahnya.
Sementara Neyna dan sahabatnya duduk berhadapan, Rosi dan Rendy duduk bersebelahan sedangkan Neyna duduk bersama Mimi dengan posisi berhadapan.
“Gimana keadaan kamu Ney? Apa yang kamu rasakan?” Tanya Rendy
“Ya..baik kak Cuma kadang aku masih merasa sedikit pusing kalau terlalu banyak berfikir,,ohyaa...kak Bram mana, dia gak ikut? Biasanya kan dia bareng kakak?” Tanya Neyna mencari sosok Bram yang masih lekat dalam fikirannya.
Ohh..gitu,,,Bram di Papua Ney,,sedang mengerjakan proyek pengeboran minyak disana, mudah - mudahan dia bisa pulang saat kami menikah nanti, tapi dia sangat susah di hubungi, tidak ada signal karena dia berada didalam hutan” terang Rendy mulai membuka ingatan Neyna.
“Ohh,,,gitu ya kak,,,Iya deh mudah - mudahan ya, jadi nih bulan depan Rosi di halalinnya kak?” Goda Neyna ke Rosi
“Insyaallah jadi dong Ney,,do’a in aja ya mudah - mudahan lancar sampai hari H,,Ehh..waktu aku nikah kalian juga jadi bridesmaid dan groomsmen nya juga ya?ihhh,,pasti seru ya,,waktu itu elo pasangan Sama kak Rendy, terus Caca pasangan sama Rehan pastinya dan Elu Mi,,pasangan Sama siapa?” Tanya Neyna sambil tersenyum menggoda Mimi
Mimi dan Rosi saling pandang, kemudian Rosi berucap
“Jaman lo nikah mah kagak ada groomsmen nya Ney, yah Cuma kita -kita aja Yang jadi dayang - dayang lo” Ucap Mimi
“Masa sih??kalian gak ada nyimpan foto kita waktu aku nikah di hp kalian? Aku liat dong” Pinta Neyna
“Emang Wanda gak ada nyimpan foto kalian nikah Ney?” Tanya Rosi
“Dia tuh setiap aku minta foto - foto jaman pacaran, atau waktu nikahan, ada aja alasannya” ucap Neyna
“Terang aja dia gak punya foto bareng kamu waktu pacaran Ney, orang kalian gak pernah pacaran” batin Rosi
Kemudian Mimi mencari - cari foto itu dalam hp nya karena dia sempat Selfi sebelum Ijab qobul.
“Naahh ini dia foto kita waktu lo nikah Ney” Ucap Mimi sambil menunjukkan foto Yang ada diponselnya
“Yah...emang kenyataannya begitu kan, lo emang gak rela dinikahi Wanda” Ucap Mimi santai
Sementara Rosi yang mendengar ucapan Mimi langsung menginjak kaki Mimi dibawah, mengingatkan Mimi agar jangan berbicara terlalu jauh.
“Apaan sih Ci,,sakit tauk!!” Keluh Mimi, Rosi langsung melotot kearah Mimi yang masih akan melanjutkan kata - katanya. Mimi pun langsung menghentikan kata - katanya.
Sepanjang jalan mereka ngobrol hingga tak terasa mereka sudah tiba di stasiun tujuan mereka, tak lama suara ponsel Neyna berdering, panggilan dari papanya
“Assalamu’alaikum pa,,Iya neyna baru aja nyampe stasiun, ok pa”
Papa menghubungi Neyna menanyakan posisi Neyna dimana karena papa baru saja tiba di stasiun untuk menjemput Neyna.
Mereka pun berpisah, Neyna Yang pulang bersama papa dan mamanya yang menjemputnya di stasiun, Mimi juga sudah dijemput adiknya sedangkan Rosi dan Rendy dijeput supir pribadi keluarga Rendy.
Neyna pun mencium tangan papa dan mamanya,
“Assalamualaikum pa, ma,,sehat kan?” Tanya nya
“Alhamdulillah sehat nak, kamu gimana, sehat kan?” Tanya nama sambil berjalan menuju parkiran mobil
“Alhamdulillah sehat ma, ohyaa..Wanda titip Salam dia gak bisa ikut pulang karena sedang ada pekerjaan yang urgen” Ucap neyna kepada kedua orang tuanya
“Iyaa nak,,papa tau kok, tadi Wanda juga udah hubungi papa” Ucap papà sambil melajukan kendaraan menuju rumah mereka.
Sesampainya dirumah, mama meminta mba Muni asisten mereka untuk mengangkat barang Neyna
“Mun,,tolong bawakan barang - barang Neyna kekamarnya ya” perintah mama
“Baik bu,,” ucapnya sambil bergegas menuju bagasi mobil.
“Hai non Neyna, How are you today, long time no see you” Sapa Muni seperti biasa dia menyapa Neyna dengan bahasa inggris, namun Neyna hanya tersenyum melihat tingkah mba Muninya itu.
Muni sedikit heran dengan sikap Neyna yang tak seperti biasa pikirnya, karena dia tidak tau kalau Neyna mengalami amnesia.
Neyna pun masuk kekamarnya dan memandang sekeliling kamarnya, dia merasa tempat ini sangat lekat dengannya, di lihatnya satu persatu Foto yang terpajang didinding kamarnya, fotonya bersama para sahabatnya saat SMU, ada juga foto dia dan Bram saat mereka berduet diacara perpisahan Bram.
Diraihnya foto itu, dipandangnya lekat, seperti ada sesuatu yang terlintas difikiran nya saat melihat foto itu.
Kemudian dia menuju meja belajar dan meraih album foto yang ada diatas meja tersebut. Membuka lembar demi lembar foto yang ada, dia merasa seperti kembali kemasa itu, sesekali dia tersenyum melihat
ekspresi dan tingkah mereka dalam foto itu.
Neyna mencari - cari fotonya bersama Wanda, tapi dia tidak menemukan satu pun fotonya bersama Wanda.
“Padahal kan katanya kami satu sekolah, tapi kenapa foto Wanda tidak ada dalam album kenangan ini ya? Terus kenapa malah foto dengan kak Bram yang banyak,,Gumam Neyna
Dia masih membolak-balik album tersebut, kemudian dia melihat foto mereka semua saat studi banding di SMU tunas Bangsa.
Dipandangnya satu persatu wajah yang ada difoto, dia melihat Rendy, Reza yang sedang merangkulnya disebelah kiri, Bram disebelah kanannya tersenyum sangat manis, dia tersenyum memandangnya.
Kemudian dia meraih buku yang ada diatas meja belajarnya, buku diary miliknya, ketika Neyna hendak membukanya, tiba - tiba mamanya memanggil
“Ney,,ayo kita makan dulu nak, kamu sudah shalat dzuhur?” Tanya mama
“Belum ma,,” Neyna pun bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu kemudian melaksanakan shalat dzuhur.
Malam harinya Neyna dan teman - temannya akan mengunjungi Caca untuk melepas masa lajangnya.
Tepat pukul 7 malam Rosi dan Mimi menjemput Neyna
“Mah,,Neyna berangkat kerumah Caca ya, Rosi sama Mimi udah datang” pamit Neyna sambil mencium tangan dan pipi mamanya
“Iya,,,kalian hati - hati ya,,jangan pulang terlalu malam,,ingat kesehatan kamu nak, jangan terlalu capek” pesan mama, Neyna pun mengangguk.
Mereka bertiga berangkat menuju rumah Caca, sementara Rendy tidak ikut karena acaranya hanya mereka berempat saja.